Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Sebuah Fakta


__ADS_3

Aku menghalau cahaya yang masuk menggunakan kedua telapak tangan.


Matakumenelisik setiap sudut ruangan yang begitu tidak asing.


Seketika kilasan ingatan masa lalu menghantam.


Aku menjerit kesakitan. Ternyata hal ini yang selalu membuatku depresi dan selalu dirawat di rumah sakit. Dan ini  ... ini adalah tempat yang sama, tapi kenapa tiba-tiba aku berada di tempat yang sama.


Keringat dingin membanjiri dahi. Rasa takut melingkupi. Deru napas terdengar sangat menyedihkan seakan ini adalah akhir.


Kreak  ...!


Deritan pintu mengalihkan perhatian. Di ujung sana seorang lelaki tua menatap dengan senyum lembut. Ada kerutan di dahi serta keraguan di hati yang mengatakan bahwa mereka bukanlah orang baik.


"Ini makanlah. Kami menemukanmu di jalanan tiga hari yang lalu." Pria tua itu menyodorkan makan siang. Bukan hal itu yang membuat mataku membola, tapi fakta bahwa aku kehilangan kesadaran sudah tiga hari lamanya. Pasti Devan tengah kesusahan mencari.


"Terima kasih, Paman. Kenalin namaku Putri cuman nama itu yang aku ingat. Aku kecelakaan dan gak tahu alamat rumah," balasku ramah. Kata-kata yang keluar hanyalah kebohongan semata agar mereka tak meminta balasan atau akan mengancam keluarga terutama Devan.


"Nama Paman, Devin. Kalau begitu makanlah." Setelah mengatakan hal demikian pria tua itu berlalu masih dengan tatapan yang sama. Kelembutan. Namun, Elza sadar bahwa itu hanya kepalsuan semata untuk memangsa korban.


"Bagaimana dia, Pak?"


"Dia sudah sadar."


"Dia cantik ya, Pak. Pasti kita bakalan dapat banyak uang kalau kita jual dia ke kota."


"Hust! Jangan keras-keras, Bu. Nanti dia dengar."


"Ah, maaf Pak! Ibu tidak sabar menerima banyak uang dari penjualannya."


"Bu, ingat tidak 10 tahun yang lalu Pak Hendra memerintahkan kita menyekap gadis SMA kira-kira usianya 17 tahun, Bapak ingat Pak Hendra memerintahkan kita untuk menyekap gadis itu karena gadis itu adalah putri dari saingan bisnisnya, ingat tidak, Bu?"


"Ingat! Tapi, kenapa Pak? Bapak kok bahas masalah itu lagi, hampir saja kita ketangkep Pak Andai Pak Hendra tidak ikut campur mungkin hari ini kita tidak di sini."


"Iya Bu, masalahnya gadis yang kita temukan hari ini sangat mirip dengan gadis itu, tapi yang sekarang versi dewasanya, pantas saja Pak Hendra dan Nyonya Melani menyuruh kita datang ke tempat itu tiga hari yang lalu, ternyata ini alasannya."


"Astaga Pak, apa tidak apa-apa kita kembali menyekapnya?"


"Tenang Bu, mereka tidak akan mengetahuinya. Pak Hendra sudah mengatur segalanya."

__ADS_1


"Oh, bagus kalau begitu, berarti kita mendapatkan untung dua kali lipat Pak."


Samar-samar indra pendengaranku menangkap apa yang mereka katakan. Aku sudah tahu itu, karena sebelumnya aku telah mencari tahu di mana letaknya desa yang sering menjual gadis ke kota. Akan tetapi, hal yang membuatku tercengang adalah ternyata dibalik penculikanku 10 tahun yang lalu adalah Pak Hendra dan Ibu Melani? Bukannya itu sahabat Ayah dan Mama? Aku sedikit linglung ketika mengetahui fakta tersebut. Jadi, kali ini ulah mereka lagi, tapi aku yakin ini tak lepas juga dari campur tangan Laras apa Laras adalah putri dari Pak Hendra dan Ibu Melani? Tapi kenapa, bukannya Ayah dan Mama begitu baik kepada mereka bahkan membantu Pak Hendra dalam pemilihan gubernur beberapa tahun yang lalu, lantas kenapa mereka begitu membenci keluarga kami? Segala pertanyaan berkecamuk di benaku, fakta itu begitu mencengangkan.


"Sebaiknya, aku makan dulu supaya ada stamina untuk kabur."


Hari-hari berikutnya begitu melelahkan karena aku dijadikan seperti tawanan. Suatu hari aku ingin kabur, tapi mereka menangkapku yang membuat semua akses jalan yang dapat membuat aku bebas mereka blokir.


Pipiku sekarang memerah karena Mira nama dari istri Devin itu menamparku dengan sangat keras saat aku tidak ingin makan. Kenapa aku tak ingin makan, karena ternyata dalam makanan itu mereka simpani obat tidur agar keadaanku tampak selalu lemah.


Plak!


Tamparan keras kembali mendarat. Aku hanya menatapnya jengah. Meski kaki dan tangan terikat, tapi tak membuatku ingin mengeluarkan suara sedikitpun. Rasa perih itu sangat terasa, ini kali keduanya aku merasakan hal sesakit ini setelah sekian lama.


Akan aku pastikan bahwa mereka tak dapat lolos setelah ini. Itu tekatku.


"Baiklah aku makan," ucapku pelan, "kalau gitu lepasin ini dulu, soalnya Putri susah makan," lanjutku dengan suara yang benar-benar pasrah dan dalam keadaan yang kesusahan.


"Nah, gitu. Kalau kamu nurut kamu gak akan sakit kek gini," katanya sembari tersenyum sinis.


