Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Menyelidiki Davin


__ADS_3

"Kia?" Semua orang menatap dan menyebut satu orang yang sama.


Apa penglihatan mereka benar? Ini lelucon atau fakta yang sesungguhnya. Orang yang tidak tahu kebenaran tentang Kia sontak begitu terkejut. Dalam hati masing-masing mempertanyakan siapa yang saat itu di kubur.


Shepa lekas turun dan menghampiri anaknya disusul Arga dan yang lain. Mengitari tubuh putrinya untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat. Apa yang Andra katakan waktu itu benar, Kia akhirnya pulang.


"Ini beneran kamu, Nak?" tanya Shepa dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Bagiamana pun dia sangat merindukan pitrinya. "Ini bukan mimpi kan?"


"Mama." Kia langsung memeluk ibunya. Saling menangis dalam lautan syukur yang tidak terkira. Saling meluapkan rindu setelah sekian purnama terpisah.


"Kia," Arga ikut memeluk putrinya. "Kamu pulang, Nak?"


Kia mengangguk diantara dekapan ayah juga ibunya.


"Mami," Kia mengurai dekapan dari ibunya dan beralih memeluk Leela, nenek, kakek juga sepupunya yang ada di sana.


Kai-adiknya sempat menjauh karena berpikir jika yang ada di hadapannya adalah hantu. "Mama." Kai meminta tolong pada ibunya.


"Dia kakakmu sayang. Kak Kia."


"Bukan hantu kan?"


Suasana haru sempat terganti oleh tawa Shafia dan Kean.


Andra yang berada di ruangan berbeda merasa heran mendengar suara ramai dari ruang makan. Dia pun menghampiri hingga langkahnya terhenti kala menatap sosok yang sangat dia rindukan selama ini. Dia ingin memeluk tapi Bimo menahan dan menggelengkan kepala. Seolah mengingatkan, nak kamu sedang dalam masalah.


"Kamu dari mana saja Kia? Kami pikir yang di kubur itu ..."


"Itu bukan Kia, Tante. Bimo dan Andra orang yang paling tahu soal ini," ujar Arga.


Rasa penasaran akan pulangnya Kia membuat mereka melupakan makanan yang masih berada di piring masing-masing. Sekarang mereka sudah berpindah ke ruang keluarga yang lebih besar.


Setelah Bimo menceritakan semuanya baru mereka paham.


"Jadi selama ini kamu ke mana, Kia? Kamu juga pasti mendengar kabar ketika nenek-mu ditangkap dan sekarang sudah ditahan tapi kenapa kamu tidak memilih pulang." tanya Tresna yang tentu saja mewakili rasa penasaran semua orang yang berada di dalam ruangan itu.


"Masalahnya bukan di nenek, melainkan ada di pria itu. Pria yang kata nenek akan dijodohkan denganku."


"Kamu sempat bertemu dia?" tanya Arga.


"Sempat papa, malam itu aku sudah berhasil di bawa oleh mereka. Aku juga dipertemukan dengan pria itu sayangnya dia tidak menunjukan wajah."


"Aku juga sempat berhasil lari dari mereka namun mereka tetap mengejar. Sampai aku berusaha mengelabui dengan menjatuhkan tas ke sungai agar mereka mengira aku hanyut."


"Beruntung aku bertemu Khalisa-"


"Khalisa? Khalisa yang jadi Ob di kantor papi?" Andra memoting ucapan Kia.


"Iya, aku yang meminta dia agar masuk ke perusahaan papi Bim walaupun hanya menjadi Ob. Semua aku-"


"Gila." Andra mengumpat karena kesal dan merasa di permainkan. "Jadi kamu juga yang nulis note dan di tempel ke foto kamu di ruang kerja ku." Andra menatap dengan tatapan tajam. "Iya?"


Kia mengangguk.


"Puas?" tanya Andra bahkan dengan suara yang lantang. "Puas sudah mempermainkan aku, papi, mami, orang tua kamu dan orang-orang di sekeliling kita," benar Andra.


Sungguh diluar dugaan. Tidak ada yang mengira bahwa Andra akan marah dengan apa yang dilakukan Kia. Padahal Kia belum mengatakan semuanya.


