Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda
Kebenaran


__ADS_3

Deru mesin mobil berhenti di depan rumah keluarga besar Kris Keysha, dari dalam mobil keluarlah seorang wanita cantik diikuti pria tampan dan juga orang tua mereka.


Pakaian yang dikenakan sangat kontraks dengan langit yang sedang mendung saat ini, mereka memasuki rumah itu disambut beberapa maid yang bertugas.


Di ruang tamu, kepala keluarga—Kris Keysha tampak menonton berita bersama istrinya ditemani seorang bocah lelaki serta seorang pemuda tampan.


"Kalian kembali?" Amira bersuara terlebih dahulu saat melihat sosok wanita cantik yang mendekat.


"Iya, Ma. Baru saja," jawab wanita itu yang tak lain adalah Elza.


"Hai, calon Kakak ipar masih ingat, Nic? Adikmu yang paling tampan," ucap Nic dengan tingkat kepedean di atas rata-rata yang membuat Elza memutar bola mata jengah.


"Iya, ingat Nic yang play boy dan cerewet," balas Elza sembari menatap Nic sebentar.


"He he, aku diingat dengan hal seperti itu." Nic tertawa garing yang tidak dihiraukan oleh Elza karena dirinya tahu Nic pasti sedang mellow drama.


"Tidak perlu memperdulikannya, Sayang. Sini, kami ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Amira berucap lembut dan memanggil Elza untuk duduk di dekatnya.


"Nic, panggilkan Kakak mu itu," pinta Amira kepada Nic yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri sama seperti Aron.


"Ok, Ma, wait."


Amira mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya kepada sahabatnya—Shinta. Ia melihat wanita paruh baya itu masih tetap sama dengan senyum khasnya.


"Sepertinya kita harus selesaikan hari ini, Shin, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman lagi."


"Hm, kami setuju, Elza juga sudah membaik," balas Shinta kepada teman lamanya.

__ADS_1


Tak lama keluarlah Aron dengan pakaian santainya, baru saja ia pulang karena ditelfon oleh sang Mama dengan segala ancamannya jika ia tak ingin pulang.


Aron dengan ekspresi datarnya duduk di sofa kosong, sedangkan Nic menggendong Dimitri dan masuk ke dalam karena menurutnya ini masalah orang dewasa dia cukup tahu saja tanpa ikut campur, dia masih perlu menghubungi para gadisnya.


Setelah kepergian Dimitri dan Nic, Kris langsung membuka suara karena menurutnya ini adalah waktu yang tepat.


"Nak Elza, sebelumnya Paman minta maaf atas segala kesalahan yang putra Paman lakukan, dia hanya terobsesi kepadamu," ucap Kris pelan membuka percakapan yang menyita perhatian dan tanda tanya di dalam kepala Elza.


"Yah, apakah harus sekarang?" tanya Aron keberatan.


"Jika bukan sekarang kapan lagi? Sebelum semuanya terlambat."


Aron hanya mampu menggeram kesal melihat perlakuan orang tuanya yang tidak memberikannya dukungan sedikitpun.


"Wait, Paman ada apa ini? Aron kenapa? Apa ini tentang pertunangan kita?" tanya Elza bingung sembari menatap orang-orang yang berada di ruang tamu tersebut.


Elza akhirnya kembali diam dengan sejuta pertanyaan di dalam kepalanya yang ingin segera dikeluarkan.


"Maaf, Nak Elza. Beberapa bulan yang lalu putra kami melakukan sebuah operasi kepadamu melalui bantuan dokter di rumah sakit Keysha, Aron menghilangkan sebagian ingatanmu tentang keluarga, suami dan nama kamu, yang kamu ingat hanya kenangan kebersamaanmu dengan Aron dan Dimitri, kami sangat minta maaf atas semua kesalahannya, jangan tuntut dia atas apa yang telah dia perbuat terhadapmu." Aron Keysha menjelaskan dengan nada yang penuh rasa kecewa dan ketidak berdayaan, atas apa yang putranya lakukan.


