
"Kalau di rumah sudah rame begini, gimana kalau kita nikah aja, Ki?" celetuk Andra dengan senyum usil membuat perhatian tertuju padanya. Shepa yang hendak mengambil makan untuk suaminya pun menoleh, begitu juga Leela yang sedang memberikan cemilan pada Leo.
Keduanya memang sempat sama-sama mengakui perasaan tapi untuk menunjukan cinta mereka di depan umum apa lagi di depan keluarga, rupanya Kia belum siap. Makanya dia hanya diam ketika semua orang menatap dan menunggu jawaban darinya.
"Anak ini." Bimo mendengus begitu pun wijaya yang geleng-geleng kepala.
"Sudah dikasih tahu bukan begitu caranya melamar anak orang, Ndra," kata Wijaya sambil mengikuti istrinya ke dalam kamar untuk mengganti pakaian.
"Memangnya Andra serius, sampai kamu aja sudah tahu?" tanya Tresna, membantu melepaskan pakaian suaminya dan menyiapkan pakaian ganti.
"Antara usil dan seriusnya dia memang sulit dibedakan, tapi kalau sudah mengatakan kalimat yang sama di depan aku itu tandanya dia serius."
"Terus mau gimana?"
"Apanya?" Wijaya yang hendak ke kamar mandi menoleh pada sang istri.
"Ya mereka lah masa kita."
"Oh kirain kita setelah ini," kekeh Wijaya sambil menarik turunkan alisnya kemudian mengarahkan tatapannya pada bagian itu.
Tresna mencabik lantas membantu suaminya agar segera masuk ke kamar mandi. Wijaya terkekeh melihat kelakuan istrinya yang kadang masih malu-malu padahal sudah puluhan tahun mereka hidup bersama.
Sedangkan yang di ruang tamu masih menunggu jawaban dari Kia. Gadis itu hanya menunjukan deretan giginya yang rapi. Bingung dong tiba-tiba diajak nikah sedangkan kemarin Andra sudah digosipkan akan menikahi anak pengusaha lain.
Apa kata orang nantinya jika tiba-tiba mengumumkan kalau Andra akan menikahi gadis yabg berbeda. Bisa jadi Kia akan mendapat gelar tanpa sekolah alias Pelakor.
"Ki, gak mau?" tanya Shepa penasaran. Padahal kemarin itu anak sampai nangis ketika mendengar Andra akan dinikahkan dengan Alisya. Sekarang mendapat kesempatan mengutarakan isi hati malah diam saja.
"Nanti aja jawabnya aku lapar," kata Kia.
"Kebiasaan." Andra mendengus, menatap Kia yang menunggu ruang makan tanpa menoleh pada dirinya.
"Lagian, Kak Andra ngelamarnya gak ada romantis-romantisnya. Cewek itu suka sama hal-hal yang romantis," bisik Shafia.
Benar juga sih apa yang dikatakan Shafia, mana ada perempuan yang mau diajak nikah dengan cara seperti itu. Kayak lagi ngajak bercanda aja.
Usai makan bersama dan berbincang tentang menyelesaikan masalah dnegan Davin, keluarga Arga pamit pulang. Di dekat pintu Kia dicegat oleh Andra.
"Aku serius dengan ucapanku yang tadi, Kia." Dia menatap mata yang selalu dia rindukan selama ink
Kia mengangguk, "tau kok, tapi apa orang lain akan percaya dengan cara melamar Kak Andra yang tak biasa. Cara kak Andra tadi itu kayak lagi ngajak bercanda. Mana bisa aku menanggapi dengan serius."
Benarkan apa kafa Shafia.
"Kalau begitu tunggu aku datang ke rumah. Katakan apa saja yang harus aku bawa untuk meminta mu pada om Arga dan tante Shepa."
"Apa saja yang menurut Kak Andra pantas," jawab Kia sambil berjalan meninggalkan Andra. Dia melambaikan tangan saat sudah berada di mobil.
