Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
44


__ADS_3

Shaka terduduk lemas dikursi tunggu diluar kamar raeat milik zia. Setelah mendengar kalau zia bertahan hanya tinggal satu bulan lagi, membuat shaka lemas seketika. Dia tidak bisa berpikir tenang sekarang, semua kemungkinan-kemungkinan yang ada dipikirannya akan menjadi kenyataan. Shaka ingin mencegah itu semua tetapi hanya akan sia-sia kalau zia sudah divonis tinggal satu bulan lagi.


Shaka membuka pelan pintu dan melihat zia yang sedang tertidud pulas disana membuatnya tak tahan lagi untuk tidak menetrskan air matanya. Shaka buru-buru menghapus air matanya dan mendekat kearah zia lalu tangannya terangkat untuk mengelus kening zia dan menciumnya.


"Tetap bertahan sayang" gumam shaka.


Jam menunjukkan pukul 10 malam tetapi shaka tidak bisa tidur. Shaka pun menatap kearah zia yang masih tertidur pulas, shaka beranjak dari duduknya dan pergi kearah jendela lalu membukanya sedikit takut zia akan kedinginan kalo dibuka semua.


Shaka memijat pelipisnya yang pusing sekarang karena masalah soal penyakit zia dan vonis yang dikatakan oleh dokter siska. Shaka punya harapan sedikit untuk kesembuhan zia sekarang membuatnya tidak bisa apa-apa.


'aku harus gimana sekarang' batin shaka.


Jendela ditutup kembali, shaka pun berjalan kesofa yang ada disana dan menidurkan tubuhnya. Tak berselang lama shaka tertidur, zia terbangun dan menatap sekeliling ruangannya. Zia melihat kearah sofa dimana ada shaka yang tertidur disana, membuat zia sedikit merasa tidak enak karena membuat shaka tidur disofa.


Zia perlahan bangkit dari tidurannya untuk mengubah posisinya menjadi duduk dan mengambil buku serta pulpen yang kemarin dia minta dari tasya. Zia mulai menuliskan sesuatu sambil sesekali menatap kearah shaka. Setelah selesai zia menyimpannya kembali didalam lemari samping kasurnya, lalu merebahkan tubuhnya kembali untuk tidur.


Matahari pun telah menampakkan wujudnya, shaka yang terganggu dengan sinar matahari yang menembus jendela membuatnya terbangun dan menolehkan kepalanya disana zia sedang bersandar sambil menatap dirinya tak lupa senyuman terpatri diwajahnya.


"Pagi mas" ujar zia.


"Pagi sayang, kok udah bangun? Gak bangunin aku juga" kata shaka.


"Aku takut ganggu tidur kamu, soalnya kamu tidur nyenyak banget pasti kecapean ya"


"Hm sedikit. Kamu udah sarapan?"


"Udah tadi dikasih suster kok. Oh ya kamu bersih bersih aja terus sarapan ya"


"Iya udah aku keluar dulu ya sekalian beli makanan. Katanya nanti ayah sama bunda bakal kesini"


"Sama cia ga mas?"


"Kayanya iya sayang, nanti ku coba tanya ya. Kamu kangen sama cia?"


"Kangen banget malahan mas"


"Iya udah aku keluar dulu bentar"


"Iya mas"


Senyuman dari wajah zia pudar saat mengingat dirinya tidak akan lama lagi, itu artinya dia tidak akan melihat cia, shaka dan keluarganya nanti. Apa mereka akan baik-baik aja setelah zia pergi? Apa cia dan shaka akan bisa hidup tanpa dirinya?. Pikirannya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan seperti itu akhir-akhir ini membuatnya sedikit tidak tenang.

__ADS_1


Tak berselang lama pintu kamar zia terbuka menampakkan cia yang sedang cemberut membuat zia tersenyum melihatnya.


"Kenapa cemberut hm?"


"Gak mau peluk mama nih?


Cia langsung berlari kearah zia dan memeluknya walaupun dari samping. "Cia kangen tau sama mama ih" rengek cia.


"Huu mama juga kangen loh sama cia" ujar zia sambil mencubit hidung milik cia.


"Papa mana?" tanya cia celingak-celinguk melihat sekeliling.


"Papa keluar cari makan sayang, kamu udah makan belum?" tanya zia.


"Udah sama oma tadi" jawabnya.


"Terus oma kemana?"