"Wait, suami? Kalau  keluarga Elza tak pernah melupakan hal tersebut hanya saja ingatan Elza terpaku di saat usia Elza 20 tahun saja, jadi Elza waktu itu cukup heran melihat perubahan kedua orang dua Elza, tapi tentang suami dan sudah menikah Elza tak pernah mengingatnya. Jadi, Elza sebelumnya sudah menjadi istri orang lain? Lalu kenapa Aron tega menghilangkan ingatan Elza tanpa ketahui, apa motif dari apa yang dia lakukan?" Elza menatap Aron dengan penuh kekecewaan yang besar, dirinya menatap pria tampan di depannya itu yang sedang menunduk. Hatinya rasanya sangat sakit mengetahui fakta itu, dirinya kecewa karena dirinya tahu bahwa sekarang sudah berusia 27 tahun, fakta bahwa begitu banyak ingatannya yang dia lupakan membuatnya merasa sangat sedih dan kesal, dia tidak tahu bagaimana dia dengan keluarnya di tahun-tahun itu bagaimana bisa dia menikah dan mempunyai seorang suami, Elza melupakan semua ingatan itu, lalu siapa suamiku sebenarnya? Elza bertanya-tanya dalam hatinya jelas raut kecewa dan marah terpancar di wajah wanita itu sekarang.


"Aron mengira bahwa kamu sosok Elis, istrinya yang telah meninggal 5 tahun yang lalu, dan Dimitri sangat menyayangimu itulah mengapa dia mengambil inisiatif itu, kami telah melarangnya, tapi kami tak punya daya dan sebenarnya kami juga mau kamu menjadi menantu kami, hanya saja cara yang kami lakukan salah, oleh karena itu maafkanlah kami, Sayang." Giliran Amira yang bersuara sedangkan Aron masih terdiam tak mengatakan sepatah katah pun.


Sementara itu, orang tua Elza dan Devan masih diam mendengarkan semua penjelasan mereka, jujur saja Ayah Elza begitu marah saat mengetahui putrinya melakukan operasi secara paksa tanpa kehendaknya. Namun, ia berusaha tetap tenang, berbeda dengan Devan yang berusaha menahan niatnya untuk memberikan bogeman kepada Aron.


"Astagfirullah, tega sekali kalian kepada putriku, apa salahnya untung saja kami mengetahui keberadaannya, kami pikir kalian menjaganya dengan baik, tapi kenyataannya kalian melakukan hal yang tidak manusiawi kepadanya." Shinta bersuara dengan tangis yang tak dapat ditahan, air matanya jatuh saat mengetahui putri kecilnya diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Tenang, Ma. Kita dengarkan penjelasan mereka," ujar sang  suami menenangkan.


"Aron, kenapa kamu melakukan hal sebejat ini kepadaku? Sekarang lihat aku, aku tidak mengetahui siapa aku, siapa orang tuaku, siapa suamiku, siapa teman-teman dan rekan kerjaku, apa kamu sengaja melakukannya untuk menghancurkan hidupku?" tanya Elza tidak percaya, dirinya pikir pria tampan itu memiliki hati yang baik jadi dirinya mau menikah dengannya.


"Iya, saya memang jahat, karena saya mencintai kamu itulah alasan saya melakukan semua itu agar kamu bisa bahagia bersamaku dan juga Dimitri putra kita, kamu tahu ... saya mencari tahu segalanya tentangmu dan karena pria yang berstatus sebagai suamimu itu kamu banyak menderita dan—"


Bugh!


Satu bogeman mentah melayang di pipi Aron, pria itu mengecek bibirnya yang sobek dan sedikit berdarah akibat tinjauan yang dia terima dari bocah di depannya.


"Apa maksud Anda menderita? Hei, kejam sekali Anda mengatakan hal tersebut, Anda tidak tahu saja sefrustasi apa saya untuk dapat menemukan istri saya dan berusaha melindungi dan entengnya Anda mengatakan hal tersebut, lancang sekali untuk orang asing seperti Anda mengomentari kehidupan rumah tangga orang lain!"


Devan yang tidak terima, langsung meninju Aron dengan keras, dia tidak tahu seberapa takut dirinya kehilangan sang istri, berusaha untuk menjaganya tetap aman, dan seenaknya dia mengatakan bahwa Elzanya sangat menderita karena ulahnya.