"Kok tadi ajakan Andra gak dijawab, Ki?" tanya Shepa yang duduk di kabin depan bersama Arga yang menjadi sopir para perempuan.
"Kak Andra itu lagi bercanda, Ma. Aku belum pernah lihat orang melamar seperti kak Andra tadi."
"Tapi dia sudah bilang sama papa loh katanya mau melamar kamu," kata Arga.
"Ya udah kita lihat aja beberapa hari ke depan." Kia menyandarkan kepala sambil menatap ke jendela mobil. "Tapi aku itu kepikiran apa ya yang akan dikatakan orang kalau sampai aku dan Kak Andra menikah."
"Tidak perlu memikirkan apa kata orang, Ki. Cara bahagia orang itu berbeda-beda. Kalau kamu memikirkan apa kata orang kapan kamu akan bahagia. Dikomentari orang itu sudah biasa, tinggal kamu ambil apa yang menurut kamu baik dan abaikan yang menurut kamu tidak baik. Susah kalau hidup ingin terlihat baik di mata orang. Bisa jadi kita akan menjadi orang munafik, ingin terlihat baik di mata orang lain sampai kita melakukan banyak hal yang sebanarnya kita sendiri tidak menyukainya. Benar kan, Ma?" Arga melirik istrinya yang mengangguk.
"Terus gimana persaingan mama, sama mamanya Alisya?" tanya Kia.
"Persaingan apa?" Shepa mengerutkan kening sambil melirik Arga.
__ADS_1
"Iya dulu kan mama sama mamanya Alisya rebutan papa. Sekarang akan rebutan calon menantu."
Shepa tertawa, "emang iya ya, Pa aku pernah rebutan kamu sama Revina. Perasaan gak rebutan, justru mama itu memilih menjauh ketika papa curhat dan bilang kalau papa menyukai dia. Iya kan, Pa?"
"Oh jadi mama itu hanya dijadikan teman curhat oleh papa?" tanya Kai sambil tertawa. "Jahat banget papa ini. ck."
"Diam, Kai," kata Arga yang merasa disudutkan.
"Terus gimana perasaan mama kemarin saat bertemu mantannya papa? Bertegur sapa gak?" tanya Kia.
"Biasa aja sih, toh sudah sama-sama tua. Sudah gak pantas kalau harus memperebutkan satu laki-laki. Dulu aja mama kok yang mengalah."
"Bohong! Kemarin tiba-tiba mengaitkan tangan itu apa kalau bukan cemburu?" sanggah Arga sambil tertawa mengingat kelakuan istrinya saat bertemu Revina di rumah sakit dua hari yang lalu.
"Wajar kali. Kan sudah jadi hak milik ya harus di jaga. Siapa tahu papa mulai macam-macam kalau dilepas begitu aja. Kalau istilah anak muda itu ada jatah mantan gitu kalau gak salah," kata Kia.
Arga langsung merapatkan bibir ketika menyadari istrinya mulai cemburu. Akan tetapi dia tetap merasa senang dicemburui.
Kai berdecak di belakang Arga. "Kasihannya mamaku. Uh uh uh papa itu tega bener. Bisa disebut raja tega gak sih?"
"Tapi ujung-ujungnya papa juga mentok di mama kok," kata Arga.
"Itu karena gak ada yang mau lagi sama papa." Kia nyeletuk sambil tertawa dan menutup mulutnya dengan tangan.
***
Leela tengah menepuk-nepuk bokong Leo ketika suaminya masuk kamar.
"Tidur di sini lagi dia?" tanya Bimo seraya membaringkan tubuh di belakang sang istri. Tangannya langsung melingkari perut sang istri yang terdapat bekas luka operasi caesar.
"Iya, kasihan susternya kalau dia harus pindah malam-malam. Jadi biarkan aja dulu dia tidur di sini sambil perlahan kita sounding untuk tidur mandiri."
