Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Kembali Untuk Bersama


__ADS_3

...Mencintaimu adalah pilihanku, menjagamu adalah keinginanku, untuk melepaskanmu maaf aku tak bisa....


...—Devandra Adiguna Prasetyo ...


Karena kondisi Elza yang tidak mengkhawatirkan jadi mereka pulang lebih cepat, sekarang pukul 09:20 mereka sampai di kediaman Kris Keysha, rumah itu tampak sepi karena di jam seperti ini semua orang sedang berisitirahat.


Mereka semua tampak lelah, sebenarnya dokter menyarankan untuk Elza dirawat inap satu malam untuk memastikan kondisinya, tetapi Elza memaksa untuk segera kembali dengan alasan dirinya tak betah di rumah sakit. Akhirnya sang Mama mengizinkan putrinya untuk kembali karena ia tak ingin membuat Elza stress dengan berada di ruma sakit tempat yang memang putrinya tak suka.


"Kalian istirahatlah, besok kita akan kembali ke Indonesia," ujar sang Ayah memberikan perintah.


"Baik, Yah." Devan kemudian menggenggam tangan sang istri dan mengajaknya untuk segera beristirahat.


Elza yang sebenarnya tak biasa merasa tak enak dengan keberadaan Devan di dekatnya apa lagi setelah mengetahui dia adalah suaminya sendiri, sebelumnya memang tak masalah, tetapi kali ini berbeda.


"Tidak apa-apa, aku tak akan menyentuhmu sama seperti kemarin. Kita tidur seperti biasa saja layaknya adik-kakak," ujar Devan lembut kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya dan juga dirinya, perlahan Devan menutup matanya tanpa menyentuh Elza sedikitpun.


Sedangkan Elza dia tak bisa tidur nyenyak seperti Devan, dirinya tak seperti ini biasanya. Apa yang harus dia lakukan, apa tidak apa-apa dia memeluk Devan agar dirinya bisa tertidur?


"Apa yang aku pikirkan, dia 'kan suamiku, imut dan baik hati, dia pasti tidak akan marah jika aku memeluknya," ujar Elza pada dirinya sendiri kemudian mendekat ke sisi Devan sembari mencari sisi ternyaman di dalam pelukannya.


Devan yang merasakan pergerakan di sekitarnya lantas terjaga dan mendapati bidadari surganya sedang terlelap sembari memeluknya erat, dirinya berpikir mungkin Elza sedang tidak sadar jadi memeluknya seperti sekarang ini.


Perlahan ia kembali menutup mata menunggu hari esok yang akan datang menghampiri, dirinya berharap agar semua masalah ini akan segera berakhir.

__ADS_1


***


Kicauan burung mengawali pagi hari, dua sejoli yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya tampak canggung karena mendapati mereka sangat dekat ketika tidur semalam.


Pria tampan yang merebahkan tubuhnya di kasur, hanya mampu menggeleng tanpa daya karena melihat tingkah istrinya, tetapi dirinya memaklumi sebab ingatan istrinya belum sepenuhnya kembali, apa lagi istrinya tengah hamil, jadi wajar istrinya berperilaku seperti sekarang ini.


Di dalam hati, ada gemercik kekecewaan yang tak dapat dirinya jelaskan dengan mudah, rasa yang tak dapat ia jelaskan dengan tersirat karena itu begitu sulit baginya, ia tak tahu harus senang, sedih ataukah kecewa dengan semua ini? Dirinya hanya mampu berucap syukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan sang istri dan diberikan amanah oleh Allah di perut sang istri meskipun pertemuan mereka tidaklah seperti pasangan suami istri, mereka sekarang seperti dua orang asing dari dunia yang berbeda.


Devan perlahan turun dari tempatnya berbaring kemudian keluar dari kamar itu, ia mengambil se-set pakaian untuk dikenakan setelah membersihkan diri.


Mereka kembali tak bertemu, semuanya tampak asing sampai mereka berkumpul di meja makan untuk yang terakhir kali bersama dengan keluarga besar Kris Keysha. Di sana, Dimitri putra dari Aron Keysha tampak sangat lengket dengan Elza, bocah lelaki itu begitu menyayangi Elza dan menganggapnya sebagai ibu kandungnya.


