Merah Kuning Hitam

Merah Kuning Hitam
Episode 18 - Nenek Kane


__ADS_3

“Apakah kita perlu menghubungi mereka sekarang untuk membuat janji Kapten?” tanya A104.


“Boleh, lakukanlah.” Kapten menyetujui usulan A104.


A104 menghubungi markas cabang yang terletak di tepi Samudra Hindia (setelah ini kita sebut Markas cabang SH) menggunakan komunikator biasa. Mereka membuat janji untuk bertemu disana dminggu depan.


“Baik, tolong kirimkan saja ke alamat elektronik transportasi kami ya.” A104 kemudian menutup telepon.


“Bagaimana?” tanya Kapten.


“Mereka setuju untuk mengadakan pertemuan pekan depan Kapten, tetapi mereka menawarkan untuk mengirim hasil rekaman radar terkait kesini,” jawab A104


Ting!. Notifikasi masuknya pesan yang berisi hasil rekaman radar itu muncul di ujung bawah kanan layar peta dari sisi kapten. Kapten mengklik pesan itu dan terpampanglah background hitam berisi beragam garis dan warna.


***


“Nenek,” panggil Xero, “Xero datang.”


Nenek Kane sedang mengotak-atik dapurnya. Ia hendak membuat minuman herbal lagi. Beliau sejak dulu selalu mengonsumsi makanan dan minuman alami. Tidak. Di bagian terpencil Kerajaan Sterm tepatnya desa tempat Xero dan Nenek Kane tinggal, masyarakatnya yang sedikit senantiasa memanfaatkan hasil alam setiap harinya.


“Iya Nak, masuk saja. Nenek sedang di dapur, tunggu sebentar ya..” sahut nenek dari dalam.


“Xero sama Naryla izin masuk ya Nek,”


“Wah gadis itu datang juga,”


“Iya Nek,” jawab Xero.


Tak berapa lama, Nenek Kane menghampiri tamunya tersebut sembari menyuguhkan minuman yang hampir sama dengan miliknya namun terdapat sedikit perbedaan. Minuman yang disuguhkan oleh Nenek Kane ialah campuran dari air kelapa, madu, sedikit kunyit dan garam. Bedanya terletak di air kelapa yang digunakan dimana menggunakan air kelapa tua untuk minuman nenek, dan air kelapa muda untuk Xero dan Naryla.


“Nah, silakan diminum airnya,” suguh Nenek Kane.


“Terimakasih Nek,” jawab Xero dan Naryla.


“Hohoho, bagaimana kabarmu Nak …?” tanya nenek.

__ADS_1


“Naryla Nek, hehe,” sambung Naryla.


“Ohh namamu Naryla, baiklah. Apakah kamu sudah sehat?” tanya nenek lagi.


“Saya rasa sudah sehat nek,” jawabnya.


“Syukurlah kalau begitu. Jadi apa yang membuat kalian datang ke rumah nenek? Apakah kau merindukan nenek, Xero?” goda nenek.


“Ah, sudah pasti Xero selalu merindukan Nenek, hahaha,” tanggap Xero, “Begini Nek, tadi sore Xero dengan Naryla pergi ke tengah  laut untuk mencari ikan, kemudian kita berbicang banyak yang salah satunya tentang bakat. Naryla ingin mengetahui bakatnya juga Nek.” Xero menjelaskan singkat tujuannya kesana.


“Benar begitu Nak?” tanya nenek yang dijawab anggukan oleh Naryla.


“Iya Nek. Sejak saya bangun dari pingsan saya bisa mengerti apa yang hewan-hewan bicarakan. Kata Xero tidak semua orang memiliki kemampuan itu dan tadi saya melihat Xero menggunakan pensil besar untuk menangkap ikan, dia bilang ujungnya sudah diberi bakat juga,” jawab Naryla.


“Biar nenek tebak, apakah Xero mengatakan kalau nenek bisa mengecek bakat orang dengan darahnya?” tanya nenek memastikan. Naryla mengangguk dan Xero cengengesan.


“Baiklah, mari ikut nenek.” Nenek mengajak Naryla dan Xero ke sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat semacam bathup berbentuk mangkuk berisi air yang sangat jernih.  Beberapa meter dari mangkuk itu terdapat semacam meja tanpa kaki menempel dengan dinding.


Nenek Kane meminta Naryla untuk memasukkan jarinya ke dalam gelas tabung kecil yang kosong, kemudian darah Naryla keluar dengan sendirinya. Kemudian nenek kane meletakkan gelas itu ke tempatnya lagi yang nampaknya terhubung dengan bathup tadi.


“Warna dan gambar yang akan terbentuk di permukaan air ini menunjukkan jenis-jenis bakat dari pemilik yang darahnya diteteskan di gelas tadi,” jelas nenak menambahkan. Blubub blubub blubub. Muncul gelembung gelembung kecil pertanda proses akan segera selesai.


“Oke sudah selesai. Eh?” heran nenek.


“Ada apa nek?” tanya Xero.


