
Kia terlambat bangun karena semalam maraton nonton drama korea. Dia bangun juga karena pintu kamar digedor oleh mamanya.
"Astaga, mama kenapa baru bangunin aku," kata Kia langsung ke kamar mandi. Lima menit sudah keluar lagi dengan wajah yang basah. Jangan tanya mandi atau enggak yang penting kan sikat gigi.
Usai mengganti baju dan menyisir rambut, Kia meminta langsung diantar ke bandara.
"Pak tambah kecepatan ya," pinta Kia. Posisi duduknya sudah berubah-ubah. Tidak tenang seperti sedang menunggu orang yang akan melahirkan.
Sepuluh menit lagi pesawat Andra dan keluarga akan lepas landas. Kia semakin tidak tenang.
Saat tiba di tujuan ia langsung berlari dan berharap Andra masih ada di sana.
"Kak Andra," teriak Kia saat melihat Andra sedang melakukan boarding pass.
Akhirnya Andra bisa melihat wajah cantik pujaan hatinya meski tak bisa memeluk lebih dulu. Dia dikejar waktu atau akan ketinggalan pesawat.
Kia melambaikan tangan dan dibalas oleh Andra. Mereka pun berkomunikasi lewat pesan mumpung masih bisa menyalakan ponsel.
Kia: Maaf aku terlambat bangun, tapi aku percaya Kak Andra baik. So ... jangan lupa bawakan oleh-oleh untukku. Fiiamanillah, Kak.
Andra: Sudah ku-duga. Tapi ... ya sudahlah. Sebutkan saja oleh-oleh yang kamu mau, tapi jangan minta dibawakan salju dari pegunungan alpen. Keburu mencair nanti 😂 😂
Andra duduk dengan nyaman di kabin pesawat. Akhirnya dia bisa terbang ke negeri orang dengan perasaan tenang karena Kia menyempatkan diri menemuinya.
"Cieeee senyum-senyum," ledek Shafia yang tempat duduknya persis di sebelah Andra.
"Diam!"
"Galak amat sih."
Kia sendiri masih duduk di peron, menunggu sampai pesawat yang ditumpangi Andra lepas landas. Dia pun memotret landasan dan dijadikan story ig-nya.
Terbanglah setinggi mungkin tapi jangan lupa kembali ke landasan awal. Aku di sini, masih di sini dan akan tetap di sini.
Arga yang melihat story anak sambungnya langsung menscreenshoot tulisan tersebut dan dikirimkan pada sang istri.
"Apa ini papa?" tanya Shepa langsung menghubungi suaminya.
"Kamu sudah baca pesan yang aku kirim kan?"
"Iya sudah tapi mama masih bingung. Maksud papa apa?"
__ADS_1
"Sepertinya anak kita sedang jatuh cinta, Sayang." Arga menghela nafas, "sudah siap punya mantu," kekeh Arga di seberang sana.
"Huss sembarangan. Anak kita itu masih SMA mana mungkin kita akan punya mantu. Setidaknya tunggu dua atau tiga tahun lagi."
"Ya deh terserah mama atur aja. Papa sudahi dulu teleponnya ya. Sebentar lagi papa harus menghadiri meeting."
"Baiklah, semoga Allah melancarkan urusan suamiku hari ini. Sampai jumpa di rumah." Panggilan berakkhir setelah sama-sama mengucapkan salam penutup.
Kia sendiri sudah kembali ke dalam mobil dan meminta pulang. Ponsel Andra sudah tidak aktif. Dia harus bersabar sampai pesawat Andra transit atau Andra tiba di tujuan.
Padahal baru ditinggalkan beberapa menit saja tapi Kia mulai merasakan rindu. Ia menepis pikiran itu dan meminta perasaannya untuk tetap fokus pada pendidikan.
Kia pulang membawa perasaan hampa. Hatinya ikut terbang bersama Andra ke negeri antah barantah. Beruntung dia pintar menyembunyikan perasan sehingga mamanya tidak bisa membaca siatuasi yang tengah dia rasakan.
"Dari mana, Ki?" tanya Shepa.
"Loh tadi aku gak bilang apa-apa ya sama mama?"
"Kamu kan tadi berangkatnya buru-buru. Mana sempat kamu pamit sama mama." Shepa mendelik karena pertanyaan Kia.
Kia menampilkan deretan giginya sambil menggaruk yang tidak gatal.
"Sarapan gih! Habis itu segera berkemas pakaian," titah Shepa.
Kia menepuk kening saat sudah tiba di meja makan. Dia main oke aja padahal dia tidak tahu kenpa harus berkemas. Memangnya mereka hendak pergi ke mana? Menyusul keluarga Bimo liburan? Ah semoga saja.
"Mam memangnya kita mau ke mana?" tanya Kia saat makanannya sudah habis.
