
Naryla masih menangis di dalam toilet pesawat dalam kondisi gelap dan hanya terbantukan sinar dari ponselnya yang sudah diatur menjadi airplane mode.
Setelah matanya sembab, ia sedikit tenang. Ia mencoba bangkit dan membasuh mukanya sekali lagi sebelum keluar.
“Huftt.. kuatkan diri La.” Ila mencoba menenangkan dirinya kemudian bersiap keluar toilet.
Ceklek.Dupp. Bersamaan dengan Naryla yang baru membuka kunci pintu toilet, lampu menyala. Bahagianya Naryla berharap keadaan sudah membaik. Ia segera keluar namun diwaktu yang sama seorang awak pesawat hendak berlalu sehingga Naryla merapatkan tubuhnya ke dinding sebelah pintu toilet untuk memberi ruang yang cukup bagi awak pesawat itu lewat.
Naryla tersenyum membalas senyuman awak pesawat tersebut sebelum kembali fokus berjalan ke kokpit pesawat. Naryla tak langsung berjalan kembali ke tempat duduknya, ia bersandar sebentar beberapa detik, baru melangkah. Di pertengahan antara langkah pertama dan langkah kedua, ia mendengar awak pesawat tadi berkata,
“Tunggu sebentar lagi, kemungkinan terburuknya bersiap untuk sinyal darurat pan-pan.” Telinga Naryla berhasil mencuri dengar kalimat itu. Ia buru-buru kembali ke tempat duduk.
“Huhh.. Apalagi ini?” batin Naryla khawatir. Ia meneguk jatah minum yang sempat diberikan pramugari sebelum keadaan mulai kacau tadi. Si penumpang tidur dan korban sudah dileraikan terlebih setelah terjadinya kejanggalan tadi. Semua orang sudah kembali duduk di tempat masing-masing dengan memasang sabuk pengamannya erat.
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok. Jam tangan Naryla masih berdetik. Waktu di jam tangannya menunjukkan pukul 2.45 a.m., itu masih pengaturan WIB. Naryla asyik memperhatikan detik jarum jam yang berpindah pindah sudut itu. Setelah cukup bosan, ia hendak melihat peta posisi pesawat berada saat ini di layar LCD. Berhasil menyalakan LCD dan memilih menu, ketika hendak meng-klik opsi maps, tinggal satu cm lagi jarak jarinya untuk menyentuh tombol pilih, tiba tiba,
Ngiiiiiiiiiinnnggggg. Jedugg. “Aawww,” rintih Naryla terhempas kedepan dan dahinya mencium layar LCD dengan kuatnya. Terdengar suara sangat keras dan seketika lampu kembali mati dan pesawat berguncang hebat seperti lepas kendali.
Pesawat miring ke kiri sehingga penumpang terhempas ke kiri, Gredekk seettt seettt, suara koper-koper bergeser juga terdengar. Kemudian pesawat berubah miring ke kanan dan semua terhempas ke kanan.
“Aaaaaaaa,” teriak semua orang sambil memegang apapun yang bisa menjaga mereka tidak terlempar. Beberapa koper berjatuhan dan mengenai penumpang. Dalam waktu yang singkat, kekuatan yang hebat kembali seperti memberi beban berat ke sayap kiri pesawat. Naryla melihat jelas percikan api dan bengkoknya sayap kiri pesawat dari jendela kursi sebelahnya. Seketika itu pesawat oleng dan jatuh dengan cepat.
Whuusssssss. “Tuhan, apakah ini ajalku?” batin Naryla pasrah.
Melbourne, Australia
Ponsel Delan menunjukkan pukul 08.30. Ia sedang mengendarai mobilnya dan sebentar lagi sampai di Bandara Melbourne siap menjemput Naryla. Tamu berharga yang akan menemaninya di sisa tahun ajarannya. Setelah memarkirkan mobil, ia segera menuju ruang tunggu kedatangan internasional. Ia mencari-cari nomor penerbangan yang disebutkan Naryla, yaitu ZYT-9016.
__ADS_1
Ia mencari di layar informasi penerbangan, namun tidak berhasil menemukan nomor tersebut. Ia mengecek ulang tetapi benar ia tetap tidak menemukannya. Delan mencoba menghubungi papa Naryla.
“Halo Om, maaf mengganggu. Delan sudah di bandara, tapi sepertinya Delan salah mencatat informasi penerbangan Naryla Om, boleh tolong kirimkan detailnya lagi tidak Om?” ucapnya di telepon setelah terhubung dengan papa Naryla.
“Oh, baik Nak segera saya kirim ya,” jawab papa.
