Merah Kuning Hitam

Merah Kuning Hitam
Episode 26 - Zierre dan Culzed


__ADS_3

“Dah lah aku tinggal, bye Jelek.” Tuan putri melangkah mundur menjauhi kakaknya sambil menjulurkan lidah meledek. Pangeran yang sudah cukup senang karena adiknya bersedia menyempatkan waktunya tadi hanya tersenyum menanggapi ledekan adiknya yang sedang menjauh pergi. Ia ingin lanjut melatih bakat barunya itu segera.


Pangeran membuka bungkus benda mirip kue brigadeiro itu untuk melihat langkah selanjutnya. Ya, ia sudah membuatkan bungkus untuk si benda sebab ia kurang nyaman jika setiap kali memegang benda itu layarnya juga ikut terpampang.


Klik. Pangeran menekan tombol bertuliskan ‘selanjutnya’.


Srassh. Muncul sebuah kubus besar berwarna biru muda yang sedikit transparan dan bersinar. Tidak ada corak lain, pintu untuk masuk, atau sekedar tombol bulat merah untuk menginstruksikan sesuatu. Hanya sebuah kubus yang berdiri kokoh di belakang layar dari benda bulat mirip kue itu.


Pangeran meletakkan benda bulat itu di dasar gua dan berjalan mendekati kubus bersinar tersebut. Ia memutari sekeliling kubus meneliti. Benar saja, ia tidak menemukan apapun. Kemudian, pangeran kembali melihat layar untuk memastikan adakah instruksi lain berkaitan dengan kubus tersebut, dan ternyata tidak ada. Hanya sebuah layar coklat bercorak jingga transparan yang kosong.


Pangeran kembali mengamati kubus bersinar. Perlahan ia menggerakkan tangannya mendekat ke kubus hendak menyentuh sisi kubus yang berada di depannya.


***


“Tuan, ada sinyal dari benda itu, nampaknya ada yang menggukanannya,” ucap salah satu orang penting disisi pangeran kedua, “berarti masih ada keluarga kerajaan yang hidup.”


“Hm.. Jadi kalian masih hidup, Kak, Dik.” Pangeran kedua yang saat ini menduduki singgasana raja setelah menghabisi seluruh keluarga kerajaan, sedang bertopang dagu. Tidak, belum semua ia habisi karena masih tersisa pangeran pertama dan tuan putri di rumah Veda.


“Cari …, ambil …, dan bunuh mereka. Se-ge-ra!” perintah raja yang mana merupakan adik dari Pangeran Zierre dan kakak dari Tuan Putri Culzed. Pasukan rahasia kepercayaan raja dikerahkan untuk mencari benda mirip brigadeiro yang sedang digunakan Pangeran Zierre dan mengambilnya. Tidak lupa juga mereka diperintahkan untuk membunuh kedua saudaranya.


Seluruh anggota pasukan rahasia bersiap menuju lokasi di pinggiran kerajaan. Butuh waktu beberapa puluh menit menggunakan transportasi udara berkapasitas 35 orang itu untuk mencapai sumber sinyal.

__ADS_1


***


Shatt. Pangeran masuk ke dalam kubus. Ia tadi menyentuh sisi kubus bersinar, dan ternyata kubus tersebut menariknya masuk.


Cuit cuit. Srek srek. Mbeeek. Mooo. Ia berada di tengah hewan-hewan ternak yang terukurung di kendang. Pangeran berjalan mendekati kandang sapi di dekatnya. Setelah tiga bergerak tiga langkah,


Tininit tininit tininit. “Professor, sepertinya ada sesuatu yang salah. Tapi saya rasa sudah memasangnya sesuai petunjuk,” ucap seseorang berjas putih yang berdiri di depan sebuah rakitan produk. Pangeran hendak mendekati orang tersebut, tetapi lagi-lagi ia berpindah tempat setelah maju tiga langkah.


“When the MTD is higher than the tax liability minus the rebate, it becomes tax refund,” terang seorang dosen di sebuah kelas yang berisi sekitar 60 orang. Saat ini pangeran sedang berdiri di sebelah dosen tersebut dan nampaknya tak satupun orang disana dapat melihatnya. Pangeran penasaran apakah ia bisa menyentuh sesuatu yang ada di dekatnya saat ini atau tidak. Ia akhirnya berjalan selangkah untuk meraih buku di meja ibu dosen dan mengangkatnya.


