Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Tunggulah Aku


__ADS_3

Mataku membola ketika mendengar percakapan mereka semua. Apa yang Aron maksud ingin menghilangkan ingatanku? Dia ingin menghapus semua memory tentang Devan? Yang benar saja, itu tidak akan pernah terjadi. Aku pikir dia adalah orang yang baik, tapi nyatanya?


Aku harus meluruskan masalah ini. Jika, masalah Dimitri kami akan tetap bisa bertemu jika ia ingin. Namun, jika ia ingin menghilangkan memoryku tentang Devan aku tidak akan tinggal diam.


Aku yang saat itu, sedang ingin pergi ke dapur, tapi masih belum mengetahui letak dapur di mana tak berharap akan mendengar pernyataan yang menyakiti telingaku.


Oke, dia baik dan juga tampan. Akan tetapi, kata 'baik' itu sudah tak pantas aku sematkan untuknya, kata yang pantas hanyalah pria egois. Ia tak bisa memaksakan kehendaknya kepadaku, bukan? Meskipun aku ini disukai oleh putra kecilnya.


Aku harus bisa menghindari segala tindakannya yang mencurigakan. Secepatnya aku akan segera kembali ke Indonesia tidak aman aku berada di sekitar pria itu meskipun orang tuanya begitu ramah dan baik kepadaku.


Saat ini aku kembali ke kamar di mana ada sesosok malaikat tampan yang sedang terlelap dengan damai. Sebelumnya ia memaksa untuk tidur bersamaku jadi aku iyakán saja karena anak seusianya ditinggalkan oleh seorang ibu pasti sangat berat.


Perlahan kurebahkan tubuh ini di samping malaikat tampan itu yang tidak terganggu dengan pergerakan di sekitarnya. Garis wajahnya sang mirip dengan ayahnya begitu tampan dan sempurna, tapi Dimitri adalah anak yang ceria dan aktif. Dimitri bagai matahari yang selalu memancarkan kehangatan dan rasa tenang tidak seperti dengan ayahnya yang bagaikan gunung emas, berkilau hanya saja tak mudah untuk digapai.


Aku mengelus punggung Dimitri. Perlahan rasa kantuk mulai menyerang yang membuatku harus menutup mata untuk mengistirahatkan pikiranku seharian ini.


* * *


Dari balik daun pintu seorang pria tampan menatap penuh arti sepasang wanita dan pria kecil yang sedang terlelap. Tenggelam di dalam mimpi yang indah. Pria itu yang tak lain adalah Aron merasa tersentuh karena baru kali ini putranya-Dimitri mau berdekatan dengan orang lain kecuali anggota keluarganya. Hal ini membuat tekadnya semakin bulat untuk memiliki Elza sepenuhnya.


"Dalam seminggu ini. Aku akan membuat kamu tak mengingatnya secara perlahan. Kamu hanya milikku. Aku tahu kamu adalah dia."


Aron menutup rapat kembali pintu kamar Elza. Ia telah bertekad akan melakukan aksinya secara perlahan karena dia tahu Elza bukanlah orang yang mudah dibodohi. Ia telah melihat profil wanita cantik itu yang tidak bisa dipandang enteng.


"Semuanya akan terlaksana. Kamu akan kembali di bulan terakhir ini bukan? Maka, pada waktu itu aku dan kamu telah menjalin suatu hubungan."


Tanpa rasa bersalah Aron mengucapkan hal tersebut dan benar-benar telah meninggalkan kamar Elza. Aron begitu terobsesi dengan Elza. Wanita yang baru ia kenal beberapa minggu terkahir ini hingga ia nekat untuk menghilangkan ingatan Elza membuang semua kenangan buruknya. Namun, Aron tidak mengetahui jika Elza mempunyai troma masa lalu yang begitu membekas pada dirinya.


* * *


Pada malam itu, Devan tengah lembur di kantor. Mencoba mengalihkan perhatiannya dari sang istri yang sampai kini belum ia ketahui di mana keberadaannya.


Ting ...!


Bunyi notifikasi terdengar dari benda pipi persegi empat di dekat tangan Devan. Ia menghentikan aktivitasnya memeriksa dokumen-dokumen kemudian memeriksanya. Ada sebuah pesan dari WeChat. Devan sebenarnya agak ragu untuk membuka pesan tersebut, tapi hatinya menyuruhnya untuk membuka pesan tersebut.


Seketika ketenangan Devan memudar. Netranya menunjukkan keterkejutan yang tidak dapat disembunyikan.


"Elza."


Nama itu lolos dari bibir Devan tanpa diminta. Ia tak tahu harus merasa senang atau sedih dengan pesan yang ia terima ia tahu ini dari wanita yang telah lama ia rindukan.


"Aku baik-baik saja dan akan segera kembali. Namun, bukan dalam waktu dekat ini ada masalah yang harus aku selesaikan. Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Sekarang aku berada di Amerika."

__ADS_1


Isi pesan Elza membuat Devan menampilkan senyum rumit ia tak tahu harus tertawa atau menangis.


"Segeralah kembali. Aku memberimu waktu, jika kamu tak kembali dalam sisa waktu bulan ini maka aku akan menjemputmu."


"Aku menantikanmu, Sayang."


Setelah itu, Devan mematikan ponselnya dan langsung menyambar jasnya untuk segera kembali ke kediaman Wijaya di mana sang mertua berada.


Ia sangat senang mendapatkan kabar dari Elza yang ternyata dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun, Elza tak menyebutkan di mana tepat lokasinya sekarang. Namun, itu sudah cukup. Devan sudah bisa memerintahkan koneksinya untuk mencari tempat tinggal sang istri.


