Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Leela Menghadapi Ibunya Wiji


__ADS_3

Pemilik mobil itu dengan memasang wajah yang angkuh. Terlihat dari dagunya yang terangkat. "Mana Shepa?" tanya permpuan itu pada pekerja.


"Ada di dalam, Bu. Sebentar akan saya panggilkan."


Gegas pekerja perempuan itu menghampiri Shepa tapi di hadang Leela.


"Siapa yang datang?"


"Ibu-ibu yang dua hari lalu ke sini, Bu."


Oh rupanya mantan mertua adiknya. Maklum mereka tidak bertemu cukup lama. Jadi hal wajar jika Leela sempat lupa.


"Jangan bangunkan ibu Shepa, biar saya yang akan menemui."


Leela turun ke dapur dan mengambil air minum kemudian menghampiri mantan mertua Shepa. "Eh ada tamu rupanya. Sehat Bu?" Dia tetap menunjukan sopan santun yang dimiliki. Tetap menembar senyum walaupun lawan bicara sedikit judes.


"Kalau tidak sehat aku tidak mungkin datang ke sini. Dimana Shepa?"


Sia-sia rupanya Leela bersikap ramah. Perempuan di hadapannya telah jauh berubah.


"Shepa sedang istirahat karena kurang enak badan. Mungkin ibu bisa bertemu dia lain waktu. Kalau ada perlu sekarang silahkan sampaikan pada saya."


"Alasan. Adikmu pasti sudah bercerita 'kan kalau kedatanganku ke sini untuk menjemput Kia. Jadi dia menyuruh kamu yang menghadap saya."


Leela tekekeh, "Memangnya perang, Bu sampai saya harus menghadapi ibu. Kalau soal Kia kami juga sedang mencari dia. Sejak semalam dia tidak pulang ke rumah. Malah aku berpikir kalau Kia sudah bersama ibu."


"Jangan sembarangan kamu. Kalau dia sudah bersamaku mana mungkin aku mau capek-capek datang ke sini. Oh aku tahu, ini hanya trik kalian saja kan untuk tidak memberikan Kia padaku. Pakai nuduh segala dan pura-pura hilang."


"Wajar bukan kalau Shepa tidak menyerakhan anakanya pada Ibu. Kia itu bukan barang yang bisa diambil kapan pun ibu mau. Lagi pula bukankah dulu ibu yang tidak menginginkan Kia kenapa sekarang datang untuk mengambilnya."


"Dengar ya Leela! jangan mentang-mentang kamu sudah jadi orang kaya kamu bisa bicara tidak sopan dan seenaknya. Aku ini ibunya Wiji, ada darahnya yang mengalir di tubuh Kia. Jadi aku berhak atas anak itu." Dada ibunya Wiji terlihat naik turun. Amarah kembali menyelimuti ketika nama Wiji di sebut.

__ADS_1


"Setelah ibu menolak bahkan merebut harta yang kak Wiji tinggalkan untuk Kia."


"Kamu!" Ibu Wiji menunjuk Leela dengan sorot mata yang penuh amarah. "Kamu hanya orang luar dan tidak perlu ikut campur. Aku ke sini untuk menjemput Kia bukan untuk membahas yang sudah berlalu."


"Ibu benar, bagi ibu saya hanya orang luar tapi Shepa adalah adik saya. Tidak ada salah seorang anggota keluarga yang ingin melihat anggota keluarga lainnya sakit. Jadi saya tidak akan membiarkan ibu membawa Kia. Silahkan pulang karena ibu tidak akan mendapatkan apa yang ibu mau." Leela berdiri dan mempersilahkan agar ibunya Wiji keluar.


"Tidak perlu kamu usir, lagi pula akunjuga tidak sudi lama-lama di rumah kumuh seperti ini."


Heh dia bilang rumah Arga kumuh. Rumh bertingkat dengan beton kokoh, barang-barang mahal tertata rapi di bilang kumuh.


Leela mengangguk, "saya akan sangat senang hati kalau ibu tidak pernah berkenan datang ke rumah kumuh ini lagi."


Perempuan tua itu menghentakan kaki dan masuk ke dalam mobil. Sekali lagi dia menatap Leela dan mendelik sebelum mobil melaju.


