
Mereka benar-benar mendatangi taman bermain yang saat ini tidak terlalu ramai karena bukan hari weekend. Namun, tetap masih ada beberapa orang tua yang membawa buah hati mereka untuk berjalan-jalan 'tuk melihat dunia.
Di sudut taman seorang bocah berusia 5 tahun sedang asik bermain dengan seorang pria dewasa. Pria itu menjadi objek pengamatan beberapa pengunjung taman yang sedang bersantai mereka menatap pria itu dengan penuh minat karena ketampanannya. Kemudian, mereka juga mengenalinya sebagai putra tunggal Kriss Keysha, dan juga seorang CEO muda. Popularitasnya tidak bisa dibantah begitu saja di dunia bisnis karena pencapaiannya begitu gemilang di bidang bisnis yang membuat orang terkadang iri dengannya. Meski begitu tidak ada yang berani mengusi otoritasnya karena mereka tahu akan berkahir dengan menyedihkan jika berani mengusik dirinya yang menurut sebagian orang ia adalah seorang iblis yang bersembunyi di balik wajah bak dewa.
Namun, bukan itu yang membuat orang tertarik. Akan tetapi, senyuman yang tercipta di bibirnya membuat orang terpana karena baru kali ini mereka melihatnya tersenyum setelah kepergian sang istri tercinta. Seorang wanita cantik berdarah Asia yang menemaninya juga menarik perhatian mereka.
"Apakah wanita itu akan menjadi Nyonya baru di keluarga Keysha?"
"Dia sepertinya berdarah Asia jika dilihat dari wajahnya."
"Wanita itu sangat cantik dan keibuan sangat cocok menjadi ibu pengganti pangeran kecil!"
Berbagai bisikan terlontar yang hanya terdengar samar di telinga wanita yang sedang duduk di kuris taman. Memandang di mana si bocah kecil bermain dengan seorang pria yang tak lain adalah Dimitri dan Aron. Orang-orang akan mengatakan bahwa ia menatap penuh minat kepada pria itu. Namun, tiada yang menyangka bahwa si wanita sedang melamun memikirkan suatu hal yang penting.
"Jika aku tak segera kembali maka hal yang tidak diinginkan pasti akan terjadi. Aku harus memberitahunya bahwa aku akan pulang esok."
Wanita itu yang tak lain adalah Elza tersentak tak kala Dimitri datang menghampirinya begitupun Aron yang telah duduk di sebelahnya tanpa ia sadari.
"Apakah sudah selesai bermainnya, hm?" tanya Elza lembut saat menatap wajah lelah Dimitri.
"Sudah, Ma. Yuk beli es krim Dimi capek mau makan es krim," jawab Dimitri dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya.
"Ayo!"
Ajakan dari Aron kembali membuat Elza sedikit tersentak. Namun, tetap tak bereaksi ia perlahan merapikan pakaian Dimitri yang sedikit kusuk akibat bermain bersama sang Ayah.
"Baik, ayo kita pergi beli es krimnya." Elza berucap setelah lama terdiam entah kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak ketika melihat tatapan Aron yang semakin tak dapat ditebak. Ia memperhatikan pria itu selalu mencuri pandang ke arahnya. Namun, ia berusaha untuk tidak menghiraukan hal tersebut.
Akhirnya mereka pun meninggalkan taman menggunakan mobil Mercedez Benz berwarna hitam mengkilap. Aron membawa mereka ke salah satu restoran untuk memesan es krim sekaligus makan siang. Kota yang sering di sebut fog city ini seakan tak pernah mati karena aktivitas masyarakat yang begitu aktif.
Jam masih menunjukkan pukul sebelas siang itu berarti di Indonesia sekarang jam satu dini hari. Elza tiba-tiba merindukan Devan suaminya. Namun, ia masih terjebak di sini. Elza perlahan melihat Aron dan Dimitri yang sedang berjalan di depannya pria itu memiliki tubuh yang tegap dan perfeksionis. Namun, Elza tak tertarik sedikitpun ia mengkhawatirkan Aron akan membuktikan perkataannya semalam.
"Bukh ...!"