"Gara-gara." Andra tidak melanjutkan ucapannya dia pergi dari ruangann itu dengan rasa kecewa. Dia masuk ke ruangan Gym dan memukul samsak untuk melupakan rasa marahnya. Sebenarnya bukan marah pada Kia melainkan pada keadaan.


Ya pada keadaan. Tidak terbayang kalau sampai Andra tidak bisa membuktikan bahwa dia tidak bersalah dan tetap harus menikahi Alisya. Bukan hanya akan menyakiti Kia tapi juga menyakiti dirinya.


Sejujurnya Andra sangat senang akhirnya Kia pulang tapi keadaan seolah ingin tahu seberapa sabar dirinya menghadapi situasi saat ini.


***


Kia menoleh pada ibunya dan menadapat anggukan serta usapan pada punggung tangannya.


"Maafkan dia ya, Ki. Papi nanti akan bicara sama dia," kata Bimo.


"Aku juga yang salah kok, Pi. Ma, aku rindu kamarku, bisa kita pulang?"


"Iya kita akan pulang sayang."


"Tapi kan Kia belum menceritakan semuanya, Tan." Kean mencegah mereka pulang.


"Biarkan Kia bercerita pada kami dulu ya," balas Shepa.

__ADS_1


Mereka pun pamit dan diantar sampai ke mobil oleh Bimo dan istrinya.


Leela memeluk Kia sekali lagi dengan sangat erat. Bahkan air mata tak bisa lagi dia bendung. "Maafkan Kak Andra ya , Sayang." Leela mengurai pelukan dan mengusap puncak kepala keponakannya, serta menghapus air mata di pipi Kia.


"Ga, besok kita akan ke sana," kata Bimo sambil menepuk pundak sahabatnya. "Istirahat ya, besok papi akan berkunjung. Kamu harus menceritakan petualangan kamu sama papi."


Kia mengangguk, sebelum masuk ke dalam mobil dia sempat menoleh ke kamar Andra.


Andra sendiri menyaksikan mobil yang membawa kekasih hatinya keluar dari gerbang rumahnya. Sesakit ini kah ujian mencintai sepupu tanya Andra dalam hati.


Di dalam mobil, pikiran Kia hanya tertuju pada sikap Andra tadi. Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa Andra terlihat begitu marah.


Pertemuan yang harusnya diliputi tangis haru nan penuh rindu tapi malah sebaliknya.


"Kasihan Kak Andra," ucap Kai yang duduk di sebelah Kia dan membuat kakaknya menoleh.


"Jangan sekarang, Kai." Arga berkata dari balik kemudi.


Kia yang tadinya hanya menatap ke kaya jendela kini menoleh. Dia juga ingin tahu apa yang terjadi dengan Andra. Sikapnya sangat jauh berbeda dengan sebelum mereka berpisah lama.


"Kok pada diam. Cerita aja aja."


"Nanti mama cerita di rumah ya," sahut Shepa. Perempuan itu melirik pada suaminya. Arga tahu kalau istrinya pasti tengah dilema antara harus menceritakan atau tidak. Akan tetapi Kia juga wajib tahu. Diraihnya jari sang istri untuk ia genggam dan meyakinkan bahwa keadaan akan baik-baik saja.


Mobil sudah berhenti di depan pintu utama rumah. Kia menatap sekeliling dan semuanya masih sama. Hanya semakin terawat dsn tertata rapih.


"Jadi gak ada yang mau cerita?" tanya Kia karena mama dan papa-nya sama-sama diam saat mereka sudah berada di dalam rumah.


Arga meminta sang anak yang baru pulang untuk duduk di sebelahnya.


"Sayang, banyak hal yang terjadi selama kamu tidak ada. Terutama pada Andra dan puncaknya hari ini. Sebaiknya kamu istirahat dulu ya, biar papa ceritakan ini besok saja."


"Ceritkan sekarang aja, Papa! Kalau nunggu besok mana bisa aku istirahat sedangkan pikiranku tidak tenang."


Arga mengangguk setelah mendapat persetujuan dari istrinya.


"Andra kena razia di sebuah hotel, ..."


"Bersama perempuan?" tebak Kia.


Kia langsung menuduk tak kuat lagi menahan tangis dan langsung di dekap oleh Arga serta Shepa.