"Mommy, Mommy mau pulang cama Paman, ya? Dimi nanti cama ciapa kalau Mommy pulang?" Pertanyaan itu sontak menghentikan aktivitas mereka yang sedang menyantap makanan dengan tenang.


"Dimi tidak perlu sedih, Dimi bisa berkunjung ke Indonesia atau nanti Mommy yang ke sini, ya? Soalnya Mommy ada kerjaan di Indonesia." Elza menjawab sembari menoel hidung mancung Dimitri yang membuat bocah itu tersenyum geli.


"Ok, Mom. Nanti, Dimy ajak Papa ke sana." Elza hanya mengangguk sebagai jawaban kemudian lanjut menyuapi bocah lelaki tersebut.


Devan yang melihat hal itu hanya tersenyum, dirinya kembali harus bersaing memperebutkan hati istirnya. Di mana, orang asing masuk dan mencoba menghancurkan segalanya, tetapi Devan tak ambil pusing karena ia yakin dapat menyelesaikan segalanya cepat atau lambat.


Dengan persiapan yang telah selesai mereka akhirnya berpamitan kepada keluarga Keysha untuk yang terakhir kali, sekarang di San Francisco pukul tujuh pagi itu artinya di Indonesia sekarang  pukul sepuluh malam.


"Kalau kangen sama Mommy telepon saja ya, Sayang." Elza mengecup pipi Dimitri yang sedang digendong oleh Amira.

__ADS_1


"Mommy, baik-baik di cana yak. Nanti, Dimi jemput kalau Dimi udah gede." Dimitri berucap sembari menyentuh pipi Elza yang tersenyum lembut ke arahnya.


Elza hanya mengangguk sebagai jawaban untuk menanggapi perkataan dari Dimitri, ia kasihan terhadap Dimitri karena di usianya sekarang harus kehilangan figur seorang ibu.


"Terima kasih atas bantuannya selama ini, Kris. Kami pamit." Ayah Elza berucap untuk yang terakhir kali kepada teman lamanya itu.


"Paman, Bibi." Devan membungkuk sedikit kemudian mengikuti kedua mertuanya yang telah memasuki mobil yang telah ia sewa untuk mengantarkan mereka ke bandara, karena mereka tak ingin merepotkan Kris terlalu banyak.


Mobil perlahan melaju meninggalkan kediaman Kris Keysha, mereka telah memesan tiket untuk penerbangan ke Indonesia karena sudah sangat lama mereka di sini, takutnya banyak hal yang terjadi yang tidak dapat mereka tangani kembali.


Sepanjang perjalanan tak ada yang bersuara, mereka semua sama-sama terdiam menunggu mereka tiba di bandara. Butuh, waktu tiga puluh menit lamanya untuk sampai ke bandara, mereka bersyukur karena tak terlambat dan tak melewatkan penerbangan mereka.


Mereka akhirnya menaiki pesawat dengan selamat, di mana Elza dan Devan duduk saling berdampingan begitupun dengan orang tuanya yang duduk berdampingan, di antara keduanya belum ada yang berbicara, Elza memilih berisitirahat dan menutup matanya tanpa melirik Devan sedikitpun.


Pria itu hanya mampu tersenyum getir, semuanya telah berubah tak lagi sama seperti sebelumnya, Elzanya berubah dan dirinya juga berubah tak ada yang tersisa, apakah mereka bisa melewati semua ini? Devan berpikir, bahwa jika hal ini  terus berlanjut maka semuanya akan beku tak ada jalan keluar bagi hubungan mereka, jika di antara keduanya ada yang menyerah.


'Maaf, untuk melepaskanmu aku tak bisa.'


Ia kemudian juga ikut mengistirahatkan tubuhnya yang sangat kelelahan karena begitu banyak masalah yang ia hadapi, untung saja tak ada yang bermasalah dari perusahaan jadi ia bisa tenang sampai sekarang, mereka membutuhkan waktu 17 jam 52 menit untuk sampai ke Indonesia.


Perjalanan yang cukup melelahkan, semoga setelah ini tak ada lagi rintangan baginya untuk kembali membahagiakan sang istri serta mengulang semua kenangan kebersamaan mereka.


Hanya tiga bulan, dan semuanya harus kembali di mulai dari awal, Devan berpikir takdir sedang tertawa kepadanya atas apa yang ia hadapi sekarang ini.

__ADS_1


'Kamu pasti bisa, bukan waktunya untuk menyerah.'


__ADS_2