Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Dijodohkan?


__ADS_3

Kembali dia harus menunggu, memaksa rasa sabar agar tetap dalam dada. Oh Kia tidak tahukah kamu bahwa semua keluargamu sangat berharap kamu pulang.


Andra kembali ke kantor. Pukul 15.00 dia harus menemui rekan bisnis pertama yang dia tangani. Kembali dia menyerahkan pencarian pada pihak kepolisian.


"Semua berkas yang dibutuhkan sudah siap?" tanya Andra pada sekertaris ayahnya. Ya dia belum memiliki sekertaris baru sebab dia masih membutuhkan bimbingan dari senior.


"Sudah, semua yang anda butuhkan sudah ada di dalam sini, Pak. Sepuluh menit lagi kita akan berangkat." Sekertarisnya mengingatkan.


Ada debar cemas di dalam dada ketika Andra sudah berhadalan dengan calon rekan bisnisnya. Setelah berbasa badi dia mulai melakukan penjelasan atas sistem kerja yang akan dilakukan untuk menyelesaikan proyek yang ditawarkan oleh mereka.


Lugas, jelas dan dapat dimengerti, itulah tanggapan mereka pada cara Andra. Hingga sebuah kesepakatan akhirnya terjadi.


"Anak muda yang luar biasa," puji salah satu dari mereka setelah mereka mencapai deal.


"Persis ayahnya," kata yang satunya lagi.


"Anda terlalu memuji. Saya sendiri merasa harus masih banyak belajar untuk hal ini."


"Tapi modal anda sudah sangat luar biasa. Saya yakin dua atau tiga tahun ke depan perusahaan akan semakin berkembang. Hebat, hebat." Tepuk tangan Andra dapatkan dari mereka sebagai bentuk apresiasi.


Tidak ingin besar kepala dengan pujian. Ingat nyamuk mati karena tepukan tangan. Andra dan sekertatisnya pun pamit.


"Baiklah untuk kontrak kerja sama akan dikirim tiga hati lagi ke perusahaan anda. Maaf karena saya harus kembali ke kantor," ujar Andra sambil berdiri dan menjabat tangan mereka.


Salah satu dari mereka mengejar Andra yang memiliki tujuan pribadi.


"Ya?" Andra menghentikan langkah dan meminta sekertarisnya masuk mobil lebih dulu.


"Pak Andra, saya mengundang anda untuk makan malam di rumah. Saya ingin mengenalkan putri saya pada anda."


Andra tertawa pelan, kemudian tersenyum paham maksud dari orang yang ada di hadapannya.


"Lihat keadaan dulu ya, Pak. Insyaallah saya akan menyempatkan untuk datang. Kita atur saja waktunya." Dia pun pamit dan kembali ke kantor.


Andra menatap heran pada sekertarisnya yang terus tersenyum. Seolah ada hal lucu di antara mereka.


"Ada hal yang lucu kah dari saya?" tanya Andra sambil menatap heran.


"Lucu aja ketika sebagian para pebisnis masih berpikir menawarkan anak gadisnya demi perkembangan perusahaan. Menurut anda apa hal itu wajar, Pak?"


Andra baru ikut terkekeh setelah menyadari arah pembicaraan orang di sampingnya.


"Mungkin bagi mereka wajar tapi saya sendiri sepertinya tidak. Memang untuk tujuan baik, tapi belum tentu juga. Mengingat ini jatuhnya seperti pernikahan bisnis ya. Belum tentu juga akan berujung bahagia. Saya sih.no"


"Saya setuju dengan pemikiran anda."


Kembali ke kantor bukan untuk melanjutkan pekerjaan tapi untuk mengambil barang yang tertinggal. Andra dan sekertarisnya berpisah di parkiran mobil dan pulang ke rumah masing-masing.


"Pak, apa anda butuh asisten pribadi?" tanya sekertarisnya melihat Andra yang kerepotan.


