
Pesan basa basi Andra kirim melalui direct massage, Lima menit, sepuluh menit, satu jam menunggu. Ke esokan harinya dia baru dapat balasan.
Teman Kia: Maaf Kak Andra, aku kurang tahu. Kemarin malam Om Arga juga datang ke sini. Katanya mencari Kia. Tapi Kia gak datang ke rumah aku, Kak.
Andra tercengang membaca balasan pesan dari teman Kia. Dadanya bergemuruh. Dia segera menghubungi kedua orang tuanya. Tersambung tapi tidak diangkat. Memang sengaja diabaikan.
Astaga Andra semakin panik. Dia cek jadwal ujian disertasinya. Hatinya semakin gundah, selain karena tidak ada yang bisa dihubungi dia juga tidak mendapat ijin cuti.
"Aaarrrrrggggggg,"
Rentetan pesan dia kirim pada kedua orang tuanya. Berharap merak akan ada yang membalas.
"Mam, please katakan kalau kabar yang aku dengar itu salah."
"Mam, katakan Kia ada bersama kalian."
"Mami please, katakan Kia baik-baik saja."
"Papi, aku dengar Kia hilang. Katakan berita itu tidak bentar."
"Pi, please angkat panggilan dari aku."
Telepon rumah Bimo pun tak henti berdering namun tidak ada yang berani mengangkat. Mereka seolah tahu kalau yang menghubungi adalah Andra.
Dia kembali menemui pihak kampus. Kembali mengajukan izin tapi harus keluar dengan tangan kosong.
Tak habis akal, Andra menghubungi teman-temannya.
"Serius, Ndra? Kok gue gak dengar berita apa pun?" tanya Sandi saat dihubungi oleh Andra.
"Mungkin mereka tengah menutupi ini dari gue. San, gue butuh banget bantuan lo sekarang. Bantu gue cari tahu tentang kabar ini. Kalau bener Kia hilang gue akan usahakan balik secepatnya.
"Tenang, Bro. Gak perlu grasak-grusuk. Soal Kia di sini akan jadi urusan gue dan anak-anak lain. Lo selesaikan aja pendidikan, cuma tinggal beberapa bulan lagi kan?
" Ya,Thanks, Bro."
"Ok, gue hubungi dulu mereka, nanti gue update lagi."
Andra merosot ke lantai dan menyandarakan kepala pada dinding rumah. Rasanya dia menajdi manusia paling payah saat tidak bisa melakukan apa pun untuk orang yang dia cintai.
"Hhhhhhaaaaaaarrrrggg" Sekali lagi dia berteriak. Marah kesal, khawatir dan rindu bercampur menjadi satu.
Rupanya ini jawaban dari rasa cemasnya kemarin.
__ADS_1
***
Leela menyempatkan pulang ke rumah karena Shafia bilang Leo rewel. Dia pun pamit pada Shepa yang enggan melakukan apa pun selain menangis.
"She Kakak pulang sebentar ya. Leo tantrum, kasihan orang-orang rumah. Gak papa kan ditinggal sebentar?"
"Gak papa, Kak. Ada Kai kok," jawab Shepa pelan. Tubuhnya lemas. Selain karena terus menangis memikirkan Kia, juga tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Dia menolak makan.
"Kai temani mama ya. Tolong bujuk supaya mau makan. Nanti mami kembali lagi," pesan Leela pada Kai yang diangguki oleh gadis itu.
Leela pulang ke rumah diantarvoekh salah sati sopir yang bekejra pada Arga. Baru saja turun Leo sudah datang menyongsong. Mengulurkan tangan meminta langsung digendong.
"Tadi Kak Andra telepon, Mam," kata Kean menghampiri Leela yang baru datang.
"Terus kamu bilang apa? Kak Andra gak dikasih tahu tentang Kia kan?"
"Enggak lah, Mam. Kan papi sudah ngingetin kita. Itu Kia gimana sih ceritanya mam kok bisa hilang?"
"Mam? Kia sudah ketemu?" tanya Shafia yang baru keluar dari kamar dan ikut bergabung.
"Belum. Papi sama yang lain masih berusaha mencari."
"Teknologi kan sudah canggih, apa papi lupa ya gak melacak ponsel Kia," ujar Kean.
"Smartwach juga? Dia kan sering pakai itu," sambung Shafia.
