
Tangis Shepa semakin menjadi ketika Arga memberi kalau mereka menemukan sepatu milik Kia. Tubuhnya semakin tidak berdaya. Beruntung ada Leela yang selalu menemani dan menguatkan.
Orang tua Shepa dan Orang tua Arga syok mendengar kabar yang disampaikan Leela. Pun dengan Tersna dan Wijaya.
Bergantian mereka datang untuk memberikan dukungan pada Shepa dan Arga. Selain dukungan moril, para lelaki yang masih kuat ikut terjun untuk mencari Kia.
"Sudah lapor polisi?" tanya Andi-adiknya Arga.
"Belum, kan laporan akan ditanggapi kalau orang hilang sudah 2x24 jam. Apalagi yang hilang adalah orang dewasa," jawab Leela.
"Sekarang sudah 2x24 jam. Biar aku yang lapor, kasih tahu aku ciri-ciri Kia saat terakhir hilang."
Leela menceritakan apa yang dia dengar saat pertama kali datang ke rumah adiknya. Termasuk tentang sepatu yang ditemukan di tepi sungai.
"Sebenarnya orang-orang yang dibayar Bimo itu orang yang kompeten bukan sih. Kok sampai dua hari masih gak ketemu juga," ujar Wijaya yang masih berada di rumah Shepa. "Dani, hubungi detektif andalanku sekarang," perintahnya lada sang asisten.
Pria yang sudah 20 tahun lebih menjadi mertua Leela itu merasa jengkel dengan pergerakan orang-orang Bimo yang dianggap lambat.
Bimo dan yang lain masih mencari Kia dan sekarang mereka menyisir daerah sekitar sungai. Teman-teman Andra pun ikut melakukan pencarian. Tentu saja Andra harus merogoh kantong untuk membayar mereka. Baginya tidak ada tenaga yang harus terbuang secara cuma-cuma.
Andra sendiri tidak bisa melakukan banyak hal. Antara cinta dan pendidikan keduanya sama-sama penting. Apalagi pendidikan sudah menuju final. Tidak mungkin ditinggal begitu saja. Dia hanya bisa melakukan doa jarak jauh. Dalam setiap langkah tak henti memohonkan keselamatan untuk sang kekasih.
"Giman, San?" tanya Andra saat menyempatkan untuk menghubungi Sandi.
"Benar, Ndra, Kia memang hilang. Aku juga lihat papi kamu dan orang-orang bayarannya tengah mencari Kia. Aku dengar juga polisi sudah terjun ke lapangan."
"Terus apa yang kalian temukan?"
"Sebelah sepatu Kia ditemukan 200m dari arah sungai. Ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi, Bro. Tapi kita tetap berpikir positif dan akan tetap mencari."
"San, coba susuri tempat-teman yang pernah gue datangi sama dia." Andra meyebutkan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi.
"Oke gue akan bagi kelompok untuk menyusuri tempat-tempat itu."
Dia menutup panggilan dan menatap galeri yang penuh foto-foto Kia. Menggulir kenangan hingga tak terasa matanya terpejam.
__ADS_1
Dalam mata yang terlelap dia melihat Kia berlari dan dikejar beberapa pria berbadan besar. Di terus berlari hingga kakinya terpleset dan jatuh ke sebuah jurang.
Andra berlari dengan maksud untuk menolong. Sayangnya tangan yang dia punya tidak mampu menjangkau tangan Kia.
"Kiaaaaaaa," teriak Andra. Dia memukul-mukul tangan, menyesal karena terlambat menolong Kia. Dia menangis.
"Kak Andra!" suara itu mengangetkan Andra. Dia berbalik dan melihat Kia berdiri di sana dan tersenyum ke arahnya. "Jangan menangis, karena kita akan bertemu lagi nanti."
Andra menyeka sudut matanya. Benarkah yang kini tengah berbicara dengan dirinya adalah Kia. Perempuan yang tadi jatuh ke jurang tapi kenapa sekarang malah berdiri dihadapannya. Tubuhnya bersih tidak ada luka, darah atau kotoran. Wajahnya pun tampak bersinar.
"Tenang, kita akan bertemu lagi, Kak. Tunggu aku."
