Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Trik Andra untuk menakulak Kia


__ADS_3

Sesuai agenda, Bimo mengajak Andra ditemani dua orang asisten tengah menuju kampus-kampus yang direkomendasikan oleh teman-temannya.


"Ini Andra?" tanya salah seorang teman Bimo yang akan menunjukan beberapa kampus yang ia ketahui.


Andra mengangguk dan tersenyum.


"Gak kerasa ya sudah mau S2. Terkahir bertemu itu kalau gak salah ...."


"Saat ibunya meninggal." Bimo mengingatkan pertemuan terakhir mereka.


"Ah iya waktu itu masih kecil banget ya, sekarang sudah tumbuh jadi pria tampan. Hey apa kamu mau jadi menantuku. Aku memiliki anak perempuan yang tidak kalah cantik."


Perkataan teman Bimo menghadirkan tawa diantara mereka tak terkecuali Andra. Meskipun begitu Andra menanggapinya dengan santai, hatinya hanya untuk orang yang ada di Indonesia. Ia harus memiliki stok sabar, sebagai karena Kia masih kelas satu SMA, dia juga pasti akan mendapat pertanyaan kapan nikah atau tawaran seperti tadi.


Seiring perjalanan yang mereka lalui, Andra selalu menyempatkan untuk mengabadikan pemandangan yang terlihat. Rencananya foto-foto itu akan ia tunjukan pada Kia nanti. Siapa tahu bisa jadi pilihan saat mereka berbulan madu nanti. Eh Kia kan masih sekolah. Ya ampun Andra kok mikirnya sudah begitu jauh.


Andra juga berpose di setiap kampus yang mereka datangi.


"Mi cocok gak kalau di sini?" Andra negrimkan foto itu pada Leela yang tengah jalan-jalan bersama ketiga adiknya.


Leela: Di mana itu?


Andra: Zuerich.


Leela: Gak kejauhan emang, Kak?


Andra: Maunya di Indo aja, Mam.


Leela membalas pesan terkahir dengan emoticon tertawa.


"Jadi ... kamu akan mengambil kampus yang mana. Universitas of Bern, Zenewa or Zuerich?" tanya Bimo saat mereka menuju perjalanan pulang.


"Indonesia aja deh." Andra memang selalu memiliki jawaban yang bertentangan dengan pilihan ayahnya. Namun ujung-ujungnya dia tetap mengikuti pilihan sang ayah.


"Kalau begitu hadapi saja kakekmu," balas Bimo yang malas meladeni ucapan putranya. Dia tahu Andra hanya bercanda. Sudah pasti Andra akan malas berhadapan dengan Wijaya.


"Mending ngadepin papi dari pada ngadepin kakek," kekeh Andra, "papi masih bisa dilobi lah kakek? Kalau sudah A ya A gak bisa jadi Z."

__ADS_1


Sebenarnya tiga kampus yang disebutkan oleh Bimo belum dikunjungi semua. Hari ini hanya mengunjungi beberapa kampus yang ada di kota Bern.


Sedangkan Leela bersama anak-anak mengunjungi tempat-tempat wisata yang masih berada di kota Bern. Dia belum berani ngajak anak-anak ke tempat yang jauh meskipun ada beberapa asisten yang menemani mereka. Jalan-jalan ke tempat yang jauhnya nanti saja kalau Bimo dan Andra urusannya sudah selesai.


Hari ke dua dan ke tiga masih digunakan untuk mengunjungi kampus-kampus terbaik yang akan dipilih oleh Andra.


Hari ke empat mereka jalan-jalan bersama. Mengunjungi taman mawar, kota tua Bern yang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO, mengunjungi museum Einstein dan masih banyak lagi


Hari ke lima hanya anak-anak yang pergi jalan-jalan ditemani oleh beberapa asisten. Sedangakan Bimo memilih mengurung istrinya di dalam kamar. Melanjutkan agenda membuat adik untuk Leo. Masih ingat kata-kata Bimo? Tidak adil kalau Leo tidak punya adik seperti kakak-kakaknya.


"Aku tidak mau di demo oleh Leo saat aku semakin tua. Jadi untuk berjaga-jaga aku ingin memberinya adik sekarang."


"Alasan, bilang aja mas gak mau aku lebih banyak waktu sama anak-anak."


