
"Maaf, saya bukan calon menantu anda, Pak Rian," balas Andra membaut semua yanh ada di dekatnay menatap heran.
Rian tergelak, "Dalam keadaan seperti ini pun kamu bisa bercanda, Nak. Jadi kapan kamu akan menikah putri saya?"
"Sudah saya katakan, Pak Rian, saya bukan calon menantu anda. Saya tidak akan menikah Alisya.' Lagi Andra berbicara dengan begitu tenang. Seolah dia tidak tertekan dengan tatapan tajam dari Rian.
"Jangan main-main atau aku akan membuat keluargamu menanggung malu," tekan Rian yang berusaha ditenangkan oleh sang istri-Revina. ayah bahwa memang Andra pelakunya.
"Silahkan saja lakukan yang ingin anda lakukan, Pak Rian. Saya tidak akan melarangnya tapi mungkin bukan keluarga saya ayang akan menangggung malu, tapi kekang anda sendiri. Oh iya kenalan ini Kia calon istri saya."
Kia langsung membelalakan mata, tidak menyangkan Andra akan mengatakan itu secara langsung. Bahkan di depan keluarga yang sangat menginginkan pernikahan dia dengan putrinya
Rian menoleh pada Bimo kemudian pada putrinya yang menatap tajam pada Kia.
"Kak!" Kia menolak dan menggelengkan kepala.
"Saya tidak suka dipermainkan, Nak. Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan oada putri saya. Tidak peduli kamu sudah memilki kekasih atau bahkan calon isyri selain anak saya. Yang jekas kamu harus bertanggung jawab."
"Untuk perbuatan saya yang mana? Saya sama sekali tidak menyentuh putri anda."
"Lalu ini apa?" Rian menunjukan bukti chat yang memang di kirim dari nomor anda.
"Itu memang kesalahan saya karena menggunakan pingerpin untuk mengakses ponsel saya. Tapi saya lunya sesuatu yang paling mengejutkan untuk anda."
Andra langsung memutar rekaman yang dikirim oleh Hakim. Dimana terdengar jelas ucapan Davin di sana. Rian dan Revina saling melepar tatap termasuk Bimo dn Leela yang memang belum mengetahui tentang rekaman tersebut.
"Itu suara putra anda kan, Pak Rian? Siapa lagi yang sedang berurusan dengan saya selain putri anda. Jadi kejadian hari itu murni jebakan. Bukan karena saya yang melakukannya. Iya kan Alisya?"
"Bohong! Itu tidak benar papa. Aku melakukannya dengan Andra." Alisya berkata dengan tak memlu menyembunyikan ekspresi panik. Apalagi saat Leela, Bimo dan dkedua orang tuanya menatap meminta penjelasan.
"Kalau begitu tunggu saja sampai kamu hamil, kita akan lakukan tes DNA."
"Maaf, Andra, saya harap kamu tidak mengada-ada hanya untuk menghindari tanggung jawab." Kali ini Revina yang berbicara.
"Mengada-ada bagian mananya, buktinya jelas kok. itu rekaman suara putra Anda sendiri."
Rian menatap dengan tatapan tidak suka lalu menarik Alisya agar meninggalkan ruangan tersebut. Dia sungguh malu jika memang itu perbuatan putrinya.
Bahkan ketika tiba di rumah dia langsung mendorong istrinya agar duduk untuk dimintai penjelasan.
"Benar kamu menjebak laki-laki itu dan kamu melakukannya dengan Davin? Jawab!" bentak Rian. Tidak ada yang mampu menahan amarah pria itu.
Alisya tanya tertunduk dan menangis.
"Jawab mama, Alisya. Benar bukan dia pelakunya. Jujur sama mama, Nak."
"Kamu diam berarti benar. Bikin malu saja." Rian hampir menampar Alisya tapi Revina lebih dulu menghalangi. "Dia sudah membuat kita malu di depan keluarga Pak Bimo. Bukti itu, lihat bagaimana kalau mereka menyebarkannya. Mau disimpan di mana muka kita? Orang lain tahunya dia dan Davin itu adik kakak, memiliki satu ayah yang sama. Apa kata mereka nanti kalau sampai berita ini menjadi konsumsi publik. Pernah gak kamu berpikir lebih dulu sebelum bertindak. Bodoh!"
