
Proses identifikasi melalui autopsi harus menunggu satu sampai tiga hari untuk mendapatkan hasil. Bimo mengajak anak dan istrinya untuk pulang lebih duku. Mereka akan kembali ke rumah sakit setelah mendapat kabar tentang hasil autopsi.
"Apa sudah ada hasilnya?" tanya Arga saat melihat Bimo beserta iparnya datang.
"Belum, dokter bilang kita harus menunggu satu atau dua hari untuk mengetahui hasilnya."
"Itu tas?" Arga menunjuk tas yang ada di tangan Andi.
"Ini memang tas Kia, Kak, tapi jasad itu belum tentu Kia," ujar Andi menyerahkan tas pada kakaknya.
Arga menatap sedih tas itu. Iya itu memang milik Kia karena dia yang membelikan sebagai hadiah ulang tahunnya.
Dia berbalik dan membawa tas tersebut ke dalam kamar putrinya. Dia tatap ruangan itu penuh rindu dan harapan. Ruangan yang didesain iekh tanganmu sesuai permintaan Kia.
"Maafkan papa, Kia. Papa tidak becus melindungi kamu." Arga menangis memeluk tas itu.
"Papa!" Kai menyusul ayahnya dan memeluknya dari belakang. "Itu bukan kak Kia kan?" Anak itu ikut menangis di punggung sang ayah. "Papa bikang kalau itu bukan Kak Kia." Kai mengundang tubuh ayahnya. wajahnya sudah basah dengan linanagan air mata.
Arga hanya menggelengkan kepala. Dia tidak bisa mengatakan apa pun saat ini. Hati dan pikirannya sedang sulit ditata.
"Mas!" Shepa menghampiri. Kondisinya bahkan paling parah di antara suami dan anaknya. Bagian mata yang terlihat bengkak dan kelopak mata bawah terlihat hitam.
Dia duduk mengahadap wajah sang suami yang menunduk.
"Maafkan aku, Sayang," ucapan Arga terdengar begitu pilu. Dia menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada putrinya.
Tidak ada yang membalas ucapan Arga. Mereka bertiga menangis dan saling memeluk.
Mama Arga menatap keluarga kecil anaknya. Dia sendiri tak kuasa menahan tangis. Untuk kedua kalinya dia melihat Arga tak berdaya.
"Kita sangat berharap kalau itu bukan jasad Kia," ucap Bimo yang duduk di ruang tamu bersama keluarga yang lain.
"Tapi tas itu?" tanya mertuanya.
Semua anggota keluarga yang ada di sana kembali diam. Hingga malam semakin larut dan merangkak menuju pagi, mereka tidak ada yang tidur nnyenyak. Ada yang terus berdoa, memohonkan keselamatan untuk Kia. Ada yang sibuk berkoordinasi dan membahas kecurigaan terlibatnya nenek Kia.
Arga, Shepa, dan Kai memilih tetap di kamar Kia. Mereka berbaring di tempat tidur Kia. Memeluk boneka dan guling kesayangan Kia. Kai masih bisa memejamkan mata. Sedangkan kedua orang tuanya masih berusaha berbesar hati andai takdir benar-benar memisahkan mereka dengan Kia.
Usapan tangan Arga tak mampu mengurangi rasa sedih yang dialami Shepa. Bahu perempuan itu tetap berguncang.
__ADS_1
Di kamar lain Bimo dan Leela pun tidak bisa memejamkan mata.
"Sejak siang ponsel Andra tidak aktif. Apa dia baik-baik saja ya, Mas?" tanya Leela yang mencemaskan keadaan putranya.
"Aku coba hubungi lagi," umar Bimo sambil melakukan panggilan, "aktif tapi gak diangkat."
"Mi, Pi, Kak Andra ...." terdengar suara Kean dari interkom.
Mendengar nama Andra mereka gegas keluar kamar dan mengikuti langkah Kean. Mereka terkejut dengan apa yang ada di depan mata. Mereka sama-sama melirik jam dinding. Sudah pukul dua dini hari.
"Kak!" Leela mendekati Andra yang terlihat capek dan tengah duduk di sofa sambil memijit pelipis.
Anak itu benar-benar nekad pulang seperti dugaan Bimo. Ya setelah mendapat telepon dari Sandi dia tidak memikirkan hal lain selain pulang ke tanah air. Dia harus mencari Kia.
"Mi?" Andra membuka mata setelah mendengar suara orang tuanya. Dia melirik pada Bimo yang juga tengah menatap dirinya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Papi menghubungi kamu dari tadi siang tapi ponsel kamu tidak aktif. Sungguh kami sangat mengkhawatirkan kamu, Nak."
Andra tetap tersenyum walaupun tidak dengan hatinya.
