Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Panik


__ADS_3

Kia pulang ke rumah hanya sekedar untuk mandi dan istirahat sebentar. Setelahnya dia akan kembali ke rumah sakit karena tak pernah merasa tenang ketika berjauhan dengan Andra. Padahal di sana sudah polisi yang menjaga selain perawat dan juga dokter. Sebagian anggota keluarga juga ada yang masih di sana.


Pengamanan dari pihak kepolisian masih berjaga di depan pintu kamar rawat Andra. Tidak ada yang diijinkan masuk selain petugas medis dan anggota keluarga.


Kerabat atau rekan bisnis yang hendak menjenguk pun harus ditemani salah satu anggota keluarga. Sengaja keamanan diperketat karena bukan tidak mungkin Davin akan menyuruh orang-orang yang masih setia mengikutinya untuk mencelakai Andra. Penjagaan tersebut dilakukan sampai Andra dinyatakan sembuh.


"gimana keadaan kak Andra, Ki?" tanya Shepa saat sang anak dengan wajah lelahnya baru tiba di rumah.


"Masih sama, aku ajak bicara pun belum ada respon." Kia meletakkan kepala di pangkuan ibunya. Bermanfaat sebentar untuk mengurangi rasa ketakuatannya. "Kak Andra akan sembuh kan, ma?"


"Insyaa Allah, kita doakan selalu yang terbaik untuk kak Andra. Kamu mau ke sana lagi?"


"Iya nanti kalau sudah mandi sama mau istirahat dulu sebentar."


"Mama juga nanti mau ke sana tapi nunggu nenek kamu dulu. Ya udah istirahat gih sana! mama mau siap-siap, di sana ada siapa aja?"


"Ada mami sama papi juga. Papi mampir dulu sebelum berangkat ke kantor. Kalau mami emang dari semalam sama aku di sana." Kia naik ke kamarnya sedangkan Shepa menyiapkan makanan yang akan di bawa ke rumah sakit. kakaknya pasti akan melewatkan makan kalau keadaan sedang seperti ini.


Di rumah sakit Bimo dan Leela baru saja mendapatkan terapi jantung. Di mana alat pengontrol detak jantung Andra sempat berbunyi dan munjukan garis panjang. Sekarang mereka sedang menunggu kabar dari dokter yang masih memeriksa keadaan Andra di dalam.


"Gimana, Dok?" tanya Bimo dan Leela saat dokter baru keluar dan sempat meminta mereka agar meninggalkan ruangan Andra saat tim medis sedang melakukan tugasnya.


Dokter menghela nafas panjang.


"Sampai saat ini belum ada kemajuan yang menunjukan harapan. Lebih buruknya begini, putra anda masih bertahan karena di bantu alat. Kemungkinan kalau alat kita lepas maka hal yang kita takutkan akan terjadi." Dokter mentap sepasang suami istri yang tengah berusaha saling menguatkan dengan cara saling menggenggam tangan pasangannya begit erat.


Leela menggelengkan kepala, menolak semua perkataan dokter. Air mata langsung berduyun-duyun tanpa dikomando.


"Apa tidak ada cara lain yang akan membuat dia bangun, Dok?" tanya Leela dengan wajah pilu dan menyeka ari mata.


Tidak ada jawaban dari dokter selain hanya tepukan pada pundak Bimo sebelum pergi. Sekarang mereka hanya bisa menatap dari jendela kaca setelah dokter meminta ruangan Andra disterilkan. Alat pengontrol detak jantung kembali aktif seperti sebelumnya setelah beberapa waktu yang lalu membuat mereka panik.


Tiba-tiba Bimo teringat ucapan Kia yang dia dengar tadi, apa kak Andra senang di sana karena bertemu dengan mama.


"Sayang, aku berangkat sekarang ya," kata Bimo sambil mengecup kening istrinya. "Nanti  Kean akan membawakan  makanan untuk kamu sarapan. Terima kasih ya sudah menjadi ibu yang selalu ada untuk Andra."


Leela mengangguk dan mengijinkan suaminya berangkat.


