
Kepalaku berdenyut hebat saat aku ingin membuka mata. Apa yang sedang terjadi kepadaku? Aku bertanya-tanya setelah menyadari aku berada di ruang serbah putih dengan selang infus yang menancap di tangan kananku. Meskipun pandanganku masih buram. Namun, aku dapat melihat sosok pria yang sedang duduk memangku laptop yang menyala terang di depannya.
Apakah dia Devan? Pandanganku masih buram jadi aku tak dapat melihat pria itu Devan atau bukan. Aku mencoba untuk duduk demi memastikan penglihatanku benar atau tidak.
Pria yang mungkin menyadari jika aku sudah terbangun lantas menaruh laptopnya di meja kaca yang tersedia di ruang inapku. Aku masih pusing dan bertanya-tanya kenapa aku bisa berada di tempat serbah putih ini.
"Hy, kau butuh sesuatu?" tanyanya lembut yang membuatku mengernyit bingung. Siapa dia? Ah, iya dia adalah pria yang menolongku seminggu yang lalu.
"Iya, saya baik-baik saja. Lalu kenapa saya bisa berada di tempat ini?" tanyaku pelan sembari mencoba mentralkan denyutan di kepalaku dengan cara mencengkeramnya kuat. Namun, tak membuahkan hasil denyutannya makin terasa.
"Kau pingsan sewaktu kita akan pulang dari restoran. Dimitri sampai menangis karena melihat kau tak sadarkan diri," jawabnya datar. Suara lembutnya telah menguap ke udara seakan itu tak pernah hadir.
"Begitukah." Aku berucap seakan melontarkan pertanyaan karena jujur aku tak dapat mengingat kejadian di mana aku tak sadarkan diri. Ingatan itu seakan hilang tak berbekas dalam pikiranku.
"Lalu berapa lama aku di rumah sakit ini?" tanyaku lagi. Namun, tak menatapnya saat bertanya jadi aku tak dapat melihat ekspresi wajah pria yang berdiri di sampingku ini.
"Sekitar dua hari," jawabnya tenang.
Aku hanya diam mendengar jawaban itu. Entah kenapa rasanya ada serpihan ingatanku yang hilang. Namun, apa itu aku juga tak mengetahuinya.
"Bisa tolong ambilkan tasku!" pintaku padanya. Jika, ia masih punya perasaan pasti dia akan mengambilkannya untukku.
Pria itu tanpa banyak bicara lantas bergerak, dan mengambil tasku yang berada di atas meja kaca itu.
"Ini. Bilang sesuatu jika kau membutuhkannya, saya akan melakukan beberapa pekerjaan." Aku langsung saja mengambil tasku dari tangannya, dan mencari-cari ponselku.
Ada pesan dari Devan. Untung saja pria itu tak terlalu mengerti bahasa Indonesia sehingga ia tak paham dengan pesan Devan saat ia membacanya.
To Suami Bocilku ♡
Aku baik-baik saja. Sekarang aku ada di rumah sakit, karena aku pingsan kemarin saat membawa anak dari orang yang menolongku berjalan-jalan. Namun, aku tidak tahu penyebab persis aku pingsan. Aku akan segera kembali. Jemputlah aku di sini jika pekerjaanmu telah selesai.
Aku mengirimkan pesan itu kepada Devan. Semoga saja dia membacanya dengan segera. Aku tak bisa berlama-lama lagi di sini dengan kondisi yang lemah. Aku takut Aron akan melancarkan aksinya. Apa lagi aku tak mengenal negara ini.
Aku mengarsipkan pesanku dengan Devan sehingga nantinya jika ada apa-apa aku masih bisa menemukan pesan itu. Setelahnya aku pun meletakkan kembali ponsel itu ke dalam tas sampingku, dan menaruhnya di nakas.
"Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit ini?" tanyaku pelan. Posisiku sekarang sudah berbaring menatap plafon ruma sakit yang berwarna putih cerah.
"Mungkin esok," jawabnya dengan suara yang sama seperti biasa datar.
