Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Lemahnya Andra


__ADS_3

"Kelihatan kamu sudah begitu dekat dengan anaknya Pap Rian, Ndra." Bimo mulai memancing reaksi putranya. Kira-kira dia akan tetap pada pendiriannya atau memang akan berubah haluan. Toh Alisya juga cantik dan berkompeten.


"Sepertinya papi harus sudah mulai pakai kaca mata sekarang, Mi."


"oh kok pakai kaca mata?" tanya Leela menatap suaminya.


"Ya iya, masa aku dibilang dekat dengan anaknya sahabat mami. Tidak tahu saja kalau dilihat dari jarak dekat."


"Itu artinya kamu menolak kalau kami akan menjodohkan kalian?" tanya Bimo.


"Jelas. Sebenarnya papi juga sudah tahu kan jawabannya. Kenapa harus repot-repot bertanya." Terdengar nada tidak suka dari cara Andra bicara.


"Ya, Papi kira tidak ada salahnya kamu mencoba. Siapa tahu-"


"Enggak. Sekali enggak ya engga." Andra menghentikan mobil dan menoleh ke belakang. "Jangan memaksakan lagi kehendak, Papi. Beri aku ruang karena aku juga sudah dewasa. Izinkan aku memilih jalan hidupku sendiri termasuk soal istri."


Bimo dan Leela saling lirik. Mereka sudah yakin akan seperti ini tapi masih mau coba-coba.


Sampai tiba di rumah Andra tidak lagi bicara dengan kedua orang tuanya. Dia langsung masuk ke dalam kamar bahkan sempat mengabaikan Leo yang berlari ke arahnya dan meminta dipeluk.


"Kak Andra kenapa, Mi?" tanya Shafia.


"Gak papa-papa, kok kamu belum tidur. Sudah malam loh."


"Mi besok jadi kan uang jajannya di tambah?"


"Shafia!" Bimo menegur putrinya.


"Iya iya. Gak jadi deh, Mam." Dengan wajah memberengut Shafia masuk ke dalam kamar.


***


Pagi-pagi, Andra berangkat lebih dulu. Dia berhenti di toko bunga kemudian melajukan mobil ke arah pemakaman. Seperti biasa ada dua makam yang dia kunjungi. Satu makam ibunya dan satu lagi makam Wiji.


Di makam Wiji dia selalu menyimpan surat untuk Kia meski tak pernah ada balasan. Akan tetapi jejak rumput yang patah menandakan ada orang yang lebih dulu datang.


Andra menyapu sekeliling tapi tidak menemukan siapa pun selain petugas kebersihan.

__ADS_1


"Apa dia datang ke sini barusan, Om? Keadaannya baik-baik aja kan?"


Andra menyugar rambut dan membuang nafas. Apalagi saat tiba di kantor dia harus mendapatkan kejutan. Alisya sudah duduk di meja kerja skeertaris di depan ruangan kerjanya.


"Siapa yang nyuruh kamu di situ?" tanya Andra datar.


"Saya yang kasih perintah," ujar Bimo yang datang di belakang Andra.


"Pap?"


"Kita bicara di dalam." Bimo masuk lebih dulu kemudian disusul oleh Andra.


"Papi, aku gak suka dia ada di dekatku."


"Ya kamu tinggal jaga jarak. Mudah kan?" Bimo malah terlihat santai, duduk di sofa dan menaikan satu kaki ke kaki yang lain.


Andra meninju udara. Dia tidak suka ayahnya terlalu ikut campur. Dia yakin pindahnya posisi Alisya adalah efek dari obrolan semalam.


"Kamu butuh sekretaris yang kompeten dan papi butuh sekretaris papi kembali. Sudah cukup kan dia membimbing kamu. Bersikap profesional aja."


"Papi ingin aku jadi dekat dengan dia?" Kali ini wajah Andra menujukan bahwa dia tengah emosi.


