Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
42


__ADS_3

"Papa tasya?" tanya zia.


"Iya, kamu kezia kan? Istrinya shaka?"


"Iya om"


Ardan tersenyum kearah zia. "Om mau minta maaf soal smeua kelakuan tasya zia, om tau itu sulit tapi om mau kamu maafin tasya ya" ujar ardan.


"Iya aku udah maafin tasya kok om" kata zia.


"Makasih om tenang dengarnya. Oh ya kamu sakit apa?" tanya ardan.


Zia tersenyum saat teringat dengan penyakitnya itu. "Aku mengidap kanker otak om" ujar zia pelan.


"Kanker otak?"


"Iya om, waktu zia gak lama lagi" ujar zia.


"Hey kenapa bilang begitu, semuanya akan baik baik aja" ujar ardan menenangkan zia.


"Shaka kemana?"


"Keluar beli makanan om"


Seketika menjadi hening didalam ruangan rawat zia. "Om ardan" panggil zia.


"Ya kenapa?"


"Aku mau minta tolong sama om bisa gapapa kan?"


"Apa kalo om bisa bakal lakuin"


"Setelah aku pergi nanti, tolong om dekatkan tasya dengan mas shaka bisa kan? Aku tau tasya orangnya baik, jadi aku yakin tasya bisa buat mas shaka lupa sama aku dan jaga cia untukku" jelas zia.


"Apa? Kenapa bicara begitu zi, kamu gak akan kemana mana"


"Tolong ya om"


"Hmm om akan usahakan" ujar ardan.


Pintu ruang rawat zia terbuka dan nampaklah shaka dengan tangan yang membawa nampan. "Zi ini makan ka--" ujar shaka terhenti kala melihat pria paruh baya disana.


"Mas shaka, kesini" ujar zia.


Shaka menyimpan nampan diatas nakas dan berdiri dikeat zia untuk menanyakan siapa orang itu. "Zi dia siapa?" tanya shaka.


"Mas tidak kenal? Dia papa nya tasya" ujar zia.


"Oh, hallo om" sapa shaka.


"Apa kabar shaka?" tanya ardan.


"Baik om" jawab shaka.

__ADS_1


"Baiklah kalo gitu om pamit pulang dulu udah sore juga" ujar ardan.


"Iya om hati hati" kata zia, sedangkan shaka hanya menganggukkan kepalanya saja.


Setelah kepergian ardan, shaka mengambil mangkuk bubur dan duduk disamping zia untuk menyuapi zia makan. Zia pun dengan senang hati menerima suapan demi suapan dari shaka hinggal tersisa sedikit lagi dimangkuk.


Zia langsung meminum obat yang shaka sodorkan dan menegak air minumnya hingga tandas. Zia pun langsung membaringkan tubuhnya kembali karena shaka menyuruhnya untuk berstirahat kembali karena kondisi zia belum stabil.


"Mas cia gimana? Apa dia udah tau aku dirumah sakit?" tanya zia.


"Cia udah tau kok, semua keluarga juga udah tau kalo kamu dirawar. Mungkin nanti malam mereka bakal datang kesini zi" jelas shaka.


"Ya udah kamu istirahat aja, kata dokter siska nanti kamu akan diperiksa lagi" ujar shaka.


"Iya mas, bangunin aku aja kalo dokter siska kesini" kata zia.


"Iya sayang tidur aja aku temenin disini" ujar shaka.


Zia perlahan menutup matanya dan terlelap tidur karena sudah meminum obat merasa kantuk. Shaka menatap zia dalam, shaka tidak membayangkan zia akan terbaring diatas kasur dan mengidap penyakit yang cukup parah.


"Kenapa ini semua terjadi sama kamu zi, aku takut kamu ninggalin aku" gumam shaka.


Cukup lama zia tertidur hari sudah mulai gelap. Dan sudah waktunya dokter siska untuk memeriksa keadaan zia sekarang. Shaka keluar sebentar untuk izin kekantin rumah sakit karena merasa haus dan meninggalkan zia yang masih tertidur dikamar rawatnya.


Saat kembali dari kantin shaka dikejutkan dengan para suster yang masuk keruangan zia. Shaka pun menghentikkan dokter siska yang ingin masuk kedalam ruang rawat zia.


