Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Hanya Aku


__ADS_3

Sungguh, aku sangat membenci wanita itu karena kedatangannya Devan berpaling dariku, atas dasar apa dia begitu sombong bisa mendapatkan Devan? Devan masih mencintaiku, dia hanya membuatku menyesal karena telah mengkhianatinya. Wanita tua sepertinya tidaklah pantas untuk Devan, Devan hanya pantas bersanding denganku. Hanya aku yang pantas, Dewinta Larasati.


Aku wanita yang pernah menempati posisi penting di hati Devan. Waktu itu, kami tak sengaja bertemu di Bali saat orang tuaku mengadakan acara untuk merayakan pembukaan restoran di Bali. Tidak disangka setelah pertemuan itu, kami kembali dipertemukan di Bandung tempat nenek dan kakek Devan, aku begitu senang karena saat itu ternyata kami dijodohkan, usia Devan yang hanya terpaut dua tahun dariku membuatku sangat bersemangat, bagaimana tidak pria tampan itu akan menjadi calon suamiku. Waktu itu Devan cukup ramah, mungkin karena permintaan dari kedua orang tuanya jadi dia menerima perjodohan itu, tapi sayang ternyata Devan tak pernah membalas perasaanku sedikitpun aku tahu itu, tapi aku selalu membodohi diriku sendiri bahwa Devan mencintaiku. Sampai pada saat, aku ingin membuatnya cemburu dan mulai menjalin kasih dengan salah satu teman lelakiku, tapi aku menikmati hal itu. Naas, Devan menemukan kami yang sedang bermesraan di apartemenku, sungguh hal itu sangat aku sesali bagaimana Devan bisa menyerah begitu saja kepadaku?


"Ck, dia pikir gue bego apa, percaya sama apa yang dia omongin. Hamil? Mana mungkin, Devan gak akan ngelakuin itu," ucapku sangat yakin. Karena sejak bersamaku Devan tak pernah berkeinginan untuk menciumku hanya sebatas pelukan jadi mustahil mereka bisa memilikinya.


"Gue akan rebut Devan lagi bagaimanapun caranya. Harus, gue harus!"


Aku meninggalkankan  rumah orang tua Elza dengan perasaan kesal. Sial! Karena wanita tua itu, aku kehilangan kesempatan untuk mendekati Devan lagi.


"Gue harus buat rencana, supaya cewek tua itu lenyap dari pandangan Devan."


Aku menggoyangkan gelas wine yang berisi minuman beralkohol, hanya minuman ini yang mampu menenangkan pikiranku untuk sejenak, aku tidak percaya bahwa Devan akan melupakanku begitu saja? Tentu saja wanita tua itu yang menghasut Devan.


"Sebar foto yang telah kukirim!" Aku memerintahkan asistenku untuk menyebar foto kebersamaanku dulu bersama Devan.


Aku tahu Devan seperti itu karena tak sengaja memergokiku bersama dengan pria lain. Namun, bukannya setiap kesalahan dapat dimaafkan dan sekarang aku telah berubah pasti Devan akan luluh jika aku membujuknya lagi. Akan tetapi, wanita sialan itu datang dan merebut Devan. Aku tidak akan membiarkan Devan tetap berada di sisinya, aku harus merebutnya egois memang, tapi di balik itu semua kenapa aku tergila-gila padanya dan sangat menyesal telah menghancurkan hatinya. Karena dia adalah sosok yang paling pengertian, sebelumnya dia tak pernah dingin padaku seperti saat ini. Akan tetapi, setelah kejadian itu semuanya berubah.


Prank!


"Ark! Wanita menjijikkan gue akan buat hidup lo sengsara karena udah rebut Devan. Lo kira gue takut ha? Biarpun lo sedang hamil atau engak gue tetep akan rebut Devan. Harus! Karena cuma gue yang berhak buat ngandung beni Devan."


Aku menatap benci ke arah gelas yang telah hancur di lantai apartemenku, seakan menganggap bahwa gelas itu adalah Elza yang telah aku hancurkan sampai berkeping-keping. Lantai yang semula bersih tercemar akibat warna minuman keras yang kontraks dengan warna lantai yang berwarna putih, aku tidak terlalu perduli toh nantinya ada pembantu yang akan membersihkannya.


Sementara itu, Elza sedang asik tertidur saat ponselnya berbunyi menandakan ada yang menelpon. Wajah gadis cantik itu sedikit mengkerut seakan terusik akibat suara ponselnya.


Akhirnya Elza terbangun dengan mata sayu dia meraih ponselnya di atas nakas dekat tempat tidurnya. Ia melihat nama sang suami tertera di sana.