“Terimakasih Om,” tutup Delan.
Delan mulai khawatir dengan kenyataan ini, namun ia masih berharap bahwa ia benar salah mencatat informasi penerbangan Naryla.
Notifikasi pesan masuk dari papa Naryla muncul. Delan dengan segera membukanya. Ia syok. “Tidak salah, tapi kenapa tidak ada di layar?” batin Delan. Ia masih berprasangka baik dan bertanya langsung kepada petugas bandara.
“Kak, permisi nomor penerbangan ini statusnya bagaimana ya?” tanya Delan.
“Sebentar, saya hubungkan dengan petugas yang berkaitan langsung ya,” jawab petugas itu.
“Baik,” sahut Delan.
“Hmmm.. Baik. Iya iya. Terimakasih.” Si petugas menutup teleponnya, “Sebelumnya mohon maaf kakak harap bersabar, penerbangan atas nomor itu tadi pagi sekitar pukul 05.55 menghilang dari radar. Tim kami sedang menyelidiki tentang ini sekarang. Sekali lagi mohon maaf dan harap bersabar, kami akan segera mengabari anda jika ada informasi terbaru,” jelas petugas itu.
Delan sangat kaget pendengar kabar tersebut. Otaknya bagai terhenti sejenak. “Ohh baik kak, mohon segera hubungi saya jika ada kabar terbaru, saya akan siaga 24 jam menunggu informasi apapun terkait penerbangan itu,” jawab Delan, matanya menatap kosong, “tidak, saya harus ikut serta dalam pencarian. Kak, bisakah saya ikut mencari? Masuk tim mana saya siap Kak! dimanapun! dan kapanpun! kak!” pinta Delan sedikit membentak namun sambil menahan tangis. Ia mengguncang-guncangkan tubuh petugas itu.
“Kak, saya ingin mencarinya, saya harus mencarinyaa kak!” Delan mulai mengamuk. Petugas bandara yang lain mencoba menenangkan Delan. “Bagaimana bisa itu terjadi pada Naryla? Kenapa harus pesawat yang ia naiki?” batin Delan lemas dan bersandar pada orang-orang yang menopang tubuhnya.
Delan sudah lemas tak berdaya dan dibawa ke ruang istirahat oleh petugas. Ia menangis kecil dan merenung disana mencoba menenangkan diri.
Mexico City, Latin America
__ADS_1
Hari sudah gelap, Papa Haris dan Mama Rianti baru selesai rapat dan belum menanyakan kabar Naryla. “Pa, mau mandi duluan ngga? Mama mau nelepon Ila dulu mastiin dia udah sampai,” tanya mama ke papa.
“Ooh, boleh deh,” jawab Papa.
Tuut. Tuut. Telepon tidak tersambung. “Hmm sekali lagi,” ujar mama. Tuut tuut. Lagi lagi gagal. Mama terus mencoba hingga tujuh kali namun tetap tidak terhubung. Mama mulai khawatir dan mengirim pesan melalui Whatsapp.
Mama : “Ila lagi dimana? Udah sampe Australia dan ketemu Delan kan?”
“Kabarin mama ya kalau udah baca nanti.”
Mama mengirim pesan namun hanya ceklis satu. “Hmm mungkin masih belum dapat internet, nanti saja suruh papa tanya Delan,” batin Mama.
Beberapa menit kemudian papa keluar kamar mandi. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil putih yang juga tersedia di villa itu, papa menuju ruang TV dan meminta mama membuatkan minuman sebelum beranjak mandi.
“Maa, boleh tolong buatkan papa air madu?” pinta papa.
“Hmm.. okedeh Pa tunggu ya,” jawab mama dan pergi ke dapur. Sesaat kemudian air madu sudah siap dan disuguhkan ke papa.
“Ini Pa air madu nya. Oh iya tadi mama udah coba hubungin Ila tapi ngga nyambung, mungkin ngga ada internet. Apa Papa coba hubungin Delan?” ujar mama pada papa.
“Hmm yaudah nanti Papa coba hubungi Delan. Mama mandi aja dulu,” jawab papa.
Slruup. Papa mulai meneguk air madu buatan mama. Setelah itu mulai memainkan ponsel mencari nomor Delan.
Tuut. Tuut.
“Halo Om,” suara Delan disana.
“Halo Delan, apakah Naryla sud …,” ucap Papa terpotong dengan kalimat Delan selanjutnya.
__ADS_1
“Om, maafkan Delan om. Pe.. Pesawat Naryla.., ta.. tadi pagi.., dikabarkan hilang Om.. Delan minta maaf Om.” Suara Delan terdengar sedikit sesenggukan setelah menangis.