
Tibalah Pemuda yang membawa Naryla di sebuah rumah berdinding kayu solid dengan tiang-tiang berbahan gypsum berwarna abu dengan guratan coklat gelap sebagai penopang, disertai laminate parket sebagai lantai yang tidak menyentuh tanah karena disusun tinggi dengan ruang kosong di bawahnya tempat para kelinci dan kucing berkejaran. Bentuknya seperti Nuwo Sessat namun bagian atas atapnya ditutupi jerami coklat seperti milik Hanoi.
“*Fufuit*!” Si pemuda bersiul memanggil seekor monyet.
“Ya Tuan?” tanya monyet.
“Tolong bukakan pintu rumahku,” Ucap pemuda itu.
“Ooh, baik Tuan,” Ceklek, “Silakan Tuan.” Si monyet membukakan pintu rumah pemuda itu bak seorang pelayan. “Terimakasih,” jawab pemuda itu.
Ia menidurkan Naryla di sofa chaise bentuk L berwarna abu gelap yang terletak di sudut depan ruang pertama setelah masuk. Setelah meletakkannya, kemudian ia berlalu begitu saja meninggalkan Naryla ke belakang.
“Hm.. Aku dimana lagi ini?” Naryla bangun dari tidur sejenaknya dan perlahan membuka mata. Dilihatnya dinding berwarna abu-abu muda yang sepertinya terbuat dari GRC (Glassfibre Reinforced Concrete).
“Indah sekali,” kagum Naryla. Ia terpesona dengan interior ruangan itu. Tidak terlalu minimalis dan tidak juga maksimalis, namun terkesan elegan. Ia menyusuri hingga keluar rumah.
Saat berbalik, “What? Kayak kenal ni rumah. Hm.. Aha! Rumah daerah Lampung. Tapi kok atapnya kayak yang di Papua itu sih,” ucap Naryla mengamati, “Gue dimana sih ini? tadi terbang, sekarang ada di rumah tradisional tapi dalemnya bagus banget. Tapi.. Bukannya gue udah meninggal ya harusnya? Apa ini beneran surga?” Naryla bertanya-tanya dimana tepatnya ia berada sekarang ini.
“Hei. Apa yang kau lakukan disana? Bukankah kau masih lemah? Kemarilah..” Pemuda itu memanggil Naryla dari pintu rumah.
“Ah, iya baik.” Naryla sedikit berlari mengikuti pemuda itu masuk. Ia tidak tahu siapa pemuda itu, tapi batinnya mengatakan untuk ikut. “Bau apa ini?” batin Naryla setelah hidungnya menghirup sesuatu yang samar-samar ia kenal.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya pemuda.
“Eh? Perasaan? Maaf maksud anda apa ya?” tanya Naryla bingung mendapat pertanyaan seperti itu.
“Apakah tubuhmu sudah terasa lebih baik atau masih ada yang terasa sakit?” tanya pemuda itu.
“Ohh,” jawab Naryla sambil meregangkan tubuhnya untuk mengecek apakah masih ada sakit yang terasa, “Nampaknya tidak ada, hanya sedikit lemas. Ngomong-ngomong Anda siapa?” sambung Naryla.
Pemuda itu tak langsung menjawab, “Nih, minumlah.” Ia menyodorkan segelas air yang Naryla tak tahu air apa itu.
__ADS_1
“Apa ini?” Naryla memiringkan gelas dan mendekatkan hidungnya ke permukaan air terdekat, “Minyak kayu putih? Kau menyuruhku minum minyak kayu putih? Kau pembunuh ya? Tolooong!” teriak Naryla.
“Hei diam! Apa-apaan sih kau ini. Aku tidak mengerti yang kau ucapkan,” jawab si pemuda.
“Pembohong! Mau kau apakan aku dengan membawaku kesini dan menyuruhku minum minyak kayu putih?” tanya Naryla lagi sambil membentak.
“Apasih aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan. Apa itu minyak kayu putih dan ada apa dengan itu sehingga kau mengira saya berniat mencelakaimu?” Pemuda itu menjawab Naryla denagn nada sedikit membentak juga, “kau masih lemah, minumlah dan jangan banyak bicara.”
“Tidak mau, sebelum Anda meminumnya dulu. Buktikan kalau itu tidak berbahaya,” pinta Naryla.
“Ish. Sini,” Pemuda itu mengambil gelas Naryla dan meminumnya sedikit, “Nah sudah saya minum, lihat tidak ada masalah. Sekarang minumlah,” lanjut pemuda itu.