Bimo memeluk istrinya semakin erat seperti takut bahwa istrinya akan pergi sekarang.
"Hmm?"
"Kamu baik-baik aja?" Tidak biasanya memang Bimo memeluk Leela seerat itu.
"Aku takut kamu marah. Aku merasa kamu sangat jauh sejak Andra mengatakan kalau dendamnya Davin ada kaitannya dengan perempuan di masa lalu aku. Sumpah aku tidak pernah main-main dengan perempuan selain ibunya Andra, Ariana, dan kamu."
Leela berbalik dan menatap suaminya. Dia berikan senyum manis yang ia punya lalu menangkup wajah Bimo dan memberikan kecupan pada kening, hidung, pipi dah terkahir di bibir.
"Aku percaya kok sama kamu karena selama aku hidup dengan kamu aku tidak pernah melihat kamu bermain-main dengan perempuan. Maaf kalau aku terlihat mengabaikan kamu, sejak dua hari yang lalu" kata Leela membalas dekapan suaminya.
Bimo mengangguk.
"Soal Andra menurut kamu gimana, Mas?" Ah iya mereka lupa hendak membahas soal putra sulungnya.
"Soal yang mana? Yang hendak menikahi Kia?"
"Semuanya. Gak kerasa aja dia sekarang sudah besar dan sudah membicarakan tentang pernikahan secara terang-terangan. Aku yakin besok-besok dia akan meminta melamar gadis impiannya. Kamu sudah siap punya menantu, Mas?"
"Siap, gak siap ya harus siap. Enggak mungkin dong kita melarang dia menikahi perempuan impiannya. Bisa jadi dia malah berontak kalau kita tentang keinginannya. Mungkin selama ini kita melihat dia sebagai anak yang manis tapi kita juga perlu berhati-hati sama sikap manisnya dia. Kita tidak pernah tahu seberapa bahaya air yang terlihat tenang. Betul kan?"
"Huum."
Baru saja mereka berbagi nafas dalam tautan kedua bibir, eh pintu kamar sudah di ketuk dan terdengar suara Andra dari interkom.
"Kebiasaan." Bimo mendengus sambil melepas sang istri dari dekapannya untuk membuka pintu.
"Mami sama papi belum tidur kan?" tanya Andra yang berdiri di depan pintu kamar mereka sambil menggaruk bagian yang tidak gatal. Percuma sih sebenarnya.
__ADS_1
"Belum, kenapa memang? Ada hal penting yang ingin disampaikan?" tanya Leela mirip suaminya yang masih di atas pembaringan.
Andra mengangguk.
Bimo turun dari pembaringan dan mengikuti anak serta istrinya yang duduk di sofa. Dia duduk sambil mendekao sang istri untuk memberi tahu oada outranyabkalsi merka terganggu.
"Soal perkataanku tadi pada Kia, Mam."
Nah kan.
"Jadi?" tanya Bimo tidak ingin berbasa basi. Pasalnya ini sudah memasuki waktu dinas bersama sang istri.
"Aku mau papi sama mami melamar Kia untuk aku."
Benarkan dugaan Bimo dan Leela, ternyata tak sampai dua puluh empat jam Andra sudah mengutarakan isi hatinya. Sepasang suami istri itu saling melirik dan tersenyum tipis karena dugaan mereka tidak meleset.
"Memangnya kamu sudah siap berumah tangga? Ingat loh rumah tangga itu bukan hanya sekedar melepaskan hasrat di atas ranjang," kata Bimo sambil bersedekap.
"Aku siap. Aku akan belajar dari papi dan mami. Pernikahan kalian akan menjadi contoh untukku juga Kia. Kalian selalu terlihat akur dan tidak pernah bertengkar."
"Bukan tidak pernah, Kak. Hanya saja kami tidak menunjukan itu di depan kalian. Pertengkaran itu sering terjadi apa lagi saat mami dan papi masih sama-sama muda. Di mana ego sedang tinggi-tingginya. Tidak ada yang mau mengalah, kamu siap?"