Andra terkekeh, "Saya belum sekaya itu untuk menggunakan jasa asisten. Sepetrinya saya sendiri pun masih sanggup."


"Tapi ke depannya tentu anda akan lebih sibuk."


"Kita lihat nanti saja." Andra pun masuk ke dalam mobil dan bersiap pulang.


***


"Mas tadi di kafe Arga aku merasa melihat Kia," kata Leela sambil membantu suaminya melepaskan jas.


"Kia?" Bimo menoleh ke belakang.


"Iya, tapi gak mirip sih wajahnya hanya saja aku merasa itu adalah Kia. Shepa juga merasakan hal yang sama, tapi saat dikejar kita kehilangan jejak dia."


Leela meletakan pakaian kotor ke dalam keranjang. Kemudian menyiapkan air hangat untuk suaminya. Berendam menjadi kebiasaan Bimo setelah menyadari tubuhnya sering merasa lelah sepulang dari bekerja. Yang lebih menyenangkan lagi saarmt berendam karena ditemani sang istri.


Waktu senja, di usia yang hampir senja tak mendinginkan gelora asmara bagi keduanya. Semangat berenang menuju lautan hasrat tak pernah surut, mengabaikan Leo yang sejak tadi berdiri dan mengetuk pintu kamar.

__ADS_1


Anak itu lepas dari pengawasan suster yang sedang menyiapkan cemilan sore untuknya. Andra yang hendak ke kamar melihat adiknya di sana.


"Leo, Leo ngapain di sini?" Andra berjongkok mensejajarkan posisi dengan adiknya.


"Mi, na ada." Anak kecil itu memainkan tangan sambil menudduk. Saat mengangkat wajah, Andra dapat melihat mata adik yang berkaca-kaca.


"Main sama kakak aja yuk, nanti kita cari mami." Andra pun menggendong adiknya dan membawanya ke dalam kamar.


Saat Leela dan Bimo ke luar kamar, mereka mendapati susternya Leo yang nampak panik.


"Ada apa, Sus?" tanya Leela.


"Den Leo, Bu. Tadi saya sedang mengambil cemilannya tapi saat saya kembali dia sudah gak ada."


"Gimana sih kamu," ujar Bimo dengan nada yang membuat suster takut. Mereka bertiga pun berpencar mencari keberadaan Leo.


Leela menghampiri kamar putrinya karena biasanya Leo akan main di sana kalau adak kakaknya.


"Enggak ada, Mam, dari tadi juga aku sendirian," jawab Shafia saat maminya bertanya.


"Ya udah kamu bantu mami cari dia. Astaga dia kemana sih."


"Gak akan jauh juga, Mi. Namanya juga anak kecil."


"Justru karena masih kecil. Takutnya dia menemukan benda-benda yang bahaya untuk dia."


Tak kalah dengan istrinya, Bimo menyursuri satu persatu ruangan. Suster dan beberapa palayan juga ikut mencari di sekitar rumah. Khawatirnya dia akan jatuh ke kolam atau menemukan benda-benda tajam seperti puasa atau korek api.


Semua kepanikan berubah menjadi rasa kesal saat melihat Leo dan Andra melambaikan tangan dari jendela kamarnya.


Bimo mendengus kesal selama berjalan menuju kamar putra sulungnya. Sedangkan Andra menahan senyum melihat ekspresi ayahnya.


"Bikin panik aja," ujar Bimo dengan nada kesal.


Tak lama Leela dan Shafia juga menghampiri. "Ya ampun hampir aja mami jantungan saat suster bilang kamu lepas dari pengawasan. Jangan diulang lagi." Leela memberi peringatan kecil pada anak bungsunya. Saat ini memang bungsu kalau papi Bimo tidak kejar tayang untuk membuat adik baru.


"Kak Andra senang banget ngusilin, Mami, Papi." Shafia ikut bicara.


