
Mama Rianti dan Papa Haris berusaha untuk bangkit dari kesedihan, Mereka kembali menjalankan hari seperti biasa, dan berencana untuk melanjutkan proyek yang sempat tertunda di Meksiko.
“Ma, sepertinya sudah saatnya kita belajar mengikhlaskan Naryla Ma.. Kita jangan sampai terpuruk ya, pasti Naryla akan sedih disana kalau melihat mama papanya sedih terus,” hibur papa.
“Iya Pa, mama coba. Tetapi itu tidak mudah Pa,” jawab mama.
Papa tersenyum mengusap lembut kepala mama, “Tidak jadi masalah, yang penting mama jaga diri ya jangan sampai sakit karena sedih.”
“Baik Pa, mama tetep jaga kesehatan kok,” timbal mama.
“Oh iya Ma, kayaknya papa mau ke Meksiko lagi ngelanjutin proyek kita itu, mama mau ikut kah? Kalau ngga juga tidak masalah kok mama bisa tinggal disini dulu untuk menenangkan diri,” sambung papa.
Mama Rianti mendapati pernyataan papa bingung. Pasalnya ia juga berperan penting di proyek ini, namun hatinya masih belum pulih sepenuhnya sejak kehilangan Naryla. Ia ingin tinggal akan tetapi tidak tega membiarkan suaminya sendiri, ia khawatir kejadian yang sama akan menimpa suaminya. Mama pikir ikut papa, menemani, dan memastikan papa kembali dengan sehat adalah pilihan terbaik saat ini.
“Baiklah Pa, mama akan ikut. Tetapi …, boleh tidak Pa sebelum berangkat kita ke panti asuhan tempat Naryla dulu tinggal? Mama ingin mampir sebentar,” jawab mama diiyakan oleh papa.
“Baiklah, kita kesana besok ya?” jawab papa.
“Terimakasih Pa,” lanjut mama.
Mereka berencana akan berangkat ke Meksiko dua hari setelah percakapan mereka tersebut. Sehari setelah percakapan itu, mereka datang ke panti asuhan tempat Naryla menghabiskan masa kecilnya. Kondisi panti tersebut lebih berkembang dari terakhir kali mereka kesana.
Seorang wanita paruh baya yang menjadi penanggung jawab disana menyambut kehadiran Mama Rianti dan Papa Haris. Beliau masih mengingat bahwa keduanya adalah orang tua angkat Naryla, sehingga segera menyilakan mereka untuk masuk.
“Bu Rianti?” sapanya.
“Iya Bu, saya Rianti orang tua angkat Ila,” jawabnya ramah.
“Ah, iya betul. Mari masuk Bu, Pak,” sila ibu panti.
__ADS_1
Mama Rianti mengenang saat pertama kali ia melihat Naryla mungil nan cantik sedang berlarian masuk ke rumah sambil menggendong tas yang kebesaran. Ia terlihat sangat lucu karena badannya bak tenggelam dilahap tas tersebut.
*Flashback on
Saat itu, Naryla kecil tidak sadar bahwa ada tamu yang tidak lain tidak bukan adalah Mama Rianti dan Papa Haris sedang berkunjung dan berniat mengadopsi seorang anak.
“Eh, ayo masuk.. Kita ke kamar makan permennya. Nanti keburu bunda dateng ketauan loh,” perintah Naryla kecil ke temannya.
“Hayo.. Ila ngapain lari-lari tadi?” Tiba-tiba ibu penanggung jawab panti yang setelah ini kita sebut bunda memergoki Naryla yang mengajak teman-temannya makan permen sembunyi-sembunyi.
“Tuh kan, ah kalian sih,” marah Naryla pada teman-temannya, “Eeh enggak Bunda, itu …, Ila abis ngomongin bepe sama temen-temen di sekolah, jadi pengen main lagi, hehe” sambungnya sambil menggaruk-garukkan tengkuknya dan sedikit menoleh ke kanan karena gugup. Saat itulah ia menyadari kehadiran Mama Rianti dan Papa
Haris yang tidak terlihat karena ia terlalu fokus pada teman-temannya tadi.
“Eh, ada tamu ya Bun? Pagi Om, Tante..” sapa Naryla, “Bunda, Ila masuk dulu ya malu ada tamu, hehe..” Naryla kecil pun langsung berjalan miring perlahan dengan senyum manisnya bagaikan seekor kepiting yang sedang berusaha lolos dari siraman air pantai. Seketika itu Mama Rianti menemukan calon anak angkatnya.
