Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Kejutan


__ADS_3

Janji tetapyal janji. Tak peduli seberapa kacau perasaanmu saat ini dia tetap harus memenuhi undangan makan malam.


"Kamu yakin gak papa-papa?" tanya Leela karena Andra hanya menangis dan tidak mengucapkan kalimat apa pun.


"Aku baik-baik aja, Mam. Dah ya aku ada janji makan malam sama salah satu rekan."


"Hati-hati ya."


Usai menempuh perjalanan hampir empat puluh lima menit kini Andra berdiri di depan rumah yang tak kalam mewah dari miliknya.


"Selamat datang di rumah sederhana kami, Pak Andra. Ma perkenalan ini Pak Andra, Pak Andra ini istri saya Hety."


"Andra."


"Hety. Ternyata lebih tampan aslinya ya, Pa."


"Kata papa juga apa. Gak percaya sih mama. Mari masuk, Pak," kata si pemilik rumah. Mempersilahkan tamunya masuk dan memabwanya ke meja makan. Di mana saja terbaik telah dihidangkan. "Panggil Raniah, Ma!"


Pria itu tersenyum senang akhirnya Andra akan bertemu dengan putrinya. Dalam pikirannya Andra pasti tertarik karena putrinya sangat cantik dan pintar. Akan sangat menguntungkan kalau Andra benar-benar tertarik terutama untuk urusan bisnis.


"Pa."


Seorang perempuan cantik dengan riasan wajah yang sempurna berdiri bersama nyonya Hety.


"Raniah, ini Pak Andra. Pak Andra ini putri saya Raniah."


Andra mengangguk dan tersenyum. Selama makan malam Andra lebih semang membicarakan pekerjaan ketimbang hal pribadi. Dia hanya tergelak ketika tuan rumah melemparkan pertanyaan yang menyangkut urusan pribadi.


Tentu saja Hasan dan istri mai paham kalau Andra tidak lah tertarik lada putri mereka. Beberapa kali merela memuji putrinya tapi Andra hanya memberikan tanggapan seadanya.


Usai makan malam Andra pamit dan diantar sampai ke mobil.


"Terima kasih sudah memenuhi undangan saya, Pak Andra. Raniah sangat senang bertemu dengan anda."


"Sama-sama, Pak. Saya pamit ya." Andra pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman Hasan.


"Sepertinya dia gak tertarik ya sama Raniah," ujar sang istri salah pintu gerbang sudah kembali tertutup.


"Ck, dia terlalu sombong. Dia gak tertarik sama Raniah karena bisnis kita masih berada di bawahnya." Hasan berkacak pinggang kemudian meminta istrinya masuk.


"Baru kali ini aku merasa tidak jadi perempuan cantik," ujar Raniah sambil berpangku tangan menatap ayah dan ibunya.


"Enggak gitu, Sayang. Kamu tetap cantik kok kami. Dia saja yang tidak normal kalai sampai gak tertarik sama perempuan cantik," kata Hasan.


"Aku gak suka diabaikan. Gak suka orang gak melihat aku," gimana Raniah dengan seringai menyebalkan di bibirnya.


***


Hari minggu pagi, Andra sudah bangun lebih dulu. Berolah raga di ruangan gym selama tiga puluh menit kemudian berenang.


Setelah mandi dan rapih dia turun dan ikut bergabung untuk sarapan.

__ADS_1


"Hari minggu kok rapih bener, Kak?" tanya Kean.


"Mau kencan ya," kata Shafia yang langsung membekap mulut ketika mendapat lirikak dari ayahnya.


"Gimana makan malam kemarin?" tanya Bimo.


"Biasa aja," balas Andra.


"Hari suah punya rencana hari ini, Kak?" tanya Leela sambil menyuapi putra bungsunya.


"Enggak, Mam. Hari ini cuma pengen istirahat aja."


Biasanya hari minggu Andra akan mencari Kia tapi hadi ini dia sungguh malas. Rasanya badan, bada dan pikiran capek sekali. Dia ingin istirhat tapi di tempat yang tidak akan diganggu oleh adik-adiknya.


Sebab biasanya Kean menjadi salah satu orang yang paling menyebalkan saat dia menikmati hari libur. Dengan menggunakan mobil Andra sudah tiba di sebuah hotel yang dia booking. Rencana hari ini dia akan tidur seharian di sana.


"Terima kasih," ucap Andra ketika sudah menerima kunci kamar.


Rasanya dia ingin segera tiba di kamar dan tidur. Namun saat dia sudah di depan pintu tiba-tiba tubuhnya Ambruk setelah menerima hamtaman pada begituan belakang kepala.


***


Alisya menemui Davin di rumahnya. Kepulan asap rokok menyambut kedatangan dia saat membuka pintu.


"Bisa gak sih berhenti merokok," ucap Alisya menatap kakak tirinya yang asyik memainkan kepilan asap yang keluar dari mulutnya.


"Gak bisa. Enak loh, mau coba?" Davin menyodorkan satu bungkus rokok.


"Enggak, makasih. Kalau mau bagi-bagi mending bagi duit sini." Alisya menengadahkan tangan.


Salah seorang pria berpakaian hitam menghampiri Davin dan membisikan sesuatu. Davin mengangguk dan memberi isyarat pergi setelah itu.


"Ada apa?" tanya Alisya penasaran.


"Rahasia."


"Oh, ok. Kalau gitu jangan gunakan aku lagi untuk membalaskan dendam kamu sama keluarga Bimo."