"Andra bilang kalau dia tidak ingat apa pun tapi kata papi Bimo hasil visum mengatakan bahwa mereka telah melakukan ... Dan kemungkinannya mereka akan dinikahkan."


"Mama sama papa percaya kalau Andra tidak mungkin melakukan itu. Walaupun kita tidak dapat menyangka ketika nafsu mengalahkan akal sehat," tambah Shepa.


"Bisa jadi dia memang dijebak, Sayang," kata Arga agar Kia masih memiliki harapan.


***


Di tempat lain Hakim tengah mengikuti mobil Alisya. Dia harus mengetahui siapa orang yang akan ditemui oleh perempuan itu dan apa hubungannya. Bisa jadi seperti kata Nada jika ia dijebak.


Sebagai seorang sahabat yang ingin membalas budi kebaikan Andra, Hakim akan ikut andil dalam mencari keadilan untuk Andra.


Mobil Alisya mengarah ke kawasan komplek perumahan elit. Dia tidak ikut masuk dan memilih menepikan mobil di bahu jalan serta memperhatikan gerak-gerik Alisya dari layar yang tersambung dengan alat yang dipasang pada mobil permpuan itu. Hingga layar penampilan seorang pria berusia sekitar 32 tahun menyambut perempuan yang dia ikuti.


"Hai, sayang. Aku begitu terkejut saat melihat berita loh. Berani banget kamu melakukan itu," ujar Davin sambil membawa Alisya masuk.


Hanya itu yang mampu terekam. Hakim pun mengirim pesan pada Andra.


Andra yang tengah terlentang menatap langit-langit kamar langsung menolah ke arah bunyi dari ponsel.


"Davin?"


Sedangkan di dalam rumah Davin, Alisya tengah mempertanyakan semua yang terjadi hari ini.


"Apa ini semua rencanamu, Mas?"


"Yang mana?" Davin pura-pura bingung.


"Semua yang terjadi hari ini. Dimana aku dan Andra bisa tidur di dalam satu kamar yang sama."


Davin tertawa dan bertepuk tangan. "Kamu melakukan itu Alisya? Berani sekali kamu. Hebat-hebat."


"Bukan aku yang melakukan itu, pasti kamu kan? Tidak perlu kamu berpura-pura lagi.Katakan siapa orang yang kamu suruh untuk meniduriku. Karena gak mungkin Andra melakukan itu."


"Penasaran? Sepertinya kamu sangat yakin kalau Andra tidak melakukan itu."

__ADS_1


"Iya, karena jangankan melakukan hal seperti itu, aku berada di jarak satu meter saja darimu dia sudah menatap tidak suka."


Davin tergelak kemudian berpindah posisi duduk, yang tadinya berseberangan kini berdampingan dengan Alisya. Lalu dia mencondongkan tubuh dan menempelkan bibirnya pada bibir perempuan di hadapannya.


"Kamu?" Alisya membelalakan mata tidak percaya. "Bagaimana bisa kamu melakukan itu, Mas. Kita ini kakak dan adik."


"Aku gak peduli itu, tapi kamu juga suka kan?" Davin menyeringai. "Tidak perlu munafik Alisya, kamu juga sangat menginginkan sentuhanku kan."


Alisya diam. Iya dia memang memnginginkan Davin tapi akalnya masih sehat dan mengatakan itu tidak benar. Sekarang apa yang harus dia lakukan. Tidak menunggu menikah dengan Andra karena dirinya menibginkan Davin sebenarnya. Tapi apa kata orang di luar sana. Dia dan Davin memiliki satu ayah yang sama.


***


Setelah kemarin membaca pesan dari Hakim, Andra mulai menggerakan beberapa orang untuk menyelidiki Davin. Mencari tahu siapa Davin dan apa kaitannya dengan Alisya.


Sengaja dia tidak meminta bantuan polisi karena menurutnya mereka harus bekerja dengan SOP dan tentunya pergerkan mereka terbatas.


Dia membayar orang untuk menyusup ke rumah dan pertahankan Davin.


Jam sudah menunjukan angka 06:30 diapun segera trun untuk saroan bersama.


