Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Aku di sekitarmu


__ADS_3

"Pak Andra!" Andra menghentikan langkah ketika namanya dipanggil. Seorang perempuan yang dia lihat di ruang pertemuan tengah melangkah ke arahnya.


"Selamat bergabung diperusahaan," ujar perempuan itu saat langkah kakinya sudah berada di dekat Andra. Menebarkan senyum manis yang ia punya.


"Terima kasih," balas Andra lalu kembali melanjutkan langkah. Dia tahu akan ada banyak orang-orang seperti barusan. Mencoba mencari perhatian darinya tapi ingat Andra tidak pernah mengizinkan orang lain untuk masuk ke kehidupannya.


"Sombong." Alisya-asisten direktur keuangan. Perempuan cantik yang pernah bertabrakan dengan Kia dan Andra disebuah pusat perbelanjaan.


Andra sendiri tidak menghiraukan umpatan yang dia dengar. Tidak penting membuang-buang waktu hanya untuk meladeni cacian dari mereka. Biasnya orang-orang yang seperti itu hanya ingin mencari perhatian saja.


Saat mobil keluar dari area parkir dan melaju di jalanan, Andra melihat perempuan yang tadi memaki seragam Ob di kantornya. Perempuan itu tengah membeli jajan di pinggir jalan. Lagi-lagi persis Kia.


Untuk menjawab rasa penasarannya dia mengikuti perempuan itu sampai mobil berhenti di depan sebagai gang yang hanya masuk motor atau untuk jalan kaki.


Dia turun dari mobil dan mengikuti gadis itu dari jarak aman. Hingga dia melihat perempuan itu berhenti di depan sebuah rumah yang memiliki banyak pintu dan memilki warna cat yang sama. Rumah kontrakan.


"Mama," panggilan itu memudarkan harapan Andra. Seorang anak kecil tengah membukakan pintu dan menyambut perempuan tadi. Tidak mungkin itu Kia.


Dia kembali ke dalam mobil dan memejamkan mata. Bertanya kenapa harapan seolah mempermainkan dirinya. Apa karena dia terlalu berharap.


***


"Aman, Kak?" tanya Leela saat mereka sudah berkumpul di meja makan.


"Aman, Mam."


"Ketemu cewek cantik gak, Kak?' tanya Shafia penasaran. Seperti biasa dia akan menggoda. Berbeda dengan Kean yang memilih menyenggol kaki adiknya di kolong meja. "Apa sih kak? Siapa tahu kak Andra bisa move on dari Kak Kia kalau bertemu orang baru." Shafia menoleh pada Kean.


"Shafia." Leela meminta anaknya berhenti bicara.


Andra memang terlihat tenang, tapi siapa yang tahu isi hati dan pikirannya. Bisa jadi pikirannya jauh lebih berisik namun berusaha ditutupi oleh sikap tenang.


"Lanjutkan makan dan papi harap tidak ada yang bicara saat makan. Itu jauh lebih sopan," ujar Bimo.


"Aku sudah selesai, izin ke kamar duluan ya Pap, Mam." Andra meninggalkan meja makan setelah menghabiskan makanannya.

__ADS_1


"Fia ...."


"Iya, papi iya maaf." Gadis itu kembali melanjutkan makan setelah ditegur oleh ayahnya hanya dengan menyebut nama saja.


Di dalam kamar, Andra memilih mengkases data karyawan. Namun dering ditelepon mengharuskan dia mengangkatnya.


"Ya, Kim?"


"Jadi datang gak, Ndra?"


"Astagfirullah, aku lupa. Ya sudah tunggu aku dalam lima belas menit."


Dia bergegas mengenakan jaket serta sepatu kemudian segera menuju mobil. Ibunya yang melihat Andra tergesa ikut menghampiri untuk bertanya.


"Ada apa, Kak?"


"Gak ada, Mam, aku hanya lupa ada janji sama anak-anak. Aku pergi dulu ya."


Di sebuah kafe, Hakim dan kawan-kawan sudah menunggu kedatangan Andra. Ya ini cara mereka untuk menghibur. Siapa tahu dengan keramaian Andra akan bangkit dari rasa sepi yang tak kunjung usai.


"Hai, sorry telat. Biasa ...." Andra menggaruk pelipis yang tidak gatal.


Teman-teman Hakim memperkenalakan perempuan yang mirip-mirip dengan Kia tapi Andra menolaknya dengan sungkan.


"Maaf ya, mereka hanya sedang mengerjaiku," ujar Andra pada para perempuan yang dikenalkan oleh teman-temannya.


