
"Emm sebenarnya aku ..." Kenapa Kia menggantungkan kalimatnya? Apa Kia akan mengatakan ada lelaki lain yang menggantikan posisi Andra. Lalu tentang malam itu?
Andra memejamkan mata untuk mendengar pengakuan Kia. Bisa sesuatu yang membuat dirinya bahagia. Bisa juga yang akan membuat dirinya kecewa.
"Aku tanya dulu boleh?" ujar Kia.
"Boleh tapi harus bayar," balas Andra untuk menghilang rasa gugup yang mendera.
"Perasaan Kak Andra sendiri bagaimana? Apa di sana ada perempuan yang berhasil menggaet hati kak Andra?"
Andra menggelengkan kepala cepat. "Hatiku tertinggal di Indonesia. Jadi tidak mungkin perempuan di sini akan berhasil menggaetnya. Ki ..." Andra menatap Kia dengan tatapan teduh. "Aku mencintai kamu. Dari dulu. Aku ingin kita hidup bersama sampai kita menua dan melahirkan keturunan. Katakan apa kamu mau mewujudkan mimpi itu bersamaku?
Pipi Kia langsung merona. Benarkah, ini bukan mimpi kan?
"Kak Andra serius?" Kia menatap tidak percaya pada pengakuan Andra. Bahkan dia sudah berganti posisi jadi duduk. Sebelum-sebelumnya dia sudah mencium gelagat Andra tapu dia tidak ingin menduga. Takut mengalami yang namanya latah hati di usia muda.
"Aku tidak keberatan jika harus pulang untuk membuktikan seberapa seriusnya aku padamu, Ki." Ah Andra payah. Berani mengakui perasaan saat dirinya jauh di sebarang sana.
"Kak ..." Kia tercekat, lidahnya mendadak kelu. Dia yang biasanya pandai berbicara mendadak diam. Otaknya terlampau kosong diganti oleh perasaan haru, bahagia, grogi bercampur jadi satu.
"Kamu mau?"
"Yah aku mau."
Keduanya sama-sama merasakan haru. Akhirnya mereka mengakui perasaan masing. Apa harus berpisah dulu bari berani mengakui.
Pernyataan cinta yang begitu aneh. Mereka mengungkapkan perasaan masing-masing saat jarak ada di antara mereka.
Seandainya sekarang Andra ada di negeri tercinta. Sudah barang tentu dia akan memeluk Kia erat. Mungkin yang paling parah dia akan membawa gadis itu kehadapan orang tuanya agar segera dihalalkan.
Apa yang terjadi hari ini menjadi penyulut api semangat dalam jiwa kedua insan. Andra semakin semangat untuk menyelesaikan pendidikan. Dia harus segera pulang untuk mewujudkan mimpinya.
Begitu juga Kia. Dia lebih sring di rumah untuk belajar ketimbang keluyuran gak jelas bersama teman-temannya.
Sepasang insan yang tengah di mabuk cinta itu seperti tidak bosan untuk saling bicara. Hampir setiap hari mereka menyempatkan saling menghubungi. Ada saja topik pembicaraan yang mereka bahas.
"Kok belum tidur?" tanya Andra saat dia sudah berada di kamar apartmen. Kia menghubunginya padahal pasti di sana malam sudah sangat larut.
"Gak bisa tidur, api rindunya berkobar terus." Kia mulai melancarkan jurus pemikat agar sang pujaan hati tidak kabur.
"Oh ya?"
"Heem pengennya dengar suara kak Andra terus."
Andra tergelak kecil.
"Kalau begitu jangan matikan sambungan sebelum sampingan berakhir sendiri."
Kia sampai hafal rutinitas Andra ketika di apartemen.
__ADS_1
Obrolan mereka berhenti saat sudah sama-sama ngantuk dan panggilan berkahir sendiri.
Selalu seperti itu setiap malam.
Seolah tak cukup mendengarkan kabar dari orangnya langsung, Andra juga sering menanyakan kabar Kia pada ibunya.
"Hai, Kak. Gimana di sana betah?" tanya Leela yang tengah mengajak Leo bermain.
"Hakka," Leo bicaranya belum jelas.
"Hai Leo. Lagi apa Leo?"
"in mi."
Andra tertawa karena tidak mengerti bahasa adiknya. Hanya mami yang paling pinter bahasa Leo.
"Apa katanya, Mi?"
"Main sama mami katanya."
"Ooooh main sama mami. Lupa di sana kan sudah siang," kekeh Andra yang masih meringkuk di atas kasur.
"Bangun, Kak. Masa masih meringkuk aja."
