
“Ck. Sudahlah semangatku sudah sirna kali ini.“ Ucap Naryla setelah berbincang dengan orang tua angkatnya yang terus memaksakan kehendak mereka. Naryla tau mereka sangat sayang padanya layaknya orangtua kandung terhadap anaknya, tapi ia rindu saat-saat ia di panti asuhan dimana ia bisa menikmati hidupnya sebagai seorang Ila kecil yang bahagia.
Orang tua angkatnya memiliki sebuah bisnis, tidak besar, namun tidak juga kecil yang membuat mereka setidaknya dapat dikenal hampir di penjuru kota. Mereka mengadopsinya ketika Naryla berusia tujuh tahun. Sejak bersama mereka, Naryla mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang cukup baik sehingga Naryla dapat tumbuh menjadi seorang cerdas yang ramah dan santun. Disamping itu ia juga memiliki paras yang cukup cantik.
Ia selalu berhasil membawa nama baik bagi orang tua nya itu sebab prestasi yang tidak sedikit. Namun, kilas indah hidup Naryla ternyata tak semulus itu. Semua dimulai saat naryla duduk di bangku kelas 3 SMA.
“Ma, Naryla ingin ambil jurusan pertanian ya ma,” ucap naryla di telepon. Ia memang sejak kecil ingin terjun di bidang pertanian karena ia sangat menyukai tanaman dan melihat potensi Indonesia sebagai negara agraris, ia berharap kelak ia dapat berguna bagi Indonesia dalam mengembangkan pertaniannya.
__ADS_1
“Nak, coba kamu pikirkan apa tidak sebaiknya kamu ambil kedokteran saja nak, mama yakin kamu mampu," jawab mama Rianti. Begitulah kurang lebih akhir dari setiap pembicaraan mereka apabila menyangkut tentang perkuliahan.
Naryla sangat iri terhadap teman-temannya yang bahagia memancarkan semangat belajarnya untuk menggapai jurusan impian mereka di universitas impian juga. Ya, Naryla bersekolah di SMA swasta berasrama kala itu.
Kemanapun ia menoleh, ia melihat ada teman-temannya mengerjakan contoh soal ujian masuk universitas di kamar mereka. Meskipun sebagian yang lain banyak juga yang bersenda gurau. Lain dengan dirinya yang sejak naik ke kelas 3 sudah tak ada semangat belajar sejak orang tua nya “agak” memaksanya untuk terjun ke bidang kedokteran kelak sedangkan ia tidak memiliki minat sedikitpun kesana.
Singkat cerita, waktu penentuan pemilihan jurusan untuk jalur undangan sudah hampir tiba, dan sudah dipastikan Naryla masuk ke kuota tersebut karena ia selalu menduduki posisi teratas di jejeran orang pintar di angkatannya. Tinggal beberapa hari lagi ia harus mengklik pilihan jurusan dan universitas di website khusus pendaftaran masuk kuliah jalur undangan. Orangtua nya masih selalu mengarahkan Naryla untuk mengambil jurusan kedokteran seperti sebelumnya.
__ADS_1
Hari H pendaftaran sudah tiba. Naryla bersama teman-temannya berperang untuk merebut wifi di laboratorium computer demi melakukan registrasi.
“Huftt.. baiklah, aku turuti keinginan kalian.“ Naryla akhirnya memilih sesuai apa yang orang tua nya minta. Fakultas kedokteran universitas xx, Fakultas kedokteran universitas yy.
Beberapa bulan kemudian hasilnya keluar dan nampaknya takdir berpihak pada naryla sehingga ia tidak diterima.
Naryla yang sudah kehilangan minat belajar sekarang hanya menargetkan untuk lulus dengan nilai normal. Ia tidak lagi menjadi Naryla yang ambisius untuk mendapat nilai sempurna. Ujian Nasional pun ia lalui begitu saja. Sedikit berbeda kala ia menghadapi ujian masuk perguruan tinggi, ia benar benar tidak berharap ia lulus karena memang ia kembali mengikuti keinginan orang tua nya. Ia akhirnya sengaja mengerjakan asal-asalan agar tidak diterima.
__ADS_1