
Revina mengusap wajah, merasa tidak habis pikir kenapa Alisya bisa berpikir demikian. Dia baru sadar kenapa Alisya sering menanyakan kisah masa lalunya dengan Arga. Ternyata untuk ini. Haruskah dia menyesal karena telah menceritakan kisahnya? Tidak, itu bukan salah dirinya. Alisya salah tanggap.
Bisa-bisanya Alisya tidak bersyukur karena lahir dari bibit milik Rian. Suaminya tidak kalah kaya dari seorang Arga. Akan tetapi dia lupa Terkadang orang cenderung menginginkan milik orang lain yang terlihat indah. Padahal Alisya tidak tahu saja suka dukanya Kia menjadi anak tiri Arga. Tidak semua yang terlihat indah dan menyenangkan itu nyata. Dia lupa bersyukur telah memiliki ayah yang juga tak kalah kaya.
Revina menghubungi suaminya yang masih di tempat kerja dan menanyakan kapan pulang.
"Tumben?" tanya Rian karena memang Revina jarang sekali menanyakan kapan ia akan pulang. Mungkin itu juga yang dilihat Alisya dari ibunya. Mengira kalau Revina tidak bahagia hidup berdampingan dengan Rian.
"Nanya aja. Lagi rindu soalnya."
Rian tertawa, Baru kali ini Revina mengatakan hal-hal kecil yang membuat hatinya kembali bergetar dan kembali merasakan jatuh cinta.
Kisah cinta Rian memang tidak beruntung seperti orang lain. Di mana dia selalu mendapatkan perempuan yang masih menyimpan orang lain di dalam hatinya. Akan tetapi dia bersyukur meskipun begitu baik istri pertama maupun istri keduanya tidak pernah bersikap yang melanggar norma dan mempermalukan diri sendiri. Mereka masih menghormati dan menghargai Rian.
"Kalau begitu aku akan pulang cepat ya. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Oke aku tunggu, semangat kerjanya ya. Di rumah ada istri yang lagi nunggu di-transfer oleh suami," kekeh Revina sebelum panggilan berakhir.
Revina menghela nafas panjang seraya terus mengucapkan kalimat istighfar untuk dirinya juga anaknya.
***
"Mama kenapa?" tanya Kia yang melihat ibunya bengong setelah menerima panggilan dari Leela.
"Ah," pekik Shepa yang terkejut ketika tangannya disentuh oleh Kia.
"Mama ini aneh, dipanggil malah diam, disentuh kaget. Lagi memikirkan apa? Pasti lagi memikirkan yang kemarin ya, yang soal papa sama mantannya."
Kia menuangkan air minum sambil terus memperhatikan ibunya.
"Ki?"
"Iya, Ma?"
"Aduh ini gawat, ini gawat. Mbak, mana mbak? Mbaaakk!" Shepa memanggil semua pekerja di rumahnya termasuk mamang bagian membersihkan kebun dan kolam renang.
Kia hanya garuk-garuk kepala karena merasakan aneh pada ibunya.
Semua yang merasa Mbak menghampiri Shepa, mereka juga merasa heran kenapa tiba-tiba dikumpulkan. Tentu yang ada di dalam pikiran mereka adalah kesalahan apa yang mereka perbuat.
"Besok akan ada acara besar di rumah ini, tolong siapkan makanan yang mewah, Hubungi juga WO untuk mendekorasi rumah. Semuanya harus sudah siap sebelum azan maghrib. Paham ya?"
Meskipun bingung mereka tetap menyiapkan apa yang diminta oleh majikannya, kecuali orang yang ditunjuk untuk menghubungi WO karena dia sudah diberi tahu akan ada acara apa untuk besok.
"Ki sekarang ganti baju dan ikut mama!"
"Kemana?"
"Sudah cepat ganti baju kamu. Sudah tidak ada waktu kita." Meskipun bingung tak ayal Kia tetap mengikuti perintah ibunya.
Kia diajak ke klinik kecantikan untuk melakukan perawatan namun di sana dia bertemu dengan Alisya. Dia berdehem untuk memberi tahu keberadaannya pada Kia.