"Disini masih subuh, Mam. Oh ya Kia gimana kabarnya."
Andra masih tertawa melihat ekspresi maminya.
"Dia baik sekarang kan sudah naik kelas tiga. Masih sabar menunggu gak? Papi loh ada rencana mau jodohin dia sama anak kliennya katanya."
"Sabarlah, kasih tahu papi, Mi, kalau papi sampai jodohin Kia sama orang lain. Aku gak akan pernah kasih cucu sama papi."
"Huss bicaranya ngasal aja."
***
Hari-hari Kia pun kian berwarna, dia menjadi lebih rajin, bangun tidur lebih awal, belajarnya pun semakin giat. Kadang-kadang dia sampai ditegur oleh Arga dan Shepa ketika belajar semakin giat tapi mengabaikan makan.
"Papa," Kia menolak pada saat emndnegar pint7 kamar terbuka.
"Masih belajar? Dipanggil mama tuh di bawah."
"Oke." Kia menutup buku dan segera menemui ibunya. "Kta papa mama manggil aku."
Shepa yang tengah menemani Kai belajar mengerutkan kening. "Enggak."
"Iiiiiihhh papa ngerjain aku deh."
Arga tertawa sambil turun dari anak tangga. Menghampiri anak dan istrinya. "Sengaja, soalnya kamu jarang keluar, jarang bergabung juga sama kita. Takutnya terjadi sesuatu sama kamu."
__ADS_1
"Papa ini gimana anaknya giat belajar malah diganggu," kata Shepa.
Hari minggu, Kia masih menunggu telepon dari Andra. Dia sudah berdandan rapi hendak pergi suatu tempat.
Hari minggu pun Andra memang sibuk. Dia harus membersihkan tempat tinggalnya karena tidak ada oerkerja seperti di rumahnya. Saat rumah sudah rapi baru dia duduk di sofa sambil menekan nomor Kia.
Kia berjingkat saat mendengar nada dering ponselnya.
"Waw cantik sekali. Mau kemana, Bu?" tanya Andra saat panggilan sudah terhubung.
Kia menghampiri kaca. Benarkah dirinya cantik di mata Andra. Rasanya ingin terbang ketika orang yang selama ini dikagumi secara diam-diam kini memuji dengan status sudah menjadi pacar.
"Mau ketemu papa. Sudah lama aku gak mengunjunginya. Kalau ada Kak Andra kan bisa dua minggu sekali."
"Nanti kita akan ke sana bareng sambil minta restu. Kata mami kamu sudah kenaikan kelas ya. Bagus gak nilainya?"
"Baguslah, kalau gak bagus mana mungkin naik kelas. Rewardnya jangan lupa ya pak." Kia turun ke lantai bawah dan pamit mau ke makam sang ayah.
"Hati-hati, Kia." Terdengar suara Shepa oleh Andra.
"Oke rewardnya mau apa. Cincin tunangan atau cincin nikah? Mas kawin atau tiket honeymoon?" tanya Andra yang sama sibuknya, dia juga tengah membuka kotak makanan yang dia pesan. Begitulah namanya hidup merantau, soal makan kadang masak kadang beli.
"Masih jauh, Pak, sabar."
"Eh ini Pak Andra loh bukan pak Sabar."
Andra menemani perjalan Kia hingga perempuannya tiba di tempat yang dituju. Tak lama terdengar bel rumah berbunyi.
"Ki sudah dulu ya ada tamu nih yang ke rumah," kata Andra sambil melambaikan tangan sebelum memutus panggilan. Dia bergegas menuju pintu yang belnya terus berbunyi.
Ternyata beberpa temannya yang datang berkunjung. Sama-sama orang indonesia yang sedang melanjutkan kuliah di tempat yang sama.
"Hai, aku pikir kalian gak jadi datang." Andra mengayunkan tangan, mempersilahkan teman-temannya masuk.
"Jadi dong."
"Wei si bucin pantes lama bukain pintu," seru salah satu teman Andra yang melihat log panggilan di layar Andra yang tergeletak di atas meja.
"Biasalah LDR," kekeh Andra.
***
Malam-malam Bimo mendapat panggilan dari Arga. Dengan mata terpejam dia mengangkat panggilan. Namun sontak Bimo membuka mata. Rasa ngantuk yang semula membuat matanya terasa direkat oleh lem, kini terbuka sempurna. Rasa ngantuk menguap entah kemana, berganti dengan rasa khawatir.
"Ada apa, Mas?" tanya Leela yang ikut terbangun.
"Barusan arga telepon, katanya Kia hilang."
"Hilang?"
__ADS_1