Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Bertemu Orang Baru


__ADS_3

Dalam kurun waktu yang sudah banyak berlalu Andra masih menunggu Kia pulang. Di saat orang-orang sudah menyerah Andra tetap melakukan apa yang harus dia lakukan. Dia tetap mengisi uang pada nomor rekening yang ATM-nya di pegang Kia.


Sudah tiga bulan berlalu namun dia masih belum mendapatkan petunjuk. Dia pun kerap mengunjungi makan Wiji dan menyimpan sepucuk surat di sana. Berharap Kia datang ke sana dan membaca pesannya. Sungguh Andra merindukan Kia.


Berkali-kali dia mengunjungi tempat-tempat yang menjadi kenangan bersama Kia tapi yang dicari tak kunjung dia temukan. Sekolah, teman dekat, juga para guru yang dianggap dekat dengan Kia sudah dikunjungi tapi hasilnya sama. Nol.


"Apa ada orang lain yang mengunjungi makan ini selain saya, Pak?" tanya Andra pada pak Ramlan yang bertugas membersihkan area pemakaman.


"Emmm, kayaknya ada. Kalau gak salah itu datangnya setiap hari kamis, Mas."


Ini kabar berita yang Andra tunggu selama tiga bulan ini. Kia kah itu?


"Orang ini bukan, Pak, yang mengunjungi?" Andra menunjukan foto Kia yang tengah tersenyum di tepi pantai dengan rambut dikuncir dan tertiup angin.


Pak Ramlan terlihat berpikir. Mengingat-ingat wajah perempuan yang dia lihat beberapa hari yang lalu.


"Kurang jelas sih kalau wajahnya. Soalnya dia pakai, kaya ... semacam niqob gitu."


"Fostur tubuhnya mirip gak, Pak?"


"Waduh. Perkiraan seginilah tingginya." Pak Ramlan memperkirakan tinggi perempuan itu sekitar pundak Andra.


Seperti mendapatkan hijan di tengah kemarau, Andra yakin itu adalah Kia. Sekarang tugasnya adalah mengamankan Davin. Ya pria itu licin sekali untuk disentuh hukum. Ketika neneknya Kia diamankan oleh pihak kepolisian pria itu hanya tersenyum dari jarak jauh sambil menepuk tangan. Seolah ada debu yang harus ia singkirkan.


"Dari mana, Kak?" tanya Leela yang tengah sibuk memasak ketika Andra memasuki dapur untuk mengambil air minum.


"Rahasia," jawab Andra santai.


"Em gitu ya. Ah tadi papi nanyain kamu, temui gih! Papi lagi di ruang kerja."


"Oke, emm harumnya enak nih," kata Andra menghampiri sang ibu sebelum menemui ayahnya.


"Temui dulu papi, baru boleh makan."


"Oke." Andra meninggalkan dapur dan beranjak ke lantai tiga. Di mana terdapat ruangan kerja sang ayah.

__ADS_1


Bimo sudah menunggu kedatangan Andra sejak tadi. Ada hal penting mengenai perusahaan yang harus dia sampaikan pada putranya.


"Tadi mami bilang aku harus menemui papi. Ada hal penting 'kah?" Andra memasuki ruang kerja dan duduk di seberang sang ayah.


"Ya, kita akan berbicara masa depan kamu sekarang. Mulai besok papi ingin kamu sudah aktif di kantor."


"Tapi, Pap ..." Andra memototong ucapan ayahnya.


"Oke, papi paham maksud kamu, tapi kamu bisa mencari Kia sambil kamu memegang perusahaan juga. Sudah waktunya kamu ambil tanggung jawab ini. Ya? Papi gak mau kamu menolak."


Tak bisa menolak keputusan sang ayah Andra pun menyetujuinya. Apalagi Leela, Tresna dan Wijaya ikut menyetujui.


Hari pertama masuk kantor Andra sedikit terlambat karena terjebak macet. Dia pikir hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan tapi ternyata tidak. Dia yang sedang buru-buru malah menabrak seorang perempuan yang memakai seragam OB dan tengah mengangkat kardus yang entah apa isinya.


Bugh


"Woi kalau jalan pake mata!" sentak perempuan itu.


Andra mematung setelah dibentak. Lagi-lagi tentang Kia gadis yang sudah tiga bulan lewat belum juga muncul di hadapannya. Gadis itu pernah berkata seperti perempuan yang berseragam OB. Dia sempat mengira gadis itu adalah Kia. Namun nametag gadis iti sudah menjawabnya.


