Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Andra mulai mengakui perasaan


__ADS_3

Andra mengambil paper bag berisi gamis dan menyerehanya pada Kia. Andra juga masangkan kerudungnya pada kepala Kia.


"Aku ingin kamu memakai ini dan membukanya hanya di hadapanku kalau sudah waktunya."


Apa ini? Apa Andra tengah melamar Kia.


"Kak, ini untuk aku?" tanya Kia gugup. Sesekali ia mengusapkan tangan pada celananya.


"Ya, ini untuk kamu. Aku ingin kamu mengenang momen manis ini. Ki, kalau harus jujur sebenarnya ku gak mau kuliah di sana. Aku ingin di sini dan masih bisa bercanda dengan kamu."


"Tapi keputusan papi Bim adalah keputusan terbaik untuk, Kak Andra. Apalagi papi Bim menitipkan harapan besar di pundak kak Andra nantinya. Swiss dan Indonesia hanya terpisah jarak. Kita masih bisa berkomunikasi seperti biasa. Ada ponsel."


Andra ingin menatap Kia seperti ini setiap hari. Ingin menikahinya sekarang dan membawanya ke Swiss mereka akan hidup bahagia di sana. Akan tetapi itu semua terasa mustahil apa lagi Kia belum menyelesaikan pendidikannya.


Sekarang mereka sudah berada di depan rumah Kia tapi sama-sama enggan untuk turun dari mobil.


"Jangan jutek-jutek lagi ya. Soalnya Kak Andra pasti akan merindukan sikap kamu yang lain." Andra mengacak rambut Kia hingga pemiliknya cemberut.


"Masih tetap cantik kok." Andra memuji Kia. Apa itu tulus? Tulus karena perlahan tapi pasti Andra mulai mengungkapkan perasaannya.


Mereka saling tatap dan saling mendekat untung malaikat keburu datang dan mengetuk jendela mobil Andra.


"Turun woiii, ngapain di dalam mobil kalau ada rumah," celetuk Kai sambil melipat tangan di dada.


Andra dan Kia langsung salah tingkah, padahal belum ngapa-ngapain tapi sudah grogi duluan. Mereka turun dari mobil dan membawa belanjaan Kia.


"Kak Andra, kak Kia mulu yang diajak belanja. Aku kasih tahu papa loh kalian habis ngapain barusan." Andra langsung membekap Kai. Gawat kalau anak itu melaporkan apa yang hampir terjadi di dalam mobil. Bisa jadi Arga semakin protektif melindungi Kia.


"Kak Andra kasih kamu uang, tapi jangan bilang siapa-siapa. Deal?"


"Tergantung Kak Andra ngasih uangnya berapa?"


"200k," tawar Andra.


"Ya itu mah cuman menutup mulut untuk dua hari."


Gawat ternyata adiknya Kia perhitungan juga.


"Kak Andra tambahin 50k."


"Kalau 500 aku tutup mulut sampai aku lupa."


Demi keamanan bersama Andra harus mengeluarkan uang 500k untuk anak SMP ini. Akan tetapi kelancaran pertemuan ia dengan Kia jauh lebih penting ketimbang uang itu.


"Nah kalau gini aku suka," ucap Kai sambil memasukan uang dari Andra ke dalam sakunya.


Kia yang melihat itu sontak melebarkan mata. Bisa-bisanya Kai memalak Andra.

__ADS_1


"Demi keamanan bersama," ujar Andra menjelaskan. "Aku pulang ya."


"Loh gak masuk dulu, Ndra?" tanya Arga yang ternyata menghampiri mereka.


"Sudah malam, Om. Besok saja aku mampirnya. Kalau sekarang kasian Papi. Pasti lagi uring-uringan karena mami nungguin aku."


Sudah bukan hal aneh lagi ketika Andra mengatakan itu. Sebab Arga sendiri sering mendengar Bimo uring-uringan di depan dirinya.


"Ya sudah pulang sana!"


Hari keberangkagan Andra smakin dekat. Dia berharap apa yang dia ucapkan di malam itu pada Kia menjadi pengikat wanita itu untuk dirinya.


Di lantai satu rumah Bimo banyak sekali keluarga dan kerabat jauh yang menemui Andra dan mendoakan niat baik anak itu.


Tiba saat keluarga Arga datang dan memberikan doa untuk Andra.


Andra mengaminkan doa-doa dari orang-orang yang menemuinya. Terakhir Andra menatap permpuan yang sejak tadi lebih banyak menunduk. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.


Di hari ini penampilan Kia tampak berbeda. Memakai gamis dan kerudung yang dibeli Andra malam itu.


"Cantik."


Andra mengirimkan pesan itu pada Kia.


Kia mengangkat wajahnya sebentar kemudian kembali menunduk. Meski menunduk masih bisa Andra lihat lengkungan manis di bibir itu.


