
Matahari kini sudah muncul dan sinarnya masuk ke sela-sela gorden kamar milik zia. Shaka yang sudah bangun sedari tadi pun sudah selesai dengan mandinya dan sudah rapi dengan pakaian jasnya yang dikirim oleh asistennya kerumah reksa. Shaka tidak terlalu memgkhawayirkan cia karena sudah siap dengan seragamnya dan sudah berangkat kesekolahd engan rini dan el, karena el sudah masuk kesekolahan dimana cia bersekolah.
Shaka langsung menghampiri zia yang masih tertidur sangt pulas dan sedikit pucat diwajahnya membuat shaka sedikit khawatir apalagi semalam zia mengalami mimisan yang cukup banyak keliar darahnya.
Tangan shaka terulur untuk mengelus rambut zia. "Sayang hey bangun" ujar shaka lembut.
"Udah siang loh sayang, bangun dulu yuk sarapan"
Perlahan mata sayu zia mulai terbuka untuk menyesuaikan sinar yang masuk kematanya. "Hmm udah siang ya, cia udah berangkat sekolah mas?" tanya zia yang menyandarkan kepalanya kesandaran kasur untuk menetralkan rasa pusing dikepalanya.
"Udah tenang aja, udah berangkat bareng kak rini" jawab shaka.
Zia mengangguk lemah,"Kalo gitu aku mandi dulu ya mas" pamit zia.
Saat ingin melangkahkan kakinya zia merasa pusing kepalanya dan hampir jatuh kalau tidak shaka yang menangkap pinggangnya. "Hati hati zi, kamu kenapa?" ujar shaka.
"Kepala aku sedikit pusing mas gak tau kenapa" balas zia.
"Ya udah kamu istirahat aja dulu" shaka langsung meidurkan zia kembali dikasur tak lupa memakaikan selimut. "Bentar ya aku nelpon sekretarisku dulu" izin shaka.
Zia hanya menatap shaka yang berlalu keluar kamar. Kepala zia semalin sakit sekarang, zia harus cepat-cepat tau kenapa bisa kepalanya selalu terasa skait.
Ting!
Bunyi ponsel milik zia mengalihkan pandangannya kearah ponsel yang ada diatas nakas.
Dokter Siska
besok bisa kerumah sakit?
hasilnya sudah keluar besok
Pesan dari dokter siska yang mengatakan kalau hasil dari pemeriksaannya sudah keluar. Zia merasa sedikit takut kalau ada penyakit yang serius yang dia alami sekarang.
Anda:
bisa dok, saya besok kesana
Setelah membalas pesannya zia menyimpan kembali ponselnya bertepatan shaka yang baru masuk kedalam kamar.
"Nih makan bubur dulu" shaka menyodorkan satu mangkuk bubur setelah dibeli oleh asistennya.
Shaka membuka kembali jas kantornya, dia berniat untuk tidak kekantor saat melihat kondisi zia yang sakit seperti ini. Shaka baru melihat pertama kali ziaterbaling sakit, karena zia selalu keliatan sehat sebelum masalah-masalah muncul.
"Abisin ya, aku ambil obat dulu kebawah. Setelah cia pulang sekolah, kita pulang kerumah biar kamu bisa istirahat total dirumah" ujar shaka.
"Iya mas" kata zia.
Zia dengan susah payah menghabiskan bubur yang diberi oleh shaka, karena lidahnya terasa pahit saat memakan bubur. "Huh pait banget" ujar zia lirih.
"Udah habis? Nih obatnya" ujar shaka yang sudah tiba dihadapannya dnegan nampan yang berisi obat dan satu gelas air putih.
"Udah mas, siniin obatnya"
__ADS_1
Zia langaung meminum obatnya dan mengembalikan gelas kosong kepada shaka. "Makasih, maaf aku ngerepotin kamu mas" ujar zia tak enak.
"Gak ada yang ngerepotin zi. Aku malah bahagia kalo kamu ngerepotin aku, apalagi kamu sedang sakit begini" jelas shaka.
"Udah sebaiknya kamu tidur sebelum cia pulang ya, aku mau beresin baju kita"
"Biar aku aja mas, kamu pasti cape ngurus aku"
"Stttt diam sayang, kamu lebih baik tidur aja, aku gapapa ko" ujar shaka.
"Ya udah mas, jangan kecapean" ujar zia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hmm jadi papah mau tinggal sebulan disini?" tanya tasya.
"Ya, kenapa masalah?" tanya balik ardan.
