
Tidak ada siapa pun di depan pintu kamar Anda dan Kia, lalu siap yang mengetuk pintu kamar beberapa saat yang lalu. Dari kejauhan Andra melihat Kean berjalan di koridor kamar yang satu arah dengan kamarnya. Tapi apa iya adiknya sesusil itu
"siapa?" tanya Kia dari tempat tidur.
"Tidak ada siapa-siapa. Mungkin Kean yang usil sama kita, tahu sendiri kan kelakuannya." Andra kembali menghampiri sang istri dan kembali memujanya. Kembali menuntaskan kegiatan yang masih awam untuk mereka. Aneh tapi membuat penasaran dan ketagihan.
Sesekali terdengar Kia merengek dengan manja, menolak tapi tetap aja tubuhnya menerima.
"Kak Andra," pekik Kia saat tangan Andra menyentuh titik yang membuat dirinya merasa geli. "Geli," rengek Kia.
Sampai akhirnya mereka tiba di hidangan utama dalam malam zafaf. Menyatu dan melebur bersama malam yang kian larut. Gerak mereka terus berganti seperti awan yang tertiup angin. Sama-sama tersenyum ketika mereka tiba di tujuan utama.
"Temani aku dalam perjalanan panjang, Kia. Temani aku hingga akhir hayat," pinta Andra mengusap wajah perempuan yang kini sudah menjadi istri sepenuhnya. "Semoga benih yang aku tebar tumbuh menjadi teman yang akan meramaikan kehidupan kita.
"Amiin," sambung Kia mengeratkan pelukan hingga mereka terlelap dan bertemu pagi.
Kia menyentuh pundak suaminya yang tidur tengkurap. Kemudian dia usap rambutnya hingga si pemilik tubuh menggeliat dan tangannya malah ditangkap dan dibawa ke dalam pelukan oleh Andra.
"Kak bangun! Sebentar lagi subuh."
"Emmhh, bentar lagi," jawab Andra menarik sang istri ke dalam pelukan.
***
Tatapan anggota keluarga membuat sepasang pengantin baru itu tersipu malu. Merasa seperti ditelanjangi padahal pakaian mereka tidak ada yang lepas satu pun. Jari tangan saling bertaut melangkah seiring ke arah keluarga besar yang menunggu sejak tadi.
Leela berdiri menyambut anak dan menantunya. Menuntunnya untuk duduk di kursi bagian mereka.
"Selamat pagi, Sayang. Tidurnya nyenyak?"
Kia mengangguk malu-malu sedangkan Andra malah berbincang dengan ayah dan kakeknya. Membahas rencana anda pada perusahaan dan rumah tangganya. Sesekali Bimo menyelipkan nasihat pada putra sulungnya.
"Satu minggu, satu bulan mungkin kalian masih merasakan manisnya pernikahan tapi setelah enam bulan, satu tahun tentu kalian akan mulai menunjukan kekurangan masing-masing. Ingatlah perjuangan kalian saat mulai merasa bosan. Pernikahan memang tidak selamanya indah namun di situlah ujian dan seninya."
Begitu juga Arga yang menitipkan putrinya.
"Kia kok diam terus, Nak?" tanya mama Amel alias ibunya Arga.
"Capek kali di gempur Andra," celetuk Andi membuat Kia menunduk malu.
"Andi, kamu itu. Kayak yang tahu aja," tegur ayahnya.
__ADS_1
"Tahulah kan sudah pernah. Ya sayangnya nasibnya aja yang kurang beruntung," balas Andi dengan tawa membuat yang lain juga ikut tertawa.
"Semoga setelah ini Andi juga nyusul. Masa kalah sama keponakan," timpal Tresna kembali menghadirkan tawa. Menjadikan suasana pagi itu tampak begitu hangat.
Sepasang pengantin itu berpisah dengan anggota keluarga di tempat parkir. Yang lain pulang ke rumah masing-masing sedangkan Andra membawa sang istri ke sebuah tempat. Sengaja mengemudikan mobil sendiri agar suasana romantisnya begitu terasa.
Sepanjang perjalanan tangan itu tidak pernah terlepas. Sesekali dibawa ke arah bibir lalu dikecup oleh Andra hingga mobil berhenti di depan sebuah rumah yang tak kalah mewah dari rumah milik Bimo juga Arga.
"Ini rumah siapa, Kak?" Kia melirik suaminya yang melepaskan sabuk pengaman.
"Rumah kita. Ayo!" Andra turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk istrinya. Menggandeng sang istri menuju rumah tingkat dua itu.
Kia diajak menyusuri setiap ruangan yang setiap ruangan sudah ada isinya. Suaminya benar-benar sudah menyiapkan tempat tinggal mereka dengan matang.
