Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Notifikasi


__ADS_3

Andra langsung menghubungi staf HRD meminta Ob yang bernama Khalisa itu datang ke ruangannya.


"Kamu yang menulis ini?" tanya Andra dengan sorot mata yang tajam.


"Bukan, Pak. Kertas itu memang sudah ada sejak saya masuk untuk membersihkan ruangan ini."


Andra mengibaskan tanganmu agar ob tersebut pergi. Kemudian dia menghubungi staf le gawa cctv untuk memerlukan siapa saja yang masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Tak lama petugas pengawas cctv datang membawa rekaman video. Terlihat di sana ada seorang perempuan yang memakai pakaian serba hitam masuk. Wajahmu tidak tertangkap karena sepertinya perempuan itu sudah hapal letak cctv sehingga dia tidak menampakan wajahnya. Namun setelah keluar dari ruangan kerja Andra perempuan itu tidak tertangkap kamera pengawas mana pun.


"Apa di sini ada karyawan yang memakai pakaian tertutup seperti itu?" tanya Andra pada petugas pengawas cctv.


"Kurang tahu, Pak. Baru kali ini saya juga melihatnya."


"Cari tahu dan bawa orang itu ke hadapanku!" tekan Andra. Dia geram jika sampai ada yang mempermainkan dirinya.


"Ada masalah, Ndra?" tanya Bimo yang mengunjungi ruangan Andra dan melihat petugas cctv keluar dari sana.


"Ada yang menulis ini dan menempelkannya di foto Kia." Andra mengengkat notes tadi.


Bimo membaca isi note tersebut sambil mengerutkan kening. "Enggak mungkin itu Kia."


Ketukan pada pintu membuat ayah dan anak itu menoleh.


"Maaf, saya diminta mengantarakan dokumen ini pada Pak Andra," ujar Alisya seraya menganggukan kepala.


Andra menerima dan mengucapkan terima kasih. Akan tetapi bagi Alisya, Andra tetaplah pria sombong yang pelit senyum meskipun sudah mengucapkan terima kasih.


Aku pastikan kamu akan memohon cinta padaku, Andra Aditya.


Dia pun kembali ke ruangan kerjanya dan mengetikan sesuatu pada seseorang. Kemudian menyungginglan senyum misteri.


***


Leela membawa Leo untuk menjenguk Shepa. Dia selalu menyempatkan berkunjung dua hari sekali mengingat kondisi adiknya tidak seperti dulu lagi.


"Mama, Sye." Leo berlari ke arah Shepa yang menyambut kedatangan mereka di depan pintu.


"Uh, sayangnya mama." Shepa mengangkag Leo ke dalam gendongannya, "masuk, Kak."

__ADS_1


"Leo, turun! Kasihan mama She, Sayang."


"No." Bocah berusia dua setengah tahun itu menggerkaan jari telunjuknya. Mungil dan menggemaskan.


Shepa sendiri tidak keberatan sama sekali. Dengan adanya Leo sedikit mengobati rasa rindunya pada Kia. "Gak papa, Kak."


"Sudah makan, She? Jangan sampai dzolim loh pada diri sendiri."


"sudah, Kak.Gak perlu khawatir tapi ya namanya ibu merindukan anaknya ya seperti ini. Sekarang dia sedang apa? Sudah makan atau belum? Kehidupannya baik-baik saja atau tidak. Kalimat-kalimat seperti itu terus bercokol di benak, Kak."


Leela mengusap dan menggenggam tangan sang adik. Dia mengerti perasaan adiknya tapi dia pun tidak bisa melakukan banyak hal selain berdoa.


"Doakan selalu ya, semoga Allah menjagakan dia untuk kita. Habis ini kakak ada acara di kafenya suami kamu. Mau ikut gak?"


Shepa menghela nafas panjang kemudian mengangguk setuju. Sejak hilangnya Kia dia hampir tidak pernah keluar dari rumah.


Suasana hangat begitu terasa di Kafe milik Arga. Beberapa teman seperjuangan Leela ada yang masih di sana dan menyapa nyonya Arga juga dirinya.