"Kalau dari atasnya pelakor ke bawahnya juga pelakor ya. Emang susah sih memutus mata rantai setan," kata Alisya sedikit keras agar didengar oleh Kia tapi sayang tidak ditanggapi.
"Pelakor ya mana sadar biar pun disinggung bagaimana pun."
__ADS_1
Kia menoleh, dan menatap tajam pada Alisya. "Kamu bicara pada saya?" tanya Kia.
"Sama tembok," jawab Alisya mendengus kesal.
Kia bukan tidak menyadari siapa orang yang dimaksud Alisya akan tetapi Kia tahu orang seperti itu kalau ditanggapi akan semakin melunjak. Yang penting Kia tahu kebenarannya dan juga memang tidak merebut.
***
Andra sudah kembali masuk kantor dan sekarang dia tengah berhadapan dengan para investor yang menanamkan modal di perusahaan ayahnya. Sudah menjadi kewajiban bagi Andra untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada para investor demi keberlangsungan perusahaan yang sedang dia pimpin.
"Kejadian hari itu murni sebuah jebakan. Bukan karena memang saya memiliki perangai buruk."
"Kalau memang anda dijebak, siapa pelakunya dan kenapa anda tidak melaporkan pada pihak kepolisian?" tanya salah seorang dari mereka.
"Hanya orang usil yang tidak memiliki pekerjaan. Alasan kenapa saya tidak melapor pada pihak kepolisian karena saya dan keluarga memberi dia kesempatan untuk melakukan itikad baik. Kalau dia membuat ulah kembali baru saya akan mengambil tindakan."
Perusahaan kembali berjalan seperti sedih kala, Andra kembali bekerja dan kepercayaan dari investor kembali di dapat. Untuk saat ini semua terkendali termasuk berita yang berseliweran di luar sana.
"Aku tidak sabar untuk hari besok," ujar Andra sambil menatap foto dirinya bersama Kia.
Hari yang di tunggu oleh Andra pun tiba hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi. Keluarga besarnya sudah mempersiapkan acara ini. Hanya Kia yang tidak diberi tahu. Jadinya dia bingung ketika Shepa masuk kamar dan meminta dirinya mengenakan pakaian yang dia berikan.
"Sudah jangan ribet, pakai aja," kata Shepa ketika Kia bertanya.
Penata rias yang disewa oleh Shepa juga sudah datang dan mulai mempercantik wajah putrinya. Kia diperlakukan seperti boneka yang tidak diberi kesempatan untuk bertanya. Sebelum maghrib tiba penata rias sudah selesai melakukan tugasnya dan kini Kia menatap pantulan dirinya yang sangat cantik.
Dia sempat mengintip dari tirai ketika beberapa mobil memasuki rumahnya. "Acara aoa yang mama maksud?" tanya Kia di dalam hati.
Andra terlihat sangat gagah dan tampan ketika turun dari mobil. Sikap sopannya tidak pernah luntur, dia menyalami kedua orang yang akan menjadi mertuanya.
Tatapan kedua calon pengantin itu saling bertemu, membuat Kia menundukan kepala karena malu. Sedangkan Andra tersenyum karena melihat calon istrinya yang tersipu. Malu-malu kucing sepertinya. Kita lipat nanti setelah merka jadi sepasang suami istri.
Acara bertanggung lancar hingga waktunya Andra diberikan kesempatan untuk bicara. "Sebenarnya berdiri di sini sungguh membuat saya gugup. Akan tetapi hari ini adalah hari yang sangat dinantikan sepanjang nyawa berada di dalam raga saya. Kiara Adinda Wiji mau kah engkau menjadi teman perjalanan hidupku. Menjadikan aku orang yang selalu engkau butuhkan, menjadikan aku selimut dan pakaian untukmu? Sekali lagi, Kiara Adinda Wiji mau kah engkau menjadi istriku?" Andra berbicara dengan lantang dan tampak gagah.