“Jadi, ini menunjukkan bakat Naryla untuk bisa berkomunikasi dengan makhluk selain manusia seperti milik Xero. Ini menunjukkan kemampuan Naryla untuk mengontrol energi di sekitarnya, tampaknya seperti saat Naryla pingsan dan melayang adalah contoh dari  bakat ini. Sekalipun tubuhnya tidak sadar, tapi bakat ini menolong pemiliknya dari mara bahaya,” jelas nenek kemudian pindah ke sisi seberang, “tetapi, yang tidak wajarnya ialah masih tersisa ruang yang sangat besar disini tidak menunjukkan bentuk apapun. Kalau bakat Naryla hanya dua itu, maka seharusnya dua gambar tadi memenuhi permukaan air ini. Nenek tidak mengerti juga.”


“Ohh begitu ya Nek, apa mungkin karena faktor Naryla bukan orang sini Nek?” jawab Naryla.


“Nenek juga belum tahu, nanti coba nenek pelajari lagi. Kita sudahi dulu ya dan mari kembali menghabiskan minuman di depan, kerongkongan tuaku ini sudah kering lagi,” ajak nenek sambil berlalu begitu saja.


Naryla melirikkan matanya ke Xero, “Harus dihabiskan banget ya minuman tadi?” tanyanya.


“Iya, disini sangat tidak dianjurkan menyisakan makanan atau minuman. Nenek akan memberimu pelajaran kalau tidak menghabiskannya sampai bersih.” Xero dan Naryla membuntuti nenek ke ruang tamu.

__ADS_1


Mereka berbincang sebentar. Terlihat Naryla tidak menyukai minuman yang disuguhkan nenek sebab rasanya kurang pas lidahnya. Nenek yang melihat ekspresi Naryla hanya tersenyum menang karena Naryla harus menghabiskan minuman buatannya. “Nampaknya Xero sudah memberi tahu anak ini tentang aturanku,” batin nenek senang.


Waktu semakin malam, Xero hendak berpamitan ke nenek. “Nek, sudah semakin larut nih Xero pulang dulu ya,” ucapnya sambil proses berdiri. Naryla yang melihat itu juga ikut berdiri. Mereka bertiga berjalan keluar dengan nenek yang menghantar mereka.


“Daah Nenek, Xero pulang..” Xero mulai melangkah diikuti Naryla.


“Naryla juga Nek, terimakasih ya untuk semuanya,” ungkapnya.


“Hei, siapa yang mengajakmu pulang denganku? Aku tidak ada tempat untukmu di rumahku,” tegas Xero melihat Naryla yang ikut melangkah.


“Eh? Terus aku bagaimana?” tanya Naryla heran. Nenek dan Xero saling menatap dan tersenyum ngeri bak penjahat yang sudah bersekongkol sebelumnya.


“A-aku menginap disini?” sambung Naryla menatap keduanya. Ia membayangkan makanan dan minuman aneh apa lagi yang akan disuguhkan oleh nenek, “Erm ..., baiklah hati-hati di jalan Xero,” ucapnya. Nenek Kane tersenyum menang lagi melihat kelesuan Naryla setelah tahu dia harus menginap di rumahnya.


Mereka manuju sebuah ruangan yang nampaknya merupakan kamar nenek. Ketika masuk, Naryla disuguhkan pemandangan sebuah kasur dengan tiang tiang untuk menyangga kelambu, jendela yang terbuka, dan sebuah meja kecil di sisi kanan dan kiri dipan dengan lampu tidur mendudukinya. Mata Naryla menlihat sekeliling hingga mendongak ke atas memastikan semuanya baik-baik saja.


“Nah mari kita tidur. Hai kasurku tercinta, aku datang.” Nenek Kane yang level mengantuknya hampir Mythic segera merebahkan tubuhnya. Naryla akhirnya mengikuti nenek untuk tidur juga.


“Tolong matikan lampu utama, nyalakan lampu tidur, dan tutup kelambunya, aku tidak ingin tidurku diganggu serangga,” perintah Nenek Kane.


“Ah, baik Nek,” jawab Naryla, “jendelanya tidak ditutup Nek?” lanjutnya.


“Biarkan terbuka, udara malam itu segar,” jawab nenek.


“Segar sih segar nek. Tadi katanya tidak mau diganggu serangga, tetapi jendela malah dibiarkan terbuka. Hhh suka suka nenek deh,” batin Naryla sembari menutup kelambu.


Udara malam yang berhembus masuk ke ruangan untuk beristirahat itu memang terasa segar, sangat bersih terasa dibanding udara di rumahnya dulu. Naryla jadi teringat mama papanya di bumi, berpikir apakah mereka baik-baik saja dan sedang mengkhawatirkannya atau malah sebaliknya.


“Nek, masih bangun?” Naryla bersuara lagi di tengan perjalanan nenek menuju alam mimpinya.


“Hm?” jawab nenek singkat.


“Nek, Nenek mau tidak kalau aku mintai tolong untuk ceritakan tentang Kerajaan Sterm?” tanya Naryla.


“Hm …, malam …, mimpi …, besok …,” jawab nenek sangat mengantuk. Naryla tersenyum lucu melihat Nenek Kane yang bertingkah sedikit mirip anak kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2