"Mam, kak Andra gimana?" tanya Kean yang baru datang dan sempat berpapasan dengan ayahnya.


"Masih sama," jawab Leela dengan wajah menunduk lemah.


"Mami sarapan dulu ya terus nanti istirahat biar aku yang menjaga kak Andra." Leela mengikuti perintah Kean.


***


Sebelum berangkat ke kantor dan mhadiri panggilan dari pengadilan, Bimo menyempatkan mengunjungi makan istri pertamanya. Di tangannya terdapat bunga mawar merah kesukaan mendiang istrinya.


Dia taburkan bunga-bunga yang ia bawa di atas pusara sang istri. "Maaf ya aku baru datang lagi," kata Bimo sambil berjongkok dan membacakan doa.


"Ratih, kamu tahu kan apa yang sedang terjadi dengan anak kita. Demi melindungiku dia harus terluka dan terbaring lama di rumah sakit. Apa dia bertemu dengan kamu sehingga dia enggan untuk bangun kembali? Dia pernah mebgatakan bahwa dia sangat ingin bertemu kamu walau habya dslam mimpi. Kalau iya dia tengah bersama kamu, katakan padanyaa bahwa kami di sini menunggu dia kembali. Jangan tahan dia dan jangan di ambil sebelum waktunya."


"Seharusnya dia sedang merasakan kebahagiaan karena telah melamar puja hatinya. Akan tetapi musibah itu datang lebih cepat. Ratih ... aku ayah yang gagal melindungi putra kita. Maafkan aku. Jangan hukum aku dengan harus kehilangan dia."


Untuk beberapa menit Bimo menangis di sana, sampai dia merasa cukup baru dia bangkit dan menuju pengadilan. Hari ini dia dipanggil untuk bersaksi atas kejahatan Davin. Kasus ini tetap harus dikawal agar Davin tidak bermain-main dengan hukum. Ingat dia sudah pernah lolos dari hukum ketika dituduh berkaitan dengan hilangnya Kia. Bukan tidak mungkin kali ini dia akan kembali lolos jika tidak dikawal.


Selesai dari pengadilan Bimo harus pergi ke kantor. Tanggung jawab Andra ia ambil alih untuk sementara waktu. Banyak ucapan simpati dari rekan kerja sekaligus rekan bisnisnya atad musibah yang dialami putranya.


"Musibah tidak ada yang tahu ya, padahal sebelumnya beliau masih bercanda dam sempat mengundang kami agar hadir di acara pertuanangannya," kata rekan bisnis yang tengah menemui Bimo untuk membahas kelanjutan kerja sama.


Di sana dia juga bertemu dengan Wijaya yang akhirnya kembali ke kantor.


"Sidangnya lancar?" tanya Wijaya.

__ADS_1


"Alot, padahal bukti kejahatan sudah jelas tertera di sana."


"Hukum dunia memang bisa dipermainkan oleh mereka yang gelap mata akan kebenaran dan hati nuraninya telah tertutup oleh uang."


"Iya." Bimo berdecak, "bagaimana dengan perusahaan Davin yang rencananya akan di akuisisi perusahaan kita?"


"Masih dalam proses. Kita akan tutup sumber keuangan dia agar tidak bisa bermain dengan hukum."


***


Di tempat lain Davin tengah protes kepada pengacaranya yang dia anggap gagal. "Saya membayar mahal anda untuk membebaskan saya dari tempat ini tapi kenapa sekarang saya masih harus kembali ke tempat ini. Apa kau tidak bisa bekerja?" tanya Davin dengan wajah sangar penuh amarah.


"Saya akan berusaha, Pak Davin," kata pengacara itu berusaha bersikap tenang dan tidak menunjukan bahwa dirinya terintimidasi.


"Buktikan! Jangan hanya kalimat akan berusaha, tapi buktikan apa usahamu," teriak Davin. Tidak peduli dia menjadi perhatian petugas.


Pengacara itu menggelengkan kepala. Sebagai seorang pegacara tugasnya memang mendampingi. Akan tetapi kasus Davin tuntutannya lebih dari satu dan kemungkinan besar untuk bebas dalam waktu dekat itu sangat sulit.