"Di Indonesia kan kamu lebih sering sama anak-anak. Jadi sekarang waktunya enak-enak."


***


Andra mengirimkan beberapa foto liburannya pada Kia.


Beberapa foto kebersamaan Kia dengan keluarganya termasuk orang tua Arga dan adik-adiknya. Meskipun bukan liburan mewah ke luar negeri. Arga mengajak keluarga besarnya liburan di salah satu pulau yang terkenal memiliki pemandangan pantai yang indah.


Beberpaa foto Kia tengah menyelam pun ada.


Andra: Cantik.


Kia: Oh ia dong anaknya mama Shepa memang cantik-cantik.


Andra: Bukan kamu, tapi pemandangan bawah lautnya.


Tadi siang, sewaktu Andra menemani adik-adiknya jalan-jalan, ia sharing tentang permasalahan perempuan bersama Kean. Kean meskipun masih duduk di bangku kelas dua SMA, tapi entah sudah berapa gadis yang dijadikan pacar lalu diputuskan. Sebenarnya dia hanya ingin bermain-main saja karena para perempuan selalu mengejarnya. Bukannya kapok tapi para perempuan malah tertantang untuk menaklukan Kean yang memiliki julukan si penakluk wanita.


Jadi jangan salahkan Kean kalau ia lebih paham cara menarik perhatian perempuan ketimbang kakaknya. Tampan, pintar tapi payah begitu julukan yang berikan Kean pada kakaknya.


Hal itu sekarang dipraktekan oleh Andra. Memang belum berhasil tapi ini baru trik pertama. Masih ada trik-trik lain yang akan dia gunakan.


Di tempat yang terbenatang jarak oleh daratan dan lautan Kia memberengut saat membaca balasan pesan dari Andra.

__ADS_1


"Ki?" Terdengar suara Andi adiknya-Arga memanggil namanya. "Ngapain duduk di sini sendirian. Nanti ada yang nemenin loh."


"Ada, kan om yang nemenin."


"Maksud om itu si tante yang pakai baju putih rambut ke depan, terus kakinya gak menapaki tanah."


"Husssh ngasal ya ucapannya."


"Lagian orang pada kumpul di sana, kamu di sini sendirian. Gabung gih!" Andi menatap penuh selidik kemudian tersenyum setelah menemukan apa yang dipikirkan. "Anak muda, anak muda," kata Andi sambil menjauh dari Kia-keponakannya.


Sepuluh hari jatah liburan keluarga Bimo sudah habis. Sekarang waktunya mereka kembali ke tanah air. Beberapa koper berisi oleh-oleh sudah disiapkan. Di saat adik-adiknya protes masih ingin liburan Andra malah semangat untuk pulang. Tidak lupa dia telah menyiapkan oleh-oleh untuk Kia.


Dia sudah membayangkan wajah senang Kia yang akan memeluk dirinya.


Sayangnya itu tidak terjadi. Saat mereka tiba di rumah, keluarga Arga yang juga baru pulang liburan sehari sebelumnya sudah menunggu di rumah Bimo.


Shepa, Ibunya dan juga Tresna sudah menyiapkan makanan sambutan untuk yang baru pulang dari Swiss.


"Sudah ketemu kampus yang tepat?" tanya Shepa saat Andra menyalami dirinya.


"Sudah, Tan. Tinggal urus-urus administrasi dan lain-lain." Andra menoleh pada Kia yang duduk di samping Shepa tapi tidak menyapa dirinya.


"Jangan lupa, carikan tante menantu yang bule."


"Yang lokal aja, Tan, biar lebih mudah," kekeh Andra sambil duduk di dekat Shepa. Dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada Kia.


Andra: Sudah tidak mengantar keberangkatan sekarang pulang juga tidak disambut.


Tentu pesen tersebut langsung terbaca karena Kia tengah bermain ponsel.


Kia: Enggak penting. Kan bukan tamu kehormatan.


Kia tidak bereskpresi apa pun saat mengirim pesan tersebut.


Sepertinya Andra harus bertanya cara yang kedua pada Kean nanti. Enak saja Andra yang harus takluk pada perempuan. Sekarang saatnya Andra membuat perempuan takluk pada dirinya.


Tunggu saja Kia. Andra menyeringai dia pun pamit untuk istirahat. Masih sempat ia melirik Kia menggunakan ujung mata. Perempuan itu mendelik pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2