Sedangkan yang di luar turun ke ruang keluarga. Baru saja Andra merebahkan tubuh eh pintu kamar sudah diketuk lagi.


"Kak, mami lupa ngasih tahu. Papi ngajak kita ke acara rekan bisnisnya. Kamu siap-siap ya jam tujuh nanti kita berangkat."


Andra ingin menolak tapi ibunya sudah lebih dulu menggelengkan kepala. Artinya tidak ada penolakan.


Tepat pukul tujuh, Bimo, Leela dan Andra berangkat menuju gedung acara. Sengaja Leo dititipkan pada suster dan Shafia karena takut suasana tidak membuatnya nyaman.


"Besok uang jajannya tambahin ya, Mam," ujar Shafia sebelum mereka berangkat.


"Lihat besok aja," ujar Leela seraya memasuki mobil.


Lima belas menit perjalanan akhir ya mereka tiba di tujuan. Banyak tamu yang menatap kedatangan mereka di pintu masuk. Terutama yang menjadi fokus adalah pria tampan yang berjalan di belakang Leela dan Bimo.


Di ujung sana, sepasang anak manusia saling melirik. Mereka telah menyiapkan rencana untuk yang baru datang terutama Andra.


Pemilik acara menyambut kedatangan keluarga Bimo. Hal yang paling mengejutkan bagi Leela adalah keberadaan Revina yang berdiri di samping pria yang menyambutnya.


Sepanjang acara Leela dan Bimo lebih banyak berbincang dengan si pemilik acara.


"Saya tidak menyangaka, Pak Bimo, ternyata istri kita sudah saling mengenal. Kalau tahu begitu sudah dari dulu kita bekerja sama. Oh apa ini Andra?"


Andra mengangguk dan tersenyum. Berada di antara ayah serta rekan bisnisnya membuat dia tidak nyaman. Apalagi saat menyinggung rencana perjodohan dengan putrinya.


"Mam, aku ambil minum dulu ya." Andra bersbisik pada ibunya.


"Ya sudah nanti mami sama papi nyusul ya."


Sebenarnya Andra tidak benar-benar haus. Dia hanya menghindar saja dari obrolan mereka. Saat dia melihat-lihat sajian di meja prasmanan, seseorang menghampiri dan menydoorkan salah satu makanan kesukaan dirinya.

__ADS_1


"Cari ini kan?" ujar Alisya.


"Loh kok kamu di sini?" Andra tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Emmm karena aku ini acara orang tuaku. Nih jangan sungkan." Alisya menyodorkan piring yang belum diambil oleh Andra.


Jadi maksud mereka, orang yang akan di jodohkan dengan dirinya adalah Alisya. Andra menolak penyataan yang muncul dibenaknya. Tidak, hati Andra hanya untuk Kia. Entah sampai kapan Kia akan setia pada persembunyiannya tapi selama itu pula Andra akan rela menunggu.


"Kayaknya mereka emang cocok ya," ujar Revina yang diangguki oleh suaminya. Sedangkan Leela hanya tersenyum samar mengingat dia tahu betul bagaimana putranya.


"Setuju, gimana kalau kita kita nikah saja anak kita, Pak Bim. Ya sekaligus mempererat persaudaraan bisnis kita." Suami Revina mengusulkan niat yang awalnya hanya sebuah candaan.


Bimo menghela nafas. Menolak sungkan, menyetujuinya pun tidak mungkin.


"Saya tidak bisa memutuskan, Pak Rian, karena belum tentu Andra setuju."


"Saya yakin Andra tidak akan menolak. Lihat saja mereka tampak akrab dan serasi."


Dari kejauhan memang Andra dan Alisya terlihat sangat serasi. Berbeda jika dilihat dari posisi dekat, Andra menatap Alisya dengan tatapan tajam.


"Jangan bilang kamu bekerja di perusahaan ayahku karena memiliki tujuan buruk," ucap Andra dengan tatapan mengintimidasi.