Namun seorang pelayan menyita perhatian kakak beradik itu.


"Kamu berpikir yang sama dengan aku, Kak?"


Mereka pun sama-sama berdiri dan hendak mengejar namun seseorang yang memanggil Leela membuat langkah mereka terhenti.


"Revi?"


"Ah aku pikir kamu lupa sama aku," ujar Revina seraya memeluk sahabat lama yang baru bertemu kembali.


Shepa yang merasa canggung harus bertemu dengan mantan kekasih suaminya memilih kembali ke dalam.


"Shepa masih kayak gitu ya?" ujar Revina.


"Kondisinya masih kurang baik pasca kehilangan Kia."


"Ah iya aku lupa berita itu. Pasti nyesek banget ya."


"Rev, ngobrol di dalam yuk. Sekalian biar akrab sama Shepa."


"Enggak dulu deh. Masih ada urusan, salam aja sama Shepa."

__ADS_1


Sebelum pergi Revina menatap ke arah Shepa yang memang duduk di dekat kaca. Mereka saling tatap dan berusaha melempar senyum.


***


Andra yang tengah fokus pada pekerjaan diberi tahu bahwa ia kedatangan tamu yang tak lain adalah Davin. Kedua pria itu sama-sama tersenyum, saling berjabat tangan kemudian dipersilahkan duduk oleh Andra.


"Suatu keberuntungan bagi saya bisa bertemu dengan anda, Pak Andra, walaupun seblumnya belum sempat membuat janji," ujar Davin.


Andra menanggapi dengan tertawa pelan. Sekarang sepertinya akan mulai banyak yang mendekatinya karena ada kepentingan pribadi dalam urusan bisnis.


Davin pun memulai penawaran bisnis pada Andra. Sesekali ia menyapu ruangan tersebut hingga atensinya jatuh pada foto Kia bersama Andra.


"Luar biasa." Davin bertepuk tangan untuk memberi apresiasi pada cara Andra dalam menghadapi ajakan kerja sama darinya.


"Pujian anda terlalu berlebihan, Pak Davin, pastinya jauh lebih hebat."


"Tentu aku lebih hebat. Akan kubuat kamu hancur. Salah sendiri ibumu telah menyakiti ibuku," ujar Davin dalam hati.


"Kalau saya hebat tentu perusahaan saya akan sejajar dengan perusahaan anda, Pa Andra. Nyatanya posisi kita beda jauh," kekeh Davin. "Itu foto kekasih anda?" Davin menunujuk foto di atas meja.


Andra mengangguk tersenyum.


"Wow berati sebentar lagi akan ada pesta di rumah Pak Bimo. Apa saya akan menjadi salah satu rekan bisnis yang bisa menghadiri pesta tersebut?"


"Tentu."


Andra mengabtarkam Davin sampai ke depan lift setelah obrolan mereka usai. Tak sengaja mereka berpapasan dengan Alisya dan Andra melihat perempuan itu seperti memberi kode pada laki-laki di sampingnya. Saat fokus Andra kasih pada kedua orang tersebut ponsel di saku celananya berbunyi.


Ada notifikasi penarikan dari kartu ATM yang diberikan pada Kia.


Dia pun bergegas kembali ke ruangan setelah memastikan Davin masuk ke dalam lift. Segera dia menghubungi pihak bank untuk mencari tahu dari ATM mana uangnya di tarik. Gelisah bercampur senang menghampiri. Terasa diminta menunggu selama satu tahun saat dia harus menunggu informasi dari pihak bank.


"Kia," desinya penuh rindu.


Lima belas menit berlalu kini Andra sudah berada di ruangan pengawasan kamera cctv. Dia memperhatikan layar tang tengah menempilkan keadaan di sekitar ATM sebelum terjadi penarikan.


Tak lama layar menmpilkan seseorang dengan pakaian serba tertutup. Andra menggeram kesal karena orang yang ada melakukan penarikan tidak memperhatikan wajahnya.


"Cek semua CCTV di jalur itu," ujar salah seorang komandan kepolisian yang mendampingi Andra.

__ADS_1


__ADS_2