Baru saja Kia akan menjawab, tetapi suara ledakan di luar rumah membuat semua orang kaget dan berteriak histeris. Segerombolan orang memakai penutup wajah masuk dan mengacaukan acara. Merusak dekorasi yang terspasang. Menumpahkan makana dan minuman yang tersaji untuk acara.
Suasana begitu chaos ketika petugas keamanan tidak mamph membendung para pengacau. Para perempuan cepat diungsikan ke suatu ruangan yang dirasa aman. Sedangkan para pria berusaha melawan mereka. Hanya yang sudah tua-tua sepeti Wijaya dan ayahnya Arga yang tidak diikut sertakan.
Kean paling suka dengan keadaan seperti ini. Kini saatnya dia menunjukan jati diri yang sesungguhnya. Dia menerjang dan melawan lima orang sekaligus. Sedangkan Andra berhadapan langsung dengan dalang pembuat onar yang tak lain adalah Davin.
"Ternyata kau mengenaliku juga," kata Davin dengan sering ai jahat.
"Apa mau mu?" tanya Andra.
"Kehancuran dari kelauraga mu," jawab Davin.
"Mimpi. Silahkan bermimpilah selama kau merasakan nyenyak tidur tapi kali ini tidak akan kubiarkan."
Saling serang antara Andra dan Davin pun terjadi. Target utama yang ingin dia serang adalah Bimo. Kalau pria itu hanya terluka maka dia akan sembuh dan kembali merasakan kebahagiaan jadi yang dia inginkan kali ini adalah kematiannya.
Pecahan barang, suara tubuh menyentuh lantai, pekikan dan erangan rasa sakit terdengar oleh para perempuan yang bersembunyi di ruangan khusus. Dengan tubuh gemetar akan rasa takut, Kia menghubungi pihak kepolisian terdekat untuk meminta bantuan.
"Ini gimana, Mam?" tanya Shafia pada Leela yang tengah memeluk Leo.
"Berdoa, Nak. Semoga bantuan polisi segera datang," kata Leela.
__ADS_1
"Mama tidak apa-apa?" tanya Shepa pada mertua dan juga ibunya.
Kedua perempuan tua itu saling menggelengkan kepala. Tubuh mereka sama-sama bergetar karena takut, keringat mulai membasahi wajah serta tubuh masing-masing.
Dua suara tembakan terdengar oleh para perempuan.
Satu tembakan dari Davin untuk Bimo yang akhirnya mengenai dada atas Andra.
"Kak!" pekik Kean. Tidak ada ampun, dia langsung menghajar bahkan hampir memisahkan raga dengan nyawa milik Davin. Beruntung petugas kepolisian datang dan menembakan senjata ke atas sebagai peringatan.
Mereka langsung mengamankan para pengacau. Termasuk Davin yang pada akhirnya terluka parah diserang oleh Kean. Sedangkan Andra harus kembali ke rumah sakit dan masuk ke ruang operasi.
Mereka yang terluka pun mendapatkan perawatan, Bimo mendapatkan luka di wajah, dan lengan lainnya hanya memar akibat pukulan. Arga mengalami sobek di bagian bibir dan pelipis harus dipakaikan perban dan Kean menjadi orang yang paling sedikit mendapatkan luka karena sudah terbiasa baku hantam.
"Andra gimana?" tanya Bimo pada sang istri. Dia takut kalau kali ini putranya tidak mampu selamat dari kematian.
"Masih di ruang tindakan," jawab Leela tentu dengan ekspresi sedih.
"Kemari!" Bimo melambaikan tangan agar istrinya mendekat. Mereka saling berpelukan untuk memberikan kekuatan. Percayalah bagi orang tua kehilanagn anaknya adalah salah satu bentuk kiamat kecil. Dunia mereka akan terasa hancur ketika kehilangan seorang anak. Beda cerita jika yang pergi adalah orang tua lebih dulu.
Bimo menemui keluarganya yang keadanbya baik baik-baik saja dan tengah menunggu di depan ruangan operasi. Menunggu kabar baik dari dokter. Kia juga ada di sana, menangis dan memeluk neneknya dari Arga.