Rian meningkatkan istri dan anaknya.
***
Andra masih santai ketika semua orang saling bergumam setelah mendengar penjelasan dirinya. Dia sendiri sibuk menatap perempuan yang masih terlihat jutek.
Untuk menarik perhatian Kia, dia sengaja kembalikan badan hingga meringis dan itu berhasil.
"Ngapain sih, Kak. Udah tahu bagian ini lagi sakit masih aja berbalik," omel Kia.
"Pegel, Ki, harus memandang wajah kamu yang cemberut. Senyum dong kan kita mau menikah."
Kia menarik bibirnya untuk tersenyum.
"Gak enak banget senyumnya, kurang manis kalau dipaksa. Yang manis dong biar aku cepat sembuh."
Kia menghela nafas dan memilih mengambil buah dari atas nakas. Mengupasnya kemudian dia suapi Andra.
"Gak enak kalau disuapi pakai garfu. Pake tangan sepertinya lebih enak." Ah banyak sekali permintaan orang sakit ini, tapi tetap saja Kia menurutinya.
"Aw," pekik Kia saat tangan yang sedang menyuapi di gigit oleh tersangka. Sedangkan Andra malah memamerkan deretan giginya.
__ADS_1
"Kenapa, Kia?" tanya Shepa menghampiri mereka.
"Gak papa, Ma. Ini Kak Andra lagi sakit juga masih saja usil."
"Oh, kirain. Mama mau sekalian pamit, kamu mah pulang sekarang atau nanti?"
Andra memberi kode dengan cara mengedipkan mata lebih cepat agar Kia tidak ikut pulang.
"Aku ikut pulang sama sama mama aja." Jawaban Kia membuat Andra langsung lemas. Kia emang tidak peka orangnya.
Merka pun pamit pada Bimo dan Leela, termasuk pada Wijaya dan Tresna.
"Hati-hati ya, doakan Andra lekas sembuh dan kembali ke rumah," kata Bimo sambil mengusap puncak kepala Kia.
***
Sampai malam sudah hampir larut Rian belum juga memasuki kamar. Rupanya amarah pria itu masih belum juga surut. Sejak memarahi putrinya, pria itu menjadi lebih banyak dia.
Revina turun dan menghampiri sang suami yang masih di ruang kerja. Bukan sedang bekejra melainkan sedang menatap foto dirinya bersama istri pertama.
"Papa!" Revina menyentuh pundak sang suami yang memelakangi adah kedatangannya.
"Kamu belum tidur, Ma?" Rian menarik snah istri dan memintanya duduk dipangkuan. Kemudian ia menelusupkan kepala dan memeluknya. Mencari ketenangan dengan emnghiruo aroma tubuh sang istri.
"Tidur yuk sudah malam," ajak Revina.
"Bagaimana aku bisa tidur sedangkan oikranku masih saja berisik. Aku tidak tahu aoa yanh ada dipikiran Davin dan Alisya, untuk apa mereka menjbeak keluraga Bimo hingva membuat kit malu sendiri."
Sebagai sehingga istri sudah seharusnya Revina menjadi pendengar keluh kesah sang suami.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Rev? Apa aku harus menikahkan Davin dengan Alisya?"
Revina menggelengkan kepala, "itu bukan solusi yang tepat. Alisya menjadi perempuan yang haram untuk dinikahi Davin karena mereka lahir dari satu ayah yang sama.
"Tidak." Apa maksud Rian tidak. "Davin dan Revina tidak lahir dari satu ayah yang sama."
Rian kemudian mengawang mengenang kejadian 33 tahun yang lalu Di mana dia sering memperhatikan seorang perempuan yang sering duduk di bangku taman sambil melamun.
Perempuan itu selalu membawa buku diary kecil. Emang apa yang dia tulis, akan tetapi dati raut wajah yang terlihat sendu jelas perempuan itu tengah para hati.