"Hmm oma katanya mau nyusul papa tapi gak tau dimana"


"Mungkin dikantin sayang"


Cia terus saja memeluk zia dari samping menyalurkan rasa kangennya karena sudah beberapa hari tidak bertemu dengan zia. Begitupun sebaliknya zia merasa bahagia setelah mihat kedatangan cia. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama dan orang tua shaka juga yang ikut bergabung disana, sedangkan shaka harus mengurusi perusahaannya dikantin rumah sakit.


Tasya yang ingin mengunjungi zia sore nanti, sudah bersiap dan akan membeli buah-buahan terlebih dahulu sebelum kerumah sakit. Kini zia dan tasya sudah sangat dekat dan melupakan masalah dimasa lalu, membuat semuanya semakin membaik sekarang. Begitupun shaka dia sudah mulai memaafkan tindakkan tasya tetapi masih dingin kepada tasya.


"Nah udah siap. Kalo gitu aku pamit dulu ya mama" pamit tasya.


"Iya sayang hati hati, sampein juga salam mama buat zia ya"


"Siap mama"


Tasya langsung pergi menuju mobilnya dan akan mmapir kesupermarket sebentah untuk membeli buah-buahan yang segar. Setelah semuanya sudah dibeli, tasya langsung pergi menuju rumah sakit dimana zia dirawar.


Tasya berjalan sambil memegang satu kresek buah-buahannya dan sebelah tangannya memegang ponsel miliknya. Tasya sudah sampai dipintu rawat zia, diapun membukanya secara perlahan dan melihat zia yang sedang bersandar seorang diri didalam kamarnya.


"Zia"


Zia langsung menolehkan kepalanya saat ada yang memanggul dirinya. "Eh sya masuk sini" ujar zia.


"Nih aku bawain buah"

__ADS_1


"Makasih banyak sya"


Tasya menganggukkan kepalanya, "Yang lain kemana kok sendirian zi?" tanya tasya.


"Yang lain kekantin sya, soalnya pasti pada lapar" jawab zia.


"Oh iya. Gimana keadaan kamu? Udah membaik?"


"Iya gitu aja sya, baik ko"


"Syukurlah, oh iya ada titipan salam dari mama buat kamu zi"


"Ah iya sampein salam juga buat mama kamu tasya"


Tasya terseyum menanggapinya. Tasya menatap zia yang wajahnya semakin pucat sekarang tidak seperti waktu dia datang bersama papanya, wajahnya tidak terlalu pucat seperti sekarang.


"Kamu yakin gapapa? Kok wajah kamu makin pucat aja zi" tanya tasya selidik.


"Aku gapapa kok sya, mungkin efek obat aja jadi gini" jawab zia sambil terkekeh pelan.


Tasya menganggukkan kepalanya, walaupun di sedikit tidak percaya soal zia bilang baik-baik aja. "Kalo gitu aku pamit dulu keburu malem zi, kalo ada apa apa hubungi aku aja ya. Cepet sembuh zi" ujar tasya.


"Iya tasya makasih banyak, hati hati loh. Oh iya aku mau bilang tolong nanti jagain cia untuk aku ya" ujar zia tiba-tiba.


"Loh kenapa bilang gitu?"


"Ya pokoknya jagain ya tasya"


"Iya udah zi aku jagain, kalo gitu aku pamit ya"


Zia melambaikan tangannya saat tasya ingin membuka pintu dan tasya juga melambaikan tangannya juga. "Hati hati sya".


Malam sudah tiba, semua keluarganya sudah pulang tadi sore setelah tasya pulang keluarganya juga ikut pamit pulang. Shaka pun baru menyelesailan masalah pekerjaannya dan sedang berjalan untuk pergi kekamar rawat zia. Shaka sedikit lelah hari ini karena harus mengerjakan kerjaannya dan juga kurang banyak istirahat karena harus menjaga zia.


Saat ingin membuka pintu, shaka dikejutkan oleh dokter siska yang terlebih dahulu membuka pintunya


"Shaka"


Shaka langsung menghampiri dokter siska, "Kenapa dok, kok keluar dari kamar zia apa terjadi sesuatu" tanya shaka.


"Zia shaka zi-zia"

__ADS_1


"Zia kenapa dok?" shaka langsung khawatir saat dokter siska menyebutkan nama zia.


"Zia sudah meninggal shaka"


__ADS_2