"Ck, apakah tidak seperti itu kenyataannya? Mantan Anda yang bernama Laras menculiknya dan Elza hampir dijadikan sebagai wanita penghibur dan simpanan om-om, apa itu yang Anda maksud sebagai menjaga dan mencari?!" Aron menyeringai setelah mengatakan hal tersebut, dirinya tak ingin kalah dari bocah di depannya ini.


Namun, apa yang Aron katakan adalah sebuah fakta yang membuat Devan terdiam, dirinya gagal melindungi sang istri dirinya gagal untuk menjaganya sesuai janji yang telah dirinya ucapkan di depan orang tua dan Allah yang menjadi saksinya. Lantas, menjaga seperti apa yang Devan lakukan kepada Elza, sehingga dia bisa kehilangannya selama tiga bulan dan bahkan orang lain ingin mengambil alih posisinya menjadi suami Elza, Devan tahu dirinya tidak tegas menghadapi masalah ini apa lagi dengan Laras dia masih membiarkannya untuk berkeliaran dan masih mengutuk istrinya dengan bebas. Memang pantas orang lain ingin mengambil posisinya itu.


"Stop, kalian berdua! Aku tidak ingin mendengar hal lain lagi, sudah cukup kebenaran yang menyakitkan ini, untukmu Aron aku sangat kecewa demi obsesimu kepadaku kamu rela melakukan hal sekotor itu kepadaku, dan kamu Devan aku kira dirimu adalah sepupuku, kenapa kamu tidak jujur sedari awal, ha?! Apa kamu senang jika aku menikah dengan pria lain sedangkan kita masih berstatus sebagai suami-istri, oh iya kamu ingin bersama dengan si Laras itu 'kan, jujur aku kecewa dengan semua sikapmu terhadapku, lalu tindakan apa yang kamu ambil untuk si Laras itu setelah mengetahui fakta dia yang menculikku? Kamu tidak melakukan apa-apa kepadanya bukan?!" Devan fak bisa menjawab dia diam membisu karena apa yang Elza katakan adalah sebuah fakta yang sangat menyakitinya, dirinya memang bodoh tidak berkata jujur dan tidak menunda waktu untuk menghukum Laras. Atas dasar apa wanita itu berani menyakiti istrinya kemudian masih bisa bebas, dia memang tak becus menangani masalah ini.


Elza yang tidak mendapatkan jawaban apa pun dengan penuh kekecewaan beranjak pergi dari ruang tamu, dia tidak habis pikir sebercanda ini hidupnya? Di mana orang lain bisa sesuka menghilangkan kenangan dalam hidupnya hanya karena ingin bersamanya, dan yang lain tak mencarinya sedikitpun, tidak memberikannya sedikitpun keadilan untuk menghukum orang-orang yang berencana buruk terhadapnya. Bagaimana jika apa yang Aron katakan benar, dirinya hampir saja menjadi seorang pelacur dan simpanan om-km jika saja tak berhasil kabur dan diselamatkan oleh pria itu. Elza sangat kecewa dengan sepupunya itu, tidak! Dia suaminya yang tidak pernah sekalipun peduli padanya.


Tak ada yang mencegah Elza pergi dari sana, semua orang tua hanya mampu menghela napas berat dan menggeleng karena mereka tahu ini resiko yang harus mereka dapat ketika mengatakan segalanya kepada Elza, dan Aron syukurnya kemungkinan terburuk itu tak terjadi, Elza hanya marah karena telah diperdaya oleh orang lain.


Sementara itu, tak ada yang mengetahui sekecewa dan sesakit apa hati Devan saat ini, dia kecewa mendengar pernyataan istrinya. Namun, dia tidak marah kepada Elza karena dia tahu istirnya belum mengingat segalanya jadi dia mengatakan hal tersebut. Dia ingin menjelaskan ini perlahan-lahan, dan bagaiamana dia belum menghukum Laras, karena dia ingin Elza sendirilah yang memberinya pelajaran semua bukti telah ada di tangannya tinggal menyerahkan kepada polisi.


Devan kemudian mengikuti sang istri menuju ke kamarnya, dia ingin mengatakan segalanya agar tak ada kesalahpahaman di antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2