
Suasana tegang yang tercipta beberpa menit yang lalu kini berubah menjadi senyum dan tangis haru ketika dokter memberi tahu bahwa Andra berhasil melewati masa kritisnya.
"Luar biasa, ini merupakan anugerah. Tadi pagi dia membuat kita panik karena kondisi semakin drop, namun sekarang keadaan justru sebaliknya. Pasien sudah sadarkan diri.," kata dokter yang ikut tersenyum lega.
Sujud syukur terdengar dari setiap bibir anggota keluarga yang hadir. Mereka tidak sabar untuk melihat keadaan Andra.
"Kapan kita bisa melihatnya, Dok?" tanya Leela dengan tangan gemetar tak kuasa menahan haru.
"Tunggu instruksi dari perawat ya. Biarkan pasien menyesuaikan diri dulu dengan keadaan. Nanti hanya dua orang yang boleh masuk."
Leela dan Bimo menjadi orang pertama yang diijinkan melihat keadaan Andra oleh suster. Andra melirik menggunkan ekor mata karena tubuhnya masih terasa kaku setelah tidak bergerak selama dua minggu. Bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi belum bisa.
"Sayang!" Leela langsung memeluk dan mencium putranya begitu pun dengan Bimo.
"Terima kasih ya Allah, engkau izinkan kami berkumpul kembali," kata Bimo di dalam hati.
"Pelan-pelan, Kak. Apa yang ingin kakak katakan?" Leela mendekatkan telinga ke bibir Andra namun tidak ada kalimat yang bisa di dengar.
"Sudah cukup ya, Pak, Bu. Biarkan pasien istirahat kembali agar pemulihannya lebih cepat," kata perawat dan meminta mereka meninggalkan ruangan tersebut.
Bimo membenarkan kabar baik tersebut. Kemudian meminta anggota keluarga untuk pulang. Merasa kasihan karena mereka harus ikut kurang istirahat saat menawarkan giliran menjaga Andra.
"Kia?" Bimo menatap perempuan itu.
"Aku di sini aja, Ma. Bolehkah papi?" dia bertanya Pada Bimo.
"Kak Andra sudah mulai membaik, Kia. Sekarang kamu bisa beristirahat di rumah. Kamu juga pasti cape, lelah selama dua minggu kurang istirahat hanya untuk membantu kami menjaga Andra. Istirahatlah, dan besok lagi datang kembali."
Kia menurut walaupun enggan. Dia pulang bersama ayah dan ibunya.
Leela pun diminta untuk pulang oleh suaminya.
"Aku di sini aja ya, kasihan dia sendirian kalau kita oada pulang," kata Leela.
"Aku yang akan di sini. Kalau kamu tidak mau pulang, aku oesankan hotel di dekat sini ya biar kamu istirahat di sana."
Bimo memganyad istrinya ke hote agar istirahat di sana. Dia sendiri kembali ke rumah sakit dan menjaga Andra bersama Kean.
"Aku cari makanan dulu ya, Pi. Papi mau titip apa?" tawar Kean.
"Kamu mau beli makanan di mana?" tanya Bimo.
"Kalau sudah malam seperti ini tuh banyak warung gerobak yang buka. Makanannya juga enak loh. Mau coba?"
" ya sudah belikan papi satu>"
"Yakin mau makan makanan dari pinggir jalan?" Heran aja karena yang dia tahu papinya tidak pernah mencoba makanan yang dijual di grobak.
"Bawel kamu kayak anak perempuan."
Kean tertawa karena dikatakan bawel oleh Bimo. Saat dia tengah menunggu pesanan disiapkan seorang perempuan tiba- tiba duduk di sebelah kiri dan langsung merangkul dia. Sepertinya perempuan itu tengah dikejar kekasihnya atau entah apa lah.
"Apaan nih?" tanya Kean yang jelas-jelas bingung karena tidak pernah bertemu dengan perempuan itu.
"Diam aja!" kata perempuan itu.
Memang dasarnya suka iseng, Kean malah meminta perempuan itu masuk ke dalam pelukkannya. Perempun itu menurut apa lagi orang yang mengejar sudah dekat.