"Bantu naikin kardus itu ke sini!" Perempuan yang memakai nametag KAW itu menunjuk dengan dagu. Iya, soalnya tangan dia sudah lebih dulu mengangkat kardus yang lebih besar.


"Maaf ya." Sekali lagi Andra mengucapkan maaf pada perempuan yang mengabaikan ucapannya.


Ponsel di saku jas membuat dia ingat pada tujuan awal. Gegas dia menuju lift khusus para petinggi perusahaan. Saat akan masuk lift khusus Andra ditarik Kaw untuk masuk ke lift umum.


"Itu lift khusus para petinggi perusahaan. Kalau karyawan biasa atau sejenis staff ya pakai yang ini aja. Ini untuk umum," ujar Kaw memberi tahu, "kamu karyawan baru ya?"


Andra mengangguk kemudian memperhatikan perempuan di sebelahnya. Mwmabyangkan kalau saat ini dia tengah bersama Kia seperti impiannya dulu.


"Itu kardus mau di bawa ke mana?" tanya Andra.


"Ke ruang foto kopi. Mau bantu?"


"Boleh," ucap Andra sambil mengambil semua kardus yang tadi di angkat oleh Kaw saat pintu lift terbuka dan tiba di lantai yang di tuju.

__ADS_1


Andra meletakan kardus tersebut sesuai permintaan Kaw. Kemudian ia kembali ke dalam lift menuju lantai di mana Bimo berada.


Bimo menggelengkan kepala melihat putranya datang datang terlambat sampai sepuluh menit.


"Maaf, saya terlambat." Andra menganggukan kepala sungkan. Merasa tidak enak hati karena dia pertemuan ini jadi terlambat.


"Duduk," titah Bimo yang kembali ke mode tegas.


Pertemuan diawali dengan mengenalkan Andra sebagai anak pertama yang akan bergabung diperusahaan. Namun Andra tidak langsung dikenalkan pada seluruh karyawan dan dikenalkan hanya kepada para petinghi dan staff-staff penting. Tidak ingin dianggap perlu diistimewakan itulah alasan Andra.


"Saya harap Andra bisa bekerja sama dengan kita semua," ucap Bimo sebagai kata penutup kemudian dilanjutkan pada pembahasan inti.


Usai rapat, salah satu staff mengantarkan Andra menuju ruang kerja yang pernah ditempati oleh ayahnya. Ruangan yang luas dengan desain interior yang memanjakan mata. Siapa pun pasti akan betah berada di dalam ruangan tersebut.


Setumpuk berkas sudah menunggu untuk dieksekusi. Sebelum bekerja dia menata meja lebih dulu dengan memajang foto dirinya bersama Kia.


"Sekarang aku harus duduk di sini, Ki. Padahal aku pernah bermimpi aku akan duduk di sini setelah kita mengikat janji suci dan kamu seutuhnya menjadi milikku. Sekarang aku hanya menunggu kapan kamu siap kembali. Temani aku ya," kata Andra pada foto tersebut.


Setelah itu dia mulai bekejra dibantu oleh asisten Bimo yang sudah senior. Ya walaupun dia pintar tetap saja dia masih orang baru diperusahaan. Sedikit banyak tentu akan membutuhkan bimbingan.


"Buatkan saya kopi hitam tidak terlalu manis. Antarkan ke ruangan direktur," pinta Andra pada siapa pun OB yang ada di pantry.


Tak lama pintu ruangan terdengar diketuk, tanpa beranjak Andra mempersilahkan orang tersebut masuk.


"Anda minta dibuatkan kopi hitam pak," ujar OB tersebut.


Mendengar suara yang tidak asing, Andra mengangkat wajah. Ternyata Ob yang bernama Kaw yang mengantarkan kopi ke ruangannya.


"Ya saya," jawab Andra dingin. Gara-gara melihat wajah perempuan tadi terkejut Andra jadi punya niat usil. Dia mengerjai perempuan tersebut dengan bersikap seolah tengah mengintimidasi.


"Maafkan atas sikap lancang saya tadi, Pak," ucap perempuan itu sambil memilin ujung seragamnya.


"Kamu pikir saya orang yang mudah memberikan kata maaf. Kamu salah. Kali ini saya memaklumi tapi lain kali tidak akan. Ingat itu."


Piuuh, Kaw membuang nafas kasar setelah keluar dari ruangan Andra. "Heh, so galak, so cakep lagi. Ya walaupun emang cakep sih," ucapnya sambil berlalu.

__ADS_1


__ADS_2