Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Hasil autopsi


__ADS_3

Di kediaman orang tua Wiji setelah beberapa jam Kia dianyatakan hilang.


Seorang pria berusia kisaran 36 tahun menendang beberapa pria berada besar di hadapannya.


"Bodoh, aku bilang jangan sampai dia lepas. Melawan gadis baru akan lulus SMA saja kalian tidak bisa. Percuma kalian punya badan gede isinya tai semua. Katakan bagiaman cara dia lepas, atau memang kalian yang melepaskan?" Pria yang disinyalir akan dijodohkan dengan Kia itu berkacak pinggang.


"Saat perjalanan menuju ke sini, dia meminta turun di dekat pom bensin karena ingin buang air. Terpaksa kami melepaskan ikatan karena tidak mungkin dia ke kamar mandi dengan tangan terikat. Kami membiarkan dia turun dan diikuti oleh Garang dari jarak cukup aman." Salah satu dari pria berbadan kekar itu memaparkan.


"Entah bagimana cara dia memelewati kami, setelah lima belas menit dia gak keluar, kami cek ternyata di dalam toilet itu gak ada dia. Kami melihat dia memasuki pemukiman padat penduduk. Kami kejar dia sampai melintasi jembatan tapi kami kehilangan jejaknya." Mereka menunduk kembali apalagi ketika pria yang membayar mereka kembali berteriak.


"Cari dia dan bawa ke hadapanku. Aku mau dia sekarang juga."


Neneknya Kia menghampiri mereka. Menatap ke empat pria yang duduk dengan luka lebam terlihat di wajahnya.


"Ada apa ini Tuan Davin?"


"Cucumu berhasil melepaskan diri dari mereka." Davin menunjuk ke empat pria yang dianggap tidak berguna. "Aku yakin dia akan pulang ke rumahnya, besok kau jemput dia dan bawa ke hadapanku. Nikahan aku dengan cucu yang kamu anggap baik itu," tekan Davin dengan tatapan yang tajam.


"Aku tidak suka kegagalan, ingat itu!" Sekali lagi dia berucao sebelum meninggalkan kediaman neneknya Kia.


***


Telepon milik Andi dan Bimo berdering hampir bersamaan. Satu dari petugas kepolisian dan satu lagi dari orang bayaran Bimo.


"Ya?" tanya Bimo setelah beda pipih itu menempel di dekat teilinga.


"Kami menemukan sesosok mayat, Pak. Berjarak tiga kilo dari tempat kami menemukan sebelah sepatu."


Melihat wajah tegang Andi dan Bimo usai mendapat panggilan membuat anggota keluarga semakin resah.


Semoga bukan kabar buruk yang kami dapat, ujar Arga dalam hati.


"Mereka menemukan mayat di sungai kemarin," ujar Bimo menatap pada Andi yang mengangguk membenatkan ucapan Bimo.


Sontak raungan tangisan langsung terdengar dari bibir beberapa perempuan. Orang tua Leela dan Shepa, Shepa, mertuanya dan Tresna yang emnutup mulut.


"Astagfirullah, gak mungkin. Ini gak mungkin," ujar ayahnya Arga.


"Tapi itu belum tentu mayat Kia kan?" Leela berusaha meredam tangis orang-orang di sekitarnya. "Bisa jadi itu mayat orang lain. Kia kita pasti akan selamat dan kembali dengan jiwa yang utuh."


"Ya aku setuju dengan apa yang dikatakan istriku. Aku akan ke sana untuk memastikan."

__ADS_1


"Aku ikut, Pi," ujar Kean dan disetujui Bimo.


Bimo, Andi, Kean dan Leela langsung menuju lokasi ditemukannya mayat. Meski berusaha tetap tenang tapi tetap saja rasa cemas dan kawatir itu menggelayuti pikiran mereka.


"Mas, sudah menghubungi Andra?" tanya Leela di tengah perjalanan mereka.


"Belum. Aku masih bingung harus merangkai kata seperti apa untuk disampaikan. Kita sama-sama tahu kalau dia mencintai Kia, kabar ini pasti pukulan paling berat untuk dia saat ini. Aku juga belum tau bisa menenangkannya.


Leela mengangguk, "tapi apa tidak lebih baik kalau kamu menghubungi dia. Setidaknya itu kan sedikit membuat dia tenang karena ada yang bisa dia hubungi."


Bimo merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel yang dia simpan di sana. Selanjutnya dia menghubungi nomor Andra tapi sudah tidak aktif. Dia coba sekali lagi dan hasilnya sama.


"Tidak aktif." Bimo menyimpan kembali benda itu ke dalam saku.


"Jangan-jangan ...."


Arga tidak ikut karena istrinya jatuh pingsan. Selain itu masih bayak tamu dan kerabat yang datang untuk mengucapkan belasungkawa. Padahal itu belum tentu mayat Kia.


***


Sungai yang memiliki lebar 6 mater antara kedua tepi itu menyulitkan petugas untuk melakukan evakuasi. Sandi yang baru saja menghubungi Andra meminta izin untuk bergabung. Dia diberikan pelampung untuk berjaga-jaga.