"Ayo pulang!" kata pria itu.
"Enggak, aku mau sama dia di sini,. Iyakan, Sayang?" tolak perempuan yang masih berada di pelukan Kean, memberikan cubiatan pada perut Kean sebagai bentuk kode.
"Iya, kita udah janjian kan makan di sini? Aku kangen banget sama kamu." Kean mengiyakan, mumpung ada kesempatan Kean juga memberikan kecuali pada kening perempuan itu.
Pria yang tadi mengejar perempuan itu mendelik lalu meninggalkan mereka. Ketika pria tadi sudha menjauh Kwan langsung di dorong.
"Dasar jamet, Senang kan main peluk-peluk aja. Nyosor lagi."
"Kan kamu yang minta," balas Kean dengan senyum menyebalkan.
__ADS_1
Perempuan itu pergi meninggalkan Kean tanpa mengucapkan kata terima kasih.
***
Pagi-pagi Kia sudah beradad i rumah sakit dengan keadaan yang rapih. Dia tidak sabar untuk berteman Andra. Tak lupa dia memakai kerudung yang pernah dibelikan oleh Andra.
"Cantik," puji Andra ketika Kia masuk dan meletakan tas lalu menghampiri dirinya.
"Kak Andra bilang apa barusan?"
"Kamu siapa?" tanya Andra pura-pura tidak ingat pada perempuan itu.
"Aku tahu kak Andra cuma pura-pura. Tadi juga aku sudah dengar kok kalau kak Andra memuji aku. Jangan kayak gini lagi ya aku takut kehilangan kak Andra."
Emh tadinya mau pura-pura lupa ingatan malah jadi terharu mendengar ucapan Kia. dia ulurkan tangan untuk mengusap pipi perempuan yang sangat dia cintai. "Aku juga takut kehilangan kamu lagi. Kita nikah sekarang ya!"
"Sekarang?" tanya Kia mengerutkan kening.
"Eh, ada Kia. Kapan tiba, Ki?" tanya Leela yang baru datang bersama Bimo. Wajahnya sudah segar dan berbeda dari hari-hari sebelumnya.
"Baru tiba, Mam."
Andra langsung menyampaikan niatnya pada ayah dan ibunya. Kedua orang tua itu saling lirik.
"Papi paham ketakutan dan keinginan kalian. Papi juga pernah muda, tapi untuk nikah sekarang rasanya itu bukan pilihan yang tepat. Kalau memang jodoh seberat apa pun rintangan yang menghadang niat baik kalian, pasti akan ada saja jalan yang mempermudah. Lihat tante Shepa dan om Arga, kamu pasti lupa-lupa ingat pada kisah mereka, rapi pada akhirnya mereka bersatu juga dan awet sampai sekarang. Tunggu sampai kamu sembuh dulu baru kita adakan pernikahan," pungkas Bimo
Artinya Andra dan Kia harus bersabar lagi. Selama masa menunggu, Kia tetap menjenguk Andra sekaligus ikut merawat. Andra yang berbaring tidak sadarkan diri selama dua minggu membuat dia tidak langsung normal seperti sebelumnya. Untuk berdiri sendiri pun harus membutuhkan bantuan dari orang-orang di sekitarnya.
Lalu bagai mana bisa menikah?
***
Kean bertemu lagi dengan perempuan yang kemarin malam tiba-tiba memeluknya. Kwan berdehem dan perempuan itu menoleh.
"Lupa ya masih punya utang loh?" kata Kean dengan gayanya yang khas.
"Utang terima kasih, atau harus aku peluk lagi biar kamu ingat?" Kean menarik turunkan alisnya.
"Mimpi!" kata perempuan itu sambil meninggalkan Kean. Pemuda itu merasa tertantang untuk menaklukan perempuan berwarna jutek tadi. Tunggu saja, Kean yakin bisa menaklukannya. Jarang loh ada perempuan yang menolak dia.
***
Bimo, Leela, Arga, Shepa, Wijaya dan orang tua Arga serta mertuanya duduk bersamal di ruang khusus. Mereka membicarakan inginkan Andra untuk segera menikah.
