
Di tempat lain tepatnya di rumah Davin, Andra menyelinap masuk dibantu oleh orang yang disusupkan lebih dulu.
Dengan hati-hari mereka menelusuri tempat yang biasanya akan digunakan untuk menyimpan sesuatu yang rahasia. Salah satunya kamar Davin. Akan tetapi mereka tidak menemukan apa pun.
"Di mana biasanya orang akan menyimpan sesuatu yang penting?" tanya Andra pada dua orang penyusup yang membantunya.
"Kamar mandi, atau dapur. Di tempat-tempat yang tidak akan terpikirkan oleh orang lain," kata orang yang bernama Jak.
"Pergilah ke dapur dan temukan apa saja yang dianggap berkaitan dengan Davin. Hati-hati." Andra mengingatkan. Mereka akan berkomunikasi menggunakan alat khusus.
Dia sendiri memeriksa kamar mandi. Di mulai dari lemari penyimpan handuk dan sabun tapi tidak menemukan apa pun. Dia teringat tangki closet duduk, tepat di sana dia menemukan diary kecil. Tersimpan rapih dan di tempel pada bagian penutup.
"Penyusup," teriak salah satu pengawal Davin yang memergoki Jak di dapur. Teriakan itu terdengar oleh Andra dan teman yang satunya lagi melalui alat komunikasi.
Andra segera keluar dari kamar Davin namun dia pun kepergok. Alhasil mereka harus melawan sambil berusaha melariakan diri. Situasi di rumah Davin tampak chaos.
Tiga orang melawan lebih dari sepuluh orang pengawal itu mustahil menang. Andra melawan lima orang sekaligus, beberapa kali tubuhnya menerima hantaman dibagian dada dan punggung.
Orang-orang di dalam rumah berhasil mereka lawan namun tetap saja mereka tidak bisa keluar dengan mudah karena harus melewati penjaga bagian depan.
Dengan sisa tenaga yang mereka punya bahkan sebagian tubuh ada yang terkena sayatan benda tajam, mereka kembali baku hantam dengan pengawalan bagian depan.
Berhasil, pintu bisa di buka Andra segera menyuruh kedua temannya untuk keluar. Namun naas karena dia posisinya paling akhir, pisau yang dilemparkan orangnya Davin harus mengenai punggungnya.
Mereka tidak mengejar karena tentu akan mengundang perhatian penduduk sekitar. Sedangkan Andra dan kedua temanmu berhasil melarikan diri menggunakan mobil yang sengaja diparkir tidak jauh dari rumah Davin.
***
"Kok gak jadi?" tanya Leela saat memberi tahu suaminya bahwa makanan untuk makan siang sudah siap.
"Pak Rian sudah menemui lebih dulu di kantor."
"Apa hasil dari pembicaraan dengan Pak Rian?"
"Seperti dugaan kamu, dia meminta Andra untuk segera menikahi putrinya. Dia juga menunjukan bukti chat Alisya dengan Andra yang katanya sudah membuat janji."
"Apa iya Andra membohongi kita? Rasa itu sangat mustahil walaupun ya bisa saja dia khilaf. Tapi ...".
"Sudahlah jangan dipikirkan. Aku juga tidak mengiyakan hanya menjamin kalau Andra akan tanggung jawab jika terbukti bersalah. Ya sudah aku pulang sekarang ya, sampai jumpa di rumah."
Bimo mematikan sambungan kemudian meminta sopir menyiapkan mobil. Baru saja dia duduk di dalam mobil ponselnya sudah kembali berdering, namun kali ini entah siapa yang menghubungi karena nomornya tidak terdaftar di kontak.
"Ya, saya sendiri. Apa ... Rumah sakit mana? Baik saya akan segera ke sana." Bimo mematikan sambungan telepon dan meminta sopir menuju rumah sakit.
Tiba di rumah sakit dia langsung menuju bagian informasi. Katanya Andra masih di ruang tindakan karena bagian punggung yang terkena pisau harus di jahit.
"Astaga ujian apa lagi ini?" tanya Bimo dalam hati.
