Merah Kuning Hitam

Merah Kuning Hitam
Episode 25 - Dark Wide Room


__ADS_3

"Baiklah, mari kita lanjutkan. kali ini harus dengan serius," ucap pangeran dalam hatinya. Ia telah berada di gua dekat tebing, 'markas' nya bersama Veda. Udaranya yang sejuk dengan kelembaban yang pas dan jauh dari keramaian membuatnya cocok untuk menjadi tempat latihan bagi pangeran memperkuat bakat-bakatnya dan mempelajari bakat spesial.


Dengan tekad yang kuat, pangeran yang juga rutin melatih bakat tersebut akhirnya berhasil menampakkan kemajuan. Dengan penuh antusias, ia hendak menunjukkan kemajuan itu kepada adiknya. Beberapa kali ia mengajak adiknya ke 'markas' untuk membuktikan hasil usahanya, namun adiknya menolak sebab disibukkan dengan panen sutra. Pangeran yang membantu di bagian perawatan tidak sesibuk tuan putri.


Ulat-ulat yang tadinya berupa larva baru menetas kemudian dipindahkan ke kandang, dirawat dengan sabar dan teliti, setelah diseleksi kualitas kepompongnya, saat ini tengah berada dalam proses pengolahan menjadi benang-benang sutra yang bernilai ekonomis tinggi. Tuan putri yang memiliki phobia pada ulat itu banyak membantu ibu di bagian pengolahan hasil panen. Karena alasan itulah tuan putri masih belum sempat memenuhi ajakan kakaknya untuk menunjukkan perkembangan bakat spesialnya.


"Dik, ayolah ikut kakak sebentar saja untuk melihat perkembangan latihan kakak," usaha pangeran sekali lagi mengajak adiknya ke 'markas'.


"Kak ..., sekarang tuh masih sibuk panen, belum ada waktu untuk melihat itu. Nanti kalau waktu sibuknya sudah berlalu aku janji menyaksikan bakat spesial Kakak ya," jawab tuan putri yang hendak keluar melalui pintu dapur namun ditahan oleh pangeran. Ia tersenyum dan menatap lembut manik indah mata pangeran sambil menggenggam tangan pangeran, perlahan berusaha melepas cengkraman kakaknya itu. Pangeran yang sedikit kecewa namun tidak ingin memaksa tuan putri akhirnya melepaskan cengkramannya.


Tuan putri berjalan keluar melalui pintu belakang,


"K-kamu sendiri kan yang bilang ingin kakak membuktikannya?" sambung pangeran memelas berharap tuan putri luluh dan kembali, "a-apakah kakak sudah tidak sepenting itu bagi kamu sampai kamu tidak punya waktu meskipun sebentar untuk kakak?"


Tuan putri tersentak mendengar ungkapan kakaknya, ia pun terdiam di sisi luar dinding dapur sehingga tak nampak lagi oleh pangeran.


"Maaf ..., kakak bukan sosok yang dulu lagi," ucap pangeran pelan mengira tuan putri sudah pergi. Ia memutar balik tubuhnya hendak pergi.


Mendengar kalimat yang diucapkan pangeran barusan, entah mengapa hati tuan putri terasa sesak. Ia tidak menyadari kalau sikapnya telah membuat kakaknya berpikir seperti itu. Pangeran selama ini selalu ada untuk tuan putri kala adiknya itu membutuhkan. Saat masih di kerajaan, sekalipun pangeran sibuk, kakaknya itu pasti selalu menyempatkan waktu untuk berada disampingnya.


Tuan putri berlari menghampiri pangeran yang tengah berjalan menjauh dari posisi awal, ia memeluk pangeran dari belakang erat-erat dengan penuh kasih sayang bercampur dengan penyesalan akan sikap-sikapnya yang menyakiti hati pangeran. Pangeran yang awalnya kaget mendapat pelukan tiba-tiba, setelah mendengar sesenggukan adiknya, segera menghembuskan nafas beratnya. Ia menahan tangisan rindu pada adik yang sangat ia sayangi itu.


"Ma-maafkan aku Kakak," ucap tuan putri sambil menangis. Entah sejak kapan air matanya terjatuh, yang pasti saat ini ia sedang menangis di punggung kakaknya.

__ADS_1


Setelah berdiam dalam posisi itu beberapa saat, pangeran melepaskan pelukan tuan putri dan merubah posisinya saling berhadapan. Pangeran memegang kedua pipi basah tuan putri sambil menatap mata sembabnya.


"A-aku tetep sayang Kakak kok ..., bagaimanapun itu," ungkapnya hendak meneteskan air mata lagi.


Pangeran mencubit pipi tuan putri, "Yah kok nangis, tambah jelek dong."