"Loh kok masih tanya mau kemana. Ya liburan lah. Memangnya kamu mau menghabiskan masa liburan kamu di rumah saja?"
"Oh gitu, oke deh aku siap-siap dulu."
Kia bergegas masuk ke dalam kamar, menurunkan koper, dan memilih pakaian yang akan dia gunakan selama masa liburan.
Pakaian, sandal, make-up dan pernak-pernik lainnya sudah masuk ke dalam koper. Untuk meregangkan otot Kia merebahkan diri di atas kasur. Meraih ponsel yang biasanya ramai notifikasi pesan dari Andra. Baik yang serius maupun yang bernada candaan. Sekarang rasanya anyep seperti sayur kurang garam.
Ponsel Andra masih dinyatakan tidak aktif, berarti dia belum membaca story yang dibuat oleh Kia. Sepertinya dia harus bersabar dan menunggu kurang lebih selama dua belas jam untuk mendapat balasan.
Jendela kamar adalah tempat favorit Kia. Entah itu untuk mencari sebuah inspirasi, melamun, menghayal atau saat ia tengah merasakan rindu pada seseorang. Seperti pada almarhum ayahnya dan juga ....
Arga yang sudah pulang dari kantor langsung menuju kamar Kia setelah lebih dulu menemui istrinya.
__ADS_1
"Masih di kamar, biaslah namanya juga anak gadis," jawaban dari Shepa saat Arga menanyakan anak sambungnya.
Pintu kamar yang tidak tertutup rapat memudahkan Arga untuk melihat situasi di dalam kamar. Dia yang sudah hafal dengan kebiasaan Kia pun masuk dan menghampiri putrinya.
"Papa!" Kia berbalik saat merasakan usapan tangan Arga pada rambutnya.
"Hi, biasanya kalau kamu duduk di sini pasti kamu tengah merindukan seseorang," tebakan Arga benar tapi Kia menyangkalnya. Padahal hati setuju dengan ucapan ayah sambungnya.
"Apa sih papa. Memangnya kalau aku duduk di sini sudah pasti merindukan seseorang."
"Ya barang barang kali. Biasnya kan kamu sering cerita sama papa kalau kamu sudah duduk di sini. Jadi sekarang udah gak mau cerita lagi sama papa ya?"
"Ih papa." Kia merajuk dan mendorong agar Arga duduk.
"Papa itu hafal banget sifat kamu. Jadi ya mudah sekali kalau papa harus menebak. Jadi sekarang lagi merindukan siapa, papa Wiji atau ...."
"Pasti papa mau bilang Kak Andra kan?" Arga dan Kia sama-sama tertawa.
Kedekatan mereka tidak terlihat seperti ayah tiri dan anak sambung. Arga menyayangi Kia seperti anak kandungan sendiri. Bahkan dia lebih dekat dengan sang anak jika dibandingkan dengan kedekatan istrinya.
Kia sendiri lebih senang bercerita kepada Arga ketimbang cerita pada mamanya. Menurut Kia mamanya terlalu cerewet dan lebih banyak menasehati. Sedangkan Arga bisa membalut kalimat nasehat dengan candaan sehingga lebih mudah diterima olehnya.
"Ya karena papa baca story kamu. Foto landasan pesawat dengan caption yang begiiiitu manis. Memangnya siapa lagi kalu bukan Andra masa papi Bim," ujar Arga. "Oh atau jangan-jangan iya, Papi Bim, wah bahaya nih mami Leela." Arga melanjutkan menggoda putrinya sehingga menimbulkan gelak tawa.
***
Setelah tiga kali transit akhirnya mereka tiba di ibukota negara Swiss yaitu Bern. Sekarang mereka sudah berada di hotel untuk beristirahat.
Andra seperti tidak merasakan lelah. Anak itu langsung membereskan isi kopernya sekaligus menyalakan ponsel. Puluhan notifikasi masuk dan yang paling dinanti adalah notifikasi dari nomor Kia.
Sedangkan anggota keluarga yang lain memilih merebahkan diri dan beristirahat.
Rindu. Dia ingin segera mengabari orang tercinta tapi dia memiliki tnggung jawab yaitu membereskan isi koper yang telah ia bongkar.
Selain Andra, orang yang seperti tidak merasakan lelah adalah Bimo. Dia langsung menghubungi beberapa kenalan dia di sana dan menanyakan seputar kampus yang dianggap terbaik.
Terbang setinggi mungki, tapi jangan lupa kembali ke landasan awal. Aku di sini, masih di sini dan akan tetap di sini.
Andra tersenyum membaca story Kia.
"Apa ini? Apa dia menulis ini untukku? Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan?"
__ADS_1
Gegas Andra mengetik pesan balasan.