"Dokter tunggu" ujar shaka.


"Kamu tenang dulu shaka. Tadi sewaktu saya ingin periksa keadaannya, zia tiba tiba drop lagi shaka makannya saya sama suster yang lain buru buru untuk nanganin keadaan zia. Saya pamit dulu, kamu tenang aja berdoa" jelas dokter siska yang langsung melenggang pergi.


"Zia" lirih shaka.


"SHAKA"


Teriakan dari arah belakang membuat shaka harus menoleh kebelakang, disana seua keluarganya sedang berjalan tergesa-gesa mendekat kearah shaka.


"Shaka kamu kenapa? Zia gapapa kan shaka? Jawab bunda shaka?" tanya rena beruntun.


"Zi-zia bun zia drop lagi, sekarang lagi diperiksa sama dokter siska" ujar shaka lirih sambil menundukkan kepalanya.


Seketika tubuh rena melemas untung saja ada andra yang menangkap tubuh rena. "Cepat bawa rena keruang sebelah andra, biar aku panggil dokter" ujar bunda shaka.


"Kau tenang aja shaka, zia akan baik baik saja" ujar ayah shaka menenangkan.


"Cia dimana ayah?"


"Cia dirumah reksa shaka, kamu tenang aja sekarang fokus kekondisi zia dulu"


"Dan kamu tenangin diri kamu, jangan kaya gini. Zia butuh dukungan dari kamu dan dari kita semua,, kuat shaka" ujarnya.


"Iya ayah, makasih" ujar shaka.


"Sebaiknya kamu duduk disana atau gak pulang dulu bersih bersih"

__ADS_1


"Gak ayah aku pengen disini"


"Baiklah, aku akan pergi meihat kondisi rena"


Dan shaka hanya meganggukkan kepalanya sebagai tanda jawabnya.


"Zia aku mohon bertahanlah" lirih shaka.


Hampir satu jam dokter siska memeriksa kondisi zia, kini pintu ruangan zia terbuka nampaklah dokter siska dan suster yang keliar dari dalam. Shaka dan yang lain buru-buru menghampirinya untuk menanyakan kondisi zia sekarang.


"Dok gimana keadaan zia, apa dia baik baik aja? Atau gimana dok?" tanya shaka.


"Tenang dulu shaka" ujar ayahnya.


"Begini shaka kondisi zia drop banget dan sekarang zia kritis shaka, jadi kita hanya nunggu zia untuk melewati masa kirtisnya" jelas dokter siska.


"Kritis dok?" tanya lirh shaka.


"Iya shaka zia kritis sekarang, kita berdoalah untuk zia bisa melewati masa kritisnya" ujar dokter siska.


"Kalo begitu saya permisi dulu, kalo ada apa apa hubungi saya" kata dokter siska yang langsung melenggang pergi.


Shaka langsung terduduk lemas dibawah lantai dingin rumah sakit. Shaka tidak bisa menahan air matanya sekarang, zia istrinya kritis, zia sedang melawan antara hidup dan mati sekarang. Kenapa bukan shaka, kenapa harus zia batin shaka.


"Shaka tenang kita berdoalam sekarang" ujar rena yang sudah sadar dari pinsannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Papa dari mana kok baru pulang?" tanya tasya sedang duduk diruang keluarga mendapati ardan yang baru saja pulang.


"Dari rumah sakit" jawab ardan.


"Loh siapa yang sakit? Papa sakit?" tanya tasya.


"Bukan papa tasya, tapi zia yang sakit" jawab ardan setelah duduk disamping tasya.


Dahi tasya mengerut karena bingung. "Bukannya dia baik baik saja" heran tasya.


"Dia sakit tasya malahan dirawat dirumah sakit"


"Sakit apa?" tanya tasya.


"Kenker otak"


Mata tasya melebar mendengar perkataan papanya ardan. "Kanker otak" gumam tasya.


"iya sebaiknya kamu jenguk dia dan minta maaf atas kelakuan kamu waktu itu" ujar ardan.


"Aku?"


"Iya kamu lah, besok kamu kesana papa antar tasya"


"Iya papa"

__ADS_1


__ADS_2