Penculikan Kia, penjebakan dan pencernaan nama baik Andra, hingga aksi oenyerangan yang membuat Andra harus terbaring tak berdaya di rumah sakit.


"Begitu banyak tuntutan yang menjerat anda, Pak Davin dan memang itu tidak mudah bagi saya, karena jelas anda melakukan penyerangan lebih dulu. Beda cerita kalau mereka yang menyerang anda lebih dulu."


Davin menggebrak meja, " Diam! Saya tidak peduli, yang saya inginkan hanya kebebasan. Kalau kau tidak bisa bekerja ya sudah, saya akan mencari pengacara lain." Sudah jelas dia ditahan dan perusahaannya terancam bangkrut masih saja pongah dan percaya diri. Davin, Davin kapok mu kapan nak?


Pengacara tadi bangkit karena egonya tersentil oleh ucapan Davin, "silahkan cari pengacara yang menurut anda lebih hebat, saya menyerah dalam kasus anda," kata pengacara tersebut meninggalkan Davin.


" Hey! lihat saja kalau sampai aku bebas maka kau akan menjadi orang pertama yang aku cari. Aku pastikan kau dan karirmu itu akan hancur tidak bersisa," teriak Davin membuat petugas membawanya kembali ke tahanan.


Davin menarik pakaian petugas yang mengantarkan dirinya kembali ke dalam tahanan. "Bebaskan aku, maka akan ku berika kau hadiah," bisik Davin.


***


Ditemani ibu mertuanya Shepa kembali mengunjungi Andra yang masih betah memejamkan mata. Dia menemui kakaknya dan mamintanyauntuk istirahat.


"Makasih ya, She, tante tapi aku tadi sudah istirahat."


"Wajah kamu masih menunjukan kalau kamu juga butuh istirahat, maka istirahat lah. Kita itu keluarga, memang sudah seharusnya saling menjaga," kata mamanya Arga, sambil menepuk pundak Leela. "Istirahat gih!"


Leela mengiyakan dan memasuki ruangan tempat beristirahat kemudian berbaring di atas sofa. Untuk beberapa jam dia benar-benar tidur karena tubuhnya sungguh-sungguh merasa lelah.


Pukul tiga sore Bimo dan Wijaya pun datang, mereka bertemu dengan Rian di tempat parkir yang juga hendak menjenguk Andra.


"Maafkan kesalahan anak-anak saya, Pak Bimo," kata Rian yang berjalan beriringan dengan Bimo.


"Saya sudah memaafkannya, mungkin ini bagian dari takdir Andra. Akan tetapi maaf, saya tidak bisa membebaskan mereka begitu saja. Hukum tetap hukum yang harus ditegakkan."


"Saya serahkan keputusan terbaik pada anda. Saya sendiri sebagai orang tua merasa gagal dalam mendidik mereka," kata Rian.


Bimo tersenyum laku emngajak Rian untuk memasuki ruangan putranya dan hanya memiliki waktu tidak lebih dari sepuluh menit.


Di tempat parkir, Revina baru saja turun dari mobil. Dia dayang ke rumah sakit ketika Rian memintanya menyusul. Saat dia memasuki lobi, dia bertemu Arga yang juga baru masuk.


"Re!" Arga menyapa Revina yang celingukan mencari suaminya.


"Arga?"


"Lagi apa di sini?"


"Aku menyusul suamiku katanya mau menjengkuk anaknya Pak Bimo."


"Oh, kebetulan sekali. Ya sudah ayo bareng, kamu gak tahu kan kamar rawatnya Andra?"


Revina menggelengkan kepala. Dia berjalan di belakang Arga. Mereka tiba di depan kamar rawat Andra, namun seseorang yang muncul dari pintu membuat Arga langsung salah tingkah.

__ADS_1


Shepa menatap dua orang yang dulu sama-sama saling mencintai dan kini tengah berjalan bersama. Mungkin kebetulan tapi Shepa tidak mampu mengendalikan suasana hatinya.