Aku hanya diam mendengar jawabannya. Aku juga tak ingin repot-repot bertanya, apakah ia menemaniku selama dua hari ketika aku tak sadarkan diri.
Kepalaku kembali berdenyut yang membuat tubuhku kembali bergetar hebat. Ada apa ini? Apakah penyakitku kambuh lagi? Itu tidak mungkin sudah sangat lama. Aku masih mencoba meredam sakit kepala yang mendera hingga tubuhku bergetar hebat.
__ADS_1
"S-sakit ...." Dengan lemah aku menggumamkan kata itu sebelum kehilangan kesadaran karena tak tahan dengan rasa sakit yang menghantam kepalaku.
* * *
Aron yang melihat Elza menahan rasa sakit di kepalanya hanya terdiam melihat hal itu. Karena ini adalah resiko dari hal yang akan ia lakukan kepada Elza, dan kemarin hal itu telah dimulai. Perlahan-lahan ia akan menghapus semua memori tentang pria yang bernama Devan itu. Meskipun mengembalikan ingatan masa lalunya itu tidak masalah.
"Maaf!" Lagi-lagi hanya kata itu yang dapat terucap dari bibir Aron. Ia kemudian memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Elza yang telah tak sadarkan diri.
Tak lama dokter pun datang, dan memeriksa keadaan Elza sembari kembali memberikannya suntikan.
"Dia tidak apa-apa itu reaksi alaminya. Semoga saja ingatan masa lalunya tak mempengaruhi psikologisnya karena itu sangat berbahaya bagi kesehatannya. Dilihat dari hasil rekam medisnya Nyonya Elza di masa lalu kerap kali diberikan obat penenang untuk menghilangkan ingatan itu. Namun, kami berharap kali ini hanya menghapus kenangannya bersama dengan suaminya." Dokter itu menjelaskan dengan penuh senyuman. Ia memperlakukan Elza dengan sangat hati-hati karena yang berdiri di depannya adalah pria yang paling di takuti di kota ini.
Aron yang mendengar penjelasan itu lantas tersenyum karena keputusannya ternyata tidaklah salah untuk melakukan hal ini.
"Baiklah. Terima kasih, Dok." Aron mengucapkan terima kasih untuk pertama kali kepada dokter itu yang membuatnya sedikit terkejut. Namun, hanya mengangguk kemudian berlalu keluar diikuti oleh perawat yang lain.
Sepeninggal dokter itu Aron menatap Elza yang sedang terlelap dalam tidurnya. Proses ini akan berakhir dalam 3 hari ke depan di mana Elza akan secara perlahan melupakan tentang ingatan bersama dengan suaminya.
Aron yang tak sengaja menatap jari manis Elza. Perlahan mendekat, dan menggenggam tangan Elza yang terpasang selang infus di jari manisnya terdapat cicin berwarna silver yang ditaburi emas disepanjang lingkarannya. Aron tahu, meski cincin ini tampak sederhana. Namun, ini adalah rancangan terkenal yang dibuat khusus. Perlahan Aron melepaskan cincin itu, dan memasangkan cincin berlian tanda bahwa mereka telah bertunangan.
"Kau milikku," gumamnya sembari mengecup pelan tangan mulus Elza kemudian meletakkan kembali tangan Elza di samping tubuhnya, dan merapikan selimut Elza agar ia tetap merasa nyaman.
Sementara itu, di Indonesia Devan yang tiba-tiba terjaga dalam tidurnya lantas terbangun dengan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya. Ia bermimpi buruk jika Elza diganggu oleh seseorang, dan meminta tolong kepadanya. Namun, ia tak dapat menolongnya.
Devan yang melihat itu bergegas ke kamar mandi itu mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat malam dan meminta kepada Allah agar sang istri selalu dalam lindungannya.
Setelah beberapa menit Devan pun mengambil mushaf Al-Qur'an untuk dibacanya. Ia membaca dengan penuh penghayatan, suaranya yang merdu sangat menyejukkan hati bagi pendengarnya. Tanpa terasa pipi Devan mengalir lelehan air mata. Namun, segera ia hapus. Ia rindu dengan sang istri ketika membaca salah satu surah yang ada di Al-Qur'an. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi dengan sang istri. Namun, berdoa semoga saja ia dalam keadaan baik-baik saja.