"Awh ...!"
Ringisan terdengar saat Elza tak sengaja menabrak benda keras di depannya. Elza mengusap dahinya yang sedikit berdenyut kemudian menatap Aron yang juga sedang menatapnya.
"Mama tidak apa-apa?" tanya Dimitri yang membuat Elza dan Aron melepaskan tautan mata mereka. Mata bocah polos itu tampak berkaca-kaca kemudian meraih-raih tubuh Elza. Aron yang melihat hal itu dengan sigap memberikan Dimitri kepada Elza yang langsung membuka lebar tangannya untuk menerima Dimitri.
"Mama tidak apa-apa, Sayang. Ayo, kita masuk beli es krimnya." Elza menjawab dengan senyuman kemudian mulai melangkah duluan tanpa menunggu Aron yang masih mematung di depan pintu restoran. Tak lama Aron pun menyusul Elza dan Dimitri.
"Jika berjalan cobalah untuk berjalan di sebelahku, dan fokuslah."
Perkataan itu membuat Elza sedikit bingung. Namun, tak terlalu memperhatikannya karena menurutnya Aron hanya mencoba untuk mencari cela agar Elza jatuh dalam pelukannya. Persetan dengan itu, Elza tidak akan membiarkannya.
Bunyi lonceng pintu terdengar saat mereka membuka pintu restoran. Pelayan restoran yang berwajah bule itu menyambut mereka dengan senyuman.
__ADS_1
"Mari Tuan dan Nyonya silakan pesan apa yang Anda inginkan." Pelayan itu berucap ramah sembari menunggu Elza dan Aron menyebutkan pesanannya.
Setelah beberapa saat Elza dan Aron sudah memesan. Mereka memesankan es krim rasa vanilla untuk Dimitri, dan steak daging sapi yang Elza pesan karena dia tak bisa memakan makanan yang tidak halal, Aron tahu hal itu jadi ia memesan makanan yang sama seperti Elza agar Elza merasa nyaman.
Elza yang mengetahui jika Aron memesan makanan yang sama sepertinya sedikit mengernyit. Namun, tak mengeluarkan suara sekarang ia tersadar satu hal. Mereka saja berbeda keyakinan bagaimana mungkin Aron berpikiran untuk menjebaknya dirinya untuk bersama dengannya selama sisa hidup ini yang benar saja. Dirinya belum menikmati masa-masa indah bersama dengan sang suami, kenapa dia ingin menghancurkannya.
Suasana hening yang tercipta di antara mereka pecah setelah kedatangan seorang pelayan membawa pesanan mereka. Dimitri yang mendapatkan apa yang ia inginkan sangat senang. Elza tersenyum menatap bocah itu kemudian mengusap pelan puncak kepalanya.
"Kau menyayanginya?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba terlontar dari bibir pucat pria berkebangsaan Amerika itu. Elza yang mendengar hal tersebut lantas mengangguk tanpa ragu.
"Iya, dia sangat lucu. Oh, iya aku akan pulang esok. Terima kasih atas pertolongan Anda selama ini." Elza berucap sembari menatap Aron dengan senyuman yang tak sampai di matanya. Ia muak dengan pria di depannya ini.
Aron yang mendengar hal tersebut lantas menegang. Rahangnya tiba-tiba mengetak sembari menatap tajam gadis yang sedang memotong steak daging di piringnya.
Aron mencoba mentralkan ekspresi kemudian ikut menyantap makanannya sembari sesekali menatap putranya yang asik memakan es krim.
"Oh, baiklah. Saya akan membiayai penerbanganmu besok," balas Aron santai. Namun, tiada yang tahu apa yang direncanakan pria itu.
"Tidak perlu, saya akan menelfon suami saya untuk menjemput saya di sini," tutur Elza yang lagi-lagi membuat perubahan ekspresi di wajah pria tampan itu.
"Hm, baiklah." "Memberikan kabar untuknya saja kau tak akan bisa lagi."
Mereka melanjutkan acara makan siang mereka dengan khidmat ditemani celotehan kecil dari Dimitri.
...
