Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Bertahan Hidup


__ADS_3

Dada bergemuruh karena rasa takut yang melingkupi. Mataku ditutup menggunakan kain berwarna hitam. Ingin menangis dan berteriak pun percuma.


Semoga saja ada kesempatan untuk kabur. Ya, itu pasti ada. Aku harus tetap tenang dan mengikuti keinginan mereka saja.


"Di mana dia?" Suara seorang wanita terdengar. Aku hanya mampu terdiam tanpa mengeluarkan suara. Aku yakin bahwa sekarang akan diserahkan kepada pembeli itu.


"Ini dia, dia masih sangat muda pasti harganya tidak sedikit bukan?" Terasa sebuah tangan menyentuh pergelangan tangaku. Aku yakin bahwa itu Mira. Semoga saja ada kesempatan dalam perjalanan nanti untuk kabur, ya Tuhan tolong Elza.


"100 juta, bagaimana?" tanya si pembeli. Astagfirullah, sekarang aku seperti barang saja. Bibirku kelu tak bisa mengatakan apa pun. Hanya nama Devan yang selalu kusebut di sela-sela doa.


'Ian, please datang. Kalau kamu tidak datang maka aku akan marah.'


"Ok, deal." Transaksi itu akhirnya disepakati. Salah satu dari mereka mendorong tubuhku untuk dimasukkan ke dalam mobil.


Tak berapa lama. Kurasakan mobil bergerak meninggalkan tempat aku disekap selama satu minggu lamanya. Keringat dingin membanjiri dahi dan telapak tangan, jangan tanya mengenai degup jantungku, di sana bertalu tak karuan karena begitu ketakutan tak memiliki kesempatan untuk kabur.


"Eum, Putri boleh minta tolong bukain tutup mata Putri, mata Putri perih," ucapku memohon sembari mengangkat tangan yang diikat membentuk postur memohon.


"Buka penutup matanya!" pinta wanita tadi yang melakukan transaksi kepada orang-orang jahanam itu.


Akhirnya mataku terbebas dari kegelapan. Akhirnya, aku bisa mengatasinya–fhobia gelapku sekarang sudah tidak terlalu parah. Mungkin kegelisahan mengahalau semua itu.


Aku menatap dua orang pria bertubuh tambun yang sedang mengawasiku. Aku berpikir bagaimana caranya aku bisa kabur dari mereka ketika ikatan ini terlepas.


Sepertinya aku harus mengambil resiko dengan melompat dari mobil bagaimanapun caranya. Aku harus kabur.


Sedikit lagi ikatan ini terlepas. Aku harus mengalihkan perhatian mereka. Ayo, Elza kamu pasti bisa. Rangkaian kata penyemangat tersemat di pikiran berharap ini akan berhasil.


"Om, boleh minta minum," ujarku sekali dengan nada yang memohon. Hanya ini cara satu-satunya yang aku pikirkan meskipun resikonya besar aku harus bertaruh, tidak mungkin Allah membiarkan hambanya memberikan cobaan yang begitu berat tanpa adanya pertolongan.


Pria di depanku tanpak mendengkus, tapi tetap mengambilkan. Ini saatnya.


"Ahk!" Jeritan pria itu terdengar  ketika aku menendan daerah sensitifnya, tanpa menunggu lama  pintu mobil Van hitam itu kubuka dengan cepat dan langsung melompat keluar.


Mereka belum sempat bereaksi untuk menangkapku. Saat ini tujuanku adalah kebebasan. Meski rasa sakit menggelayari tubuh kuhiraukan itu semua.


"Ish!" ringisku saat tubuhku berhenti berguling-guling. Aku sudah tak tahan, ini sangat sakit.


"Devan ...!"


...


Sementara itu, Devan masih dalam perjalanan ke tempat Elza disekap. Dia sudah menemukan lokasi Elza diculik dan tanpa basa-basi lagi Devan langsung bergegas ke sana, dirinya berdoa agar semua tidak terlambat dan Elzanya masih ada di tempat itu.

__ADS_1


Sedangkan para penjual wanita itu sedang mencari keberadaan Elza di pinggir jalan yang ternyata adalah jurang yang curam.


"Ark! Dia kabur. Bagaimana ini!"


"Cari lagi, mungkin dia belum jauh dari sini!" pinta wanita itu. Ia juga merasa tidak enak hati karena telah menghilangkan uangnya dengan percuma.


"Sepertinya dia tak akan selamat. Jurang ini sangat curam!"


"Hm, kita pergi saja. Percuma mencarinya," kata wanita itu lagi dan menyuruh anak buahnya untuk pergi.


Di bawa sana Elza mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Darah segar merembes keluar dari dahi yang membuatnya makin meringis. Baju yang sobek di beberapa sisi membuat Elza tampak menyedihkan. Dia harus pergi dari tempat itu sebelum mereka mendapatkannya lagi.


Dengan rasa sakit di tubuh Elza mencoba untuk berdiri. Ia semakin pucat karena darah tak berhenti mengalir dari dahinya, tapi ia tak bisa berakhir ditangkap lagi.


Elza berusaha mencari jalan untuk naik ke jalan raya lagi untuk mencari bantuan. Dengan tekad yang kuat akhirnya Elza bisa mencapai jalan raya berharap ada kendaraan yang lewat dan ingin menolongnya.