“Namanya Naryla, tapi sering dipanggil Ila disini,” jawab bunda.
“Kalau boleh tahu, bagaimana ceritanya dia bisa tinggal disini?” tanya mama lagi.
Bunda menceritakan masalalu Naryla dimana dulu ia ditemukan di keranjang bayi di teras rumah bunda waktu fajar. Nampaknya, seseorang meletakkan bayi itu disana sejak malam. Bayi itu tidak menangis ataupun berteriak yang dapat membuat bunda menyadari keberadaannya diluar, sampai bunda ke teras rumahnya untuk menghirup udara segar di pagi hari. Naryla ditinggalkan dengan kondisi baik, pakaian lengkap nan hangat untuk bayi menempel di tubuhnya yang berada di dalam keranjang yang layak bahkan bisa dikategorikan bagus untuk saat itu.
“Ohh, begitu ya. Kalau kepribadiannya gimana Bu?” tanya mama lagi.
“Seperti yang anda lihat dia berparas cantik juga manis, terkadang hiperaktif dan memotivasi temannya untuk aktif juga. Dia jarang menangis dan penurut, namun ada saat-saatnya bandel layaknya anak normal,” jelas bunda, “Tampaknya dia juga akan menjadi gadis cantik yang pandai ketika besar nanti.”
Mereka melanjutkan perbincangan yang diakhiri dengan kesimpulan bahwa Mama Rianti dan Papa Haris berminat untuk mengadopsi Ila kecil. Masuklah mereka ke kamar Ila dan memergoki ia bersama teman-temannya sedang makan permen lollipop yang ia beli dari sekolah TK nya.
“Hayo.. lagi pada ngapain?” panggil bunda.
__ADS_1
“Ah, eh …, (melirikkan mata pada lolipopnya dan segera menyembunyikannya di balik badan mungilnya) ngga ngapa-ngapain Bunda, kita lagi main bepe aja,” jawabnya.
“Ohh gitu.. yakin cuma main bepe doang?” selidik bunda.
“Erm …, iya kok Bunda. Nih lihat Ila udah pakein baju bagus ke orangnya,” terang Ila kecil menunjukkan bepenya ke bunda dengan kedua tangannya.
“Hm?” respon bunda melihat permen di tangan kanan Ila.
“Ah?! Hehehe …, Ila nyicip permen dikit ya Bunda, satuu aja,” bela Ila, “nanti sikat gigi kok …, janji,” sambungnya, “iya kan?” Kali ini Ila meminta pertolongan dari temannya.
“Iyaa Bunda, janji.” Mereka serentak meyakinkan bunda. Bunda, Mama Rianti, dan Papa Haris terkekeh dibuatnya.
“Yasudah kalau begitu, lain kali bilang bunda ya kalau mau makan sesuatu. Jangan lupa janjinya ya sikat gigi setelah makan permen,” jawab bunda.
“Baik Bunda.” Mereka menjawab bersamaan.
“Ila, bisa ikut bunda sebentar?” tanya Bunda diiyakan oleh Ila kecil.
Bunda menyampaikan maksud dan tujuan Mama Rianti dan Papa Haris dengan bahasa yang dapat dimengerti anak kecil. Ila kecil menurut dan bersiap diri seperti mandi dan berganti pakaian, kemudian menyampaikan salam perpisahan pada teman-temannya sebelum pergi. Ila kecil merasa sedih sekaligus senang.
*Flashback off
“Silakan diminum Bu, Pak,” ramah bunda menghidangkan teh dan beberapa kue pada Mama Rianti dan Papa Haris.
“Ah, iya terimakasih Bu,” jawab mama mengangguk.
Mereka berbincang-bincang tentang panti asuhan dan juga pekerjaan mama papa, bunda kemudian menyadari bahwa Naryla tidak ikut bersama mereka. Awalnya ia tidak ingin bertanya, namun otaknya tak sejalan dengan lisannya.
“Naryla lagi ada kegiatankah Bu sehingga tidak ikut kemari?” tanya bunda yang membuat mama tersentak. Melihat itu, Papa Haris paham bahwa mama tidak sanggup menceritakan apa yang terjadi. Akhirnya ia yang menceritakan semuanya.
__ADS_1