Awalnya hanya memperhatikan karena kasihan, tapi lama-lama tumbuh juga benih-benih perasaan. Dia mulai mendekati dengan cara halus. Pura-pura tak sengaja bertemu padahal memang itu sudah Rian rencanakan. Kejadian terus berulang hingga akhirnya mereka benar-benar dekat.
Namun saat Rian memutuskan untuk menjadikan perempuan itu istri dan sudah sah, malam itu perempuan yang kini menjadi istrinya menangis tersedu. Mengakui bahwa ia belum melupakan seseorang di masa kalung yang tidak lain adalah Bimo Aditya Kusumo. Rupa-rupanya cinta bertepuk sebelah tangan.
"Sampai suatu hari aku harus ke laut kota, selama dua bulan aku meninggalkan dia. Saat aku kembali dia kembali sering melamun, bahkan seperti takut saat aku dekati. Suatu pagi dia muntah-muntah kemudian aku membawanya ke rumah sakit. Kamu tahu apa yang dokter katakan?" Rian menangkup wajah sang istri yang masih duduk di pangkuannya. "Dokter mengatakan dia hamil dan usia kandungan baru memasuki usia tiga minggu."
"Aku marah sama dia, itu artinya dia mengkhianati pernikahan kita. Aku juga sempat mengira bahwa dia hamil oleh Bimo. Saat aku tanyakan siapa ayang dia tidak pernah menjawab. Bahkan dia terkesan menutup diri. Kami berpisah kamar. Aku penasaran dengan apa yang terjadi sampai akhirnya aku cek CCTV krena aku pikir Bimo adalah pelaku utama. Ternyata bukan dia tapi Darwin sahabatku sendiri."
Revina mengusap sudut mata dang suami yang basah.
"Aku mencintai dia, aku tidak menceraikannya dan aku membiarkan anak itu lahir dan aku merawatnya. Setelah melahirkan dia menunjukan gejala seperti orang sakit. Dia enggan menyusui Davin, bahkan pernah dia biarkan anak itu menangis kelaparan, suaranya hampir habis."
"Dokter mendiagnosa bahwa dia sakit hingga orang tua kita sepakat untuk mengibadi dia di rumah sakit jiwa. Sekarang dia sudah 32 tahun di sana tapi ada perubahan. Aku bingung harus memberi tahu Davin atau tidak tapi kejadian dengan Alisya tidak bisa kita biarkan."
Alisya yang menguping obrolan kedua orang tuanya menutup mulut sekaligus senang. Akhirnya ada jalan untuk dia bisa memiliki Davin.
"Aku akan menjadi perempuan yang bisa dia andalkan agar aku bisa memilikinya. Aku harus tetap mendukung aku balas dendamnya pada keluarga Bimo. Terutama Andra yang telah membuat aku malu."
Dia pun mengirim pesan dan memberi tahu kalau Andra sudah mempermalukan dirinya.
Davin tersenyum sinis membaca pesan tersebut. "Sudah aku duga kalau merka bahagia dari Andra. Sekarang kalian boleh senang dulu, tapi aku tidak akan membiarkan itu terlalu lama."
Dia kembali berkatifitas seperti biasa. Tidak menunjukan sesuatu yang membaut orang lain curiga terhadapnya. Sayangnya Andra memilih memutus kerja sama yang hampir terjalin.
"Rupanya dia sudah mulai waspada."
***
Setelah dipastikan bahwa lukanya sudah kering dan aman untuk di bawa pulang akhirnya Andra pun bisa kembali ke rumah. Di jemput oleh ayah, kakek juga Arga.
__ADS_1
"Kok yang jemput para orang tua semua sih," keluh Andra saat melihat ketiga pria dewasa itu.
"Masih untung kami yang jemput gimana kalau yang jemput adalah malaikat izroil. Sudah siap kamu?" tanya Wijaya membuat cucunya mengatupkan bibir.
"Makanya bersyukur aja kami yang jemput," timpal Arga.
"Aku maunya dijemput Kia bukan dijemput ayahnya," kata Andra seraya turun dari ranjang. "Om aku mau menikah sama Kia."