"Assalamualaikum, kenapa Sayang?" tanyanya to the point dengan suara yang serak khas orang bangun tidur.


[Kamu gak pa-pa 'kan, Sayang? Tadi Laras datang ke rumah dia gak ngapa-ngapain kamu 'kan?] Suara Devan berkaur di telinga Elza. Jelas nada khawatir di suaranya.


Gadis itu mengulas senyum lembut sebelum menjawab dia mengalihkan panggilan ke panggilan video hingga muncullah wajah khawatir sang suami.


[Kamu gak pa-pa 'kan?] Devan kembali bertanya sembari menatap lamat-lamat wajah sang istri yang tampak sayu efek bangun tidur.


"Aku baik, iya tadi mantan kamu dateng. Katanya dia mau rebut kamu dari aku, dia bakal lakuin apa aja demi dapetin kamu." Elza menjawab seraya menatap wajah suaminya.


Devan tampak menghela napas di seberang sana. Dia kemudian menatap Elza sejenak sebelum mulai bersuara.

__ADS_1


[Maafin aku ya, karena masa laluku kamu jadi terganggu.] Dengan penuh penyelesalan Devan meminta maaf.


Elza mengumbar senyum tipis, "Kamu gak salah kenapa harus minta maaf, sih? Biar aku yang urus ini masalah sesama wanita. Cukup kamu percaya sama aku!" ucapnya dengan bijak.


[Pasti. Aku selalu percaya sama kamu, di saat tidak ada yang akan percaya sama kamu maka satu-satunya orang yang berdiri di sampingmu dan mendukungmu itu adalah aku!] ucapnya dengan sungguh-sungguh. Sorot mata Devan begitu tegas seakan apa yang baru saja dirinya katakan adalah sebuah sumpah.


Apakah Devan akan menepati janjinya? Entahlah Elza hanya mampu berdoa. Dia tahu, walau bagaimanapun dia hanya orang asing yang sangat baru di kehidupan Devan tidak sepertinya yang sudah lama kenal bahkan hampir menikah.


Lama mereka terdiam lebih tepatnya Elza yang terdiam sedang Devan ia menatap lembut wajah ayu sang istri.


"Izinkan aku mengetahui semua hal tentangmu, aku tak ingin dikatakan istri durhaka karena tak memahami suaminya sendiri. Bukan hanya kamu saja yang harus bertanggung jawab, tapi aku juga harus ikut andil." Elza berucap tegas sorot matanya syarat akan keteguhan seorang istri.


Devan di sana tergugu mendengar penuturan sang istri kemudian senyuman hangat tercetak di bibirnya.


[Tentu! Kita bisa melakukannya. Aku mohon juga agar kamu selalu mempercayaiku.]


Setelah percakapan singkat tersebut akhirnya Elza mematikan sambungan karena dia ingin makan. Begitu juga dengan Devan dia ingin lanjut bekerja.


Sepertinya ada hal yang belum Devan ceritakan kepada Elza sang istri. Mungkin dia belum siap takut membuka luka lama yang ditimbulkan oleh Laras di masa lalu. Mengenai foto itu, pasti akan ada penyelesaian di baliknya apakah Elza akan membenci sang suami atau sebaliknya hanya waktu yang dapat menjawab.


Sementara itu, di kantor Devan pria ini sedang fokus pada berkas yang ada di depannya memeriksa tiap detail laporan yang dibuat oleh karyawannya. Pria muda itu tampak sangat serius seakan tidak terusik dengan kegiatan para karyawan yang sedang bekerja.


Ketenangannya langsung hancur ketika seorang pria tampan masuk tanpa mengetuk yang membuatnya mendengus dingin.


"Lo harus liat berita ini Bro!" Asistennya langsung berucap yang membuatnya mengangkat alis bingung-Riko memberi tap kepada Devan dan terputarlah berita mengenai hubungannya dengan Laras yang membuat ia menggeram marah.


"Hapus semua berita ini, gue gak mau Elza sampai lihat ini! Laras beraninya dia!" Bukan Devan takut kepada Laras, tapi dia takut Elza akan salah paham.


"Ok, gue bakalan bayar mereka buat putus berita ini." Damar langsung pergi untuk melakukan tugasnya.


Sedangkan Devan langsung menyambar jas dan kunci mobil bergegas pulang untuk memastikan agar sang istri tak melihat berita tersebut.


"Semoga Elza belum melihatnya ya Allah," mohon Devan dengan raut wajah cemas. Ia menyapu jalan menggunakan mobil BMW dengan kecepatan di atas rata-rata.