Tak lupa Bimo juga memberi tahu istri juga keluarganya, termasuk Shepa dan Arga.
"Mama mau kemana?" tanya Kia.
"Kak Andra masuk rumah sakit, barusan papa dikasih tahu oleh papi Bimo. Kamu mau ikut?"
Kia sempat bimbang antara ikut dan tidak, rasa kesal karena di bentak malam kemarin masih ada di dalam hati. Apa lagi Andra belum menghubunginya meski sekedar untuk mengucapkan kata maaf.
"M, ya udah ikut aja."
Leela tiba di rumah sakit bersamaan dengan dokter yang baru keluar dari ruangan UGD.
"Gimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Bimo.
"Alhamdulillah tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena tusukan pisau tidak mengenai organ-organ vital."
"Tusukan pisau?" tanya Leela memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Betul, tadi pasien dibawa ke sini dengan keadaan pisau menancap di punggung bawah lebih tepatnya dekat ke pinggang."
"Apa sudah bisa ditemui, Dok?"
"Tunggu beberapa saat nanti suster akan memberi tahu, saya permisi dulu."
Sepasang suami istri itu menggela nafas panjang sambil mengusap wajah.
Tak lama Arga, Shepa, Kia, Tresna dan Wijaya berdatangan. Mereka tentu bertanya-tanya kenapa Andra tiba-tiba masuk rumah sakit. Padahal tadi pagi masih baik-baik saja.
Tak lama suster keluar dan mengijinkan dua orang untuk melihat keadaan Andra. Bimo dan Leela yang masuk sedangkan yang lain menunggu di luar.
__ADS_1
"Kak, kok bisa kayak gini?" tanya Leela. Merasa kasihan saat putranya harus tidur miring.
"Jangan mengkhawatirkan aku, Mam. Sekarang aku sudah besar. Lihat berdarah saja aku masih kuat." Andra mengangkat tangan dan menunjukan otot.
"Jangan bercanda, mami itu khawatir sama kamu," omel Leela
"Tahu kan cuma mami yang perhatian sama aku. Papi mana pernah."
Bimo mendelik mendengar ucapan putranya. Bisa-bisanya Andra bercanda di tengah semua orang disekitarnya merasakan panik.
"Cara menunjukan perhatian seorang ayah itu tidak sama dengan cara seorang mami," balas Bimo.
"Tahu, tapi lebih terasa perhatian dari mami, sih."
Lagi-lagi Bimo mendengus.
"Kamu tuh habis ngapain, kok bisa sampai ada pisau segala nempel di punggung?" tanya Leela lagi.
Andra mengehela nafas, "panjang ceritanya, Mam. Nanti aku ceritakan kalau aku sudah membaik."
Seorang suster menghampiri mereka dan meminta agar pasien diberi waktu untuk istirahat. Bimo dan Leela mengangguk setuju dan meninggalkan putranya.
"Kurang lebih keadaan baik-baik aja, walaupun memang ada banyak luka lebam di wajahnya. Tapi saat dia masih bisa bercanda ya berarti keadaannya tidak terlalu parah," kata Bimo pada semua anggota yang menunggu di luar ruangan.
"Syukurlah," kata Tresno dan Wijaya begitu pun yang lain.
***
Di rumah sakit yang sama dan di ruangan yang sama Hakim juga mendapat perawatan. Mereka hanya tersekat tirai di ruangan UGD. Dua teman yang menemani Andra tadi memilih tidak di rawat keren hanya mengalami luka lebam dan tidak mengalami sayatan benda tajam yang mengharuskan untuk di rawat.
Hakim yang lebih dulu mendapat penanganan mendengarkan obrolan dari bed sebelah. Saat mulai terdengar sepi dia turun dari ranjang dan menyibak tirai dan ternyata ada Andra di sebelahnya.
"Loh kok di sini?" tanya Andra.
"Dikasih cendera mata sama Davin," kata Hakim menunjuk bagian dada yang dibalut perban.
"Sama," kata Andra menunjuk pinggang yang juga terdapat perban dan baru saja di jahit.