"Ya mereka bilangnya karena takut ada lagi ujian yang lebih berat dari ini. Makanya aku meminta mama, papa, om dan tante juga untuk ikut bicara di sini," kata Bimo setelah menjelaskan keinginan putranya.
"Kalau aku sih tergantung Shepa, biasanya keputusan seorang ibu untuk seorang anak adalah yang terbaik. Apalagi ketika anaknya memang menginginkan hal itu," kata Arga. Meskipun dia menrima Kia sebagai anak dan tidak pernah membedakan dengan Kai tapi soal keputusan untuk masa depan Kia dia lebih dulu mebyerahkan pada sang istri. Baru dia akan mengoreksi jika memang menurutnya perlu dipertimbangkan lagi.
"Aku sih terserah anaknya ya. Kalai boleh jujur, sebanranya aku ingin Kia melanjutkan pendidikan lebih dulu. Apa kata orang ketika seorang CEO dan calon penerus perusahaan om Wijaya memilki istri yang pendidikannya rendah. Aku tidak ingin Kia merass insecure dikemudian hari." Shepa mengutarakan keinginan serta alasannya dan itu bisa diterima oleh Bimo dan Leela.
"Papa?" Bimo meminta ayahnya untuk berpendapat.
"Kalau mereka sama-sama mau, bikahkan saja. Shepa, kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, aku menjamin kalau Andra tidak akan mempermasalhakn itu dikemudian hari. Kalau sampai perkataanku hati ini meleset dikemudian hari, kamu bebas melakukan aoa yang menurut kamu baik. Tapi aku yakin itu tidak akan terjadi."
"Mama?" Kali ini Tresna yang diminta untuk bersuara.
"Mama setuju sama papa kamu. Bukan apa-apa, yang mama takutkan adalah mereka berbuat khilaf karena kita menghambat rencana baik mereka. Lebih cepat maka itu akan lebih baik agar mereka tidak sampai pada titik yang mama takutkan. Nikahkan saja!"
"Om, tante?" pada kedua orang tua Arga kemudian pada mertuanya.
"Sayang?" Leela menjadi yang terakhir di tanya membuat perempuan itu tertawa.
"Aku setuju mereka dinikahkan."
Hasil dari diskusi para krantus sepakat akan menikahkan Andra dan Kia.
Hari berikutnya anggota keluraga dikumpulkan untuk membahas persiapan pernikahan kecuali Andra dan Kia.
Andi dan adiknya bertugas mencari WO sekalian gedung, Ibunya Arga bagian menyiapkan gaun pengantin, tresna bagian menyiapkan pakaian untuk anggota kakuraga, Leela dan orang tuanya bagian menyiapakan catering. Urusan undangan dan printilan lainnya akan Bimo pegang. Wijaya dan besarnya bagian duduk manis.
__ADS_1
"Papa sama ayah bagian istirahat aja," kata Bimo mengajdirkan tawa ketika Wijaya mendengus. Apalagi saat Arga menyinggung soal kekuatan kaki.
"Jangan salah, walaupun sudah tua seperti ini kita masih kuat nendang kamu, Arga," kata Wijaya.
Kia dan Andra dibere tahu dua hari sbelum hari H ketika perisiapan sudah 89% hampir rampung. Dan hari ini adalah hari yang akan menjadi kenangan manis bagi keduanya.
Mereka terharu ketika Andra dengan pakaian pengantin khas Sunda yang dipilih oleh pihak perempuan begitu terlihat gagah saat dikalungkan bunga melati sebagai tanda ucapan selamat datang.
Rasa gugup terlihat jelas dari senyum yang mendadak kaku ketika sudah dihadapkan dengan penghulu dan juga wali dari Kia yaitu kakeknya.
"Tenang," bisik Bimo.
"Sudah siap?" tanya penghulu pada pengantin, wali dan juga saksi.
Suasana begitu khidmat ketiak Andra mengucapkan kabul dengan satu tarikam nafas. Kia yang dipersiapak di ruangan lain langsung dagdigdug ser ketkika Nada mengucapkan kabul atas dirinya.
"Bagaimana saksi?"
"SAH!" kompak mereka menjawab dan membaut Andra bernafas lega.
