
"Maksudnya hilang gimana?" tanya Leela lagi.
"Aku juga kurang paham. Kamu mau ikut aku ke sana?" Bimo sudah turun dari pembaringan dan berganti pakaian. Informasi dari telepon kurang jelas untuknya sehingga dia akan mendatangi rumah Arga walaupun ini sudah larut.
Leela pun turut serta. Sama-sama cemas mengingat yang hilang anak perempuan. Selain takut kehilangan nyawa tentu juga takut kehilangan harga dirinya. Perempuan jauh lebih rawan untuk dijadikan sasaran kejahatan.
Tanpa memberi tahu anak-anak mereka langsung berangkat.
"Jangan kasih tahu Andra dulu ya. Biarkan dia menyelesaikan kuliahnya. Toh hanya tinggal tiga bulan lagi. Semoga sebelum dia kembali kita sudah menemukan Kia."
Leela setuju. Orang yang sedang diperbudak oleh perasaan cinta bisa melakukan apa saja. Bahkan tanpa memikirkan resiko. Tapi Leela yakin kalau putranya masih akan mengedepankan akal. Hanya saja mungkin akan ada beberapa hal dari putranya yang berubah.
Saat tiba di rumah Arga, Bimo langsung menanyakan kronologi sehingga Kia bisa dikatakan hilang.
"Maksudnya hilang gimana, Ga?" tanya Bimo.
"Jam tiga sore dia pamit katanya mau ke rumah temannya, tapi sampai jam sembilan malam dia belum pulang. Di telepon ponselnya pun gak aktif. Aku susul dia ke rumah temannya tapi dia gak ada di sana. Kata temannya Kia tidak datang ke sana."
"Begitu? Aku pinjam laptomu sebentar." Bimo meminta laptop. Dia akan melacak nomor Kia. Dari titik koordinasi terakhir, Kia berada di stasiun.
Kedua sahabat itu saling tatap. Untuk apa juga Kia pergi ke stasiun.
"Telepon agen swasta, bayar berapa pun yang penting Kia harus segera ditemukan. Kita tidak bisa lapor polisi karena belum genap 2x24 jam." ujar Bimo.
Arga langsung menghubungi agen swasta yang dia kenal. Pun dengan Bimo. Lebih banyak yang mencari akan lebih mudah menemukan.
Bimo juga meminta agar semua orang yang terlibat dalam pencarian tidak menyebarkan berita ini ke sosial media. Khawatir Andra akan tahu dan malah ingin pulang. Urusan akan menjadi repot.
Tak lama dua mobil berbeda mendatangi rumah Arga. Mereka adalah agen swasta yang tadi dihubungi Bimo dan Arga. Mereka berkoordinasi untuk mencari Kia.
"Aku akan ikut mereka mencari Kia. Kamu di sini dulu temani Shepa ya." ujar Bimo pada sang istri.
"Pergilah dan bawa pulang keponakanku. Semoga Allah memudahkan kita membawa Kia kembali. Hati-hati, jangan lupa kabari kalau ada perkembangan," balas sang istri.
Jangankan mencari orang hilang di malam hari. Mencari di siang hari pun kadang-kadang sulit. Hal itu tidak menyurutkan langkah Bimo dan Arga bersama orang-orang yang mereka bayar. Harapan membawa Kia dalam keadaan selamat mengiringi langkah mereka dalam memulai pencarian.
"Doakan agar aku bisa membawa kembali anak kita," ujar Arga pada sang istri yang terisak.
Leela mendekap sang adik dan mengisi punggungnya untuk mengurangi rasa gundah. Dia pun sama merasa takut dan khawatir. Bagaimana kalau Kia tidak ditemukan apa yang akan dia katakan pada Andra nanti.
__ADS_1
Baik Shepa maupun Leela berushaa menyingkirkan pikiran buruk dalam benak mereka.
"She, apa ada sesuatu yang mencurigakan sebelum Kia pergi?" Pelan-pelan Leela bertanya.
Shepa menggelengkan kepala.
"Aku ambilkan air minum dulu ya." Leela mengambil air minum sendiri ke dapur. Namun saat di dapur dia mendengar dua orang pekerja yang belum tidur tengah membicarakan Kia.
Leela memelankan langkah mendekati pintu kamar mereka yang tidak tertutup sempurna.
"Kasihan ya Bu Shepa. Pasti khawatir banget apalagi anak perempuan."
