Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Andra


__ADS_3

Awan mendung, riuh tangis, dan lantunan doa mengiringi perjalanan proses pemakaman. Andra, Bimo, Andi, dan Arga ikut turun ke dalam liang lahat untuk menerima jenazah.


Tanah merah mulai turun dan menjadi segundukan tanah. Taburan bunga menjadi penghias di atasnya. Satu persatu para pengantar mulai berkurang menyisakan keluarga inti.


Arga tetap berdiri di samping sang istri, berusaha tegar agar bisa menjadi penopang sang istri kala ia rapuh.


"Kita pulang ya." Andra membangunkan tubuh sang istri yang bersimpuh.


"Andra." Leela menyentuh pundak sang anak yang menundukan kepala. "Jangan diratapi karena itu akan memberatkan langkah Kia. Dia tidak butuh diratapi, dia butuh kasih sayang kita melalui kiriman doa."


"Mami pulang duluan aja, aku akan segera menyusul."


Leela menoleh pasa suaminya yang mengangguk. Mereka pulang dan membiarkan Andra sesuai dengan keinginannya.


Andra bangkit dari makam yang dianggap makam Kia. Dia menghampiri makam yang selalu dikunjungi Kia. Mengucapkan salam kemudian duduk berjongkok dan berdoa.


"Om, aku gagal menjaga Kia. Sampaikan salam rinduku padanya jika dia menemui, Om."


Setelah berdoa di makam Wiji barulah Andra pulang. Dua pesepeda motor terlihat mengikuti dirinya. Sudah Andra duga. Diinjaknya pedal gas sehingga mobil melaju cepat.


"Kejar! Dia menyadari kita mengikutinya," teriak salah salah satu penumpang motor.


Aksi kejar-kejaran antara motor dan mobil Andra terjadi. Namun Andra tetap tenang dengan mengijak pedal gas terus. Beruntung jalanan di sana tidak seramai jalan utama.


Saat menemukan lahan yang tidak terlalu sepi Andra menginjak rem mendadak. Alhasil motor yang tadi melaju kencang berhenti dan menabrak mobilnya. Empat penumpang motor langsung terpental.


Andra turun dan menggulung lengan kemeja. Menarik salah satu dari mereka yang paling dekat dengan dirinya. "Siapa kalian?"


"Izroil yang akan menjemputmu untuk menemui kekasihmu."


Satu pukulan berhasil Andra tangkis. Mau tidak mau Andra harus melawan empat orang tersebut. Beberapa kali dia terkena pukulan namun tak membuatnya tumbang. Dia masih bisa melawan dan berusaha menumbangkan mereka.


Beruntung ada seorang ibu-ibu yang tengah momong anak dan melihat kejadian itu. Ibu itu segera mrminta pertolongan pada suami dan tetangganya.


Ke empat orang-orang menyerang Andra berhasil ditumbangkan dan di bawa ke kantor polisi untuk diintrogasi. Pihak kepolisian melakukan tugasnya dalam pengembangan kasus Kia. Bukan lagi fokus pada pencarian melainkan pada penyebab dan siapa saja yang terlibat.


Andra sendiri langsung pulang setelah memberikan keterangan pada pihak kepolosian. Tidak langsung ke rumah Arga melainkan ke rumah Bimo.


Beberapa poto dirinya beserta Kia dan yang lain seolah menertawakan kesedihan Andra. Padahal dia tahu kalau yang disampaikan oleh dokter bukan fakta yang sebenarnya.


"Kasih aku tanda-tanda keberadaan kamu, Ki. Aku akan menjemput kamu dan kita akan berlayar bersama. Mengudara bersama dari satu landasan awal."


Dia merogoh ponsel di dalam saku dan membuka mobile bangking. Mengecek data pengambilan dari kartu ATM yang diberikan pada Kia.

__ADS_1


Kemarin malam Andra tidak langsung tidur. Dia berbincang dengan Kean tentang hilangnya Kia. Saat Kean menyebut tentang tas yang berisi dompet dan buku milik Kia membuat Andra penasaran.


"Sekarang tas itu di mana?"


"Tadi sih di bawa om Arga ke kamar Kia. Kenapa emang?"


"Enggak papa. Ya sudah istirahat gih," ujar Andra. Padahal dirinya lah yang harus istirahat.


Melihat Arga yang keluar dari kamar Kia, Andra segera menghampirinya. Tentu saja Arga kaget karena tidak mengetahui kedatangan Andra.


"Kamu pulang?"


"Iya, Om. Gak nyaman juga di sana sendirian. Apa sudah ada kabar dari dokter?" Andra berbasa-basi.


Arga menggelengkan kepala dan menarik nafas dalam. "Memangnya kamu belum bicara dengan papi kamu?"


