
“Ohh.. iya Ma, Pa, Ila ngga apa apa kok berangkat sendiri, nanti biar Ila kabarin Kak Delan untuk bantu Ila kalo ada apa-apa, kayaknya Papa ngga perlu minta tolong Om Rudi sama istrinya deh, khawatirnya mereka ada kegiatan lain, lagipula bakal menghabiskan lebih banyak biaya kalo mereka anter Ila. Ila kan anak Mama Papa yang paling mandiri hehe..” Naryla tersenyum tak ingin membuat papa mama nya semakin sedih.
“Baiklah nak, terimakasih ya udah mau mengerti kami, maaf ya sekali lagi.. Nanti papa mau minta kontaknya Delan,
biar papa bilang langsung ke dianya ya?” sahut papa lagi.
“Okee Papa sayangg.. Ila ke kamar dulu ya mau lanjut beres-beres,” ucap Naryla menutup pembicaraan sambil mengedipkan matanya dan melangkah ke kamar.
Seminggu berlalu dan Naryla mulai mencari-cari tiket ke Melbourne di berbagai website dan aplikasi. Ia berusaha
mencari penerbangan yang paling murah yang bisa ia dapatkan sehingga dengan telitinya juga mencari diskon terbesar. Sekian lama mencari, akhirnya ia menemukan satu penerbangan yang murah namun seminggu lebih cepat dari rencana kedatangannya di Australia.
“Demi apa ini tiket cuma tiga juta lima puluh ribu rupiah udah dari Batam langsung ke Melbourne, tanpa transit dan dapet diskon 60%?!! Tunggu, bagasi gimana (Naryla langsung mengklik informasi bagasi). Udah dilengkapi bagasi 30 kg?!! Dewi keberuntungan lagi berpihak sama aku apa gimana nih.”
Tanpa pikir panjang Naryla langsung memilih penerbangan itu dan tersenyum menang atas dirinya sendiri. Setelah itu ia memilih untuk tidur.
Esoknya Naryla mengabarkan mama dan papanya bahwa ia sudah membeli tiket pesawat. Papa Haris pun menghubungi Delan yang sudah dikabari Naryla sebelumnya.
“Halo, dengan siapa?” suara Delan nan jauh disana melalui telepon.
“Halo Nak Delan, ini papanya Naryla… (menjelaskan maksud dan tujuan menelepon Delan), gimana? Nak Delan
__ADS_1
keberatan ngga kira-kira?” pinta Papa Haris pada Delan
“Ohh, ngga kok om, Delan malah dengan senang hati mau bantu Naryla disini, om percayakan aja sama Delan,”
jawab Delan mengiyakan permintaan Papa Haris.
“Baik Nak Delan, terimakasih banyak ya.” Tak lama kemudian papa menutup telepon.
Delan di Melbourne,
Ia tersenyum sendiri mendapati papa Naryla yang mempercayai dirinya untuk menjaga Naryla disini.
“Udah jadi kloningannya gue bukan kesambet lagi” canda Delan meladeni temannya.
“Gamau gue temenan lagi sama lu, hii serem.” Pura-pura kabur padahal hendak ke toilet.
“Haha dasar,” batin Delan.
Kembali ke pikirannya, Delan ingat sekali bagaimana dulu Naryla terkenal di sekolahnya dan Delan yang mengaguminya diam-diam. Naryla yang nampaknya memiliki semua hal baik untuk seorang perempuan tidak pernah menampakkan dirinya berhubungan dengan siapapun, dan kali ini papanya menaruh kepercayaan kepada Delan. Alangkah bahagianya dirinya.
Delan tidak mengetahui apapun tentang hubungan Naryla dan Rendra dahulu karena memang mereka menutupnya
__ADS_1
rapat-rapat dari telinga kakak kelas karena mereka berdua memiliki cukup banyak penggemar di kalangan senior sedang mereka tak mau ambil resiko.
Kembali ke Naryla,
Dua minggu berlalu dan semua perlengkapan sudah terkemas rapi. Papa dan mama sudah pergi kemarin lusa dan
meminta pak supir untuk mengantar Naryla ke bandara ditemani bibi. Hari itu ada kecelakaan lalu lintas yang menghambat perjalanan mereka ke bandara. Naryla khawatir ia akan tertinggal pesawat. Untungnya mereka sampai lima belas menit sebelum pesawat take off.
“Pak, Bi, maaf ya Ila udah hampir ketinggalan pesawat nih jadi ngga bisa ngobrol banyak lagi, makasih sudah mengantar Ila dan hati hati ya pulangnya, Ila titip rumah.” Peluknya pada bibi sebelum berlari menerobos antrian dan berusaha meyakinkan mereka untuk mengizinkannya.
“Huft, syukurlah tidak ketinggalan pesawat.” Naryla tergopoh-gopoh meletakkan barangnya di bagasi kabin dan duduk di kursinya.
Ia menaiki pesawat jenis Airbus dengan susunan kursi 2-4-2 dan duduk di bagian kiri dekat jendela. Ia memasang
sabuk pengaman dan memandang jauh keluar jendela sebelum dirinya meninggalkan kota kelahirannya untuk beberapa waktu kedepan. Tiba-tiba terdengar bunyi tuk tuk dari jari sesorang yang mengetukkan jari tengah dan jari manisnya ke LCD di depan Naryla. Naryla menengok padanya bertanya-tanya.
Laki-laki bertubuh tinggi dengan sebagian rambutnya yang mulai memutih tidak berkata sepatah kata pun dan hanya menunjukkan tiket pesawatnya pada Naryla. Aku melihatnya makin heran dan menatap matanya seakan berkata “apa maksud anda menunjukkan tiket itu?”, melihat ekspresi kebingungan Naryla orang itu kemudian menunjuk ke tulisan nomor kursi di tiketnya.
“Eh? Tunggu sebentar,” tutur Naryla.
__ADS_1