Tasya menghela nafas gusar, "Ya gapapa sih pah, terserah aja" balas tasya.
"Ya sudah papah sama mamah mau tinggal sebulan disini, dan kamu harus ikut kerumah utama kita"
"Gak pah, aku disini aja" tolak tasya.
"Gak ada penolakan tasya" suara tegas ardan.
Tasya melirik kearah mamahnya dan hanya dibalas anggukkan olehnya. "Baiklah, tasya ikut" pungkasnya.
"Ayo biar mamah bantu" kata diandra.
Selepas kepergian mereka berdua, ardan mengambil ponselnya untuk menelpon rey agar segera menemuinya diruang kantor dirumahnya. Setelah setuju rey akan datang, ardan beranjak untuk pergi keruang kerjabyang ada dirumah tasya.
Tok... Tok...
"Om" panggil rey.
Ardan mengalihkan padangannya kearah pintu dimana rey berdiri diambang pintu. "Masuk rey" ujar ardan.
"Kenapa om manggil rey kesini?" tanya rey setelah duduk dikursi yang tersedia disana.
"Om mau kamu jujur sama om, soal tasya yang bikin ulah disini" ujar ardan.
Rey menatap ardan kemudian mengalihkan pandangannya kembali. "Om tanya tasya aja" balas rey.
"Dia tak akan menjawab jujur rey, kau tau itu" ujar ardan.
"Hmm aku tau om, dia gak akan jawab jujur"seru rey.
"Jadi apa yang tasya perbuat?" tanya ardan.
Rey mengangguk kepalanya. "Gini om tau sama shaka?" tanya rey.
"Ya om tau, pernah ada hubungan sama tasya kan"
__ADS_1
"Nah itu om, shaka sekarang udah menikah dan punya anak. Tapi tasya mau rebut shaka kembali" kata rey.
"Rebut?" beo ardan.
"Iya om rebut, tapi untungnya mereka slerang udah mulai membaik hubungannya" jelasnya.
"Syukurlah, bisa om ketemu sama istrinya shaka?"
"Biar nanti rey izin sama shaka dulu om"
"Baiklah makasih rey, om mau kembali kerumah utama om. Kamu mau ikut?" ajak ardan.
"Sama sama om, gak om aku mau langsung pulang aja" tolak rey.
"Ya udah, hati hati rey".
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zia sekarang sedang beristirahat dirumahnya setelah pulang dari rumah reksa tadi siang. Kini cia sedang bermain dnegan shaka dikamarnya, zia sudah meminta kaalu dia yang akan menemani cia bermain tetapi shaka melarangnya dan memintanya beristorahat dikamar.
"Huhh.... berasa sakit parah aku baring dikasur begini" lesu zia.
"Tapi aku juga rasa punya penyakit parah, semoga hasilnya baik baik aja" gumam zia.
Pintu kamar terbuka dan muncullah shaka yang membawa nampan yang berisi bubur beserta gelas berisi air putih. "Makan dulu" shaka langsung menyodorkan nampannya.
"Aku kan bisa ambil sendiri mas, jadi ngerepotin kan" ujar zia.
"Gak papa zi, udah makan dulu yah abisin loh"
"Iya mas makasih"
"Kamu gak mau periksa kedokter gitu?" tanya shaka.
Zia menghentikkan suapan sendokknya, "Gak usah mas, besok juga sembuh kok" jawab zia.
"Ya udah buburnya abisin, aku mau liat cia dulu"
Zia hanya mneganggukkan kepalanya lalu menyimpan mangkuknya kembali diatas nampan dan mengambil air minum. Zia berniat untuk kedapur menyimpan nampannya kesana, karena takut merepotkan shaka lagi.
Dengan perlahan zia berjalan sambil memegang nampannya, walaupun sedikit agak pusing tapi zia harus bisa berjalan sekuatnya untuk sampai kedapur. Zia berhenti sebelum menginjakkan kakinya menuruni anak tangganya.
Saat sudah sampai digundakkan terakhir dianak tangga zia terpeleset tapi untungnya ada shaka yang menangkap tubuh zia sebelum menyentuh lantai. Nampan yang berisi mangkuk dan gelas hancur dan pecah dilantai, zia merasa kaget dan merasa lemas seketika.
"Zia kamu gapapa?" tanya shaka.
"Aku gapapa mas, cuma kaget aja" jawab zia.
Shaka menatap muka zia dengan intens dan zia terlihat sangat jelas muka zia sangt pucat. "Zia kamu pucat banget" ujar shaka.
"Aku cuma kec-"
"ZIA"
__ADS_1