Bukannya melawan Arga malah menyentil kening Andra. Ternyata sikap wibawanya hanya akan dia munculkan diwaktu-waktu tertentu. Andra, tetaplah Andra yang receh. Sikap petakilannya tak kunjung hilang.
"Bukan begitu cara meminta anak perempuan orang, Ndra." Bimo ikut bicara setelah mereka bejalan emnuju mobil.
"Ya gimana? Aku kan bukan papi yang punya dua pengalaman."
Bimo mendelik sambil membuka pintu untuk ayahnya. Kalau saja anaknya dalam keadaan sehat dan bugar sudah dia ajak duel di ring tinju.
Arga menahan tawa seraya memasuki mobil. Anak dan ayah yanh sedari dulu tak pernah berubah.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, di dalam mobil tak pernah terasa sunyi kala Arga, Wijaya dan Andra mengulang cerita Bimo diawal kenal dengan Leela.
"Teruskan aja. Sampai puas, silahkan tertawa."
"Lagian papi bikin cerita awal bertemu mami so jaim banget," kata Andra. Padahal saat utu dia masih kecil dan belum mengerti perkataan orang dewasa. Hanya saja seiring waktu dia sering mendengar cerita itu dari Arga yang lebih mengenal ayahnya.
"Sekarang?" tanya Arga memancing.
"Bucin banget," jawab Andra kembali menghadirkan tawa.
"Papi itu menangis image, bukan kaya om Arga. Maruk dia mau langsung dua sekaligus. Sekalinya ditinggakkaneh ditinggalkan keduanya."
"Iya, Om?"
"Ya biasalah masa muda, harus punya cerita. Terus gimana rasanya ketika melihat tabte Shepa menikah dengan orang lain?"
"Sakitlah, tapi ya karrna takdir berpihak sama om ya sudah sekarang jadi milik, Om."
"Terus gimana rasanya ketemu mantan kemarin-kemarin?" tanya Wijaya.
"Gitu deh, Om. Yang aku takutkan Shepa merajuk. Beuh kalau istri sudah merajuk runtuh dunia kita para lelaki."
"Emang iya?" tanya Andra.
"Rasakan aja sendiri nanti," jawab ketiga pria dewasa itu.
Lain di mobil lain juga di rumah. Para ompermpuan yanh di ruamhs ibuk menyiapkan makanan kesalahan aAndra sebagai bentuk rasa syukur akunya Andra kambing sehat.
"Ini baru syukuran atas kesembuhan Andra aja sudah rame seperti ini. Gimana kalau dia menikah ya," ujar Tresna sambil melirik Kia yang lebih banyak bekerja ketimbang berbicara.
"Ya tentu lebih rame dari ini lah," jawab Shafis yang ikut membantu.
"Kia emang sanggup punya suami kayak Andra?" tembak Tresna.
Kia langsung gelagapan. Wajahmu langsung terasa panas karena malu. Andai ada cermin di depannya pasti dia melihat kepiting rebus di wajahnya.
"Emmmm, pasti mau lah." Shafia mengambil alih jawaban.
Sedangkan Leela dan Shepa sibuk mencicipi makanan.
Deru mobil serta teriak Leo membuat mereka lekas merapihkan hidangan.
"Papi pulang, kakak pulang, ake pulang," teriak Leo sambil berjingkrak.
Andra turun dari mobil paling akhir. Ah, rasanya dia rindu sekali suasana rumah yang hangat seperti ini padahal dia hanya beberapa hati di rumah sakit.
Di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari pintu gerbang rumah Bimo, Davin tersenyum sinis. Dia sudah merencanakan rencana berikutnya.
Orang yang memiliki penyakit hati paling susah melihat orang lain bahagia. Dia akan merasa terdzolimi padahal keluarga Bimo tidak pernah merugikan dirinya.
"Jalan," perintah Davin sambil melirik pintu gerbang yang belum tertutup sempurna. Sekarang dia tahu target mana yang tidak akan di sadari oleh keluarga Bimo. Leo, ya anak itu akan menjadi target berikutnya.
__ADS_1