Merah Kuning Hitam

Merah Kuning Hitam
Episode 14 - Pengenalan Bakat


__ADS_3

Si pemuda berjalan cepat tidak ingin sejajar dengan Naryla, sehingga Naryla harus berlari kecil mengikutinya. Sesampainya di rumah, si pemuda mengambil sebatang tombak, namun diujungnya yang runcing terdapat sesuatu berwarna hitam. Persis seperti,


“Pensil? Besar sekali..” ucap spontan Naryla melihat benda itu, “Kau mau menulis dimana dengan pensil sebesar itu?” racaunya lagi.


“Hm.” Lagi-lagi si pemuda hanya menjawab dengan cara yang sama.


“Kau masih marah?” tanya Naryla, “Oh ayolaah jangan jadi laki-laki yang suka ngambek,” kata Naryla yang kali ini bahkan tidak ditanggapi.


Si pemuda mengambil beberapa perlengkapan kemudian keluar lagi. Ya, Naryla juga mengintili dari belakang layaknya anak ayam mengikuti induknya. Mereka menuju pantai tempat Naryla melayang sebelumnya.


“Selamat sore Tuan..” sapa penduduk pantai membuat Naryla terkesima, “dan Nona,” sambung mereka membuat keduanya heran.


“Sore..” jawab mereka serentak. Mereka berjalan lagi menuju sebuah perahu yang terparkir di pinggir pantai. Si pemuda masih diam saja namun tak ada penolakan ketika Naryla ikut naik ke perahu.


“Kita mau kemana?” tanya Naryla lagi lagi tidak dijawab. Ia memutuskan untuk diam saja setelahnya.


Semilir angin berhembus menyibak air laut sehingga bagian bawah perahu mereka tertendang ombak. Suara burung camar menemani perjalanan mereka menuju tengah laut. Pandangan Naryla lurus ke depan setelah sebelumnya menyorongkan wajahnya sedikit ke kiri.


Setelah cukup jauh ke tengah laut, si pemuda itu mengeluarkan benda mirip pensil besar itu dan melihat ke dalam permukaan laut di sebelahnya. Setelah dirasa yakin, ia melemparkannya seperti tombak.


“Argh! Kaget,” ucap pemuda itu ketika menoleh dan tiba-tiba ada kepala Naryla di sampingnya.


“Hehehe..” jawab Naryla cengengesan. “Apa aku harus minta maaf baru dia akan mau bicara lagi padaku?” batin Naryla.


Karena suasana sangat tidak mengenakkan, akhirnya Naryla mulai bicara.


“Hei, aku minta maaf ya soal tadi,” kata Naryla memulai dan belum dijawab si pemuda, “dan terimakasih atas semuanya.. Apakah kau akan terus membuatku merasa bersalah dengan kesal dan diam seperti ini?” sambung Naryla.


Pemuda itu akhirnya menoleh ke Naryla dan berkata, “Baiklah tidak masalah, aku sudah tidak kesal padamu.” Wajahnya mulai bersahabat.


“Aku ingin bertanya banyak hal padamu,” tutur Naryla lagi.


“Bukannya aku yang harusnya menanyakan banyak hal tentangmu?” jawab pemuda itu.


“Okee baiklah baik, kita saling tanya okee?” geram Naryla, “Pertama-tama siapa namamu?”


“Panggil saja Xero,” jawabnya, “dan kau?”


“Naryla,” jawab Naryla, “Tempat apa ini?” tanya nya lagi.

__ADS_1


“Pertanyaanmu aneh, ya di Kerajaan Sterm lah.” Xero bingung dengan pertanyaan Naryla.


“Kerajaan Sterm?” tanya Naryla lagi, “di bagian bumi mana?” lanjutnya.


“Bumi? Tidak ada daerah bernama bumi disini,” jawab pemuda itu makin heran, “Sekarang giliranku, kau darimana?”


“Bumi.” Naryla menjawab singkat..


“Sebenarnya apa dan dimana bumi itu?” Xero penasaran.


“Bumi yaa planet, planet ketiga dari matahari dan sering disebut planet biru.” Naryla bingung bagaimana harus menjelaskannya.


“Apakah disana seperti disini? Ada lautan, gunung, pohon, ikan?” tanya pemuda itu antusias.


“Iya, hanya saja binatang di bumi tidak dapat berbicara, dan manusia tidak bisa melayang dengan sendirinya,” jawab Naryla lagi.


“Ohh, sebenarnya tidak semua orang dapat mengerti ketika mereka berbicara, hanya yang mempunyai bakat berbicara pada mereka saja yang bisa mengerti. Kalau yang bakatnya dibidang lain, maka hanya akan mendengar hewan-hewan itu bersuara seperti biasa,” terang Xero, “Oh mungkin bakatmu juga sama dengan salah satu bakatku itu.”


“Entahlah,” jawab Naryla mengingat ucapan si kelinci tampan sebelumnya, “Oh iya, bagaimana aku bisa ada disini?” Akhirnya pertanyaan utama Naryla keluar juga.