"Untung gak mati," kekeh Hakim, "gak sia-sia saat kita SMA memperlajari ilmu bela diri. Ternyata berguna juga." Dibalas anggukan oleh Andra.
Suster menghampiri mereka dan meminta istirahat, tirai di tutup kembali tapi di buka lagi oleh Hakim saat suster sudah menjauh.
Tak lupa Andra juga meminta agar ayahnya sekalian menyiapkan kamar rawat untuk Hakim. Meski sempat bingung tapi Bimo tetap menyiapkan.
Kini Andra sudah dipindahkan ke kamar rawat, jadi keluarga lebih leluasa untuk menjenguknya. Apalagi kamar rawat yang disewa Bimo adalah kamar paling bagus dan mahal. Di mana ruangan itu begitu luas dengan adanya kamar rawat khusus juga ada ruangan tunggu untuk keluarga yang menjenguk.
Semua orang penasaran dengan apa yang terjadi dengan Andra. Mereka mengelilingi ranjang pasien menanti Andra bercerita. Termasuk Kia yang masih merasa dongkol di dalam hati tapi tetap saja merasa khawatir.
Tatapan mereka bertemu namun Kia segera memalingkan wajah. Memberi tanda bahwa dia masih kesal pada sikap Andra kemarin. Sedangkan Andra malah mengulun senyum.
"Tadi itu aku habis masuk kandang singa jadi dapat oleh-oleh," kata Andra.
"Gak lucu sama sekali," balas Tresna yang menatap khawatir pada cucunya.
"Kalau nenek marah-marah nanti keriput di bawah mata makin banyak loh," goda Andra membuat neneknya mendaratkan cubitan di lengan hingga cucunya mengaduh.
"Sakit, Nek." Andra mengusap bekas cubitan tadi. "Jadi gini aku itu habis masuk ke markas orang yang dianggap dalang dari segala kekacauan yang terjadi padaku."
"Maksud kamu?" tanya Wijaya, "Memangnya kamu tahu siapa dalangnya."
Andra mengangguk "Anaknya Pak Rian sendiri."
"Alisya?" tanya Bimo.
"Bukan, tapi Davin anak pertama Pak Rian, kakak triinya Alisya."
"Dari mana kamu yakin kalau dia dalang di balik kejadian yang menimpa kamu?" Kali ini Arga yang penasaran.
"Temanku memasang alat penyadap di mobil Alisya. Aku juga menemukan ini." Anda menunjukan foto tentang rencana Davin yang ia temukan di kamar pria itu. Di mana tertera jelas rencana Davin di sana, termasuk rencananya pada Kia.
"Davin?" gumam Arga, "Apa ini orangnya, Ki?" tanya Arga menunjukan foto Davin dari ponsel Andra.
"Aku gak pernah lihat wajahnya dan tidak tahu namanya, tapi bisa jadi iya," jawab Kia.
Shepa pun ikut melihat foto yang ditunjukan suaminya.
"Dia sepertinya dendam sama papi," ujar Andra membuat semua orang kembali menatap dirinya dan juga Bimo.
__ADS_1
"Aku?" Bimo menunjuk diri sendiri.
"Iya, dan aku rasa ada kaitannya dengan masa lalu papi. Dia dendam pada papi karena menganggap papi adalah orang yang menyebabkan ibunya sakit."
"Ibunya?" Bimo semakin tidak mengerti.
"Iya, mungkin dia perempuan di masa lalu papi."
Sama halnya dengan Bimo, Tresna dan Wijaya juga ikut bingung. Pasalnya, sejauh yang mereka ingat Bimo tidak pernah mengenalkan perempuan lain selain Almarhum, Ariana dan Leela.
"Aku gak punya perempuan lain selain dua perempuan itu dan Leela yang ketiga. Arga, kamu tahu kan siapa saja perempuan yang pernah dekat denganku?"
Arga mengangguk.
***
Davin semakin marah saat dia tiba di rummah dan sisa kekacauan belum dibereskan oleh orang-orangnya. Kembali dia menggunakan kekerasan pada orang-orangnya. Dia tampar satu persatu orang-orang yang ada di sana kecuali Alisya yang baru datang.