Bukannya takut Alisya malah tergelak. "Kalau saya punya niat buruk saya tidak akan bekerja di sana sampai dua tahun lebih. Tapi anda benar saya memang memiliki niat yaitu niat mendekati anda, Pak Andra." Alisya mengedipkan mata.


"Jangan mimpi. Satu jengkal pun saya tidak akan memberikan kesempatan itu."


"Karena kamu masih mencintai perempuan yang sudah meninggal itu? Ck, aku pikir ada kesempatan untuk aku masuk."


"Tidak akan pernah," tekan Andra sebelum dia pergi menjauh dari sana.


Selepas Andra pergi, Alisya menghampiri Davin yang juga ada di sana.


"Gimana?" tanya Davin.


"Santai baru permulaan. Kita belum dengar kabar dari papa. Dia kan sangat ingin aku menikah dengan anaknya Pak Bimo. Katanya demi bisnis, tapi sebenarnya aku malas jika terikat pernikahan dengan pria kaku seperti dia."


"Kan kamu gak perlu melayani dia. Ingat misi kita adalah sama-sama balas dendam. Kamu balas dendam pada Kia karena ibunya telah merebut calon ayahmu. Ingat itu! Aku akan selalu mendukungmu."


"Good. Lanjutkan terus Alisya! Dan aku akan menjadikan kamu sebagai pion yang maju untuk membalaskan rasa sakit hati ibuku. Gara-gara pria bernama Bimo ibuku harus mengalami sakit jiwa. Kematian istri pertamamu tidak cukup membayar apa yang terjadi pada ibuku. Nikmati waktu yang sebentar lagi, Bimo, Andra."


"Mas Davin memang kakak yang baik. Sayangnya kita harus lahir satu ayah, coba aja kalau beda aku pasti jatuh cinta sama kamu."


Ternyata nasib dua sahabat di masa lalu adalah sama-sama menjadi yang kedua. Bedanya Leela lebih beruntung meskipun jadi yang ke dua, tapi menjadi satu-satunya karena istri pertama sudah meninggal. Sedangkan Revina benar-benar menjadi istri kedua karena istri pertama masih ada. Hanya saja kondisinya yang sedang tidak sehat.


***


Kean yang memiliki kebiasaan ngutil barang milik kakaknya diam-diam masuk ke dalam kamar Andra. Dia hendak pergi tapi merasa outfitnya tidak ada yang oke. Gengsi dong kalau jalan sama pacar baru tapi serba lama.


Dia menatap pakaian milik kakaknya yang sudah melekat pada tubuh.


"Kalau gini kan semakin terlihat keren," ujarnya seraya bergaya di depan cermin fulfbody.


Dia menyapu seluruh barang milik kakaknya, apa lagi ya yang bisa menambah kadar ganteng untuk malam ini.


Kean menjentikkan jari, "parfum dan jam tangan. Sorry kak tapi demi adikmu yang tampan ini." Dia menyemprotkan parfum itu. Bodo amat nanti dia ketahuan oleh kakaknya toh ini bukan pertama kali.


Kedip lampu Led dari laptop milik kakaknya menandakan kalau alat itu belum dimatikan dengan baik.


"Ck, Kak Andra nih kebiasaan." Dia pun hendak menonaktif-kan laptop kakaknya, tetapi sebuah pesan membuat dia penasaran. Tidak ada yang menarik selain foto seseorang dengan pakaian serba tertutup.


"Pacar baru kali," ujar Kean setelah menekan power off.


Saat dia hendak keluar dia mengingat sesuatu dan kembali oada laptop milik kakaknya. Dia merogoh ponsel dan mencocokan gambar yang tertangkap saat dia dan teman-temannya berfoto siang tadi.


.


.

__ADS_1


.


Like, comment dan share ya. Jangan lupa bagi tips 😂


__ADS_2