"Ih Kakak," sebal tuan putri.


"Jadi, Kurcaci kakak ini udah mau liat kehebatan kakak?" tanya pangeran lebih lanjut.


Tuan putri mengangguk, "Iya, nanti sore ya aku izin pulang awal sama ibu," jawabnya.


"Terimakasih Tuan Putriii, hormat hamba pada Yang Mulia." Pangeran bersikap seperti pelayan yang sedang menghadap yang mulia tuan putri. Hal tersebut membuat tuan putri terkekeh.


Sore menjelang, pangeran telah menunggu tuan putri di jalan menuju tebing. Tak lama kemudian, tuan putri dengan sedikit berlari menghampiri pangeran. Mereka kemudian berjalan menuju gua kecil dekat tebing sambil bercanda. Jika seseorang tidak tahu hubungan keduanya, pasti akan mengira mereka adalah sepasang kekasih.


"Lihat nih ya lihat!" perintah pangeran pada tuan putri dengan penuh antusian.


"Biasa aja kali Kak," sahut tuan putri.


Pangeran berdiri memejamkan matanya dan mengarahkan tangannya ke ruang kosong didepannya. Ia seperti memfokuskan pikirannya pada satu titik. Perlahan, muncul aliran berputar berwarna hitam bercampur abu yang kian lama kian melebar. Setelah ukurannya dirasa cukup, pangeran membuka matanya.


"Kemarikan tanganmu," pinta pangeran menarik lengan tuan putri. Tuan putri yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti arahan kakaknya. Pangeran mengarahkan tangan tuan putri ke tengah aliran berputar yang membentuk oval panjang setinggi tubuh pangeran.

__ADS_1


"E-eh ngapain Kak, sembarangan ih," tuan putri menarik tangannya, "tangan Kakak ajalah jangan aku."


"Ih kamu nih, ngga mau nyoba?" tanya pangeran dijawab gelengan oleh tuan putri, "Huhh.. Baiklah, kakak aja."


Pangeran memasukkan setengah tangan kanannya ke bidang yang berdiri di depannya. Pergelangan tangan hingga siku yang masuk ke aliran itu menjadi tidak terlihat. Melihat itu, tuan putri tercengang dan menghampiri sisi dibalik aliran tersebut hendak mencari tangan kakaknya. Ia berpikir mungkin ia tetap dapat memegang tangan kakaknya yang menjadi transparan.


Sett. Sett. Tuan putri mengibaskan tangannya, namun ia tidak merasakan apapun selain udara. Lebih tepatnya, tidak ada tangan pangeran yang terpukul olehnya. Ia menatap heran pada pangeran. Disisi lain, melihat tatapan heran adiknya, pangeran merasa senang dan semakin ingin pamer pada adiknya.


"Iya, seperti ini tangan kakak ngga ada kan? tapi lihat ini," respon pangeran, "taraa ada lagi. Ada, ngga ada, ada, ngga ada, ada, ngga ada." Pangeran mengeluar-masukkan tangannya ke dalam alirah hitam bercampur abu itu. Tuan putri lama-lama geram dengan sikap kekanakan kakaknya yang pamer. Ia mencoba sendiri memasukkan tangannya dan mendapati hal yang sama.


"Tangan kita kemana? kalau kita masuk kita bakal kemana?" tanya tuan putri pada pangeran. Pangeran kemudian menarik tuan putri untuk masuk ke dalam aliran tersebut. Kali ini benar-benar masuk seluruh tubuh. Mereka kemudian menghilang dari pandangan, jikalau ada yang melihat mereka saat itu.


Di bagian dalam aliran tersebut, pangeran dan tuan putri berada dalam ruangan luas yang gelap tanpa sedikit cahaya selain dari bidang oval pintu masuk mereka tadi.


"Ini dimana kak?" tanya tuan putri.


"Kakak juga belum tahu. Yang pasti ini masih baru beberapa tahap, kakak masih berusaha menyempurnakan lagi. Mungkin jika telah sempurna kita akan tahu lebih banyak." Pangeran menjelaskan sekilas pada tuan putri. Setelah berjalan cukup dalam di ruang gelap yang kosong itu, mereka memutuskan untuk kembali ke gua dekat tebing.


Sekeluarnya dari sana, "Keren banget Kak, popoknya eh salah pokoknya Kakak harus menyempurnakan bakat itu nanti tunjukin ke aku lagi," ucap tuan putri, "nanti ajarin aku ya."


"Iya iya, kakak usahakan sempurnain bakat ini nanti ya. Boleh kakak ajarin. Tapi ..., bayar," ledek pangeran.


"Hih dasar pelit."

__ADS_1


__ADS_2