Tinggak ibunya Wiji membuat Leela mangan senyum dan geleng-gelem kepala. Kok ada ya manusia macam itu. Dulu dia bahkan menggugat rumah yang ditinggalkan untuk Kia. Bahkan mengatakan bahwa Shepa dan Wiji tidak berhak atas harta yang ditinggalkan Wiji. Sekarang mau main ambil begitu saja.


Dia masuk ke dalam dan menemui Shepa yang ternyata mendengar percakapan mereka. "Terima kasih sudah menghadapi ibu, Kak."


"Jangan pikirkan. Kia itu keponakanku juga, selain itu ..."


Leela menarik nafas dan mengembuskannya perlahan. "She apa kamu kebaratan kalau Andra memilki niat baik pada Kia?"


"Maksud Kak Leela?"


"Kita sama-sama menyaksikan mereka tumbuh bersama. Kamu juga pasti menyadari sikap Andra yang lebih condong pada Kia ketimbang adik-adiknya. Saat aku mengantarnya ke Swiss dia berpesan agar aku menjaga Kia untuk dia. Kamu paham kan maksudnya."


Shepa mengangguk paham, dia sendiri melihat hal itu dari putrinya. Tapi sekarang masalahnya Kia tidak ada. Bimo dan Arga pun belum mengabarkan hasil pencarian mereka. Bahkan ketika matahari mulai berwana jingga dan sebagian titik mulai gelap Kia masih belum ditemukan.


Mereka tidak tahu Kia diaman sekarang. Anak itu seolah disembunyikan oleh semesta. Tidak ada penarikan uang dari ATM yang akan memudahkan mereka melacak Kia. Pun ponsel tetap dalam keadaan tidak dapat dihubungi.


***

__ADS_1


Andra baru keluar dari kelas. Dia duduk di salah sagu peron dan menatap ruang percakpannya dengan Kia. Terakhir dilihat adalah tujuh bless jam yang lalu.


Dia mencoba menghubungi kedua orang tua tapi mereka juga mengabaikan panggilan darinya.


"Aneh, kenapa mereka sama-sama mengabaikan panggilan. Apa terjadi sesuatu ya."


Kali ini dia menghubungi nomor rumah. Tersambung dan tak lama terdengar suara dari seberang sana.


"Bi, ini Andra, mami sama papi ada di rumah?"


"Tuan sama nyonya sedang ke rumah Pak Arga, Den. Sejak subuh mereka berangkat."


"Memangnya ada apa, Bi? Apa terjadi sesuatu di sana."


Baru saja pelayan hendak menjawab, Kean sudah muncul dan bertanya siapa yang menghubungi. Dia meminta agar dia yang alih bicara.


"Halo, Kak."


"Kean?"


"Iyalah memangnya siapa lagi yang memiliki suara yang cakep seperti orangnya selan aku."


"Ck, aku telepon bukan untuk mendengar kenarsisan kamu. Mami sama pakai ke rumah om Arga subuh-subuh, kamu tahu apa yang terjadi di sana."


"Mana aku tahu, mungkin mereka mau main aja," jawab Kean asal.


"Gak masuk akal kalau hanya mau main, Kean. Kalian pasti sedang menyembunyikan sesuatu dari aku. Iya kan? Bicara dengan jujur, Ke! atau aku penggal kepalamu,"


Andra yang geram karena gelisah juga orang-orang di rumah terkesan menyembunyikan sesuatu membuat dia mengeluarkan ancaman seperti itu.


"Uuhhh serem. Tapi memang aku gak tahu apa-apa. Mungkin aja mereka ada penting atau apa. Aku juga belum di kasih tahu kok. Tenang aja kak, kalau ada apa-apa pasti mami dan papi juga ngasih tahu. Santai nanti aku kabari kalau mami sudah pulang."

__ADS_1


Andra memutar panggilan setelah menyetujui ucapan Kean. Tapi kenapa hatinya tetap tidak merasa lega. Dia menscroll media sosial milik Kia. mencari salah satu teman yang bisa dimintai informasi.


Akankah Andra mengetahui apa yang terjadi pada kekasihnya?


__ADS_2