"Aku gak pernah meminta, bukannya kamu sendiri yang menawarkan diri."


Davin menyeringai membuat Alisya bergidik dan berlalu pergi. Masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah kakaknya.


***


Entah sudah berapa lama Andra tertidur. Namun rasa pegal pada tangan akibat menahan sebauh bobot membuat dia bangun dan terkejut. Terlebih saat menyadari ada orang lain di ranjang yang sama.


Hal yang membuat dirinya semakin panik yaitu ketika menyadari bahwa pakaian miliknya sudah terlepas dari badan. Perempuan itu pun sepertinya sama.


Fitnah, iya ini pasti fitnah. Andra segera turun dari pembaringan dan mengenakan kembali pakaiannya. Dia haru segera pergi sebeluk ada orang yang memergokinya. Sungguh dia merasa tidak melakukan apa pun.


Alisya menggeliat dia juga sama terkejut saat melihat Andra tengah mengaitkan kancing celana.

__ADS_1


"Pak Andra?"


"Ini pasti kerjaan kamu kan?" Andra menghampiri perempuan itu dan mencengkram rahangnya.


"Sakit." Alisya menepis tangan Andra. Dia sendiri heran kenapa bisa berada di satu kamar yang sama dengan Andra.


"Jangan asal menuduh. Aku juga gak negrti kenapa kau bisa ada di sini," balas Alisya sambil menahan selimut. Dia terpekik saat merasakan ngilu di pangkal pahanya. Dia menggelngkan kepala menepis segala kemungkinan buruk yang terjadi.


Andra berdecak. Dia harus segera pergi sebelum ada yang memergoki merek. Dia meraoihkan pakai yang belum ke.bali ke tempat asalnya.


Saat dia membuka pintu dia kembali terkejut karena sudah ada polisi serta petugas hotel di sana


"Selamat sore. Anda kami tangkap atas tuduhan transaksi prostitusi di hotel ini."


"Enggak, Pak, ini fitnah. Saya tidak melakukan apa pun." Andra sedikit gemetar.


"Anda bisa melakukan pembelaan nanti di kantor polisi. Kami harap kerja sama dari anda."


Komandan tersebut memberi kode agar membawa Andra. Sedangakn petugas lain mengamankan Alisya yang masih membungkus tubuhnya dengan selimut.


Di luar gedung hotel para wartawan sudah berkerubung. Menunggu kabar yang akan membuat timeline mereka naik. Berita tentang anak seorang pengusaha Bimo Aditya Kusumo tertangkap basah tengah bersama seorang perempuan di kamar hotel pun tersiar.


Mereka langsung menghadang jalan ketika melihat petugas kepolisian. Sedangkan Andra dibawa melalui jalan belakang untuk menghindari sorotan kamera wartawan. Begitu juga Alisya. Dia masih berpikir kenapa bisa bersama Andra. Apa ini bagian dari rencana kakaknya tapi kenapa bisa sampai bagian inti dan pangkal pahanya begitu terasa linu. Tidak mungkin jika Andra melakukan pelecahan pada dirinya. Akan tetapi untuk sekarang dia lebih memilih bungkam. Akan dia tanyakan nanti pada Davin.


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan kiri Andra yang dilakukan oleh Wijaya. Pria itu tampak marah ketika mendengar kabar dari putranya bahwa Andra di tangkap polisi. Terlebih oleh kasus tang sangat memalukan.


Begitu pun Bimo yang menatap dengan tatapan tajam. Mereka tiba lebih awal dibanding Rian dan Revina.


"Bajingan. Aku tidak pernah memilki sikap buruk seperti itu pada perempuan. Ketila aku hilang tidak suka maka aku benar-benar meninggalkan tanpa merusaknya."


"Kakek gak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku ... aku gak melakukan apa pun. Aku hanya berniat istirahat di hotel agar tidak diganggu Kean. Aku juga gak tahu kenapa bisa kayak gini. Bisa saja ini jebakan."


Orang tua Alisya pun datang. Rian langsung memberikan bogem mentah pada Andra. Untung segera dilerai oleh pihak kepolisian. Kalau tidak bisa habis Andra sore ini. Sedangkan Revina menghampiri putrinya yang tampak bingung.


"Kemarin kamu menolaknya dan sekarang kamu menodainya. Biadab!"


"Om aku gak melakukan apa pun. Demi Allah aku juga kaget."


Rian tersenyum sinis. "Kaget? Gak mungkin."


Asisten Bimo menghampiri mereka di ruang khusus dan memberi tahu kalau wartawan sudah tidak bisa dikandalikan.


Bimo menoleh pada ayahnya dan diangguki Owlh Wijaya.


"Berita seperti ini adalah santapan lezat bagi media. Untuk saling mejaga nama baik, kamu harus melkian sesuatu Andra."


"Apa? Menikahinya? Itu gak mungkin, Pi."


"Kenapa gak mungkin? Kamu ingin lari dari tanggung jawab Andra?" Rian semakin kesal saat mendengar jawaban Andra.


"Om, demi Allah aku gak melakukan apa pun. Ini Fitnah." Andra bingung harus bagai mana menjelaskannya karena dia sendiri baru sadar. "Pak bisa dilakukan visum kan?" tanya Andra pada pihak kepolisian.

__ADS_1


"Bisa."


"Nah, aku setuju untuk dilakukan visum. Aku yakin tidak melakukan apa pun pada Alisya."


__ADS_2