Ada yang menanggapi dengan candaan ada juga yang langsung mencibir Andra tapi itu bukan hal aneh bagi dirinya.


"Mau sampai kapan, Ndra?" tanya Hakim.


Andra menggelengkan kepala, "Aku gak punya jawabannya, Kim."


"Tapi gak bisa selamanya seperti ini juga kali, Ndra. Lo seolah tengah menghukum diri lo dengan menutup diri dari para perempuan."


"Gak menghukum juga, Kim. Ya aku hanya berpikir mungkin sampai Kia kembali atau mungkin suatu hari Tuhan akan mengahdirkan orang baru dan menghapus perasaan gue ke Kia. Tidak ada yang pernah tahu." Andra mengedikkan bahu.

__ADS_1


"Bertemu dengan orang baru tanpa lo membuka diri juga rasanya, ck aneh."


"Tuhan selalu punya caranya. Saat ini gue hanya tidak ingin membuang-buang waktu dengan berkenalan dengan orang baru. Thats it."


"Tapi lo tetap kan masih mengharap Kia kembali?"


"Itu hal wajar bukan?" Andra menoleh pada Hakim. Untuk menghargai teman-temannya dia tetap memesan minuman.


"Wajar sih tapi dia bukan perempuan yang kepergiannya perlu lo ratapi, Ndra. Kalau dia mungkin istri lo itu wajar tapi Kia? Dia dan lo belum terikat hubungan yang sah. Lo pernah mikir gak kenapa Kia belum ada kejelasan sampai sekarang? Kenapa dia tidak menghubungi lo atau sejenisnya?"


Andra mengangguk tapi tidak menyela.


"Bisa jadi ini cara Tuhan menguji keimanan, Lo. Di uji dengan kesabaran salah satunya atau bisa jadi Tuhan ingin melihat sejauh mana cinta lo antara pencipta-Nya atau pada mahkluk cipataanya. Karena yang gue lihat lo terlalu berharap."


"Gue hanya berusaha."


"Berusaha sama memaksa itu beda, Bro. Lo berharap dia kembali tapi lo ragu 'kan?"


"Terus gue harus gimana?"


"Ikhlaskan. Memang kata itu paling mudah untuk diucapkan ketimbang dipraktekan tapi lo harus melakukan itu. Andai memang jodoh seberapa lama pun kalian terpisah pasti akan bersama tapi sebaliknya sedekat apa pun kalian kalau memang bukan jodoh, Tuhan selalu punya jalan untuk memisahkan." Hakim menepuk pundak Andra. "Gue ngomong kayak gini karena gue sedang baik-baik saja. Bisa jadi suatu hari lo yang ngomong kayak gini ke gue. Bangkit, Bro. Tunjukan!"


Kalimat itu membekas diingatan Andra. Tidak salah namun dia memang belum siap.


Pulang dari kafe Andra melanjutkan niat yang tertunda. Mengakses data karyawan untuk memastikan kalau Ob bernama K.A.W adalah Kiara Adinda Wiji. Sayang, semua harapannya kembali pupus. Perempuan itu bukanlah Kiara melainkan Khalisa Aniara W.


Sepertinya memang dia harus mengikhlaskan keadaan. Hingga kantuk membawanya terlelap menikmati malam yang sunyi dan merangkak menuju pagi.


Seperti biasa keadaan pagi hari di rumahnya tidak pernah tenang. Ada saja kelakuan anggota keluarga yang membuat kehebohan. Dimulai dari Kean yang menanyakan kunci motor, Shafia yang menanyankan kaos kaki dan Leo yang menumpahkan air minum ke kemeja ayahnya.


Dulu itu adalah kelakuan dirinya. Sekarang dia sudah berubah menjadi pria yang tenang dan hanya menyaksikan kehebohan itu dengan tersenyum.


"Andra gak ikut ngerepotin, Mami?" tanya Leela yang baru kembali dari kamar setelah menyiapkan kemeja ganti untuk suaminya.


"Enggak ah, kasihan sama Mami takut encoknya kumat," kekeh Andra.

__ADS_1


Usai sarapan Andra lekas berangkat, saat tiba di depan pintu ruang kerja dia berpapasan dengan Ob yang kemarin. Namun bukan itu yang membuat jantung Andra hampir meledak, melainkan sebuah notes yang menempel di foto dirinya bersama Kia.


(Semangat kerjanya, Kak Andra. Aku ada di sekitarmu.)


__ADS_2