"Pi aku perlu bicara dengan papi," ujar Andra.
"Tapi aku perlu bicara dengan papi sekarang."
"Ikuti papi," kata Bimo sambil berjalan ke arah ruangan yang dikira aman dan tidak akan ada yang mendengar. Ayahnya merasa ada hal yang amat sangat penting yang ingin disampaikan oleh Andra.
Andra mengheka nafas sebelum menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya. Tentang apa yang dia lihat sebelum masuk ke dalam rumah Arga.
"Kapan hasil autopsi keluar?" tanya Andra setelah mereka sama-sama duduk.
"Dokter bilang besok atau lusa. Papi rasa bukan hanya itu yang ingin kamu bicarakan."
Andra mengangguk. "Jujur aku kecewa dengan pilihan kalian menyembunyikan ini dari aku. Tapi tidak ada gunanaya juga jika aku tunjukan. Benar kan, Pi?"
"Ya. Papi takut kamu nekad seperti sekarang. Jadi ...?"
"Tunggu dulu, aku ingin papi menceritakan apa yang papa ketahui sebelum Kia hilang."
"Malam itu, Om Arga telepon ...." Bimo pun menceritakan apa yang dia dengar dari Arga juga dari pengakuan Shepa yang disampaikan oleh istrinya.
__ADS_1
Andra mengangguk mengerti. "Berartinapa yang aku lihat tafi itu bener," gumam Andra.
"Maksud kamu?" Bimo mengerutkan kening.
"Begini, Pi. Tadi sebelum aku masuk ke rumah ini, aku melihat beberapa orang seperti tengah mengawasi rumah ini. Aku belum tahu pasti, tapi setelah mendengar penuturan papi aku yakin mereka adalah bagian dari penyebab hilangnya Kia."
"Tapi hasil autopsi?"
"Tunggu dulu, Pi. Maksudku gini katakan saja andai jasad itu terbukti bukan jasad Kia, kita harus melakukan hal yang sebaliknya. Papi ngerti kan maksud aku. Kita harus mengelabui mereka agar berhenti mencari Kia dan kita akan melakukan pencarian diam-diam. Menurutku itu jauh lebih aman untuk Kia."
"Oke papi paham apa yang harus papi lakukan sekarang." Bimo beranjak kemudian berbalik dan menatap dengan senyum bangga pada putranya. Dia bisa mengendalikan diri dan terlibat seperti baik-baik saja. Padahal semua juga tahu bagaimana perasaan dia pada Kia dan tentunya tak akan mudah menerima kenyataan seperti ini.
"Sudah malam bahkan hampir pagi. Istirahatlah!" lanjut Bimo.
***
Hari yang dinanti pun tiba. Shepa, Arga, Leela, Bimo, Andra dan beberapa enggota keluarga yang lain ikut menemani ke rumah sakit.
Dari kaca spion Andra melihat dan menyadari bahwa mobilnya diikuti dari jarak aman. Namun dia tetap tenang dan tidak menunjukan rasa panik.
Tiba di rumah sakit mereka langsung menuju dokter yang menangani jasad dua haru yang lalu. Helaan nafas panjang dari dokter yang akan menyampaikan informasi menjadi pertanda buruk bagi anggota keluarga.
"Berdasarkan dari data sidik jari, DNA dan golongan darah yang kami cocokan dengan data saudara Kiara Adinda Wiji, 100% cocok."
Deg. Ruangan yang luas itu menjadi terasa sangat sempit dan pengap.Meneysakan dada setiap anggota keluarga yang ada di sana.
Arga dan Shepa sama-sama rapuh, sehingga Leela yang baru terlihat tegar di antara mereka.
Bimo melirik Andra yang menengadahkan kepala kemudian memeluk pundak sang anak.
Mereka keluar dengan wajah-wajah sedih, membawa kehampaan takdir yang sesungguhnya.
Orang-orang Davin terus memperhatikan mereka. Melihat wajah-wajah sedih dan Shepa yang terus di dekap oleh suaminya membuat mereka yakin kalau jasad di suangi adalah jasad Kia.
"Beberapa dari mereka sudah keluar dari rumah sakit. Wajah mereka tampak sedih."
"Bodoh!" Davin memaki lewat sambungan telepon. "Bukan itu yang ingin aku dengar. Mayat itu Kia atau bukan."
"Sepertinya begitu, Tuan. Beberapa orang dari mereka juga tampak sibuk mengurus administrasi jenazah."
__ADS_1
Davin mematikan sambungan telepon. Dia menatap nenek Kia tajam. "Datang dan pastikan kalau yang akan mereka kubur adalah Kia. Ingat kamu tidak akan mudah lepas dari jerat hutang yang harus kamu bayar. Apalagi jika memang cucu yang kamu janjikan itu tidak ada."