"Aku sendiri yang akan menjemputmu, tunggulah aku."


* * *


Kegelapan perlahan surut digantikan seberkas cahaya yang mulai merambat dan menyinari semesta. Cahayanya yang hangat menggambarkan suasana di sebuah rumah mewah yang sedang melakukan rutinitas pagi yakni sarapan.


"Dimi mau disuapin sama Mama."


Ocehan dari seorang bocah laki-laki tampak sangat manis terdengar di telinga mereka. Seorang wanita cantik yang mendengar permintaan tersebut lantas tersenyum lembut.


"Mama suapin sama Mama, ya? Kalau gitu Dimi harus makan supaya cepat besar, hm."


Semua orang menatap ibu dan anak itu dengan pandangan rumit. Pasalnya Dimitri adalah anak yang begitu pemilih terhadap siapa pun yang berada di sekitarnya.


Apakah ini yang menjadi alasan terkuat mengapa Aron begitu ingin membuat Elza menjadi miliknya.


"Ehem ... Kakak ipar sepertinya sangat bahagia dengan ponakanku."


Kata seorang pria muda yang seusia dengan Devan. Ia tersenyum hangat ke arah Elza yang ditanggapi seadanya oleh Elza.


Pria itu sendiri bernama Nicholas Frankly–adik sepupu Aron.


"Jangan mengusiknya, Nic!" peringat Aron dengan suara rendah. Tiba-tiba suasana meja makan tampak suram karena aura yang dikeluarkan oleh Aron.


"Sudah-sudah, Elza di sini sebagai tamu. Jadi, kalian harus memperlakukannya dengan baik. Aron, jika kamu memiliki waktu senggan ajaklah Elza berjalan-jalan di kota kita ini."


Kriss Keysha–Ayah Aron menengahi suasana yang sedikit memanas itu.


"Nak, Elza. Jangan dengarkan perkataan Nic, ya. Dia masih kecil."


Elza hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan Ayah Aron. Perhatiannya ia alihkan kepada Dimitri, bocah itu sangat senang ketika ia suapi. Elza tersenyum melihat hal tersebut.


Setelah sarapan pagi. Mereka semua beranjak satu persatu untuk melakukan berbagai aktivitas di pagu hari seperti berangkat bekerja dan lainnya.

__ADS_1


Saat ini Elza telah usai memandikan Dimitri bocah itu sedikit rewel karena mau dimandikan olehnya. Karena Elza tak tahan dengan anak kecil yang begitu imut ketika sedang merajuk, maka ia yang turun tangan memandikannya.


"Mama, kita jalan-jalan yuk sama Papa juga. Mau ya, Dimi udah lama tidak pergi ke taman bermain."


Bocah itu perlahan mengeluarkan suara ketika selesai dipakaikan baju oleh Elza. Gadis itu sedikit mengerutkan keningnya dan langsung mengulas senyum hangat.


"Dimi mau jalan-jalan, ya?"


Bocah kecil itu lantas mengangguk keras. Tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi susunya. Elza membalas senyumannya.


"Tapi, sama Mama aja,ya. Soalnya Papa kamu lagi kerja."


"Eum ... tapi–"


"Papa akan temani Dimi untuk jalan-jalan ke taman."


Suara berat seseorang terdengar di dalam kamar Dimitri. Suara yang berat dan agak serak itu seakan mampu menghipnotis siapa saja yang mendengarnya. Namun, hal itu mungkin tidak berlaku bagi Elza karena ia tampak biasa-biasa saja malah mengerutkan dahinya.


"Papa ...!"


Dimitri menghampiri pria itu yang tak lain adalah Aron. Senyuman merekah di bibir kecilnya. Ia memeluk leher Aron dan mencium pipinya.


"Pa, kita mau jalan-jalan ke taman. Papa mau ikut? Harus mau ya, Pa?" mohonya dengan tangan terkepal seraya menatap Aron penuh harap. Mata bulatnya tampak berair saat menunggu keputusan sang Ayah.


"Jika kamu tak sibuk ikutlah bersama kami. Apa kamu tidak merasa kasihan dengan putramu sendiri?"


Aron melirik Elza sekilas tanpa ada keinginan membalas pesannya. Tanpa Elza sadari Aron tersenyum kecil. Wajahnya yang tak pernah memancarkan senyum kini telah terhias dengan busur kecil.


"Baiklah, tapi Dimi harus janji tidak boleh nakal."


"Dimi janji, Pa. Dimi gak bakal nakal dan akan nurut sama Mama dan Papa."


Dimitri berucap tulus sembari melirik Elza dan mengahampirinya.


"Ayo, Ma. Papa udah setuju," ajaknya.


Elza hanya tersenyum kikuk ketika ditarik tiba-tiba oleh Dimitri. Ia menatap Aron sejenak kemudian melayangkan senyum sopan sebagai bentuk penghargaan kepada Aron Keysha.


Aron tak langsung mengikuti Elza dan Dimitri ke luar dari kamar tersebut. Ia malah menghubungi seseorang.


"Lakukan semua persiapannya. Kita akan melakukannya sesegera mungkin."


Aron mematikan sambungan telepon setelah mengatakan hal tersebut. Ia tersenyum misterius dan mulai melangkah keluar kamar mengikuti Elza dan sang putra.

__ADS_1


"Dimi, kamu akan mendapatkannya sebagai Ibumu seutuhnya."


__ADS_2