Menunggu Cinta Kembali

Menunggu Cinta Kembali
Hakim


__ADS_3

"Selamat pagi, Pak Rian," sapa Bimo ketika panggilan sudah tersambung.


"Selamat pagi, Pak Bimo, maaf saya harus menghubungi anda pagi-pagi sekali. Ini perihal Alisya dan putra anda. Bisa kita bicara siang ini." Bimo melirik sang istri yang juga mendengarkan.


"Bisa, temui saya di rumah saat makan siang. Kita akan bicara sekaligus makan siang bersama," kata Bimo pada Rian. "Mereka ingin membicarakan soal Andra dan Alisya siang nanti. Jadi aku ajak bicara di sini saja. Gimana menurutmu, Sayang?"


"Bicara aja dulu tapi perasaanku gak enak. Merasa kayak mereka akan menekan kita," kata Leela mengungkapkan kekhawatirannya."


"Aku pastikan mereka tidak akan menekan kita, Aku berangkat ya. Jangan lupa siapkan makan siang." Bimo mengecup kening sang istri dan keluar dari kamar eh mundur lagi. "Mau berangkat bareng sekarang?" Ia baru ingat kalau hari ini akan menemui Kia.


Jadilah mereka berangkat bertiga karena Kean harus ke kampus sedangkan Shafia sudah berangkat ke sekolah.


Sudah dapat ditebak ekspresi Kia ketika melihat yang datang hanya Bimo, Leela dan Leo. Akan tetapi dia tetap memberikan senyum ketika menyambut mereka.


"Kak Andra titip rindu buat kamu," bisik Bimo yang sebenarnya Kia tahu kalau itu bentuk kalimat untuk menghibur dirinya.


"Ku pikir kalian tidak jadi datang," kata Arga yang baru turun dari kamar.


"Datang dong, kan rindu sama Kia. Kia rindu gak sama papi?"


Kia menjawab dengan senyum, sesekali dia melirik ke arah pintu dan berharap dapat melihat Andra walau hanya sebentar.


"Kia sudah enakan, Sayang?" tanya Leela yang duduk di sebelahnya.


"Seperti yang mami lihat."


"Oh iya mami bawakan makanan kesukaan kamu. Masih suka kan?" Leela menyerahkan paper bag pada Kia.


Bimo berbincang sebentar karena dia harus berangkat kerja sedangkan Leela akan di jemput sebelum makan siang.


Saat Bimo tiba di kantor ternyata Rian sudah menunggu di sana. Rian termasuk orang yang tidak sabar padahal mereka sudah membuat janji temu saat makan siang.


"Sepertinya ini sangat pening sekali sampai anda harus datang ke kantor saya, Pak Rian." Bimo mempersilahkan tamunya duduk. Tak lupa dia menawarkan minum.


"Iya, ini soal Alisya dan Andra. Semalam Alisya mengaku kalau dia pura-pura lupa karena takut Andra murka. Padahal yang sesungguhnya mereka sudah membuat janji lebih dulu."


"Sungguh? Ada buktinya kah?" Bimo mengerutkan kening. Tidak mungkin kalau Andra berbohong.

__ADS_1


Rian menunjukan bukti chat yang di screnshoot oleh Alisya. "Benarkan ini nomor putra anda?"


Saat Bimo cek ternyata benar itu nomor Andra. Jadi sekarang dia harus mengambil keputusan apa.


"Saya pastikan anak saya tidak akan lari dari tanggung jawab, tapi berikan dia waktu untuk membuktikan ucapannya."


"Maksud anda untuk memanifulasi keadaan, atau menunggu putri saya hamil dan keluarga saya menaggung malu, begitu?"


"Jadi kami harus menikahkan anak-anak kita tanpa memberi kesempatan untuk membutkitikan ucapannya. Bisa saja saya memaksa Andra tapi itu egois namanya. Dan saya tidak termasuk orang tua yang memaksakan kehendak saya. Saya jamin Andra tidak akan lari dari tanggung jawab jika memang terbukti bersalah."


"Orang kaya pasti selalu mudah mengatasi masalah," kata Rian dengan senyum sinis.


***


Hari ini Davin mengunjungi ibunya yang di rawat di rumah sakit jiwa. Dia didampingin dokter untuk melihat perkembangan ibunya.


"Beliau masih sama, enggan ditemui lawan jenis, sekali pun itu perawat. Jika kami amatai sepertinya beliau sudah mengalami kemajuan akan tetapi beliau seperti tengah menutupinya."


"Maksud anda ibu saya pura-pura sakit?"