Tak lama sebuah cahaya datang dari arah arah belakang Kia. Andra melihat perempuannya tersenyum dan melambaikan tangan.
Saat dia kembali ingin menggapai, tubuh Kia sudah tidak ada.
"Kia," Andra mengerjap dan membuka mata. Ternyata yang terjadi barusan hanya sebuah mimpi dari rasa cemas dan harapan. Ya dia berharap Kia akan baik-baik saja.
Ponsel yang tak jauh dari dirinya berdering. Dengan wajah yang lesu Andra mengangkat panggilan tersebut. Dia lihat lagi nomor yang tertera di layar ponselnya kala tak percaya dengan kabar yang dia dengar.
Polisi yang menangani kasus hilangnya Kia pun sudah terjun untuk melakukan pencairan. Ada yang melakukan simulasi sesuai kabar Kia yang mengunjungi stasiun dan ada juga ikut menyisir daerah sekitar sungai.
"Kalau gak salah saya memang mendengar derap kaki yang berlari malam itu," ujar salah seorang warga sekitar sungai yang ditanyai oleh polisi.
"Bapak tidak memeriksanya?" tanya polisi.
"Enggak soalnya waktu itu anak saya rewel, coba tanya Pak Subra tetangga saya, dia juga katanya mendengar."
Orang yang dimaksud kebetulan tak jauh dari mereka.
"Bra, beberapa malam kemarin kamu juga mendengar derap kaki orang berlari kan?" tanya tetanganya.
"Iya, Pak. Saya juga melihat ada beberapa pria yang bertubuh kekar."
"Anda melihat ada seorang perempuan berlari?"
__ADS_1
"Enggak, pak soalnya pas saya mengintip hanya melihat pria-pria itu aja."
Petugas polisi mencatat keterangan warga dan tetap mencari informasi dari yang lain.
Komandan polisi yang mendapat laporan dari anak buahnya mendatangi rumah Arga dan menyampaikan berita tersebut.
"Sejauh ini baru kabar tersebut yang dapat kami infokan, Pak," ujar komandan yang menangani kasus. "Apa ada beberapa orang yang anda curigai, Pak Arga?"
Arga melirik sang istri yang matanya semakin menyipit karena bengkak dan terlalu lama menangis.
"Dua hari sebelum anak saya hilang, neneknya datang ke sini dan meminta anak saya agar ikut dia. Lebihnya saya tidak bisa menuduh siapa pun."
"Bisa jadi juga lawan bisnis yang kalah tender," ujar ayahnya Arga. Sudah beberapa hari keluarga mereka berkumpul di rumah Arga. Walaupun Kia bukan cucu kandung mereka tapi mereka tidak mempermaslahkan hal itu dan tetap memberikan kasih sayang yang layak.
"Pak, kalau korban belum juga ditemukan padahal sudah hampir satu minggu itu biasanya kenapa ya?" tanya Kean penasaran.
"Ada dua kemungkinan. Korban bersembunyi untuk menyelamatkan diri atau kabar buruknya ... korban sudah dihabisi."
Shafia menutup mulut mendengar penjelasan petugas polisi. Sedangkan Shepa kembali menangis, air mata seolah tak pernah habis.
"Kia pasti selamat kan, Pa?" tanya Kia dalam dekapan sang suami.
"Insyaallah, kita akan doakan dia. Usahakan yang terbaik untuk anak kami, Pak." Arga memohon. Sungguh hatinya pun tak sekuat raga yang dimiliki.
"Akan kami usahakan, Pak. Kami permisi."
Setelah polisi itu pamit. Semua keluarga mengehla nafas masing-masing.
"Kia itu anak kuat, Shepa. Semoga dia baik-baik saja," ujar mertuanya.
Shepe mangangguk setuju. Dia kembali ke dalam kamar ditemani sang suami. Mereka menyerahkan pencarian pada polisi dan orang-orang yang mereka sewa.
Mereka juga menerjunkan tim SAR untuk menyusuri aliran sungai. Jaga-jaga jika ternyata Kia menceburkan diri ke sana.
Teriakan seorang anak dari hilir menarik perhatian mereka yang sedang mencari Kia.Termasuk teman-teman Andra.
__ADS_1
"Ada mayat, ada mayat. Tolong ... ada mayat. Ada mayat ...."