
Saat Andra dan yang bersangkutan sibuk memikirkan hasil visum, Davin tengah tersenyum menyaksikan siaran berita. Pencapaian yang luar biasa dalam misi dendamnya.
Kemarin dia menyuruh seseorang untuk selalu mengikuti Andra dari jarak aman. Dia tidak ingin mereka gagal lagi.
"Ingat! Saya paling tidak suka pada orang gagal. Pastikan kamu berhasil," ujar Davin pada salah satu anak buahnya.
Saat anak buahnya mengabarkan bahwa Andra memasuki area hotel dia pun langsung memiliki ide.
"Tahan di sana sampai saya datang. Kacaukan sistem keamanan CCTV!"
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Dia melihat kedatangan mobil Alisya melalui CCTV.
"Masukan obat ini pada minuman di dalam mobilnya. Jangan lupa ikuti dia."
Dia bersikap seperti biasa saat Alisya datang namun sebuah rencana telan tersusun rapih di benaknya. Tidak peduli meskipun Alisya adik tirinya.
Dia mulai menghitung mundur waktu kesadaran Alisya hingga sebuah kabar membuat dirinya tersenyum.
"Bawa dia ke hotel tempat Andra sekarang!"
Selang lima belas menit dia pun tiba di sana. Dengan menggunakan hoodie serta masker dia tetap aman meskipun melintas di area yang terekam kamera pengawas. Dia tetap bersikap layaknya pengunjung pada umumnya sehingga tidak ada yang mencurigainya.
Dia menengadahkan tangan meminta kartu akses kamar Andra yang sudah dipegang oleh anak buahnya.
"Telepon polisi saat aku sudah memberikan aba-aba tapi ingat jangan melakukan apa pun tanpa perintahku." Davin mengibaskan tangan mengusir anak buahnya. Sedangkan dia masuk ke dalam kamar di mana sudah ada Andra dan Alisya yang sama-sama tidak sadarkan diri.
"Ini kan yang kamu mau, Sayang?" Davin membelai pipi Alisya. Matanya berbinar menatap kulit putih nan bersih itu. Apalagi saat melihat sesuatu yang nyembul diarea dada.
"Akan ku-kabulkan permintaan kamu." Davin pun melepas pakaiannya dan menggauli Alisya yang tidak sadarkan diri. Jangankan berpikir soal dosa berpikir soal rasa kasihan saja tidak.
Ah, dia mengerang saat tiba di puncak gelombang hasrat. Menggunakan sarung tangan dia oleskan cairan miliknya yang tumpah pada milik Andra. Otomatis saat diperiksa nanti Andra jelas akan terbukti jadi yang bersalah.
"Selamat menikmati bekasku Andra." Davin menyeringai kemudian pergi setelah mendapatkan apa yang dia mau. Dia akan menanti kabar kedua orang ini di rumah. Sungguh, rasanya ia ingin mempercepat waktu untuk segera melihat kehancuran dari seorang Andra dan juga Bimo-pria yang dia ketahui penyebab ibunya gila.
***
Andra menjambak rambut sendiri ketika hasil visum mengatakan sisa cairan yang mengering sama persis dengan yang ada di bagian tubuh Alisya.
Bimo mengajak anaknya untuk bicara berdua. Sedangkan Rian dan Revina tetap berada di samping putrinya. Alisya sendiri tidak percaya pada hasil visum tersebut. Dia mengingat-ingat apa yang terjadi. Yang terakhir dia ingat adalah keluar dari rumah kakaknya, masuk ke dalam mobil dan kebiasaannya adalah selalu minum sebelum melanjukan kendaraan. Jarak sekitar 200 meter dari rumah kakaknya dia mulai merasa tidak baik-baik saja sehingga oleng dan menabrak. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi selain merasakan nyeri pada pangkal paha.
Dia diam saja ketika ayah dan ibunya bertanya. Yang ada dalam pikirannya adalah ingin bertemu dengan Davin untuk mengetahui keberannya.
__ADS_1
Sementara di ruangan lain Andra dan Bimo tengah bicara. Berulang kali Andra mengulang dan menjelaskan cerita yang sama.
"Papi percaya kan kalau aku tidak akan melakukan itu?"
"Papi percaya sama kamu. Papi tahu betul karena papi menjadi orang yang membesarkan dan mendidik kamu. Tapi ketika semua bukti mengarah pada mu papi hanya berharap kamu akan menujukan bahwa kamu adalah lelaki yang layak disebut lelaki sejati."
"Artinya papi meminta aku bertanggung jawab atas apa yang tidak aku lakukan. Itu tidak adil bagi aku, Pi."
"Demi nama kamu sendiri, Papi, Mami keluarga besar Kusumo."
Andra tersenyum sinis.