Leela menggelengkan kepala sambil memberikan susu pada Kean. Bukan susu ASI lagi melainkan susu formula.
"Kak Kean sudah coba tanya ke teman-teman sekelasnya?" tanya Shafia.
"Baru beberapa sih. Soalnya aku juga gak kenal semua anak-anak seangkatan Kia. Tapi kalau teman-teman dekatnya pada bilang gak tahu."
"Kok aneh ya, teknologi sudah canggih, orang pintar dan cerdas yang dibayar om Arga juga banyak tapi masih gak ketemu." Shafia bermonolog.
Telepon rumah berdering tidak hanya satu kali. Mereka saling lirik tapi Leela melarang mengangkatnya.
"Mam gimana kalau itu Kia," kata Kean yang jengah mendengar telepon rumah terus berdering.
"Bukan, itu pasti kakakmu." Leela menunjukan rentetan pesan dari Andra yang sengaja dia abaikan. "Kayaknya dia sudah mendengar kabar ini. Ini yang mami bilang jangan sampai kakak kalian tahu. Sekarang dia pasti sedang berusaha agar bisa pulang."
"Terus gimana dong. Kasihan Kak Andra, Mam. Dia pasti khawatir banget."
"Kita tunggu papi aja yang bicara. Kak Andra akan lebih mendengarkan papi ketika panik ketimbang kita."
__ADS_1
Lepas maghrib, Leela dan anak-anaknya kembali ke rumah Arga. Membersamai sang adik melewati ujiannya.
Kai langsung menghabur ke pelukan Shafia saat melihat sepupunya datang. Sedangkan Leela menuju kamar Shepa. Gantian, Kean disuruh menjaga Leo.
"Ibu belum makan juga?" tanya Leela pada salah seorang pelayan yang mengantarkan makanan baru untuk majikannya.
"Dari tadi menolak terus, Bu."
Leela mengangguk dan mengambil alih makanan. Mengizinkan pelayan itu untuk pergi.
"She, makan dulu ya!" Shepa menggelengkan kepala. "Satu sendok aja. Yang Kia butuhkan saat ini adalah doa dari ibunya. Kalau kamu seperti ini gimana kita akan berdoa untuk keselamatan dia."
"Gimana aku bisa makan sementara aku tidak tahu bagimana keadaan Kia. Dia dalam keadaan aman atau tidak."
"Ikatan batin ibu dan anak itu kuat, She. Cobalah kamu bangkit agar ada kekuatan untuk Kia juga di sana. Kalau kamu sakit gimana kamu akan memberikan kekuatan batin untuk Kia. Dia butuh itu sekarang."
Setelah dibujuk akhirnya tiga sendok makanan bisa masuk ke dalam tubuh Shepa.
***
Arga dan Bimo mampir ke masjid saat adzan magrib berkumandang. Memohon petunjuk juga keselamatan untuk Kia.
Rabb, putriku adalah milikmu. Aku serahkan dia pada engkau. Lindungi dia di mana pun keadaannya. Berikan peutunjuk pada kami untuk menjemputnya agar berkumpul kembali dengan ibunya.
Arga mengusap wajah setelah berdoa dan menatap langit-langit masjid. Dia juga cek ponselnya tapi masih tidak ada kabar.
Ponsel milik Bimo bergetar, Arga dan Bimo saling lirik. Mereka segera keluar dari masjid untuk menjawab panggilan.
"Kalian sudah menemukan Kia?" tanya Bimo saat panggilan sudah terhubung.
"Belum, Pak. Tapi kami menemukan sebelah sepatu yang mirip dengan yang anda tunjukan. Fotonya sudah saya kirim. Apa itu sepatu milik korban?"
Bimo dan Arga saling lirik saat melihat foto sepatu yang mirip dengan milik Kia.
"Iya itu milik anak saya. Dimana kalian menemukan sepatu itu." Arga mengambil alih bicara.
"200m dari sungai, Pak. Silahkan anda kemari untuk memastikan."
Sungai?
Gegas keduanya menuju lokasi yang dikirim oleh orang bayaran mereka.
"Kami hanya menemukan ini sebelah. Bisa jadi putri anda adalah korban kejahatan dan tengah berushaa melarikan diri, sehingga sepatu ini lepas sebelah."
__ADS_1