"Sayang, kamu sudah di sini?" tanya Arga, meski tidak melakukan apa pun tetap saja dia gemetaran ketika kepergok tengah bersama mantan. "Tadi aku bertemu denga Revina di lobi, katanya dia menyusul suaminya yang juga tengah menjenguk Andra.


"Oh, dia sudah di dalam. Masuk saja," kata Kia dengan memasang senyum sebaik mungkin. Akan tetapi tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.


"Mau kemana, Sayang?" Arga urung masuk dan memilih menyusul langkah istrinya.


"Ke kantin, lapar."


Emh, Kalau Shepa sedang dalam kode jutek seperti ini pasti dia tengah cemburu.


"Aku temani ya! Mau makan apa?"


"Terserah!"


Arga menghentikan langkah Shepa dan memepetnya ke dinding.


"Apaan sih, malu tau," protes Shepa sambil mendorong tubuh suaminya.


"Ck, istriku tambah cantik kalau lagi marah," puji Arga sambil menjawil dagu sang istri. Dia juga menyelipkan anak rambut istrinya ke telinga. "Cantik!" Arga mengedipkan mata menggoda.


Baru saja Arga hendak menyatukan nafas tiba-tiba Kean sudah berdiri di belakngnya sambil berdehem. Sontak saja membuat sepasang suami istri itu menjauhkan wajah yang hampir menyatu. Tentu dengan rasa malu yang menjalar ke pipi.


"Rumah sakit, Om," kata Kean sambil tersenyum jahil kemudian meninggalkan mereka.


Arga berdecak kemudian tersenyum pada istrinya. "Jangan marah-marah ya, aku takut gak bisa membujuk kamu kalau di tempat umum," bisik Arga seraya memberikan kecupan.


***


Karena di dalam ruangan sedang banyak orang, Kean memilih menunggu di luar. Dia duduk di tempat yang disediakan pihak rumah sakit sambil memainkan ponsel.


"Kean," Kia menepuk pundak Kean membuat pemuda itu berjingkat kaget.


"Astaga, Kia. Aku pikir siapa, ngagetin aja tau." Kean mendengus. Tak jauh dari mereka Shepa dan Arga tengah menertawakan Kean.


"Satu sama, Ke," kekeh Arga. Dibalas delikan mata oleh Kean.


Pintu ruangan terbuka dan terlihat Rian beserta istrinya pamit.


"Semoga Andra lekas sembuh ya, La." Revina memeluk Leela. "Maafkan kelakuan anakku ya."


Leela mengangguk dan mengurai pelukan. Mereka saling melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.


"Kok gak pada masuk?" tanya Bimo pada Kean, Kia, Arga dan juga Shepa.


"Tente Shepa lagi ngambek karena om Arga kedaotan jalan bareng mantan," kata Kean membuat Arga mendelik.


"Ada-ada saja," kekeh Bimo. Dia kembali masuk ke dalam ruangan dan memasuki ruangan khusus rawat Andra. Dia usap rambut putranya seperti saat Andra kecil dan meminta dielus ketika akan tidur.


"Bangun Andra, acara lamaran kamu dengan Kia belum selesai. Tidak takutkah kamu kalau Kia menjadi istri orang lain? Bangun boy."


Baru saja Bimo berbalik dan hendak bergabung dengan keluarga yang lain, suara erangan yang sangat lemah terdengar dari tempat Andra berbaring.


"Andra? Andra?" Bimo langsung menekan tombol untuk memanggil dokter. Air mata jatuh ketika dia menyadari


ada perubahan pada tubuh putranya. "Andra bangun, Andra." Mendengar Bimo panik membuat yang lain ikut panik.Termasuk Leela dan juga Kia.


Bunyi alat pengontrol detak jantung menambah suasana menjadi semakin panik.


"Kak Andra," panggil Kia yang memberontak dan diminta keluar oleh perawat.


"Silahkan tunggu di luar sementara kami tengah melakukan tugas," kata perawat tersebut dengan sopan.

__ADS_1


Hari ini sudah dua kali Andra membuat anggota keluarganya panik. Selamatkah ia? atau memang sudah waktunya dia pulang.


__ADS_2