Andra: Balas dong, Ki.


Andra: Kia.


Sampai acara usai pesan Andra tidak ada yang di balas oleh Kia.


***


Diantar oleh kedua orang tuanya Andra terbang ke tempat ia akan menimba ilmu. Meninggalkan hati yang telah diberi harapan.


Aku akan kembali ke landasan pertama setelah mengudara jauh. Aku harap saat itu tiba aku telah bisa memilikimu. Jangan bosan untuk menungguku.


Story yang Andra buat berharap orang yang dimaksud akan memahaminya.


Di negeri sana Andra tinggal di apartemen yang disewa oleh Bimo. Dia ditemani hanya sampai hari ketiga. Setelahnya dia akan benar-benar hidup mandiri.


"Mam." Andra mengehentikan langkah ibunya yang akan pulang ke tanah air hari ini.


"Gak mau ditinggal sama mami?" tanya Leela sambil membetulkan posisi tasnya.


"Aku ... aku titip Kia ya. Kemarin aku sudah menghubungi dia tapi gak diangkat."

__ADS_1


Leela tersenyum, "kamu menyukai dia?" Akhirnya Leela mengutarakan apa yang dipikirkan olehnya selama ini. "Jangan khawatir, mami akan menjagakan dia untuk kamu. Lekas selesaikan studi-mu dan pinanglah dia."


Andra tersenyum malu-malu. Dia tidak pernah berpikir kalau sang ibu akan menyetujui seperti ini. Mengingat gadis yang ia sukai adalah keponakan maminya.


"Sayang sudah siap?" Bimo kembali setelah memastikan kendaraan yang akan membawa mereka menuju bandara. "Kenapa lagi, Ndra. Gak mau ditinggal?"


"Enggak sih, cuma lagi tanya aja sama mami. Takutmya mami bosan karena papi sudah tua."


Bimo mendelik.


"Canda, Papi. Berangkat gih takutnya ketinggalan pesawat."


***


Sudah hampir setengah tahun Andra belajar di negeri orang. Pagi ini langit begitu cerah, tak lupa Andra memotretnya dan mengirimkannya pada pujaan hatinya.


Andra: Langitnya begitu cerah tapi tak mampu menghilangkan awan rindu dalam kalbu. Hari-hari ku tampak sudah ketika rasa rindu semakin menggebu.


Andra memasukan ponselnya ke dalam saku dan berangkat menuju kampus. Dia sudah tahu tidak akan mendapat balasan cepat. Jadi untuk apa menunggunya.


Pukul 13:00 di Swis sama dengan pukul 19:00 di Indonesia. Andra baru akan makan siang saat ponselnya berbunyi.


Kia: Aku baru pulang. Banyak benget kegiatan hari ini. Maaf kalau aku gak balas pesan Kak Andra. Capek bangeeeeeett.


Hanya ponsel yang menjadi jembatan yang mereka untuk saling mengungkapkan kata rindu. Andra langsung menghubungi melalui sampingan video


Pertama yang terlihat hanya bentar dan juga sprei. Tak lama muncul wajah Kia di layar.


"Hai, cantik. Rindu banget nih," kata Andra sambil mengangguk saat pelayan tempat makan menyajikan makanannya.


"Masa sih, kan hampir tiap hari kita berkomunikasi. Ya walaupun hanya lewat pesan," balas Kia sambil menguap dan menutup mulut.


"Itu pun kalau kamu balas. Biasanya juga dikirim pesan hari rabu dibalas hari minggu. Tau gak kalau ada katagori makhluk paling menyebalkan maka itu adalah kamu."


Andra memasang wajah cemberut dan malah semakin terlihat tampan. Di kamarnya Kia tertawa sambil menutup mulut.


"Ki kamu cantik sekali memakai kerudung itu."


Kia memang merubah penampilannya. Lebih sering mengenangkan gamis dan juga kerudung. Pernah ditanya oleh Shepa kenapa Kia tiba-tiba merubah penampilannya. Jawabannya Kia ingin lebih tertutup aja.


Akan tetapi insting seorang ibu begitu tajam. Dia pun menyetujuinya.


" Masa sih? Namanya juga perempuan. Kak Andra pasti bilang cantik ke setiap perempuan kan?"


"Enggak khusus kamu aja." Andra membenarkan posisi duduk setelah makan siangnya habis. "Ki gimana sih perasaan kamu ke kak Andra? Kamu itu kadang manis balas pesan cepat tapi kadang sampe berhari-hari juga Kak Andra nunggu kamu balas pesan."


"Emm sebenarnya aku ..." Kenapa Kia menggantungkan kalimatnya apa Kia akan bilang ada lelaki lain yang menggantikan posisi Andra. Lalu tentang malam itu?

__ADS_1


__ADS_2