"Hari ini mami sama nenek akan ke rumah tante Shepa, kamu mau ikut, Kak?" Leela bertanya dengan tetap melayani kebutuhan suaminya.


"Enggak dulu, Mam. Kia juga pasti tersinggung dengan perkataan kemarin."


"Justru itu kamu harus meminta maaf." Bimo ikut bicara.


"Tolong jangan terlalu banyak mendikte, Pi. Biarkan aku menyelasiakan masalahku sendiri," balas Andra dengan tetap fokus pada makanan di atas piring.


Wijaya mengangguk pada Bimo untuk membiarkan Andra menyelesaikan masalahnya sendiri. Bukan tidak akan membantu tapi sebagai orang tua dia harus memberikan kepercayaan penuh pada putranya. Mereka akan memantau dengam cara halus tentunya.


"Hari ini Andra gak ke kantorkan?" tanya Tresna.


"Enggak, Nek. Aku harus menyelesaikan masalah yang ada lebih dulu, benarkan Pi?"


"Iya, biar perushaan papi yang ambil alih untuk sementara."


"Tunjukan pada kami kalau kamu mampu Andra. Kamu adalah cucu pertama yang kami andalkan. Kakek percaya kamu mampu," kata Wijaya. "Kean kamu tidak ingin cerita bagiaman kamu bisa membawa Kia pulang."


"Emm emang harus ya? Aku pikir kalian tidak ada yang ingin tahu," ujar Kean.


Kean pun menceritakan berasa dari dia masuk kamar Andra dan meliha pesan berisi foto perempuan yang mengenakan pakaian tertutup berwarna hitam. Dia teringat pada foto dirinya bersama teman-temannya di mana di belakangnya ada foto perempuan yang sama persis dengan yang ada di layar laptop kakaknya.


Kesekolah harinya dia kembali ke tempat di mana dia pernah melihat perempuan itu. Karena dia yakin tidak mungkin Andra menyimpan foto perempuan jika tidak ada kaitannya.


Benar saja saat sore hari dia melihat mobil kakaknya berhenti di depan gang itu.


"Ikuti Kak Andra," perintah Kean lada salah satu temanya. Beruntung karena dia memiliki banyak teman yang tidak dikenali semua oleh kakaknya.


"Dia mencari perempuan yang bernama Kia," lapor temannya setelah beberapa saat.


"Kia? Bukankah kia sudah ... Ah, apa sebenarnya yang dikubur itu bukan Kia dan Kak Andra mengetahui itu," gumam Kean.


Sekarang dia paham. Setelah itu meminta teman-rencananya yang tidak sedikit untuk menyebar. Mencari perempuan yang ada di foto itu.


Sampai akhirnya dia menemukan Kia tengah mengantar anaknya Khalisa jajan.


"Begitu ceritanya," ujar Kwan menutup cerita panjangnya dalam menemukan Kia.


"Kak Kean hebat, gak sia-sia jadi berandalan ternyata berguna juga," ucap Shafia.


Sebuah notifikasi terdengar dari ponsel Andra. Sontak semua menatap penasaran. Apalgi saat Andra langsung meneguk habis air minum dan mengatakan dia sudah selesai.


Gegas Andra memacu mobil mobil menuju suatu tempat.


"Sudah percaya saja, dia bukan anak SMA lagi pati dia juga tahu apa yang harus dia lakukan," ujar Wijaya.


Selesai makan, Leela membantu mamakaikan jas pada sang suami.


"Menurut Kamu Andra yakin melakukan itu pada Alisya?" tanya Bimo.


"Enggak. Justru aku lebih percaya pada Andra, dan sekarusnya kamu membantu dia Mas. Bukan menyudukan atau memaksa Andra menikahi Alisya."


Bimo terdiam mendengar ucaoan snah istri. Benar, bahkan Leela saja yang notabene-nya hanya ibu tiri percaya pada putranya lalu kenapa dirinya malah meragukan putra sendiri.


Salah memang bukan harus dibenarkan maliankan diperbaiki. Seahrunya dia memang mencari tahu kebenarannya lebih dulu.


Ponsel di saku celana membuyarkan diamnya Bimo. Dia segera merogoh ponsel tersebut yang menampilkan nama Rian-ayah Alisya.

__ADS_1


__ADS_2