“Kyaaa! The …, the book.”  Seorang mahasiswi yang melihat buku itu terbang sendiri teriak ketakutan memancing kehebohan di kelas. Keisengan pangeran pun muncul sehingga melempar-lempar buku tersebut ke atas dan menangkapnya kembali. Seisi kelas itu sudah kacau tak beraturan. Bu dosen yang juga takut dan bingung harus berbuat apa untuk menenangkan kelasnya mencoba meraih buku yang dipegang pangeran. Akan tetapi, pangeran menariknya agar bu dosen tidak dapat meraih buku itu. Sampai akhirnya,


“Kakakk! Kakakk!” teriakan tuan putri terdengar.


Pangeran yang mulai khawatir pun menghentikan kejahilannya dan meletakkan buku tersebut ke tempat semula. Ia masih bingung bagaimana cara ia kembali ke gua tempatnya berada tadi.


“Setiap tiga kali melangkah, aku akan berpindah. Tadi aku sudah melangkah sekali, berarti masih ada dua langkah lagi. Tetapi, apakah aku bisa kembali ke gua atau malah ke tempat lain lagi ya?” gumam pangeran bingung. Akhirnya mau tidak mau ia mencobanya. Sayangnya, ia gagal kembali ke gua tempatnya berlatih tadi. Saat ini ia malah berada di tempat yang sangat ramai dengan lampu berkelap-kelip dan musik yang berdentuman. Hampir semua orang disana bergoyang mengikuti irama musik.


“Aargh, sial. Ini dimana? berisik sekali. Kalau tidak berhasil lalu bagaimana caranya aku kembali?” ucap pangeran frustasi, “Dik! Apa kau mendengarku?” teriak pangeran berharap adiknya menyahut panggilannya. Namun nihil, tak ada jawaban.


Disisi lain, tuan putri yang sudah sangat gelisah melihat heran sebuah kubus besar bersinar di dalam gua. Di sebelahnya terdapat benda bulat dengan layar terpampang di atasnya. Segera tuan putri mengambil benda tersebut di tangan kirinya sambil mengotak-atik layar dengan jari kanannya.

__ADS_1


“Kalau ngga keluar aku sita nih Kak.” Tuan putri masih berteriak mengancam kakaknya.


Swutt. Kubus tersebut hilang dan pangeran muncul dari dalamnya. Pangeran sangat bersyukur ia dapat kembali, sementara tuan putri sangat jengkel dibuatnya.


“Malah nyumput lagi! Ayo cepat kembali ke rumah, ibu dan adik-adik dalam bahaya.” Tuan putri meraih pergelangan tangan pangeran dan memberikan benda mirip brigadeiro itu ke kakaknya, kemudian menariknya untuk kembali ke rumah. Pangeran mengantongi benda tersebut.


Sesampainya di rumah, mereka melihat Veda dan Bubu gemetaran sambil bersembunyi di balik dinding penyekat dapur dan ruang makan yang tingginya sepinggang pangeran. Pangeran dan Tuan putri yang melihatnya menghampiri mereka.


“Veda, tenang semua akan baik-baik saja. Ini, paman titipkan padamu.” Pangeran menyerahkan benda yang menyimpan banyak rahasia itu ke Veda. Kemudian pangeran menuju ke depan menemani ibu menghadapi orang orang itu sedang tuan putri menjaga Veda dan Bubu.


“Nah ini dia buronan kita, ternyata bersembunyi disini,” ucap seseorang yang nampaknya pimpinan mereka, “dan kau berani menyembunyikan mereka disini?!” lanjut pria itu memukul ibu.


Shat. Kretek. Pangeran meraih tangan yang memukul ibu tadi dan memelintirnya sedikit.


“Aargh, kurang ajar! Habisi mereka!” perintahnya. Beberapa orang berlari ke arah pangeran dan ibu. Namun,


“Tunggu!” teriak Veda menghentikan semuanya. Tuan putri yang kecolongan membuat Veda berhasil ke depan menghampiri pangeran dan ibu. Saat ini ia hanya bersama Bubu sambil memeluknya. Di posisinya bersama Bubu, tuan putri tidak dapat melihat apa yang terjadi di depan melainkan hanya mendengar suara mereka.


Tuan putri akhirnya menggendong Bubu ke balik gorden penyekat ruang tamu dengan ruang tengah. Ia membuka sedikit gorden tersebut untuk mengintip.


“Ini kan yang kalian inginkan?!” tanya Veda lantang. Dilihatnya seseorang telah menguasai tubuh ibu dan mengarahkan pedang di leher ibu.

__ADS_1


“Veda? Apa yang kamu lakukan?” tanya tuan putri khawatir dalam hati.


__ADS_2