
Ia menyimpan kue yang jatuh tadi di dalam laci lemarinya dan melanjutkan tidur. Ia tidak kembali ke ruangan tengah tempat ibu dan adiknya tertidur, melainkan terlelap sendiri di kamarnya. Ia tidak tidur senyenyak biasanya karena sebagian perasaannya heran dan kaget dengan yang ia lihat barusan.
Fajar keesokan harinya datang, hari masih belum terlalu terang namun ibu yang telah bangun dari tidurnya sudah bersiap dan memasak sarapan untuk mereka bertiga. Si imut Bubu masih terlelap dalam posisi 180ᵒ berlawanan arah dari posisi awal ia tertidur, sementara Veda yang sejak awal tidak tidur dengan nyenyak mengerjapkan matanya hendak bangun.
“Ibu,” panggil Veda.
“Ehh Veda sudah bangun, cuci muka dulu ya biar segar,” sahut ibu sambil memotong sayuran.
Veda menuruti ibunya dan lanjut berjalan ke arah wastafel di sebelah kamar mandi. Selesainya dari mencuci muka, sikat gigi, dan buang air, ia menghampiri ibunya dan duduk di kursi meja makan yang letaknya berdekatan dengan dapur. Saat melamun sembari melihat gerakan gesit ibunya dalam memasak, ia kembali mengingat kejadian semalam. Ingin rasanya ia bercerita tentang itu ke ibunya, tetapi diurungkan.
Tok tok tok tok. Seseorang mengetuk pintu depan rumah mereka dengan sangat cepat dan keras, mengagetkan dua insan yang sedang santai itu. Veda menatap ibu yang memberi isyarat untuk tetap disini dan biar ibu yang membukanya. Veda yang sedikit khawatir itu mengikuti ibunya sambil bersembunyi, penasaran dengan siapa yang datang.
Ceklek. Ibu membuka pintu.
“Ya?” sahut ibu terhadap ketukan tersebut.
“Pa-pangeran?!” Veda yang mengintip di balik dinding sontak terkejut setelah melihat siapa yang datang, “ups.” Ia langsung menutup mulutnya yang barusan mengeluarkan suara cukup lantang.
“Huh huh, maafkan saya yang sangat tidak sopan Bu, tapi saya mohon …, huh huh, izinkan saya dan adik saya bersembunyi …, huh huh, disini sementara waktu. Darurat Bu,” ucapnya ngos-ngosan.
“Ah, eh? Ya sudah silakan masuk Pangeran dan Tuan Putri, mari jelaskan di dalam saja.” Ibu menyilakan mereka masuk dan segera menutup pintu.
“Duduk dulu, Pangeran dan Tuan Putri. Saya ambilkan minum sebentar,” pamit ibu disahut anggukan dan ucapan terimakasih dari Pangeran dan Tuan Puteri. Veda masih bersembunyi dan menatap keduanya. Ibu yang lewat dan mendapati anaknya bersembunyi hingga tidak sadar ibunya menghampiri hanya menggelengkan kepalanya.
Tak berapa lama kemudian, ibu datang dan menghidangkan air mineral dingin dan kue coklat semalam yang ada di meja. Ia tidak langsung menanyakan alasan kedatangan kedua orang terhormat di Kerajaan Sterm itu. Mereka yang kehausan kemudian meneguk air mineral yang disuguhkan ibu. Setelah nafas mereka mulai normal, ibu memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
“Sebelumnya saya merasa sangat terhormat atas kedatangan Yang Mulia Pangeran dan Tuan Putri ke rumah kami, namun apakah saya boleh mengetahui ada apa gerangan Yang Mulia berdua bisa sampai kemari?” tanya ibu hati hati.
“Saya sangat berterima kasih karena Ibu sudah bersedia menerima kami disini,” jawab pangeran sebelum memulai penjelasan, “Kerajaan Sterm saat ini sedang mengalami konflik internal yang menjadikan kami buronan utama kerajaan. Ada yang ingin memusnahkan keluarga kerajaan dan menguasai Kerajaan Sterm secara absolut.” Pangeran menjelaskan inti permasalahan.
Pangeran dan Tuan Putri saling menatap, “Kalau diizinkan, kami ingin numpang tinggal beberapa hari disini Bu sambil memikirkan rencana selanjutnya,” ungkap Tuan Putri. Ibu yang terjebak antara ragu, khawatir, namun kasihan diam beberapa saat.
