
Berhari-hari Andra menahan jarinya untuk tidak mengirim pesan pada Kia. Ini sungguh menyiksa. Dia harus membohongi diri padahal sesungguhnya rindu berat. Astaga ini cara ke dua yang disaranakan oleh Kean. Bersikap acuh maka wanita akan mengejarnya. Kean mengusulakan ide itu karena sebelumnya Andra terlalu perhatian. Terlalu intens mengirim pesan.
Bukannya mengejar, Kia malah semakin menjauh. Perempuan itu bahkan selalu memasang wajah judes ketika bertemu dengan dirinya. Tidak ada lagi candaan hangat seperti biasa. Mukai terjadi kesalah pahaman di antara mereka.
"Kean apa-apaan ini. Kenapa dia malah semakin jauh dariku?" tanya Andra yang menyelonong masuk ke dalam kamar adiknya. Untung aja Kean tidak sedang melakukan hal-hal tidak terduga.
"Oh berarti dia memang tipe ingin di kejar, Kak," sahut Kean dengan santainya. Ia bahkan bicara tanpa menatap lawan bicaranya.
"Terus aku harus bagaimana?"
"Lamar tarus ajak nikahlah. Masa gitu aja aku yang ngajarin. Hello calon S2 bisnis gitu aja masih bodoh," maki Kean. Dia tidak ada takut-takutnya pada Andra. Padahal Andra adalah pewaris utama.
Andra menoyor kepala adiknya.
Hari-hari terus berlalu dan Andra merasa Kia semakin sulit untuk dia gapai. Ia semakin galau saat beberapa hari lagi ia harus berangkat ke Swiss untuk memulai kuliahnya S2-nya.
"Tan ... Kia ada?" Andra memberanikan diri datang ke rumah Arga. Ya meskipun sebelum-sebelum dia juga sudah mencoba namun Kia seolah memberi jarak.
"Ada sih baru pulang sekolah. Kamu coba cek di lantai dua biasanya dia belajar di ruang baca."
Ya Kia memilih fokus pada pendidikan ketimbang pada perasaan. Dia juga ingin jadi perempuan yang hebat yang pantas berdiri di samping seorang Andra yang kelak akan menjadi pewaris utama dari perusahaan Bimo.
Derit pintu yang dibuka mengalihakn perhatian Kia dari buku dan angka-angka yang ada di depan mata.
"Kak Andra?"
"Lagi belajar ya?" Seketika Andra kehilangan kata-kata yang sudah ia rangkai untuk ia ucapkan saat bertemu Kia. Yang keluar dari mulutnya hanya kalimat-kalimat bernada kaku.
"Oh ini lagi mandiin bayi," jawab Kia kembali fokus pada apa yang tengah ia pelajari.
Andra mengulun senyum mendengar jawaban Kia yang sudah tidak asing lagi.
"Ki, temani kak Andra yuk." Andra manaik turunkan alisnya. Biasanya kalau dikasih kode seperti ini Kia akan langsung tancap gas. Soalnya dia paling suka ditraktir.
__ADS_1
"Malas ah. Lagian aku masih banyak PR yang harus dikerjakan."
"Nanti kak Andra bantu mengerjakan deh. Tapi sekarang temani dulu Kak Andra belanja. Please kan kamu biasanya jago tawar menawar."
Heh! Dasar Andra, memangnya mereka akan belanja apa dan di mana. Kalau belanja di Mall emang bisa tawar menawar. Kan suah ada pricetag-nya.
Melihat Andra yang memasang wajah memelas, akhirnya Kia mau juga. Kasihan itu anak orang kalau tidak jadi membeli kebutuhan hanya gara-gara dirinya.
Andra senangnya bukan main tapi dia tetap menjaga image dan tidak berjingkrak ria.
Kia membantu memilihkan warna pakaian yang cocok untuk Andra. Ya tentunya yang membuat Andra semakin tampan di mata dirinya.
Andra memperhatikan Kia yang sibuk memilih. Ah rasanya mereka adalah pasangan suami istri. Di mana istri akan selalu memperhatikan penampilan sang suami. Apa yang Andra bayangkan menghasilkan senyum manis di bibirnya.
Kia pun melihat itu tapi dia buru-buru memalingkan wajah dan hanya memuji di dalam hati.
"Kamu gak beli apa-apa, Ki?" tanya Andra saat mereka sudah keluar dari toko yang menyediakan kebutuhan pria.
