
Andra: Kia, apa kalimat manis ini untukku. Jika iya maka tunggu aku kembali. Aku akan pulang untukmu.
Sudah mengetik seperti itu tapi kembali Andra hapus. Rasanya itu terlalu percaya diri.
Andra: Untuk siapa kalimat manis ini, Ki? Apa jangan-jangan ini untuk kak Andra 😂😂
Akhinya kalimat itu yang terkirim.
Semua orang yang berada satu ruangan dengan Kia langsung menatap ke arahnya. Apalagi setelah mendengar bunyi notifikasi.
Arga dan Shepa saling lirik melihat anaknya salah tingkah.
"Dibuka aja, Ki," ujar Arga.
"Itu ... itu dari teman kok. Gak penting, Pa."
"Teman apa teman?" Kali ini Shepa ikut menggoda. Teringat akan pesan manis yang dikirim oleh suaminya. "Paling juga Andra "
"Kak Kia pacaran sama Kak Andra?" tanya Kai penasaran. "Kita kan sepupuan, emang boleh pacaran apalagi sampai nikah?"
"Boleh, karena sepupu kan bukan mahram. Dalam surat An-Nisa ayat dua puluh tiga, Allah menyebutkan urutan perempuan yang dilarang dinikai, dan sepupu perempuan tidak termasuk di dalamnya. Jadi Andai kata Andra dan Kia sama-sama mau ya mereka bisa di nikahan," papar Shepa.
"Tapi bukannya sepupu bisa jadi wali nikah, Ma?" tanya Kia yang akhirnya tidak jadi beranjak ke kamar dan mengabaikan pesan yang sejak tadi ia tunggu.
"Bisa, itu pun urutannya jauh. Wali nikah itu urutannya ayah kandung, kakak atau adek kandung yang sudah baligh, kakek, paman baru sepupu," jelas Shepa.
"Lagi pula Andra dan Kia kan terikat karena pernikahan Leela sama Bimo kan, Sayang?" Arga ikut bersuara. Pembahasan ini sangat menarik. Apa lagi dia memahami perasaan anak tirinya.
Kalau di tanya Arga tahu dari mana bisa tahu perasaan Kia pada Andra. Jawabannya tentu karena dia pun pernah muda. Tahu betul tipe-tipe orang yang sedang jatuh cinta. Senyum-senyum sendiri, melamun, ada juga yang marah-marah itu sih yang author tahu. Kadang orang yang jatuh cinta bisa juga mendadak jadi baik. Misal mentarktir orang-orang di sekitarnya tanpa diminta padahal hari-hari biasanya dia tergolong orang yang pelit.
"Iya, tapi emang Andra-nya mau? Masa mau sama anak SMA," kekeh Shepa.
"Tapi, Ma. Dalam tradisi kita pernikahan sesama sepupu itu masih dianggap gimana gitu. Kayak gak ada laki-laki lain aja." Kai bisa bicara seperti itu karena dia belum merasakan yang namanya jatuh cinta pada sepupu. Berbeda dengan Kia yang jauh lebih penasaran dengan pernikahan antara sepupu.
"Ya memang di negara kita masih bercampur dengan kepercayaan nenek moyang. Tapi kembali lagi seperti kata para ulama, selagi Kia dan Andra gak sepersususan, itu sih boleh."
__ADS_1
"Kok jadi aku?" Kia jadi merasa malu sendiri. Apalagi ketahuan dia paling fokus mendengar bahasan ini.
"Ya kan kita lagi bahas kamu yang lebih berpotensi nikah sama Andra," kata Arga sambil tertawa.
"Terus soal penelitian yang katanya nikah sama sepupu akan menyebabkan kecacatan atau terjadinya penyakit keturunan itu gimana?" tanya Kia lagi. Terlanjur penasaran ya sekalian aja bertanya biar ada pegangan jika nanti dia dan Andra beneran nikah.
"Mama sih kurang tahu, tapi kalau Allah menciptakan kehalalan berarti ada kebaikan di dalamnya. Kita juga sering melihat kan pernikahan suku-suku tertentu seperti Arab yang menikahkan anak-anaknya dengan sepupu-sepupunya. Kenapa mereka memilih seperti itu karena nasabnya jauh lebih jelas ketimbang menikahkan dengan perempuan atau laki-laki luar. Adapun soal penyakit keturunan ya Wallahu 'alam mama kurang tahu."
"Jadi gimana, Kak, ada niat nikah sama Kak Andra?" goda Kai.
"Jadi dong," sahut Arga menertawakan ekspresi Kia.
Di belahan dunia lain Andra tengah menanti balasan dari Kia. Padahal dia sudah hafal kalau Kia tipe perempuan yang telat respon tapi kenapa masih saja ditunggu.
"Ndra?" Bimo memanggil Andra.