Dia tatap perpuan yang tengah di atar menuju ke arahnya. Balutan adat sunda memang begitu cocok dengan Kia yang memilki darah keturunan sunda. Siger sunda dan kembang goyang begitu cantik menghias kepalanya. Walaupun memakai kerudung tetap saja bisa dipakaikan.
Senyum malu-malu dari keduanya ketika saling bersentuhan menjadi guyonan para tamu undangan.
"Cie nanti malam diunboxing dong," goda teman-teman Kia saat pasangan pengantin memamerkan buku nikah untuk mengabadikan momen.
Ucapan selamat datang dari para pengusaha, rekan bisnis, hingga pejabat daerah dan artis papan atas di tanah air. Teman-teman kedua pengantin pun turut serta meramaikan. Hingga pukul lima sore acara baru dinyatakan selesai.
"Cape?" tanya Andra menatap istrinya yang tengah berdiri di depan cermin washtafel setelah melepas riasan.
"Banget, gak mau nikah dua kali, kapok aku," kata Kia mengusapkan sabun pembersih ke wajahnya.
"Memang siapa yang mau? Satu aja belum aku cobain," kekeh Andra raya melepaskan jas dan menyampirkannya di atas bagi sofa.
Mereka saling menatap saat Kia sudah keluar dari kamar mandi. Masih tidak percaya kalau sekarang merka sudah menjadi sepasang suami istri.
Perasaan baru aja kemarin merka saling mengejek saat bermain, kemudian saling mengakui perasaan dan sekarang mereka berada di kamar yang sama dengan status sebagai suami dan istri. Kia mendukung dan menatap cincin berlian uang disematkan olah suaminya sebagai tanda kalau dia sudah ada yang punya.
Andra berdehem, "aku ke kamar mandi dulu ya. Habis maghrib kita ada acara makan malam dengan keluarga dan kerabat dekat."
Katanya mau ke kamar mandi, tapi malah medekati istrinya dan menaikan dagu snah istri hingga tatapan keduanya bertemu pada satu titik.
Benda kenyal nan basah menyentuh bibir Kia untuk berbagi nafas.
"Takut kebablasan," kata Kia sambil mendoroong suaminya untuk ke kamar mandi. Padahal dia malu karena ini untuk pertama kalinya dan masih kaku.
"Wajar kok kebablasan, Gak akan ada yang menggerebek juga." Andra menggoda dengan menarik turunkan alisnya.
"Malu ah." Kia semakin mendorong tubuh suaminya ke kamar mandi dan menutup pintunya. Dia bersandar di pintu sambil memegang dada yang detaknya tak biasa.
Sedangkan Andra yergelak di kamar mandi. Sekarang Kia sangat malu-malu dan kaku, lalu bagai mana saat mereka sudah menyatu. Ah Andra tidak sabar untuk segera menunggu season itu. Sayangnya mereka harus terjeda karena acara makan malam bersama.
"Cie mau diunboxing." Shafia dan Kai menggoda Kia yang tersenyum malu-malu.
"Nanti jangan lupa ceritakan pengalamannya ya," bisik Shafia.
"Aku bilangin sama mami loh."
"Eh jangan, jangan. Aku hanya bercanda kok. Asli."
"Shafia," Leela menegur putrinya. Dia sudah hapal kalau putrinya senang menggoda orang lain. "Mami minta tolong ya."
Kata minta tolong itu hanya pengalihan karena setiap Leela mengatakan kalimat itu tidak ada pekerjaan yang benar-benar harus Shafia kerjakan.
Selesai makan malam Andra dan Kia kembali ke kamar. Sudah saatnya mereka saling mengenal lebih dalam dan menunjukan hal tersembunyi dari masing-masing. Saat memulai pemanasan dengan berbagi nafas, Pintu kamar terdengar diketuk.
Siapa yang mengetuk, anggota keluarganya tidak akan seusil itu menganggu malam yang akan menjadi kenangan manis bagi pengantin.
"Siapa sih?" kata Andra setara berjalan ke adah pintu. Tentu saja dengan wajah kesal karena merasa diganggu.
__ADS_1