Setelah membaca Al-Qur'an Devan segera membereskan sajadahnya. Kemudian kembali ke tempat tidur tak lupa ia memeriksa ponsel mungkin saja ada pesan dari sang istri, dan benar saja ada pesan yang panjang dari sang istri yang membuat hati Devan sedikit tidak tenang. Ia tak memberi tahu hal ini kepada orang tua Elza dan orang tuanya karena Devan takut mereka akan khawatir. Mereka hanya memberi tahu jika Elza saat ini aman berada di rumah rekan bisnis sang mertua jadi mereka dapat bernapas legah.
Di pesan itu Elza diminta untuk dijemput jika ia tak dalam keadaan sibuk. Elza juga mengatakan jika ia berada di rumah sakit. Namun, sudah dalam keadaan baik-baik saja. Devan juga menghawatirkan tentang hal itu.
Ia harus membereskan segera masalah di perusahaannya, dan besok ia akan melakukan penerbangan menuju San Francisco.
Sementara itu, dua hari yang lalu di kediaman Kriss Keysha ia menemui sang istri dan menanyakan keberadaan sang putra. Istrinya mengatakan bahwa Aron sedang melakukan perjalanan bisnis. Namun, ia tak tahu di mana ia pergi melakukan perjalanan bisnis.
"Tidak Ma, Aron tidak melakukan perjalanan bisnis. Dia benar-benar melakukan apa yang pernah ia katakan," tutur Kriss Keysha ayah Aron dengan frustasi. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan gila dari putranya itu.
"Astaga. Apakah itu benar Pa? Aron, apakah dia tidak memikirkan konsekuensinya!" balas Amira dengan wajah frustasi dan cemas.
Ia duduk di dekat sang suami. Baru saja ia habis menidurkan cucunya yang terlelap habis berjalan-jalan dengan Elza. Ia tak mengetahui ternyata hal yang ingin dilakukan oleh putranya adalah ini.
"Pa, Aron mengatakan jika akan mengantarkan Elza untuk membereskan barang-barangnya karena Elza akan kembali ke Indonesia sore nanti." Amira masih mengingat perkataan sang putra sore tadi.
__ADS_1
"Itu bohong, Ma. Dia malah membawa Elza ke rumah sakit miliknya untuk melakukan hal keji itu. Padahal Elza sebenarnya memiliki kondisi psikologis yang buruk di masa lalu. Namun, Aron tetap nekat untuk melakukan hal tersebut. Dia malah menyakiti Elza, Ma. Papa tidak habis pikir dengan anak kita yang satu itu. Lalu apa yang harus Papa katakan dengan Pak Ali? Ia telah mengetahui jika anaknya aman bersama kita, dan dia memberi pesan untuk menjaga anaknya! Lalu sekarang? Jika dia mendengar ini kita harus melakukan apa?" Kriss memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.
"Mama akan telfon Aron untuk menyuruhnya segera kembali, dan menjelaskan hal ini," ujar Amira kemudian mulai menelfon nomer putranya. Pada panggilan ketiga barulah Aron mengangkatnya, dan bersedia untuk kembali.
Setelah beberapa lama mereka menunggu akhirnya Aron dengan setelah jasnya pun datang, dan duduk di depan kedua orang tuanya. Syukur saja, beberapa keluarga inti sedang tak berada di tempat mereka sedang melakukan liburan. Sedangkan Nic, adik sepupu dari Aron sedang ia tugaskan untuk mengurus anak perusahaan yang ada di Uzbekistan jadi ia tak akan kembali dalam beberapa waktu.
"Ada apa Ma, Pa?" tanya Aron pelan. Ia seakan tak melakukan kesalahan apa pun, tetap masih bersikap tenang.
"Kenapa kau melakukan hal itu kepada Elza?" tanya Kriss to the point. Ia menatap sang putra dengan tatapan tajam.