Bimo berlalu setelah mengingatkan putranya. Sepertinya ujian cinta Andra akan semakin berat karena terlalu mencintai. Bisa saja hal-hal yang tidak pernah terpikirkan diotak manusia akan terjadi menimpanya.


Sebagai seorang ayah dia juga ingin yang terbaik untuk anaknya tapi bukan berarti dia akan memaksakan kehendak agar Andra menikah dengan Alisya.


"Pak." Alisya mengangguk saat Bimo keluar.


Tanpa dia bergerak duluan ternyata semesta sudah bekerja lebih dulu. Tadi saat dia masuk ke ruangnya tempat dia bekejra sebelum hari ini, dia kendaraan surat pengalihan tugas. Dan memang itu mau dia.


Di dalam ruangan Andra berusaha menurunkan emosinya. Dia kembali fokus pada pekerjaan hari ini. Dia juga mengabaikan Alisya saat perempuan itu menawarkan untuk dibuatkan kopi. Begitu pun saat makan siang.


Sore sebelum pulang, Andra mendapat panggilan pribadi dari nomor asing.


"Ya?" jawab Andra begitu panggilan tersambung.


"Pak Andra, maaf saya menghubungi langsung nomor anda. Saya ingin memastikan undangan makan malam hari."

__ADS_1


Andra memijit pelipis kemudian menyetujuinya.


"Saya akan datang nanti malam."


Dia pun mengemas barang pribadinya. Tidak langsung pulang melainkan ke tempat yang dikirim oleh pihak kepolisian terkait orang yang menarik uang dari ATM kemarin.


"semoga itu kamu," gumam Andra ketika sudah masuk mobil.


Mobil berhenti tepat di depan sebuah gang yang pernah dia datangi karena mengikuti seorang Ob yang bekerja di kantornya.


Dia menemui pemilik rumah kontrakan dan menanyakan keberadaan orang yang dia cari.


"Yang ngontrak di sini gak ada yang namanya Kia, Mas," ujar pemilik kamar kontrakan.


"Kalau Ara atau Dinda ada gak? Ah satu lagi Khalisa?" Andra menunjukan foto Kia juga foto Khalisa.


"Oh ini mah Dinda sams Lisa. Kenapa mas teh nyari-nyari mereka? Mereka terlibat masalah ya?"


"Bukan, tapi saya adalah salah satu keluarga dari mereka. Ibu bisa tolong izinkan saya bertemu sama mereka?"


Perempuan sedikit gemuk itu menghela nafas. "Mereka baru aja pindah kemarin. Katanya sudah nemu kontrakan yang lebih luas."


Andra mengepalkan tangan, merasa bahwa Kia sudah tahu dia akan datang dan malah mempermainkan dirinya.


"Ibu tahu mereka pindah ke mana?"


"Aduh kalau urusan itu saya kurang tahu ya. Mas bisa menghubungi salah satu dari mereka kan?"


"Justru itu, Bu. Nomor mereka mendadak enggak aktif mmakanya saya sampai nyusul ke sini. Takutnya terjadi apa-apa sama mereka." Sedikit kebohongan harus Andra keluarkan.


"Aduh maaf banget ya mas, tapi beneran saya gak tahu mereka pindah kemana."


Andra kembali menyugar rambut setelah kembali ke dalam mobil. Bahkan beberapa kali dia membenturkan kepalanya pada stir mobil. Rasa rindu dan frustasi akan pencarian Kia membuat dia menangis.


***


Leela melihat putra sulungnya hanya berdiam diri di taman dekat kolam. Bahkan hari ini Andra sanavt terlihat kacau dari sebelumnya. Tidak ada lagi senyum, canda dan tawa juga kalimat manis yang ia dengar dari si sulung.

__ADS_1


Dia pun menghampiri dan memeluknya. Seketika ia merasakan bajunya basa.


Andra menangis? begitu pikir Leela.


__ADS_2