"Begini, Pak Davin, dari kamera pengawas yang kami pasang di sudut ruangan, kami dapat melihat aktifitas beliau saat tidak ada petugas di sekitarnya. Beliau terlihat seperti orang normal, bahkan beberapa kali tertangkap kamera tengah melakukan shalat."


Petugas mengizinkan Davin dengan tetap diawasi untuk berjaga-jaga. Ibunya Davin tidak sungguh-sungguh sakit. dia sengaja pura-pura sakit untuk menutupi rasa malu atas apa yang terjadi 31 tahun yang lalu.


Dia rela hidup di dalam rumah sakit jiwa asal rahasianya tidak diketahui oleh orang lain.


"Mama, ini Davin." Pria itu duduk disamping sang ibu yang terlihat menatap kosong dan pura-pura tidak mendengar. Padahal dalam hati kecilnya dia pun ingin memeluk putranya. Sangat rindu.


"Davin rindu sama mama. Kapan mama akan sembuh, atau mama menunggu Davin mebalaskan dendam pada mereka?"


Tidak ada jawaban. Bahkan sudah hampir setengah jam Davin duduk di sana tapi tidak ada reaksi apa pun dari ibunya.


Di luar rumah sakit para pengawal Davin tengah berjaga-jaga, termasum Hakim yang berhasil menyusup dan menyamar menjadi sopirnya.


Para pengawal Davin memang tidak menunjukan secara gamblang keberadaannha. Mereka selalu berada di jarak aman agar Davin terlihat hanya seorang diri.


RSJ. Permata

__ADS_1


Hakim mengirim pesan pada anak buahnya yang lain. Tugas dirinya adalah memantau pergerakan Davin maka rekannya yang lain yang akan bekerja mencari tahu.


"Davin akan mengusahakan mengunjungi mama setiap hari. Lekas sembuh ya agar kita bisa berkumpul." Tak lupa Davin memberikan kecupan sayang pada kening sang ibu.


Saat Davin sudah pergi, air mata jatuh dari sudut mata ibunya.


Di dalam mobil Davin menghubungi Alisya. "Jadi gimana? Ya atau tidak?"


"Tapi ini terlalu beresiko, Mas. Mama pasti marah kalau sampai ketahuan."


"Enggak akan marah dan aku jamin gak akan ada yang tahu. Aku buat kamu hamil dan papa sama ibu kamu akan mengira kalau itu anaknya Andra. Kamu sudah mengatakan apa yang aku biang pada orang tuamu."


"Sudah, tadi papa juga sudah menghubungi Pak Bimo."


"Good girl, itu baru kekasihku."


Tanpa Davin sadari bahwa percakapannya telah di rekam oleh Hakim yang menyamar sebagai sopir. Sayangnya saat akan mengirimkan rekaman tersebut Davin menyadari ada yang berbeda dari sopirnya.


Hakim ketahuan dan langsung di serang oleh Davin hingga mobil berhenti. Beruntung dia memiliki keahlian bela diri. sehingga mampu melawan atau lebih tepatnya bertahan dari serangan Davin yang ternyata memegang pisau.


Bagian bahu sudah terkena tapi untungnya tidak mengenai oragan vital. Darah sudah membasahi kameja hitamnya.


"Berani-beraninya kau masuk ke kandang harimau. Kau ingin mati di cabik-cabik?" kata Davin sambil mencekik leher Hakim hina hampir kehabisan nafas.


Hakim sudah tidak fokus lagi pada kemudi membuat mobil oleng dan menabrak pembatas jalan. Mereka berdua sama-sama tersungkur ke depan. Saat itulah tangan Davin lepas dari lehar Hakim.


Tidak ada waktu untuk merasakan rasa sakit di leher ketika Davin kembali menyerang. Bayangakan bagaimana susahnya harus baku hantam di dalam mobil


Pukulan Hakim di area mata membuat Davin terjermabab ke pintu. Keadaan itu Hakim gunakan untuk membuang Davin dari mobil dengan cara menghantam dadanya.


Alhasil Davin keluar dari mobil dan Hakim lolos dengan kembali melajukan mobil yang bagian depannya penyok. Dia harus ke rumah sakit sebelum kehabisan darah dan kehilangan kesadaran.


Dia memacu mobil dengan kecepatan tinggi dan menarik perhatian teman-teman Kean yang sedang nongkrong.


"Sial," umat Davin sambil menahan sakit di area mata.


Mobil para pemgawalanya tadi ketinggalan jauh jadi dia tidak ada yang melindungi. Saat mereka tiba dan melihat Davin terduduk di atas aspal mereka langsung turun dan sudah pasti mendapat muka dari tuannya.

__ADS_1


"Bodoh, apa pekerjaan kalian selama ini sampai tidak mengenali ada penyusup diantara kita," teriak Davin.


__ADS_2