Pohon besar yang tumbang dan jatuh ke sungai membuat mayat itu tersangkut di sana. Banyaknya ranting yang belum dibersihkan menjadi penghambat mereka tim evakuasi.


Tubuh yang membiru dan luka parah di wajah membuat mayat itu tidak bisa dikenali. Namun sebuah tas yang tersangkut di pohon yang sama bisa jadi petunjuk. Sandi ingin memeriksa tas tersebut tapi petugas kepolisan memintanya lebih dulu.


Mobil Bilo tiba di sana.


"Di mana mayatnya?" tanya Bimo pada salah satu petugas saat dia sudah turun dari mobil.


"jenazah sudah di bawa ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan autopsi karena luka di wajahnya menyulitkan kita untuk mengenali."


"Apa pakaiannya sama dengan pakian yang dipakai keponakan kami?" tanya Andi.


"Mayat tersebut tidak mengenakan sehelai benang pun. Melihat adanya beberapa luka di tubuh dan juga bagian vital bisa disimpulkan kalau dia adalah korban kejahatan. Untuk lebih jelasnya kita akan menunggu hasil autopsi dari rumah sakit."


Membayangkan jika itu dalah keponakannya membuat air mata Leela jatuh. Bayangan wajah Andra yang tengah marah muncul di pikirannya.


"Gimana ini, Mas?" Leela mendekap tubuh sang suami untuk menemukan kekuatan dirinya. Bimo sendiri tidak tapi harus mengatakan apa. Dia sendiri tengah kalut sama seperti sang istri.Lagi-lagi mereka harus bersabar untuk mendapat kepastian.


Leela menatap sungai yang airnya terlihat keruh akibat hujan di hulu sungai. Tangannya terus bergerak menghapus bulir bening yang merembes di pipi.

__ADS_1


***


Arga menatap tubuh lemah sang istri yang belum sadarkan diri. Terlihat petugas kesehatan masih melakukan perawatan untuk istrinya. Saat ada pergerakan dari tubuh She barulah dia menyingkir.


"Mas," ucap Kia pelan saat membuka mata. Genangan di pelupuk mata tak juga mengering. "Kia?"


Arga duduk dan mengusap lembut wajah sang istri. Menyatukan kening mereka dan saling menangkup wajah. Berusaha saling menguatkan satu sama lain.


"Kita masih belum mengetahuinya, kita masih harus menunggu hasil autopsi, Sayang. Berdoa ya semoga itu bukan Kia."


Pertugas medis keluar dari kamar mereka. Membiarkan sepasang suami istri itu saling menguatkan.


"Ibu Shepa baru saja sadarkan diri," ujar petugas pada keluarga yang menanti dengan harap-harap cemas. "Biarkan beliau istirahat sebentar, tubuhnya masih terlalu lemas. Saya permisi dulu, jangan sungkan untuk menghubungi ketika membutuhkan pertolongan kami."


Ayahnya Arga mengangguk dan mengantar petugas kesehatan itu sampai ke mobil. Kemudian dia kembali masuk ke dalam rumah. Bergabung untuk menunggu kabar dari Bimo.


Sedangkan Bimo dan Leela yang baru tiba di rumah sakit juga harus menunggu hasil autopsi. Duduk berdampingan dengan tangan saling menggenggam.


"Andi, kita akan butuh data Kia untuk dicocokan dengan hasil autopsi," ujar Bimo.


"Biar aku yang ambil, Pi," kata Kean.


"Biar Om saja Kean, sekalian Om juga harus memberikan informasi pada mereka.


Sebelum Kean dan Andi pergi, petugas kepolisian sudah datang.


"Selamat sore, Pak Bimo. Kami menemukan ini disekitar tubuh korban." Menyodrokan tas Yang sudah dikeringkan


Bimo memeriksa isi tas tersebut di mana berisi beberapa buku dan juga dompet. Di dalam dompet ada kartu pelajar, foto, beberapa lembar uang dan juga kartu ATM.


Dalam kartu pelajar tertulis Nama Kiara Adinda Wiji.


.


.


.


.


.

__ADS_1


NB ya soalnya kalau di pesan author jumkatnya terbatas. Author meminta mamah karena kemarin tidak up karena sakit.


Sedikit info untuk teman-teman semua. Sekarang sistem di MT yangg berubah-ubah membuat penulis jadj tidak semangat. Salah satunya poin pertumbuhan yang kadang naik kadang turun sesuka hati. Bayangkan ketika poin sudah tinggi dan berharap ganti lencana malah hilang setengah bahkan ada yang sampai turun lencana. Iti sangat membuat kami down. Jadi yang kami harapkan sekarang adalah dukungan dari kalian. Setidaknya jejak baca dari kalian sedikit mengobati rasa down kami. Seperti like, komen dan bantuan Share. Apalagi kalau dibantu dengan voting untuk bisa masuk ranking. Satu lagi jangan skip iklannya ya untuk membantu tambahan pendapatan bagi para penulis. Terima kasih dan salam sayang dari Author yang lagi melow 🍎🎈


__ADS_2