“Sepekan yang lalu di waktu yang sama seperti sekarang ini aku melihatmu melayang sedikit di atas permukaan air laut pinggir pantai dengan banyak memar dan luka, sepertinya ada tulang yang retak juga,” Jelas Xero.


“Bukan, Nenek Kane yang melakukannya, aku tidak berbakat untuk itu, aku hanya membawamu ke rumah nenek.” Xero menjawab sambil mengecek pensil tombak tadi.


“Oh iya, bagaimana cara kerja pensil itu? Tadinya kupikir kau akan menulis di lapangan,” Naryla setengah meledek Xero.


“Hap! Makan malam kita.” Xero melepaskan ikan laut sebesar bayi yang baru lahir dengan berat 3 kg itu dari ujung pensil tombak.


“Kau lihat ini?” Xero menunjuk bagian hitam yang biasa kita gunakan untuk mengukir huruf di kertas, “Ini sudah kuberi bakat untuk mengikuti suara ikan di dalam sana, kemudian ia berburu sendiri dan kembali setelah mendapat mangsa.”


“Whoaa kerenn..” Naryla terkagum mendengarnya, “Aku jadi ingin tahu apa saja bakatku.”


“Oke nanti kita ke rumah nenek, dia juga berbakat mengecek bakat yang dimiliki seseorang melalui darahnya,” respon Xero terhadap ungkapan kekaguman Naryla tadi.


“Darah? Apakah harus terluka dulu baru bisa dicek?”


“Tenang hanya perlu setetes, tidak banyak.” Xero kembali mengarahkan perahunya ke tepi pantai.


***

__ADS_1


Xero dan Naryla sudah kembali ke pantai. Naryla diminta Xero untuk menunggu di tepi pantai saja sedang ia mengambil pisau untuk membersihkan ikan tersebut sebelum dibakar. Setelah kembali dengan pisau dan beberapa bumbu, mereka membersihkan ikan tersebut bersama sama.


“Sudah selesai.. Yuk kita ke lahan, yang kau bilang lapangan itu,” ajak Xero. Mereka pun segera menuju lahan.


“Kau duluan saja, aku ambil sesuatu untuk membuat apinya,” pinta Xero pada Naryla.


“Okee..” jawabnya. Naryla kemudian menusukkan batang kayu ke ikan yang siap masak itu sambil menunggu Xero agar nanti bisa langsung dibakar.


“Aku datang,” sapa Xero dibalas senyuman oleh Naryla.


Xero membawa sebuah batu di tangan kirinya dan segelas air di tangan lainnya. Naryla kembali dibuatnya heran. Xero menyusun kayu, beberapa arang siap bakar dan menyisakan sedikit ruang untuk tangannya masuk menyalakan api. Naryla hanya melihat karena khawatir akan membuat masalah, pasalnya ia tidak paham akan hal seperti itu.


Xero meletakkan kerikil pipih yang ia bawa tadi di bawah tumpukan kayu bakar, kemudian menyiramnya dengan air dari gelas tadi. Muncul percikan-percikan api yang kemudian menjadi bakal untuk membakar ikan hasil tangkapan mereka.


“Apa itu? Mengapa setelah kau menyiram air malah muncul api?” tanya Naryla.


“Ohh, apakah di bumi tidak seperti ini?” ucap Xero malah balik bertanya sambi mulai meletakkan ikan di atas api namun tidak menyentuh bahan bakarnya, “Ini adalah rubidium (rb), logam ini sangat reaktif dengan air karena ia tergolong logam alkali. Jadi kalau kita beri sepotong kecil rubidium dengan air sedikit demi sedikit ia akan mengeluarkan percikan api. Tapi jangan pernah kau melempar sebongkah rubidium ke tempat yang banyak air, ia akan meledak dibuatnya.” Naryla mengangguk-angguk tanda mengerti.


“Jadi semua orang di Kerajaan Sterm menggunakan cara ini untuk menyalakan api?” tanya Naryla spontan.


“Tidak semua, hanya aku saja yang terlalu kaya jadi menggunakan ini hahaha,” canda Xero.


“Ooh jadi kau orang kaya.. pantas saja rumahmu bagus seperti itu meskipun terletak di ujung pantai,” respon Naryla.


“Hahaha, tidak tidak, rumahku termasuk yang kecil loh, di tengah kota banyak yang rumahnya berbahan campuran emas. Istana Kerajaan Sterm malah sebagiannya menggunakan Platinum 95% murni,” jelas Xero, “Orang tua ku memiliki beberapa tambang logam salah satunya rubidium, jadi aku bawa sedikit untukku disini,” lanjutnya.


Bukan hanya mulut Naryla yang ternganga, namun mata dan telinganya juga hampir copot mendengar penjelasan Xero.


_______


Bayangan kalian pensilnya pensil kayu atau pensil mekanik?


Terimakasih untuk semua yang sudah mampir, membaca, dan memberikan semua dukungannya yaa..


Doa yang baik untuk kalian..


Stay safe semuaa..


Kalam sayang dari author..

__ADS_1


__ADS_2