Tak butuh waktu lama akhirnya ia sampai di perumahan elite Jakarta Selatan. Ia langsung keluar dari mobil dan bergegas masuk mencari sang istri.


Di sana di meja makan Elza sedang menyantap makan siangnya dengan raut wajah yang sangat ceria tanpa ada beban. Devan menarik napas pelan sepertinya ia tak tahu dan belum melihat berita. Sesekali gadis itu tertawa saat menonton film di laptopnya kebiasaan saat ia makan sendiri pasti membawa laptop atau ponsel untuk menonton film. Jadi, Devan sudah biasa dengan pemandangan seperti ini.


Devan langsung menghampiri dan melayangkan kecupan di puncak kepala sang istri.

__ADS_1


"Lagi nonton apa?" tanyanya lembut sembari menarik satu kursi di dekat sang istri.


"Lagi nonton drama Korea Mr. Queen, asli ngakak. Astagfirullah ratunya bar-bar banget," jawabnya sembari sesekali mengusap cairan yang tumpah dari kelopak matanya.


"Kalau makan gak usah nonton dulu, kamu jadi gak fokus makan, tuh makanan kamu baru sedikit yang kurang," balas Devan perhatian sembari masih memperhatikan raut wajah sang istri.


"Beuh, kamu salah. Justru ini piring ketigaku," pungkasnya dengan bangga yang membuat Devan cengo dengan wajah lucu.


"Oh, iya kok kamu udah pulang, 'kan ini masih jam kantor?" tanyanya penasaran.


"Aa ...."


Elza menyodorkan makanan ke mulut Devan karena dirinya tahu pasti suaminya belum makan siang, dan dengan senang hati Devan membuka mulut dan dengan manja minta disuap lagi. Elza hanya menuruti saja dan sesekali dia menyuapkan juga ke mulutnya. Bukannya dia tak tahu masalah berita tersebut, tapi dia hanya tak mau Devan merasa bersalah hanya karena wanita pelakor itu. Dulu dia memang ingin untuk berpisah dengan Devan, tapi saat mereka bergaul sebulan ini Elza yakin bahwa Devan adalah pria baik seperti yang orang tuanya katakan.


Dia sangat jijik dengan Laras apakah Devan akan meliriknya jika dia melakukan hal seperti itu. Malah Devan makin jijik padanya. Elza hanya menghela napas dalam hati. Katanya pernah jadi putri Indonesia 2017, tapi kok masih oon?


"Nah, udah! Enak 'kan? Aku loh yang masak tadi," ujar Elza setelah selesai menyuapi Devan.


"Iya enak banget," balas Devan sembari meminum air putih yang diberikan oleh Elza. Seperti inilah Elza jika sudah sangat cinta dengan pasangannya maka ia akan sangat perhatian dan merawatnya dengan hati-hati.


"Jadi kenapa kamu pulang cepet?" tanya Elza lagi setelah memerintahkan Bi Ijah membereskan tempat mereka makan.


"Kita ke ruang tamu dulu," jawab Devan sembari menarik tangan sang istir lembut.


Dengan patuh Elza mengikuti tak lupa laptopnya ia matikan agar tak menganggu saat ia bicara berdua dengan Devan.


"Jadi?" tanyanya lagi.


"Aku hanya khawatir." Devan berucap setelah beberapa saat bungkam.


"Eum, aku gak pa-pa, tapi makasih loh udah bela-belain balik dari kantor demi aku," ucapnya tulus.


"Sama-sama, apa pun untuk kamu," balas Devan juga tersenyum lembut.


"Entar malam kamu sibuk gak? Kita jalan-jalan yuk!" ajaknya sambil menatap Devan dengan padangan penuh permohonan.


"Sip! Kalau gitu aku balik lagi ya, kamu hati-hati di rumah!" jawab Devan sembari tersenyum kecil. Dia tak akan pernah menolak permintaan sang istri asalkan dapat ia penuhi ia akan mengiyakan.


"Makasih Ian, kamu hati-hati ya. Ingat jaga hati, jaga mata. Awas kalau kebablasan," peringat Elza dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Kamu baik-baik ya di rumah," balas Devan kemudian berlalu setelah memberi kecupan singkat di pipi Elza.


Elza menatap dengan pandangan yang sulit diartikan ke arah Devan yang telah berlalu pergi. Dia harus memberi juga pelakor itu pelajaran. Lihat saja malam ini siapa yang akan kepanasan. Haha!


__ADS_2