Aku hanya tersenyum kecil dan mulai makan dengan tenang. Aku tahu, jika aku seperti ini maka aku tak akan punya tenaga untuk kabur jadi aku harus mempunyai energi.


Setelah kepergiannya. Kuhentikan acara makanku dan membuang sisa makanan itu. Jika, aku hanya makan sedikit itu tidak apa-apa 'kan.


Sudah seminggu aku tertawan di sini dan besok aku akan diserahkan ke pembeli yang telah membeliku. Betapa mirisnya hidup ini, apakah aku mempunyai kesalahan kepada seseorang sehingga mereka merencanakan hal ini.


...


Seminggu sebelumnya ....


Devan mendatangi rumah kedua orang tuanya pada malam hari yang membuat kedua orang tua Devan terkejut.


"Ma, Pa," ucapnya seketika dengan pandangan yang serius. Syukur kedua orang tuanya masih menonton TV.


"Eh, Elza mana, Sayang?" tanya ibu Filza—mama Devan.


Devan tak menjawab ia malah duduk di depan keduanya dengan pandangan serius.


"Terjadi sesuatu padanya? Apakah dia melakukan hal tersebut?" tanya papa Devan yang pandangannya mulai mengeras sepertinya beliau tahu sesuatu.

__ADS_1


"Iya, Pa. Elza menghilang."


"Apa?!" Pernyataan Devan membuat Filza tersentak. Syok dengan perkataan sang putra.


"Tenang, Ma. Ini semua pasti Laras yang rencanain. Mama tahu, dia bahkan memberitahu Elza jika kamu pernah berpacaran dan melakukan hal lebih padahal itu sebuah kebohongan," tutur Devan menenangkan.


"Astagfirullah, apakah kejadian di masa lalu tidak membuat mereka merasa bersalah?" ucap Filza sembari memijit pelipisnya.


"Kamu harus temukan Elza secepatnya. Semoga Elza tidak apa-apa." Papa Devan berucap dengan suara yang syarat akan kekhawatiran.


"Iya, Pa. Sepertinya Elza di bawa ke sana dengan trik yang sangat menjijikkan. Aku, tahu mereka pasti ingin menjual Elza ke kota dan membuatnya menjadi simpanan Om-om." Nada suara Devan langsung saja berubah dingin mimik wajahnya menunjukkan kebencian. Dia akan membalas Laras, tapi tidak kali ini Elzalah prioritas pertamanya.


"Hal ini tidak boleh sampai di telinga kedua orang tua Elza, nanti mereka khawatir. Selesaikan masalah ini dengan cepat!" tutur papa Devan dengan sangat serius. Sepertinya hal ini bukanlah hal yang biasa.


"Mama gak mau tahu, Elza harus kembali dengan selamat tanpa lecet," kata Filza dengan sorot mata kekhawatiran.


"Iya, Ma. Devan janji bakalan temuin Elza dan bawa dia pulang tanpa ada yang kurang." Devan berucap dengan sungguh-sungguh seakan hal tersebut adalah sumpah.


Karena tempat Elza disekap sangatlah jauh dari Jakarta membuat Devan kesusahan untuk menyelamatkannya dengan cepat.


Bali, Elza disekap di pulau Dewata itu.  Entah bagaimana keadaannya sekarang Devan tak tahu. Dia harus sesegera mungkin menemukan lokasi desa tersebut.


Kerap kali pula Devan bertemu dengan Laras. Seakan tak terjadi apa-apa Devan selalu bertegur sapa dengannya. Acap kali Laras bertanya perihal Elza kenapa saat Devan sedang melakukan perjalanan bisnis Elza tak ikut? Devan hanya menjawab bahwa dia sibuk dan belum bisa bertemu dengannya.


Rasa benci dan jijiknya dia pendam. Laras pikir dia  akan melepaskan hal ini begitu saja? Tidak akan. Istrinya begitu menderita di sana dan dia dengan seenaknya tertawa bahagia di atas penderitaan sang istri? Dasar wanita iblis.


...


"Ha ha!" Suara tawa bahagia tiba-tiba pecah. Tawa jahat itu mengandung kebencian yang begitu dalam.


"Hn, bagaimana dengan hadiah gue? Berani lo rebut hal yang ingin gue milikin? Maka lo akan terima akibatnya!" Wanita itu Laras tertawa bak orang kesetanan. Meski dia belum bisa mendapatkan Devan seutuhnya. Namun, dengan kepergian Elza maka dia akan dengan mudah masuk kembali dalam kehidupan Devan.


Laras tidak tahu saja, jika Elza tidaklah mati. Saat ia menyuruh anak buahnya untuk melenyapkan Elza para suruhan itu tidak tega melakukannya karena mereka merasa hal itu tidak pantas untuk Elza yang seorang gadis baik.


Jadi, mereka hanya meletakkan tubuh tak berdayanya di sisi jalan dan ternyata ada orang yang menemukan Elza. Di balik kejadian itu semua ternyata telah direncanakan.


...


Rasa cemas dan panik menggelayari pikiran. Rasanya aku ingin mati saja, tidak-tidak. Aku yakin Devan pasti akan menyelamatkanku, tapi jika tidak? Apakah aku benar-benar akan jadi simpanan seperti wanita di luar sana setelah hamil akan ditinggalkan? Ya Allah, tolong Elza.

__ADS_1


Mataku sudah berkaca-kaca. Namun, tangis tetap teredam karena mulut dilakban, tangan dan kaki diikat. Mereka benar-benar tidak ingin jika aku kabur.


"Ya, Allah tolong Elza!"


__ADS_2