"Ya pastilah apalagi yang hilang anak perempuan. Gimana kalau pulang tinggal nama."
"Hus sembarang kamu kalau ngomong. Doa yang baik-baik aja."
"Bukan mendoakan buruk tapi ini bicara kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di luar sana. Gimana kalau ternyata non Kia di culik terus diruda paksa."
"Serem ya. Eh, tapi kamu ngeuh gak sih ada yang beda sama non Kia sejak kedatangan ibu-ibu waktu itu."
"Aku sih gak memperhatikan, tapi apa hubungannya."
Dijodohkan? Ibu-ibu siapa yang dimaksud dua pekerja itu.
Leela segera mengambil air minum setelah mendengar obrolan dua pekerja yang belum pada tidur.
"Minum dulu, She." Leela menyodorkan air minum pada sang adik. "She tadi aku dengar dari pekerja kamu katanya beberapa hari yang lalu ada yang datang ke sini."
Shepa mengangguk, "iya, Neneknya Kia, ibunya almarhum."
"Memangnya mereka mau apa?"
"Ibu meminta Kia agar ikut sama dia. Katanya mereka berhak atas Kia karena ada darah daging anaknya. Mereka ingin menjodohkan Kia dengan pilihan mereka."
Leela terdiam. Apa Kia di culik oleh mereka.
***
Miring kiri, miring kanan, terlentang, tengkurap. Entah sudah berapa kali Andra mengganti posisi tidurnya. Dia merasa gelisah tapi tidak tahu sebabnya. Dia melirik jam yang sudah menunjukan pukul sembilan malam waktu Swiss.
__ADS_1
Dia mengambil ponsel namun tidak ada notifikasi apa pun. Aneh juga seharian ini Kia tidak menghubunginya. Ia mencoba menekan tombol panggil. Tak apalah dia menghubungi Kia malam-malam. Mungkin di Indonesia sudah masuk pukul tiga dini hari. Semoga saja Kia sudah bangun.
"Tumben gak aktif. Lupa charge kali." Andra meletakan kembali ponselnya setelah mengirim kan pesan.
Andra: Ki, Sayang nanti hubungi Kak Andra ya. Jangan kayak gini, rindu tahu.
Dia ambil lagi ponselnya dan berniat menghubungi kedua orang tuanya.
"Jangan ah nanti ganggu papi lagi ninu-ninu."
Karena gak bisa tidur, akhirnya Andra memilih mengerjakana tugas akhirnya.
"Hanya tinggal tiga bulan lagi Andra, sabar."
Pukul satu dia baru merasakan ngantuk kemudian terlelap.
Saat matahari mulai menyudup melalui celah tirai barulah Andra bangun. "Astaga kesiangan," pekik Andra yang segera turun dari tempat tidur.
Hari ini dia harus menyetorkan tugasnya akhirnya. Gawat kalau dia terlambat mengingat dosennya menerapkan sistem disiplin yang sangat tinggi.
"Come, on Dra! sepuluh menit lagi Mr. Gerald masuk kelas." Salah satu teman Andra memberi tahu. Segera Andra mengayunkan langkah kakinya selebar mungkin. Tidak peduli orang-orang memperhatikan dia, yang paling penting dia harus masuk kelas lebih dulu sebelum dosennya masuk.
***
"Gimana, Mas?" tanya Leela melalui sambungan telepon. Matahari sudah begitu terik tapi belum juga ada kabar tentang Kia.
"Kita belum menemukan Kia. Ini memang aneh, terakhir titik koordinat ponsel Kia ada di stasiun tapi saat ditelusuri ke sana, tidak ada data Kia yang melakukan perjalanan menggunakan kereta," papar Bimo yang tengah membeli air minum dan roti di mini market.
"Mas, tadi Shepa sempat cerita kalau Ibunya almarhum sempat datang dan meminta Kia ikut mereka."
"Maksud kamu ada kemungkinan Kia diculik oleh mereka?"
"Bisa jadi tapi belum pasti. Aku rasa itu penyebab Kia hilang. Bisa diculik oleh mereka atau juga Kia melarikan diri dari mereka"
Bimo mengela nafas panjang. Sepertinya pencarian Kia akan membutuhkan waktu yang lama.
"Aku akan meminta orang-orangku menyelidiki mereka."
"Mas ada yang datang." Leela memberi tahu suaminya saat ada mobil yang tidak dikenal masuk ke halaman rumah Arga.
__ADS_1