"Emangnya aku mau beli apa di toko itu. Beli kolor?"
"Oh aku salah tanya ya," Kekeh Andra sambil menggaruk kening. "Ya sudah sekarang kamu bebas mau beli apa pun, tapi kalau saham tempat ini tunggu aku selesai S2 dulu."
"Dih masih ingat aja." Kia akhirnya tertawa dan semakin terlihat mengagumkan di mata Andra.
Ki, aku ingin menikahimu sekarang juga.
Bugh...
Barang-barang yang dipegang Andra jatuh karena ditabrak seorang perempuan. Rupanya perempuan itu tengah buru-buru.
"Hei kalau jalan pake mata," teriak Kia.
Perempuan itu tidak terima diteriaki oleh Kia. Dia menghampiri dengan wajah yang sangat angkuh. Sekilas menoleh pada Andra dan tersenyum seperti tengah mengejek.
__ADS_1
"Di mana-mana, jalan itu pakai kaki, nona," kata perempuan itu. "Kasihan banget ya kamu punya pacar kayak dia. Bocil ... bar-bar lagi." Perempuan itu langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Sepanjang mereka belanja mulut Kia tidak berhenti menggerutu. Awas saja kalau mereka bertemu lagi akan Kia balas ucapannya yang mangatai dirinya bocil.
"Sudah lah, Ki, kamu juga salah bicara. Masa jalan pake mata. Mata itu untuk melihat," ucap Andra untuk menenangkan pujaan hatinya. Sepertinya perempuan itu sedang memasuki periode merah. Soalnya dari tadi marah-marah mulu.
Seperti biasa, saat Andra mengajak Kia jalan, tidak mungkin Kia akan pulang dengan tangan kosong. Kali ini Andra membebaskan Kia memilih pakaian yang ia sukai
"Kamu cantik pakai ini" ujar Andra saat memasangkan pasmina di kepala Kia.
"Dih apaan sih."
Kia menatap heran kala Andra membeli beberapa gamis dengan warna yang manis lengkap dengan kerudungnya.
Kia sempat bertanya-tanya untuk siapa Andra membeli pakaian itu. Mungkinkah sudah ada perempuan lain di hati Andra. Ah hati Kia mendadak mencelos. Wajahnya tiba-tiba muram.
Rasanya terlalu muluk-muluk jika dia mengharapkan Andra. Usia mereka terpaut enam tahun. Dia juga sekarang baru akan naik kelas dua SMA. Mana mungkin Andra akan menunggu dirinya selama itu.
Belum lagi saat Andra kuliah di luar negeri, pasti banyak perempuan-perempuan bule yang mendekatinya. Cantik sudah pasti dan sudah jelas Kia akan kalah.
Lamunan Kia buyar kala Andra menyentuh pundaknya.
"Ayo, udah malam ini. Magriban di mushola bawah aja ya," ajak Andra.
Usai shalat maghrib mereka tak langsung pulang Andra masih ingin menghabiskan waktu bersama Kia. Mereka memesan makan malam di resto favorit Kia. Andra ingin ada kesan manis yang akan dikenang Kia saat nanti mereka berjauhan.
Andra tidak ingin ada pria lain dalam kehidupan Kia. Jalan yang akan mereka tempuh akan sangat terjal. Mengingat jarak dan waktu yang harus mereka lalui. Namun Andra yakin jika Kia adalah perempuan satu-satunya yang dia inginkan.
Kia tersenyum saat pelayan menyajikan makanan favorit dirinya juga Andra.
"Balapan, Kak. Yang habis duluan boleh mengatakan sesuatu." Kini sikap Kia sudah kembali mencair. Ya walaupun masih ada jutek-juteknya.
Tentu kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Andra. Hanya membutuhkan waktu selama tujuh belas menit Andra sudah lebih dulu menghabiskan makanannya.
__ADS_1
"Jadi Kak Andra boleh mengatakan sesuatu nih?" tanya Andra, mengelap bibirnya menggunakan tisu.
Kia mengangguk. Dia takut kalau Andra akan mengatakan kalimat yang menyakitkan. Apalagi jika mengingat laki-laki itu membeli beberapa set gamis lengkap dengan kerudung. Jelas itu bukan untuk dirinya karena tidak sesuai dengan gayanya saat ini.