"Suka?" tanya Andra memeluk istrinya yang tengah berisi di depan jendela yang menghadap taman yang tengah dirapihkan oleh pekerja.
Kia berbalik dan mengangguk. Kemudian merangkum wajah suaminya lalu kembali menyatukan nafas walau harus memulai lebih dulu.
"Mulai nakal," bisik Andra sambil menggelitik pinggang sang istri dan membawanya ke peraduan. Kembali mengulang romansa yang tercipta tadi malam.
***
"Ya enggak mungkin pulang lah, Kak. Kan masih momennya honeymood. Lagi ngegas buat cucu buat mami," jawab Shafia membuat Leela menoleh dan Bimo meletkan buku yang tengah ia baca.
"Makan tuh ceramah panjang," bisik Kean yang bangkit dari duduknya kemudian belerlalu menghindari ceramah panjang yang akan berkumandang dari kedua orang tuanya.
"Menurut kamu pantas gak anak gadis berbicara seperti tadi?" tanya Bimo.
Shefia menggelengkan kepala tanpa berani mengeluarkan suara. Hanya tangan yang sibuk menyuapkan keripik kentang ke dalam mulut.
"Seseorang selain dinilai dari penampilan juga di nilai dari tingkah dan cara bicara. Kalau kamu sering melontrakan kalimat seperti itu bisa saja orang menilai kamu sama dengan para tunasusila. Bukan tidak mungkin kamu akan dilecehkan. Ketika sudah dilecehkan maka akan menyalahkan pelaku. Padahal korban sendiri yang memancingnya."
Di lantai dua Kean tertawa tanpa suara. Menertawakan adiknya yang tengah diceramahi oleh ayah mereka. Sesekali dia menjulurkan lidah untuk mengejek.
"Kamu dengar apa yang papi katakan, Shafia?"
"Eh, denger kok, Pap. Iya aku gak akan mengulanginya lagi."
Leela yang tengah mengenalkan nama-nama binatang pada si bungsu hanya menggelengkan keplaa melihat kedua anaknya saling mengejar setiap ada kesempatan.
"Nantuk, Mi." Leo mulai merengek, merangsek ke dalam pelukan ibunya.
__ADS_1
"Leo bobo sama, Mba, ya," ujar Bimo. Enak saja harus tidur bertiga lagi. Malam ini adalah malam menjeput jatah dari sang istri. Sudah beberapa hari dia puasa karena sibuk menyiapkan pernikahan Si Sulung.
Ucapan Bimo tidak didengar karena Leo sudah memejakan mata dalam pelukan ibunya.
"Tidur di kamarnya aja, Sayang," kata Bimo pada sang istri. "Sini, biar kau yang memindahkan."
Baru juga berpindah ke tangan Bimo, Leo sudah menangis dan membuka mata membuat sang ayah mendengus. Memang bau tubuh seorang ibu seperti menjadi aroma terpisah yang mengantarkan sang anak ke dalam lelap.
"Alamat puasa lagi ini," gumam Bimo seraya melangkah ke arah kamar. Tak lupa dia menyuruh Shafia agar segera tidur.
***
Seorang primadona kampus yang menjadi rebutan setiap mahasiswa tengah berdiri menunggu kedatangan Kean. Pria yang selalu berpakaian seperti berandal, memakai celana jeans robek di lutut juga jaket levis berwarna hitam. Padahal dia anak orang kaya tapi malah senang berpenampilan kebalikannya.
"Kean, aku mau bicara sama kamu," ujar Lucia mengejar langkah Kean yang baru memasuki gedung kampus.
Dengan wajah enggan, Kean berbalik badan, "apa?"
"Nanti malam di rumahku ada pesta ulang tahun. Kamu bisa datang kan?"
"Boleh, aku akan datang," balas Kean dengan menjawil dagu Lucia kemudian melanjutkan langkah menuju kelas.
Perempuan itu menjerit kegirangan. Pria yang menjadi incarannya mau datang ke pestanya nanti malam.
"Kean!!!" seseorang berteriak dan mengahampirinya. "Lo tahu siapa perempuan itu?" Pria itu menunjuk Lucia yang tengah bersama teman-temannya.
"Lucia," jawab Kean santai, tak gentar dengan tatapan tajam pria di hadapannya.
"Dia cewe gue."
"Oh."
"Gue tantang lo balapan kalau lo mau sama dia. Lo boleh ambil dia kalau lo menang. Sebaliknya gue mau motor lo kalau lo kalah. Gimana?"
"Gak menarik," ujar Kean kembali mengalah ke dalam kelas.
Namun saat kelas usai dan Kean melihat keadaan motornya yang digambari gambar tak senonoh itu langsung mengepalkan tangan.
Dia menghampiri Jordi dan melemparkan kunci motornya.
"Gue terima tantangan lo."
__ADS_1