Dari arah berlawanan sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan lumayan tinggi. Elza dengan kekuatan yang masih tersisa melambaikan tangannya agar pengendara itu ingin singgah.


"To-to-long ... selamatkan aku."


Setelah mengatakan hal tersebut. Elza kehilangan kesadarannya lagi. Keinginan untuk bertahan hidup Elza sangatlah tinggi, akhirnya dia bisa kabur dari cengkraman mereka yang ingin menjualnya menjadi seorang pe*l*cur.


Untung saja pengendara tersebut tidak mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi jadi dia bisa mengerem lebih cepat dan tidak menabrak tubuh Elza yang sudah ambruk.


"Ada apa Pak? Itu siapa?" tanya seorang dari dalam mobil mewah.


"Ini Tuan. Seorang wanita dia sepertinya mengalami kecelakaan," jawabannya.


Pria dari dalam mobil itu mengkerutkan alisnya kemudian keluar juga dari dalam mobil dan menghampiri sopirnya.


"Bawa dia!" pintanya saat melihat keadaan Elza yang sangat menyedihkan.


...


Di lain sisi Devan telah sampai di lokasi tersebut tak lupa beberapa aaparat penegak hukum dirinya datangkan untuk membantunya. Namun, sepertinya Devan harus kecewa karena Elza sudah tak ada di tempat.


Tok ...! tok ...! tok ...!


Ketukan yang tak sabaran itu mengusik pasangan yang sedang bahagia di dalam rumah itu.


"Siapa sih siang-siang begini ketuk-ketuk pintu," ucap Mira dengan mimik wajah kesal. Namun, tetap bergerak untuk membuka pintu.


Ia sontak kaget karena melihat ada beberapa polisi dan seorang pemuda tampan yang set berdiri di depan pintu rumahnya.

__ADS_1


"Ada apa ya, Pak?" tanyanya sedikit gugup. Ia berpikir sepertinya mereka ketahuan.


"Kami menerima laporan bahwa Anda menyekap seorang wanita berusia 27 tahun selama satu minggu lamanya." Polisis itu menjelaskan kejahatan si wanita–Mira.


"Siapa, Bu?" Suara dari dalam rumah kian mendekat dan juga kaget saat melihat ada beberapa polisi di depan rumahnya.


"Ada apa ini, Pak?"


"Di mana istri saya?" tanya Devan tidak sabaran.


"Istri apa Pak?" tanya Devin dengan alis berkerut seakan tak paham.


"Ini fotonya. Di mana dia?" tanya Devan memperlihatkan foto Elza.


Pria itu tampak kaget. Namun, secepat mungkin menetralkan ekpresinya.


"Ah, Nak Putri. Dia memang ada di sini seminggu yang lalu, tapi tadi pagi dia sudah pulang katanya dia kangen sama rumahnya. Bapak temuin dia di pinggir jalan dalam keadaan yang cukup memprihatinkan. Padahal Bapak sudah larang dia pulang, tapi dia ngotot katanya sudah kangen sama suaminya," jawab Devin berbohong. Tentu saja Devan tidak percaya begitu saja. Kemudian ia mengeluarkan bukti dia menelepon dengan seorang mucikari.


"Ini buktinya bahwa Anda menjual istri saya, di mana dia sekarang!" tanya Devan tidak sabaran.


"Tangkap saja mereka Pak. Buat mereka mengaku di mana istri saya sekarang!" Kesabaran Devan telah hilang. Ia menatap keduanya dengan pandangan dingin. Wajahnya yang imut sangat menggemaskan saat marah, tapi itu terlihat menakutkan di mata kedua manusia jahanam itu.


"Za, di mana kamu, Sayang?" Devan kembali ke dalam mobilnya. Seketika air matanya luruh. Rasa rindu dan takut bercampur menjadi satu. Ia sudah tak tahan lagi, apa yang harus ia katakan kepada mertuanya jika anak kesayangan mereka telah hilang.


"Arkkhhh ...!"


"Kenapa aku harus datang terlambat. Ini semua salah wanita menjijikkan itu, aku kehilangan Elza sekarang!" Devan menjerit frustrasi karena tak dapat menemukan sosok tidak terlalu tinggi itu di jarak pandangnya. Dia pikir wanitanya masih berada pada tempat ini. Karena sebelumnya dia telah menugaskan seseorang untuk mengawasi tempat di mana Elza nantinya akan diserahkan, tetapi Elza tak ada di sana.


Dirinya menatap kedua orang yang ditangkap itu dengan pandangan dingin. Kemudian, Devan menjalankan kembali mobilnya menuju ke penginapan di mana ia tinggal beberapa hari terakhir ini hanya untuk mencari keberadaan sang istri.


Dert ...! dert ...!


"Halo, Ma."


[Elza udah ketemu, Sayang?]


"Belum, Ma. Elza ternyata udah gak ada di sini. Devan masih mencari keberadaan Elza, Ma," jawab Devan dengan suara sedikit bergetar.


[Baiklah, kamu hati-hati ya. Mama yakin Elza baik-baik saja. Mama udah hubungi orang tua Elza dan sekarang mereka akan segera kembali untuk membantu menangani kasus ini.]


"Iya, Ma. Doain Ian, ya. Supaya bisa nemuin Elza segera mungkin."


Setelah percakapan singkat itu Devan melajukan mobilnya menuju tempat di mana prostitusi itu terjadi. Dia berharap bahwa Elza akan berada di sana.

__ADS_1


__ADS_2