"Iya, Nak. Kau tidak perlu membuat Elza menghilangkan ingatannya tentang suaminya. Lagi pula kita dengan Elza berbeda agama. Kau tahu, Elza beragama Islam, apakah kau tega menyakitinya dengan mengambil ia dari penciptanya," penuturan dari sang Mama tiba-tiba membuat Aron membeku.
Setelah beberapa saat Aron menetralkan ekpresinya. Ia menatap sang ayah dan Mama secara bergantian.
Ia tak memikirkan hal itu. Apakah ia harus mengambil Elza dari penciptanya, atau ia yang harus meninggalkan Tuhan-Nya? Tiba-tiba kebimbangan menelusupi pikiran Aron yang membuatnya kembali terdiam.
"Kau tidak hanya menyakitinya, Nak. Namun, juga menghancurkan kebahagiaannya dengan mengambil ingatannya secara paksa," tutur Amira memberi pengertian kepada putranya.
"Aron sangat menyukainya, Ma, Pa. Dimitri juga menyukai Elza. Elza pasti akan memilih Aron!"
"Sayang, itu bukan cinta kau hanya terobsesi kepadanya karena masih sangat mencintai Elis. Kau tahu, Dimitri memang menyukai Elza, tapi ia hanya merindukan seorang ibu. Kau bisa memberikannya seorang ibu. Namun, kau tak boleh menghancurkan seseorang demi kepentinganmu sendiri, Sayang."
Amira mencoba kembali memberi pengertian kepada sang anak semoga dia ingin mendengar kata-katanya.
"Lagi pula. Keluarganya sudah mengetahui jika Elza aman bersama kita. Jika, putri mereka berubah setelah berada di tempat kita. Apakah mereka akan tinggal diam dan tidak menuntut kita? Ingat, suami Elza tak bisa diremehkan begitu saja." Kali ini sang ayah yang memberi pengertian.
"Aron sudah setengah jalan, Ma, Pa. Pantang untuk mundur semuanya sudah terlanjur. Maaf, Aron tetap akan melakukan ini. Aron yakin Elza akan tetap bahagia jika bersama Aron. Masalah orang tuanya, mereka pasti akan merestui jika memang benar menyukai putrinya maka mereka akan merestui hal ini jika Elza telah menyukaiku. Karena setelah proses ini Aron akan mengumumkan berita pertunangan kami!"
Aron langsung berdiri setelah mengatakan hal tersebut. Ia memperbaiki jasnya yang sedikit kusuk.
"Aron minta maaf, Ma, Pa." Setelahnya dia meninggalkan kedua orang tuanya yang tercengang mendengar penuturan sang putra yang sudah sangat jauh dari kepribadiannya yang dulu sering berbicara irit. Namun, sekarang ia malah berbicara panjang lebar.
"Nak! Kalian beda agama! Elza tidak akan pernah meninggalkan penciptanya meskipun kamu telah menghilangkan ingatannya!"
Amira berucap ketika Aron melangkah meninggalkan mereka. Namun, pria itu tak berhenti sedikitpun yang membuat keduanya memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri akibat kelakuan sang putra yang sudah kelewat batas.
"Kita harus apa, Pa?" tanya Amira kepada sang suami.
"Papa juga tidak tahu. Berdoa saja, suaminya tidak melakukan apa-apa ketika mengetahui hal ini," jawab Kriss pusing dengan kelakuan sang putra.
Aron sepertinya sudah kehilangan akal untuk memiliki Elza seutuhnya yang baru saja ia kenal beberapa minggu yang lalu. Padahal ia tahu bahwa status Elza adalah istri orang. Lagi pula mereka berbeda keyakinan lalu kenapa Aron masih begitu bertekad? Kenapa dia tak mencari ibu untuk Dimitri yang se-agama saja. Ini sangat mustahil untuk ia lakukan.
Bukan hanya Elza nantinya yang akan tersakiti. Namun, juga Devan pasti pria imut itu akan sangat tersakiti.
__ADS_1