Seorang pria menyerahkan bocah laki-laki ke dalam pelukan wanita paruh baya yang diterima dengan sepenuh hati.
"Iya, Mama akan menjaganya. Oh, iya Elza di mana?" tanya wanita paru baya itu yang tak lain adalah Amira–ibu dari Aron Keysha.
"Elza aku ajak ke rumah untuk membereskan barang-barangnya karena ia akan pulang ke Indonesia sore ini," jawab Aron seperti biasa yang tak membuat Amira merasa ada yang salah.
"Ah, baiklah. Salam untuknya ya. Mama akan menjaga cucu Mama lekaslah kembali." Amira tak bertanya lebih lanjut lagi ke mana Aron akan pergi karena sudah biasa ia menitipkan putranya kepadanya.
"Hm, see you Ma." Aron langsung saja bergegas pergi setelah sang Mama masuk ke dalam rumah megah tersebut.
Aron memasuki mobil miliknya di dalam mobil itu terdapat seorang wanita yang sedang tertidur yang tak lain adalah Elza. Aron kemudian melajukan mobilnya meninggalkan distrik perumahan keluarga besar Keysha.
Ternyata Aron tak membawa Elza ke rumah di mana ia pertama kali membawa Elza. Namun, ia membawanya ke rumah sakit elite yang berada di bawah naungan perusahaan Aron sendiri.
Ia telah menyiapkan ruang VVIP untuk Elza entah apa yang terjadi padanya sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Dokter ternama sudah siap menunggu kedatangan Aron dan juga Elza. Namun, wanita cantik itu masih saja senang tertidur.
"Sampai kapan obat tidurnya akan bekerja?" tanya Aron ketika meletakkan tubuh Elza secara perlahan ke brangkar rumah sakit.
"Obatnya akan segera berakhir dalam dua jam kedepan," jawab dokter paru baya yang sedang mengecek kondisi Elza di temani oleh beberapa dokter senior yang didatangkan langsung oleh Aron untuk menangani keadaan Elza.
"Hm, kapan kita akan memulai prosesnya?" tanya Aron lagi yang membuat dokter itu berhenti sejenak kemudian berdiri tegak di depan Aron.
__ADS_1
"Setelah pemeriksaan menyeluruh ini kami akan mengabari Anda Tuan karena kami tak dapat melakukan hal yang mempunyai resiko tinggi itu tanpa memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu." Dokter itu mengangguk setelah mengatakannya, menunggu respon dari pemilik rumah sakit di mana ia bekerja.
"Baiklah. Saya menunggu hasilnya malam ini," ucap Aron tenang kemudian duduk di sebuah sofa yang tersedia di kamar rawat Elza. Kamar rawat itu memiliki fasilitas bergensi yang bahkan orang kaya sekelas Laras tak dapat berlama-lama di tempat itu.
Setelah memasangkan infus kepada Elza para dokter dan perawat itu keluar, dan membiarkan Aron menunggu hingga Elza sadar.
Ting ...!
Sebuah pesan tiba-tiba masuk dari ponsel Elza yang membuat perhatian Aron teralihkan. Ternyata pesan itu dari suami Elza.
Suami Bocilku ♡
Bagaimana kabarmu di sana? Apakah kau baik-baik saja? Kau tak ingin kembali sekarang?
Aron yang membaca pesan itu sedikit mengernyit karena tidak terlalu paham dengan bahasa yang digunakan oleh Elza. Jadi, dia membiarkannya saja. Mematikan ponsel tersebut dan menaruhnya kembali ke dalam tas samping Elza.
Sementara itu, di tempat Devan sekarang ia baru saja mengirimi pesan untuk sang istri. Menanyai kabarnya, apakah ia baik-baik saja dan ingin segera pulang atau tidak. Karena semalam Elza mengatakan akan segera kembali karena ada yang tidak beres dengan rumah yang ia tempati meskipun rumah itu milik rekan kerja Ayah Elza. Hal itu membuat Devan mencari tahu tentang informasi rekan kerja Ayah Elza dan ia menemukan nama yang Elza berikan Kriss Keysha. Ia memiliki dua putra, putra tertuanya juga seorang pebisnis muda sama sepertinya. Namun, ia lebih muda dari pria itu. Devan berpikir ada yang salah dengan pria ini. Akan tetapi, ia tak dapat menanyakan lebih detail kepada Elza karena waktu itu di sana telah larut malam, dan di Indonesia masi siang hari.