"Ini permintaan papi yang terkahir. Setelah ini papi tidak akan meminta apa pun lagi dari kamu. Selamatkan perusahaan dan nama baik kita. Nikahi Alisya."
"Pi kita bisa jalaskan pada wartawan kalau ini hanya kesalahan pahaman-"
"Lalu orang tua Alisya akan menerima begitu saja setelah mengetahui anak mereka kehilangan sesuatu yang paling berharga bagi seorang perempuan?"
Bimo meneolpuk pundak sang anak dan mengangguk.
Sementara itu Arga dan Shepa mengunjungi rumah Bimo setelah mendapat kabar.
"Kok bisa kayak gitu, gimana sih ceritanya?" tanya Arga.
"Aneh sih kalau memang Andra melakukan itu, tapi rasanya itu sangat bertentangan dengan sikap Andra yang kita kenal. Mungkin gak sih kalau ada orang yang berniat jahat sama dia atau mungkin sama keluarga kak Leela," kata Shepa.
"Mungkin aja. Perusahaan Bimo sedang berkembang pesat. Bisa saja ada yang iri atau merasa terkalahkan. Atau mungkin ...."
Semua orang menatap Arga yang mengantingkan kalimat.
"Ada makanan gak?" Arga menggaruk pelipis karena merasa aneh di tatap oleh semua orang.
"Kok jadi makanan," Shepa mengerti tapi tetap mengambilkan makanan untuk suaminya.
Sedangkan Bimo mengajak berudning Rian dan Revina.
"Saya pastikan Andra bertanggung jawab jika memang dia yang melakukannya. Tapi saya minta krlonggaran waktu untuk dia membuktikan ucapannya," kata Bimo.
"Jadi Andra ingin mengingkari hasil visum? Ck, saya pikir dia anak muda yang berbeda." Rian minat Andra dengan tanggapan mengejek. Akan tetapi Andra tidak peduli.
"Lalu bagiamana kita akan mengatakan lada wartawan?" tanya Revina.
__ADS_1
"Katakan saja ini kesalahan pahaman. Katakan bahwa mereka sepasang kekasih dan akan menikah dalam waktu dekat."
Andra sempat melirik ayahnya karena tidak suka dengan ucapan sang ayah.
Mereka setuju dan memilih pulang. Tak lupa mengatakan seperti apa yang dikatakan Bimo. Termasuk pihak kepolisian juga membenarkan ucapan Rian karena sudah diminta oleh Wijaya untuk memberikan keterangan yang sama.
Orang-orang yang sudah mnunggu di rumah langsung menyongsong ke depan ketika mendnegar suara mobil. Tentu mereka menuntut penjelasan dari Andra.
"Terakhir aku ingat adalah saat aku hendak membuka pintu. Ada seseorang yang memukulku dari belakang. Anehnya CCTV hotel tidak merekam itu."
"Berarti benar kamu dijebak," ujar Arga, "mereka pintar dan mengacaukan sistem keamanan CCTV. Tenang saja Andra, Om tidak akan membiarkan kamu sendirian. Kita akan usut hal ini."
Seperti merasakan sapuan angin ditengah gurun pasir. Di saat ayah dan kakeknha meminta dia bertanggung jawab, Arga datang dan mereka dukungan.
"Terkma kasih, Om."
Saat orang lain di ajak menikmati makanan, Andra memilih membuka ponsel yang tersambung dengan alat pelacak yang di tempel Hakim dibagian mobil Alisya.
"Selain dapat mendeteksi lokasi keberadaan alat itu juga bisa merekam obrolan orang-orang di sekitarnya."
Hanya ini cara yang terpikir dalam otak Andra. Ta lupa dia juga meminta Hakim untuk terus memantau orang-orang yang berada di seklilingnya.
Ya Hakin sekarang bekerja di sebuah perusahaan detekrif swasta. Jadi Andra bisa meminta bantuan padanya.
Titik lokasi mobil Alisya mulai bergerak dan berhenti di sebuah kawasan elit. Andra yakin Alisya adalah kunci untuk membuka tabir yang terjadi pada dirinya.
Di tengah orang-orang hang tengah menikmati hidangan malam, Kean muncul dengan gaya yang menyebalkan.
"Hi every body, tebak apa yang akan aku tunjukan pada kalian sekarang."
"Apa sih gak jelas banget," kata Shafia.
"Ayo tebak kalian pasti akan terkejut."
"Apa sih Kean? Kamu ini menganggu orang makan aja," omel Tresna.
"Yakin nih gak penasaran?"
Semua orang langsung menatap Kean yang menyebalkan. Yang ditatap malah bersiul dan menyigar rambut kemudian bertepuk tangan hingga seseorang muncul dari belakangnya.
Semua orang menatap tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
__ADS_1
Memangnya apa atau siapa yang dibawa oleh Kean?