“Tidak mau!” Naryla menolaknya lagi.
“Kenapa lagi? Aku sudah membuktikan padamu kalau ini tidak berbahaya. Kau beruntung aku masih mau menolong dan mengurusmu.” Pemuda itu mulai dibuat kesal dengan tingkah Naryla.
“Gelasnya.. Gelasnya ganti,” jawab Naryla yang disambut tawa oleh si pemuda.
“Kok airnya banyak lagi? Kau menambahkan sesuatu ya?” tukas Naryla.
“Saya ambilkan air sejenis yang baru, wahai Tuan Putri.. Atau kau ingin aku membuatkan ulang air itu dari awal supaya anda puas?” geram si pemuda.
“Boleh,” jawab Naryla.
“Sudahlah terserah kau mau minum atau tidak, tapi tubuhmu masih lemas dan itu bisa membantumu pulih. Jangan khawatir, itu hanya air rebusan dari 6-10 gram kulit kering ranting eucalyptus,” jelas pemuda itu.
“Eucalyptus? Kayak pernah dengar,” batin Naryla sambil mendekatkan bibir gelas untuk meminum air itu. “Minyak kayu putih! Tuh kan anda mau meracuni saya dengan minyak kayu putih?!” bentak Naryla tidak jadi minum.
“Aaargh! Terserah anda mau minum atau tidak. Lebih baik saya keluar,” kelus pemuda itu sambil keluar melalui pintu belakang, “Tau bandel gitu mending gausah ditolong. Apa pula minyak kayu putih itu.” Pemuda itu berbicara sendiri dengan suara kecil namun masih bisa ditangkap oleh telinga Naryla.
“Hmm..” Naryla memutar mutarkan gelas sambil masih meneliti dan meyakinkan diri. “Yasudahlah coba saja, toh aku juga tidak tahu ini dimana dan harus tinggal dimana selain menumpang padanya.”
__ADS_1
Glek glek. Habis. Naryla menyusul pemuda itu ke belakang.
Naryla mencari-cari dimana pemuda itu berada, namun batang hidungnya pun tidak terlihat. Alhasil ia mengitari rumah untuk mengisi kebosanannya. Sekeliling rumah pemuda itu asri dengan atmosfer positif dan beragam jenis hewan dan tumbuhan hidup disana. Sangat cocok sebagai tempat bersantai dan melepas beban pikiran. Senangnya hati Naryla melihat anak-anak kelinci berlarian riang menerobos semak semak sedang induknya asyik menyantap rumput segar di depan Naryla saat ini.
“Apa lihat lihat?!” si Kelinci berbicara.
“Eh? Kau berbicara? Bagaimana bisa?” tanya Naryla.
“Harusnya aku yang bertanya padamu, bagaimana kau bisa mendengar dan mengerti bahasa kami?” jawab si kelinci.
“Aku juga tidak tahu, kupikir memang semua hewan disini dapat berbicara dan didengar semua orang,” lanjut Naryla.
“Tidak semua orang bisa. Aduh, kau mengganggu aku makan. Bisakah kau pergi?” pinta si kelinci.
“Baiklah, selamat makan kelinci cantik,” puji Naryla.
“Hei, aku jantan tahu!” jawab kelinci tersinggung.
“Oh? Okee, selamat makan kelinci tampan,” sanjung Naryla. Ia lanjut berjalan dan seperti melihat pemuda tadi dibalik semak semak. Naryla mendekati semak tersebut dan mengintipnya.
“Woaah ternyata ada lapangan besar.” Dibalik semak itu terdapat lahan besar dimana si pemuda berada. Naryla segera menghampiri dan duduk di sebelahnya.
“Ngapain kau kesini? Sudah jadi minum air yang tadi?” tanya si pemuda dijawab sudah oleh Naryla. Kemudian hening kembali. Si pemuda melanjutkan kegiatannya.
“Hei.. banyak yang ingin kutanyakan padamu..” ungkap Naryla sembari memandangi apa yang dilakukan pemuda itu.
“Jangan sekarang, aku masih kesal padamu,” jawab pemuda itu.
“Ayolaah, bukankah wajar kalau aku waspada terhadap orang asing?” ujar Naryla.
“Hm,” jawab singkat pemuda itu kemudial meninggalkan Naryla.
__ADS_1
“Haiss..,” batin Naryla, “Hei tunggu..!” Naryla kemudian mengejar pemuda itu kembali ke rumah.