“Hm, baiklah Pangeran dan Tuan Putri silakan anggap rumah ini seperti rumah sendiri ya. Tetapi, rumah kami tidak semegah perumahan kerajaan,” jawab ibu ditanggapi dengan ungkapan terima kasih banyak.
Singkat cerita, sudah beberapa minggu mereka tinggal bersama keluarga itu. Pribadi yang ramah dan menyenangkan membuat mereka dengan cepatnya akrab dengan Bubu dan Veda. Tidak ada lagi kecanggungan dalam berinteraksi satu sama lain karena mengingat status pangeran dan tuan putri, bahkan mereka sering melakukan hal-hal tidak penting bersama kedua bocah di rumah itu.
Sampai akhirnya di suatu malam, ketika Veda dan pangeran tiduran karena keletihan setelah bermain, Veda teringat benda mirip kue namun keras itu. Ia berpikir mungkin orang kerajaan seperti pangeran mengetahui sesuatu. Veda segera berlari ke meja belajarnya mengambil benda itu.
“Hei, mau kemana? Apa kau tidak lelah?” panggil pangeran sambil tetap tiduran.
“Paman,” kejut Veda melihat pangeran memejamkan mata.
“Eh, iya Veda ada apa?” sahutnya sambil mengangkat kepalanya menanggapi namun segera ia rebahkan lagi. Veda mengunci pintu kamarnya mencegah orang lain mendengar percakapan mereka. Pangeran yang heran mengapa Veda sampai seperti itu pun duduk.
“Ada apa sih, kok sampai dikunci segala pintunya?” tanya pangeran heran.
“Ssut, jangan keras-keras Paman nanti ada yang dengar,” sambung Veda. Ia menuju lemari tempat ia menyimpan kue yang mengeras kemudian mulai naik ke kasur dan duduk di depan pangeran. Pangeran hanya menaikkan sebelah alisnya bingung.
“Paman, lihat ini.” Veda memegang benda tersebut di kedua tangannya terpisah dan menyodorkannya ke pangeran.
“I-iya, itu kue. Kenapa?” tanya pangeran.
__ADS_1
“Iya kan Paman juga mengira ini semua kue. Aku ingin menceritakannya, mungkin paman sebagai orang kerajaan tahu sesuatu tentang apa yang kuceritakan,” terang Veda antusias. Ia mulai menceritakan kisah dua kue keras itu.
“Ohhh, itu bakat realisasi pikiran.” Pangeran menjawab begitu saja menanggapi cerita malam itu ketika kue yang dipegang Veda tiba-tiba mengeras.
“Bakat realisasi pikiran?” heran Veda.
“Iya, kamu saat itu sedang memikirkan benda yang satunya ini kan sambil memegang kue itu? Nah kamu waktu itu secara tidak sadar memikirkannya dengan keras, jadi yang ada dipikiranmu itu terwujud jadi nyata. Akan tetapi, bukan berarti sifat dan karakteristik apa yang kamu pikirkan bisa terealisasi sama persis.” terang pangeran pada Veda.
“Erm, aku … ngga ngerti … hehe.” Veda yang masih tujuh tahun itu tidak langsung mengerti penjelasan pangeran.
“Hhhh, baiklah tidak apa-apa nanti juga kamu mengerti sendiri,” tanggap pangeran, “tapi …,” ucap pangeran menggantung. Ia mengisyaratkan agar Veda mendekatkan telinganya karena ia ingin berbisik.
“Bakat itu hanya dimiliki oleh orang jenius, dan kamu tidak boleh sembarangan memberi tahu orang lain tentang bakat ini,” bisik pangeran. Veda terdiam sejenak menerjemahkan kalimat tersebut. Hingga akhirnya ia mengerti dan menunjukkan ekspresi penuh semangat.
“Woaah berarti aku orang jenius dong?” ungkapnya antusias. Pangeran hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Kalau yang satu ini apa Paman?” Veda menyerahkan benda keras yang dibawa Bubu waktu itu. Pengeran mengambil benda yang diserahkan itu dari genggaman Veda. Namun, tiba-tiba ....
.
Sringg!!
.
“Aah!” kaget Veda, sementara pangeran sedikit terkejut hingga menjauhkan tangannya dari wajah.
__ADS_1