"Semoga saja kau baik-baik saja. Setelah semuanya selesai aku kerjakan aku sendiri yang akan menjemputmu. Laras, tunggu saja, kau dan orang tuamu akan mendapatkan apa yang harus kalian dapatkan."
Setelahnya Devan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Semuanya ia lakukan perlahan tanpa bantuan siapa pun. Ia telah mengetahui lokasi sang istri dengan jelas jadi dia tak terlalu memikirkannya lagi.
Namun, Devan tak pernah berpikir apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Apakah ia dapat menanganinya atau tidak?
Sementara itu, di kamar inap Elza perlahan ia dapat membuka kelopak matanya. Namun, ketika ia membuka matanya lantas ia berteriak histeris.
"Ahhh ... Elza gak sakit! Lepasin Elza Dok. Elza gak mau, Elza takut!" jeritan Elza membuat seorang pria yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya langsung menaruh laptop tersebut dan mengahampirinya.
"Hei, are you okay?" tanyanya lembut.
Pria itu yang tak lain adalah Aron langsung menekan bel yang disediakan untuk memanggil dokter dikeadaan darurat.
"Elza minta maaf, Elza yang salah. Lepasin Elza. Mama, Ayah Elza takut." Isak pilu wanita itu membuat hati Aron berdenyut nyeri meski ia tahu resikonya akan seperti ini. Namun, ia tak akan berhenti.
Dokter mengatakan bahwa membuat ingatannya hilang dapat berisiko mengembalikan ingatan masa lalu yang sengaja dihilangkan darinya agar dapat membuat psikologi Elza membaik. Namun, hal yang akan Aron lakukan sangat beresiko untuk mengembalikan ingatan yang telah hilang itu kembali lagi, dan hal yang Elza alami sekarang adalah bentuk reaksi itu karena Aron memberinya obat bius hingga ketika ia sadar ingatan masa lalu itu perlahan kembali datang.
"Tenang okay. Aku di sini. Aku akan menjagamu." Aron masih mencoba untuk menangkan Elza dengan cara memeluknya dan mengusap kepala wanita itu agar dapat lebih tenang, dan hal itu berhasil.
Tak lama dokter pun datang kemudian memberikan Elza suntikan penenang agar dapat lebih tenang, dan berhasil akhirnya Elza dapat tenang. Tubuhnya yang tadi bergetar hebat dan berkeringat perlahan rileks. Aron memperbaiki posisi berbaring Elza agar lebih nyaman.
"Nyonya Elza akan tetap tenang dan melupakan hal ini ketika ia terbangun. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa hal ini terjadi kembali," ucap dokter itu kemudian berlalu. Aron hanya mengangguk kemudian memandangi wajah Elza yang tampak berkeringat. Ia mengusapnya dengan perlahan mencoba menatap wajah wanita itu sedikit lama. Namun, ia buru-buru menjauhinya karena takut ia melakukan hal-hal yang nantinya akan membuat dia menyesal.
"Maaf, aku harus melakukan ini demi Dimitri."
Aron hanya mampu mengucapkan kata maaf kepada Elza yang tentu saja tak dapat didengar oleh Elza yang sedang tak sadarkan diri karena masih dalam pengaruh obat tidur.
Aron berani menghancurkan hidup orang lain yang susah payah ia bangun. Elza berusaha melupakan ingatan masa lalunya. Namun, ia ingin membuatnya kembali mengingat hal-hal menyakitkan itu.
__ADS_1
Apakah Devan akan membiarkan hal ini setelah mengetahuinya? Tentu saja tidak! Devan tidak akan pernah melukai wanita yang ia cintai. Cinta Aron hanya obsesi semata kepada Elza karena wajahnya yang sedikit mirip dengan mendiang istrinya yang membuat Aron menggila seperti ini.