Andra mengangguk pasti. Keinginanya tidak bisa digoyahkan lagi. Sudah fiks ini mah harus menikah dengan Kia.
"Oke, kapan waktunya?" Bimo setuju. Biar Andra merasakan seperti apa yang dia rasakan. Di mana sedang tanggung tapi malah diganggu.
"Dua hari setelah hari ini."
Kabar rencana pernikahan Andra mulai terendus media saat Kean dan Shafia membagikan foto yang tengah berpose di sebuah toko perhiasan. Di mana Andra terlihat ada di belakang mereka walaupun sedikit blur.
Sontak kolom komentar media sosial mereka langsung dibanjiri komentar netijen.
Andra jadi menikahi anak pengusaha itu?
Wah benar-benar nih Andra gerak cepat. Takut keburu hamil ya ceweknya yang waktu itu.
Emang jadi menikah sama yang kemarin ketangkap basah lagi di kamar hotel? Bukannya Kia juga sudah kembali. Wah rupanya akan ada kisah cinta segitiga. Seru nih.
Beragam komentar negatif dan postif mampir di kolom komentar, hanya saja Kean dan Shafia tidak menanggapinya.
Alisya melihat postingan tersebut. Ah rupanya dendam karena tidak menjadi anak seorang Arga masih melekat di dalam dirinya. Dia tidak rela Kia bahagia.
Kemudian dia membuat unggahan untuk menggiring opini publik yang akan menyudutkan Kia dan juga Andra. Dia juga menyertakan screenshot-an chat yang dikirim oleh nomor Andra.
"Pria sejati adalah pria yang bisa dipegang ucapannya. Siapa yang dirusak lalu siapa yang diratukan. Sungguh tidak adil dunia si orang kaya." begitu caption yang dia tulis. Tak sampai sepuluh menit para pengikutnya mulai berkomentar. Tentu saja karena bukti chat tersebut orang menjadi yakin bahwa Andra hanyalah seorang bajingan yang ucapannya tidak pernah bisa dipegang.
Revina yang sedang menggulir beranda instagram tentu dapat melihat langsung unggahan putrinya. Dia langsung menemui Alisya di kamar untuk menegurnya.
"Mam?" Alisya tersentak kala mendengar pintu di buka sedikit kasar.
"Hapus postingan barusan. Jangan mencari masalah dengan mereka. Apalagi jelas di sini kamu yang salah."
Alisya menjatuhkan ponslenya lalu menatap ibunya.
"Aku hanya memperjuangkan apa yang menjadi hakku, Ma. Seharusnya yang menjadi anaknya Arga itu aku bukan Kia. Kalau mama dulu tidak menyerah dari seorang Shepa maka sekarang aku yang menjadi anaknya Arga."
"Alisya! Jaga ucapan kamu. Kamu itu anaknya papa Rian kenapa harus berharap menjadi anaknya Arga. Di mana otak kamu. Percuma mama sama papa menyekolahkan kamu hingga ke perguatuan tinggi kalau otakmu masih sama dengan pikiran anak SD."
"Tapi rupanya menjadi anak seorang Arga jauh lebih bahagia ketimbang menjadi anaknya Rian. Papa Rian sih emang kaya, tapi dia pelit. Di mana aku harus memertimbangkan apa yang aku beli ada manfaatnya atau tidak. Iya kan papa Rian itu pelit."
Ketika kalimat panjang tidak bisa lagi membuka mata hati seseorang maka tangan yang akan bicara. Begitu lun dengan Revina yang memilih menamoar putrinya agar dia menyadari kekeliruan dalam ucapannya. Bahkan tangannya masih gemetar usai menampar Alisya.
__ADS_1
Alisya masih sempat tersenyum sinis padahal pipinya merasakan sakit.
"Aku akan merebut apa yang menjadi hakku. Papa Arga dan juga Andra," ujar Alisya sebelum meninggalkan ibunya di kamar.