Bukti-bukti kejahatan Davin sudah diserahkan pada pihak kepolisian. Bahkan Alisya pun ikut terseret dan di bawa ke kantor polisi.
"Demi tuhan aku tidak ikut terlibat. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada orang tuaku." Alisya memberontak dan yakin kalau kedua orang tuanya akan menolong dirinya.
Wijaya geram dengan semua yang terjadi pada keluarganya. Dia pun turun tangan dan meminta agar orang-orang kepercayaannya bergerak menyelesaikan masalah ini.
"Cari tahu perusahaannya dan akuisisi. Jangan sisakan kekayaan untuk mereka," kata Wijaya
Pertama-tama orang-orang Wijaya melakukan pendekatan kepada para investor perusahaan Davin. Kemudian dia tawarkan kerja sama yang lebih menguntungkan. Siapa yang tidak tergiur dengan keuntungan yang lebih banyak? Perlahan tapi pasti satu persatu para investor perusahaan Davin mulai berbelok arah kepada perusahaan Wijaya yang saat ini dikendalikan oleh Andra.
"Mereka mulai tertarik untuk bekerja sama dengan kita, Pak" lapor orang kepercayaan Wijaya.
Wijaya tertawa puas, "Salah sendiri berani bermain-main dengan keluargaku. Selesaikan sisanya!"
Davin mulai frustasi ketika orang dari perusahaannya memberi tahu bahwa para investor di perusahaannya mulai menarik saham yang mereka tanam. Belum lagi dia harus menghadapi persidangan yang mulai bergulir. Tidak ada yang membela dirinya, bahkan Rian yang dia ketahui sebagai ayahnya seolah menutup mata dan enggan membantu. Perlahan tapi pasti kehancuran Davin sudah di depan mata.
***
Di rumah sakit Andra masih belum sadarkan diri pasca operasi dinyatakan berhasil. Bahkan sampai hari ke empat belas dokter mengtakan belum ada kemajuan dari kesehatan Andra bahkan cenderung menurun.
Semua anggota keluarga silih berganti untuk menjaga Andra termasuk Kia yang selalu datang hampir setiap hari. "Bangun, Kak! Kak Andra masih memiliki janji yang belum ditunaikan padaku. Kita akan menikah bukan?"
"apa Kak Andra senang di sana karena bertemu mama? sampai lupa untuk membuka mata. Padahal aku selalu menunggu di sini loh hampir setiap hari." Kia menyeka sudut mata yang basah dia takut kalau kehilangan Andra. Padahal cepat atau lambat perpisahan yang sesungguhnya pasti kan terjadi.
"Kia!" Leela menghampiri dan mengusap pundaknya yang berguncang.
"Aku takut kehilangan kak Andra, Mi," kata Kia sambil memeluk Leela.
"Mami juga merasakan ketakutan yang sama, Ki. Hanya saja kita harus siap, perpisahan karena kematian itu sudah pasti dan kita mau tidak mau harus siap andai Andra sudah waktunya dipanggil. Satu hal yang perlu kamu tahu bahwa dia sangat mencintai kamu. Disaat semua orang mulai putus asa dan mengikhlaskan kepergianmu, dia satu-satunya orang yang yakin kalau kamu masih ada dan akan kembali dan itu terjadi."
"Mami pernah mengatakan ini pada kak Andra, kalau kalian memang ditakdirkan untuk bersama, sebanyak apa pun aral yang melintang pasti akan mampu kalian lalui. Berdoalah agar Allah mengiznkan kalian untuk bersama, andai tidak semoga Allah melaoangkan hati kita," kata Leela sambil mengusap puncak kepala Kia. "Pulang lah dan istirahat, biar sekarang mamo yang menjaga Kak Andra."
Kia mengangguk kemudian pamit pada Bimo yang juga ada di sana.
__ADS_1
Leela menatap tubuh putranya, air mata jatuh ketika ia memberikan kecuali sayang pada kening Andra. "Jangan tinggalkan mami, Kak. Mami mohon."