"Ya, Pap?" Andra bangun dari rebahannya.
Bimo mendongakan kepala hingga menatap langit-langit. Memutar bola mata melihat anaknya yang belum rapi sama sekali. Padahal tadi dia sudah mengingatkan akan makan malam bersama.
"Emang yang lain sudah?" Andra malah balik bertanya.
Saat dia mengedarkan pandangan mami serta adik-adiknya sudah tidak ada. Haya ada beberapa handuk basah yang sudah masuk ke keranjang cucian. Berarti berapa lama dia duduk hanya untuk menunggu pesan balasan dari Kia.
"Gak usah mandi, cuci muka aja. Kasihan adik-adik kamu sudah menunggu lama."
"Oke tunggu sebentar." Andra segera masuk ke dalam kamar mandi. Seperti kata papi-nya Andra hanya menyikat gigi dan cuci muka. Kemudian menyemprotkan parfum ke tubuhnya. "Aku sudah siap," kata Andra menghampiri Bimo yang geleng-gelang kepala.
"Ganteng-ganteng tapi malas mandi," ujar Bimo sambil melangkah menuju tempat mereka akan makan malam.
"Kok masih baju itu, Kak. Kamu gak mandi?" tanya Leela.
"Papi yang larang kok. Katanya aku tetap ganteng iya kan, Pi?" sahut Andra sambil menarik kursi bagian dirinya.
"Dari pada kalian mati kelaparan karena nunggu dia mandi. Besok pagi aja dia mandinya double," balas Bimo tidak ingin kalah oleh anak sendiri.
__ADS_1
Usai makan malam mereka kembali ke dalam kamar masing-masing.
"Ingat, Mi, aku tidak pesan adik lagi," pesan Andra ketika mereka berpisah di depan pintu kamar. Leela hanya tertawa kecil menanggapi permintaan anak sulungnya. Ia segera masuk ke dalam kamar. Dimana sang suami tengah menunggu dan tersenyum ketika melihat dirinya datang.
"Aku tidak tahu mantra apa yang kamu pakai. Sehingga aku tidak bisa memalingkan perhatian dari wajahmu. Sudah banyak waktu yang kita lalui tapi aku masih melihat kamu sebagai perempuan jutex yang membuatku terpesona," ujar Bimo merengkuh tubuh sang istri.
Kalimat manis Bimo berhasil membuat sang istri merona malu. Bahkan entah sudah berapa kali mereka bergelut di atas ranjang tapi Leela masih sering barsikap malu-malu kucing.
"Tadi sebelum aku masuk kamar Andra sudah berpesan lebih dulu." Leela membelai lembut wajah sang suami. Menghadirkan gelanyar panas dalam tubuh Bimo.
"Dia gak mau adik?"
Leela mengangguk tapi tanganya menahan wajah sang suami yang hendak meraup pesona bagian depan miliknya.
"Biar kita kasih kejutan untuk dia." Bimo melanjutkan aksinya, menggelitik sang istri yang menolak tapi ujung-ujungnya sama-sama ganas. Leela tidak pernah berubah, selalu memancing lebih dulu. Namun saat Bimo sudah siap Leela selalu menolak tapi kalah juga saat dipaksa.
***
Andra sudah bangun dan sudah mandi lebih dulu. Semalam dia tidak nyenyak tidur karena menanti pesan balasan dari Kia. Sampai matahari terlihat naik harapan Andra hanya sebuah kesia-siaan.
Sepertinya Kia seneng sekali mempermainkan aku.
"Semakin dikejar dia semakin jauh, Kak," ujar Kean yang baru keluar dari kamar mandi. Tangannya masih sibuk mengeringkan rambut menggunakan handuk.
"Lagu kali ah," sahut Andra.
"Eeehhh di kasih tahu gak percaya. Dengerin nih, kita itu sama-sama di kejar perempuan, bedanya kak Andra hanya melihat satu titik yaitu Kia. Sedangkan aku melihat semua nya, jadi aku lebih hafal bagiamana sikap perempuan. Termasuk cara mengendalikannya."
Ya kedua anak Bimo memang selalu jadi pusat perhatian permpaun seusianya. Hanya saja Andra lebih selektif atau bahkan tidak pernah menanggapi mereka. Berbeda dengan Kean yang senang manangapi tapi ujung-ujungnya mempermainkan. Belum tahu rasa dia.
"So tau. Baru juga kelas dua SMA sudah mikir perempuan. Selesaikan dulu sekolah baru perempuan."
"Lah kak Andra sendiri, sekolah udah selesai, kuliah juga tapi ...." Kean selalu menggantung kalimatnya. Dia malah melengos dan mengambil pakaiannya.
Andra mendendus, "dia pasti mau bilang aku payah. Lagian kamu Ki seneng banget melihat aku gak berdaya seperti ini. Kia, Kia."
__ADS_1