"Apa saja pekerjaan kalian? Kamu?" dia menunjuk petugas pengawas kamera CCTV.
"Di layar keadaan terlihat baik-baik saja, Pak. Saya juga kaget saat alarm bahaya dibunyikan karena layar komputer tidak menunjukan apa pun selain ruangan saja."
"Bodoh! sepertinya mereka menggunakan alat pengacau sistem keamanan. Cari alat itu;"
"Kami menemukan ini, Pak."
Benar saja mereka menemukan alat kecil seperti laba-laba menempel pada alat yang menjadi server kemanan.
Davin menggeram, suara gemelutuk gigi pun terdengar.
"Bereskan kekacauan ini dan tingkatkan keamanan. Ingat aku paling tidak suka kegagalan yang kedua kali. Setelah ini antara polisi yang akan datang atau mereka yang kembali."
"Terus rencana kita?" tanya Alisya sambil memainkan jari tangan di dada Davin untuk menggoda.
"Terus jalankan, tapi jangan kali ini." Davin menepis angan Alisya dan meninggalkan perempuan itu.
***
Kia dan Andra diberi ruang untuk saling bicara. Anggota keluarga memilih berbincang di ruang tunggu. Sekaligus membahas siapa perempuan yang dimaksud Andra.
Sepuluh menit berlalu baik Kia atau pun Andra belum ada yang bicara. Sampai akhirnya Andra berdehem dan memulai percakapan. Kalau menunggu Kia yang bicara entah kapan ego perempuan itu akan turun.
"Gak rindu sama aku?" tanya Andra.
"Enggak." Kia masih pada mode perempuan, ya kalau marah selain bicara panjang lebar mereka juga bisa menjadi mahluk yang paling irit kosa kata alias jutek.
"Masa sih? Lama loh kita gak bertemu, celengan rinduku bahkan sudah penuh. Hampir saja aku ganti dengan celengan yang lain."
Kia mendelik.
"Udah gak usah marah-marah kayak gitu. Nanti aku jadi milik orang lain beneran. Mau jadi pengantar pengantin perempuan yang jadi istriku? Kamu tuh gak berubah ya kalai lagi marah. Makin cantik tahu gak."
"Apa sih, Kak Andra?"
"Udah deh, Ki turunin gengsinya. Aku kangen loh sama kamu."
Kia berbalik dengan mata berkas-kaca. "Aku juga."
"Peluk dong kalau kangen!"
Kia bangkit dan hendak memeluk Andra tapi Shafia muncul secara tiba-tiba, "ets mau ngapain kalian?"
Kia kembali duduk sedangkan Andra menahan senyum. Dia tahu betul pasti Kia malu sampai tidak berani berbalik badan untuk menyapa Shafia.
"Mau berpelukan ya?" Sudah tahu malu, Shafia malah bertanya seperti itu. Rasanya Kia ingin kembali menghilang saja agar tidak merasa malu lagi.
"Anak kecil sudah paham berpelukan," ujar Andra.
"Ya tahu lah, kecil gini juga sekarang sudah kelas satu SMA," jawab Shafia lalu menoleh pada Kia, "Kia sehat?"
Kia mengangguk dengan rasa malu yang sangat luar biasa.
"Ya udah deh aku tinggal lagi. Jangan peluk-pelukan ya nanti aku laporkan pada mami baru tahu rasa kalian," kata Shafia sebelum kembali meninggalkan mereka.
Suasan kembali canggung gara-gara didistrack Shafia. Padahal tadi sudah mencair.
"Jadi soal pernikahan Kak Andra sama perempuan itu gimana?" Akhirnya Kia mengeluarkan pertanyaan yang sejak semalam terus menganggu pikirannya. Jujur saja dia takut kalau pernikahan itu benar-benar terjadi. Tidak kuat rasanya membayangkan orang yang kita cintai bersanding dengan orang lain.
__ADS_1
Baru saja Andra akan menjawab, orang tuanya sudah muncul bersama Rian, Revina dan Alisya.
"Gimana keadaannya calon mantu?" tanya Rian.