"Sudah, Om, tapi memang belum tanya-tanya. Aku yakin Om dan Tante pasti kuat menghadapi musibah ini."


"Maunya memang begitu, tapi ... ya begini." Arga menghela nafas panjang dan menbuangnya secara kasar.


"Aku boleh melihat keadaan Tante Shepa, Om?"


"Dia baru saja tidur. Tolong jangan sampai dibangunkan ya."


Benar apa yang Andra pikirkan. Dia tidak menemukan kartu ATM yang diberikan kepada Kia. KTP Kia juga tidak ada. Bukankah sekarang Kia sudah kelas 12 sudah pasti dia memiliki kartu idetitas selain kartu pelajar.


Lukisan senyum penuh harap terbit di bibir Andra. Kia benar-benar cerdik, pujinya dalam hati.


***


Setelah acara doa bersama selesai dan para tamu sudah pada pulang, Bimo mengajak Arga, Shepa, Leela dan juga istrinya termasuk Andra untuk bicara.


Mereka berkumpul di satu ruangan yang jarang di datangi orang lain selain untuk dibersihkan.


"Aku sengaja hanya meminta kalian untuk bicara di sini. Ada hala penting yang harus aku sampaikan pada kalian mengenai Kia. Aku harap percakapan ini tidak bocor kepada siapa pun demi keamanan Kia sendiri."


"Apa maksudnya, Bim?" tanya Arga yang bersandar.


Leela dan Shepa saling lirik sedangkan Andra paham apa yang akan di sampaikan oleh ayahnya.


Bimo mengeluarkan sebuah amplop dari saku pakiannya.


"Ini adalah hasil autopsi yang sebenarnya." Bimo menyerahkan amplop tersebut pada Arga.

__ADS_1


Shepa dan Leela yang penasaran mendekat ke arah Arga. Mereka saling lempar tatap setelah membaca isi amplop tersebut.


"Aku sengaja meminta dokter memanifulasi hasil autopsi tersebut. Jasad yang kita kubur bukanlah jasad Kia," lanjut Bimo.


"Tapi kenapa? Bukankah seharusnya kita mengetahui hasil yang sebenarnya, Mas?" tanya Leela menatap bergantian pada Andra yang tidak terkejut juga pada suaminya.


"Ini ide Andra."


Sekarang semua perhatian tertuju pada Andra. Mereka menatap dan meminta penjelasan.


"Kemarin saat aku datang, aku melihat ada beberapa orang yang seperti mengawasi rumah ini. Tadi pagi, saat kita berangkat ke rumah sakit kita diikuti. Aku yakin mereka adalah orang-orang yang terlibat atas hilangnya Kia. Om dan Tante tahu kenapa tadi aku menolak pulang bersama dari pemakaman?" Arga dan Shepa menggelengkan kepala. "Itu karena aku yakin mereka akan mengikuti orang yang dirasa perlu diawasi. Salah satunya aku karena selama ini aku paling dekat dengan Kia. Dua motor itu menyerang aku tadi, beruntung ada warga yang membantu."


"Diserang?" Leela menutup mulut.


"Iya, Mam, tapi mereka sudah diamankan sekarang. Sayangnya mereka belum bukan mulut siapa yang memberi perintah." Andra berdecak.


"Tidak salah lagi, itu pasti neneknya." Arga mengepalkan tangan.


"Bisa jadi, Om, tapi kita juga perlu bukti bukan? Makanya aku meminta papi memanifulasi kematian Kia."


"Terus sekarang Kia di mana?" tanya Shepa. Perempuan itu seperti kembali mendapat asupan semangat. Wajahnya kembali berseri meski masih terlihat pucat.


"Aku juga belum tahu tapi aku yakin dia masih hidup. Kita akan mencarinya dalam keheningan seperti ide Andra. Sekalian kita mencari bukti keterlibatan neneknya."


"Tapi itu tidak akan mudah," kata Arga, "bagaimana dia akan bertahan hidup di luar sana. Sedangakan fasilitas keuangannya ada di dalam tas yang hanyut."


"Kia itu cerdik, Om. Dia melemparkan tasnya ke sungai tapi mengambil lebih dulu apa yang dia perlukan."


"Maksud kamu," tanya Bimo.


"Apa, Om, menemukan KTP Kia di dalam tas? Simcard di dalam ponselnya juga tidak terpasang." Sengaja Andra tidak memeritahu soal kartu ATM.


"Benarkah begitu? Atau kamu hanya ingin membesarkan hati kami."


"Enggak, Om, aku tidak sedang membesarkan hati Om dan Tante. Tapi aku yakin itu yang dilakukan Kia."


.


.


.


Satu kata untuk Andra reader!

__ADS_1


__ADS_2